Saturday, October 14, 2017

karena tiap orang punya ukuran sepatu yang tak sama


Jaman sekarang memasuki dunia motherhood sama seremnya dengan masuk ke dunia uka-uka (please jangan bilang kalian tidak pernah dengar uka-uka. Jangan biarkan saya menua sendirian).  Gimana tidak, salah langkah sedikit siap-siap dihujat dengan pelbagai macam petuah dan nasihat.

Padahal ya PR kita sebagai ibu itu sebenarnya banyak banget. Ingat tidak beberapa waktu yang lalu ada sebuah kampus besar meng-unggah tata cara menghubungi dosen lewat ponsel. meski pihak kampus mengakui kalau itu tidak ada maksud apa-apa, tapi secara tersirat bisa disimpulkan bagaimana tata krama mahasiswa/i jaman sekarang kan ya. Saya sendiri juga beberapa kali melihat sih beberapa oknum generasi muda (uhuk berasa tua saya) yang jauh banget dari kata sopan.

Hanya karena dunia makin lama makin canggih bukan berarti sopan santun digadaikan. Dan ini lah PR terbesar kita untuk mendidik anak kita lebih baik lagi dari sekarang. Ada norma-norma yang mulai dilupakan oleh mereka.  Jadi daripada energinya hanya dipakai untuk nyiyir dan ngurusin orang (padahal belum tentu orangnya mau kurus juga) lebih baik kita pakai untuk menciptakan generasi emas penerus bangsa.

Untuk hal-hal yang sifatnya krusialnya sih saya rasa sah-sah saja jika kita memberi masukan atau saran  sebagai sesama para ibu ya. contoh jika ada seorang ibu yang mandiin bayinya ke dalam mesin cuci,biar praktis katanya, pencat pencet, tau-tau bayinya bersih. Atau contoh lain ada anak umur 3 tahun diperdayakan disuruh timba sumur karena pompa air mati sementara dia malah asik facebook-an dan malah anaknya direkam ke dalam insta-story dengan tambahan tulisan “hebatnya anak bujang mamak *lope* *lope*”. Kalau ketemu model begitu sok silahkan mau dicincang jadi baso juga saya rasa darahnya halal saja:-p.

Masalahnya saat ini adalah banyak sekali para ibu yang selalu merasa pilihannya dia yang paling benar, paling akurat, paling hebat, pokoknya paling segala-gala nya lah. Oke lah kalau cuma hanya sekedar merasa ya, yang paling repot itu ketika kemudian dia mulai menyalahkan pilihan orang lain. Loh kok anaknya digiiniin sih? Duuh ga sayang anak ya, kok tega sih dan kalimat=kalimat bermuatan cibiran lainnya.

Padahal ya, kita ini diciptakan sebagai manusia berbeda-beda lho. Dari segi suku, warna kulit, dan yang paling penting adalah dari segi kebutuhan yang tidak akan pernah sama antara satu manusia dengan manusia lainya. Kecuali situ adalah mbek, nah itu baru bisa dipukul rata, yang penting dikasi rumput, yang penting dibawa ngangon dari pagi sampai sore, udah urusan selesai. Tidak  perlu repot memikirkan ini mbek A alergi rumput liar, jadi kasi makannya harus rumput organik atau ini si mbek B punya masalah Bandot disorder jadi sebaikya dikarantina daripada dia nyosor melulu.


Jika ada seorang ibu yang menyekolahkan anaknya dari umur 6 bulan misalnya, lalu kemudian ada yang nyinyir kenapa cepat banget sih masukan anak ke sekolah, ibunya ngapain aja di rumah? mungkin dia tidak tahu si ibu sudah sangat repot dengan berbagai urusan di rumah, belum lagi harus ternak teri (anter anak kesana kemari), daripada si bayi kurang stimulasi dan malah makin capek harus ikut ibunya melulu, jadi yaa lebih baik dia sekolah.

Atau kasus lain ada seorang ibu yang sangat teliti dalam memilih bahan-bahan makanan untuk anaknya. Tidak mengandung kacang, tidak mengandung susu sapi dan turunannya, gluten-free, dan lain sebagainya. Lalu kemudian dengan seenak jidat ada yang komentar, “udah laaah anak itu jangan terlalu dimanjain, biar aja dia rasa semuanya, biar kuat badannya.” Yang dia tidak tahu adalah si anak ini punya asma dan alergi akut misalnya. Yang dia tidak tahu adalah pernah sekali bablas lalu asma si anak kumat dan tengah malam harus dibawa lari ke UGD. Si ibu hanya bisa menangis tersedu melihat anaknya kesakitan di UGD sambil menyesali kecerobohanya. Trus yang komentar tadi? Lagi tidur pulas dengan daster yang sudah tidak diganti 3 hari. Ngook

Dan tidak perlu dijelaskan lagi untuk pilihan yang terus kontroversial seperti ASI vs sufor, vaginam vs SC, aaah sudah lah, sudah so yesterday untuk dijabarkan. Karena pada akhirnya sepatu orang lain tidak akan pernah pas dengan sepatu kita.

Ada orang yang memakai sepatu ukuran 38, lalu kebesaran dengan kaki kita yang ukurannya 36, apakah kemudian harus menghujat si ukuran 38 ? Ada orang yang hanya nyaman dengan sepatu flatshoes, lalu kemudian mencoba high heel dan tumit kaki nya kesakitan, lalu apakah yang salah si sepatu high heel nya?. Semua sudah ada porsinya masing-masing. Yang sepatu ukuran 36 pakailah ukurannya sendiri, karena ukuran 38 hanya untuk orang-orang dengan kaki ukuran tersebut. Yang tim flat shoes silahkan berjalan-jalan dengan sepatunya sendiri, karena hanya orang-orang tertentu yang dilahirkan dengan kemampuan menggunakan sepatu high heel.

Ibarat  makhluk supra natural, kita ini sebenarnya sudah diberikan kekuatan supernya berdasarkan kebutuhan masing-masing. Sudah ada porsinya masing-masing. Lihat saja para wanita mutan di X-men (jangan bilang yang ini juga ngga pernah dengar  ya), tidak ada yang benar-benar memiliki kekuatan yang plek-plek sama kan?  Ada Storm yang mampu mengontrol dan memanipulasi cuaca yang ada di sekitar. Ada Jean Grey yang mempunyai kekuatan telepati. Dan ada Rogue yang mampu menyerap ingatan dan tenaga untuk hidup jika bersentuhan dengan manusia.

Kebayang tidak kalau mereka saling nyinyir dan menganggap kekuatan masing-masing lebih hebat dari yang lain

Storm : Rog,  kamu tu kepo banget sih nyerap ingatan orang melulu. Apa yang ada didalam pikiran orang is none ur business tauk.

Rogue : aaah eelah mak, kayak kekuatan situ manfaat aja. Nurunin hujan melulu. Bikin repot orang aja. Kasian kan yang pada naik motor jadi keujanan.

Jean Grey : berisik deh kalian semua. Mending juga eike  bisa telepati, orang-orang mah ngga perlu ngomong juga eike udah paham maunya apa.

Trus kata professor X : BODO AMAT !!!!!!


Jadi please stop merasa apa yang sudah kita lakukan lebih baik dari yang lain. Anak yang sebapak-seibu saja kebutuhannya tidak ada yang benar-benar sama, konon lagi anak tetangga.

 Menjaga lisan itu penting lho, itu lah kenapa kita disarankan untuk lebih dulu mengutamakan habluminannas daripada habluminallah. Karena kita tidak tahu manusia mana yang tanpa sengaja sudah kita sakiti dan dia mungkin belum memaafkan kita. Ngejar-ngejar di dunia saja ribetnya kayak apa gimana lagi ngejar di alam mahsyar coba. Aaah saya jadi ingat kebiasaan Almarhum nenek saya yang tiap berpamitan dengan orang, beliau selalu meminta maaf lahir bathin. Karena tidak ada yang bisa menjamin apakah akan ada pertemuan berikutnya atau justru itu yang terakhir.

Buat para ibu-ibu diseluruh dunia (hiperbola, kayak pembacanya ada di mana-mana saja;p), yuk kita buat dunia motherhood ini lebih moms-friendly. Ibu-ibu baru bukan lah sasaran empuk untuk dihujat dan kemudian boleh  merasa paling sotoy tahu segalanya. Pasal senior selalu benar, jika senior salah kembali ke pasal pertama sudah tidak relevan lagi. Dewasa lah, karena anak-anak kita tidak bisa dibesarkan dengan manusia yang pikirannya masih sama kecilnya dengan mereka.



4 comments:
Friday, October 6, 2017

Therapy Trip untuk Shanaz


Ini adalah bulan ke-9 saya dan Shanaz melakukan perjalanan terapi per 2 minggu sekali. Bukan perjalanan yang jauh memang, hanya pku-ckg-pku lagi. Jarak tempuhnya juga hanya 1 jam 55 menit (kalau tidak delayed). Tapi tentu perjalanan ini menjadi suatu hal yang berbeda dibandingkan dengan perjalanan lainnya, seperti perjalanan liburan atau pun pulang kampung. 
Perjalanan ini tidak hanya memberikan progress untuk Shanaz, tetapi juga memberikan dampak tersendiri untuk saya. Karena pada akhirnya ini bukan lagi hanya sebagai therapy trip, tapi juga sebagai proses saya menjadi lebih baik.

saya sadari perjalanan ini pasti akan jadi perjalanan yang sangat panjang. Akan banyak hal yang mungkin terjadi. Baik, buruk tidak ada yang bisa benar-benar menolaknya. Hanya tinggal bagaimana sudut pandang ini melihatnya. Memilih untuk menikmati tiap langkahnya dan menjadikan itu sebagai suatu pelajaran berharga atau terus mengeluh mengapa harus saya yang dipilih menghadapi hidup seperti ini.

Semuanya bermula dari Shanaz divonis Tuli sensorial derajat sangat berat 11 bulan yang lalu dan disaat bersamaan ketika menemui dokter tumbuh kembangnya untuk mengatahui kira-kira terapi apa yang tepat untuk Shanaz, lalu dokter tersebut mengatakanya seperti ini :

 “ bu, setelah memakai alat bantu dengarnya anak ibu butuh terapi namanya audio verbal terapi atau biasa disingkat dengan AVT, tapi disini (pekanbaru maksudnya) belum ada terapi itu, jadi ibu harus upayakan sendiri. Bisa dilakukan mandiri di rumah tapi tentu setidaknya ibu harus punya dasar tentang itu”.

Saya terdiam ketika mendengar kata-kata si dokter tersebut. Berusaha mencerna dan sambil memikir solusi terbaik seperti apa.

Banyak yang menyarankan untuk kami kembali lagi ke Jakarta, setidaknya saya dan anak-anaknya di Jakarta dan ayahnya di Pekanbaru. Fyi, saat itu kita baru saja setahun hijrah ke pekanbaru dari Jakarta. Bisa dibilang kita baru saja ‘bernafas’ dari repotnya pindahan dari Jakarta kemarin. Pindahan antar pulau tidak lah semudah yang dibayangkan orang-orang.  Jika saja Shanaz satu-satunya anak saya tentu saya tidak akan pikir panjang untuk mengambil keputusan itu. Tapi ada 2 kakak shanaz yang harus dipikirkan juga
Pertimbangan pertama, dari segi sekolah, saat itu kaka shanaz pertama, Indira sudah masuk SD dengan biaya masuk yang tidak bisa dibilang murah. Kalau kita pindah lagi ke Jakarta artinya kita harus menyiapkan uang masuk yang bahkan 2 x lipat kita keluarkan disini.

Lebih dari sekedar itu adalah psikologis kaka-kakanya yang baru saja move on dari Jakarta dan mulai menikmati pekanbaru, eeeh masak kemudian disuruh pindah lagi. Hanya karena mereka tidak memiliki kebutuhan khusus, bukan berarti kebutuhan mereka sama sekali tidak dipikirkan.

Kedua kakak Shanaz bukannya tidak mengambil andil apa-apa untuk adiknya. Sudah, mereka sudah melakukan banyak sekali penyesuaian untuk memprioritaskan kebutuhan shanaz. Dan saya tidak tega meminta lebih dari itu lagi. ada beberapa perjalanan yang kami janjikan terpaksa ditunda demi membeli alat bantu dengar shanaz, ada waktu akhir pekan yang harus mereka lewati tanpa bundanya karena bunda sedang di Jakarta. Dan yang terbesar adalah ada perhatian dan pikiran bundanya yang terpaksa mereka relakan karena tersedot hampir seluruhnya hanya untuk Shanaz.
Mereka sudah melakukan sesuai porsinya. Bahkan lebih. Dan saya bersyukur Allah menitipkan kaka-kaka hebat untuk Shanaz. Saya berjanji  saya tidak akan meminta lebih banyak dari itu lagi. karena seperti yang sudah disebut di atas, hanya karena mereka tidak memiliki kebutuhan khusus, bukan berarti mereka boleh diabaikan.


Kembali ke therapy trip tadi, singkat cerita setelah dokter tumbuh kembang mengatakan hal seperti itu, saya mulai mencari tahu tentang AVT di mesin pencari. Beruntung kita hidup di dunia milenial yang hanya tinggal mengetik kata kunci maka semua yang kita butuhkan muncul. Disana lah saya akhirnya bertemu Yayasan Rumah siput, tempat shanaz terapi AVT.

Qadarullah saat itu mereka akan melakukan seminar di Pekanbaru. Langsung saja saya daftarkan diri dan disitu lah pertama kali saya mengenal apa itu AVT.

Ada beberapa alasan kenapa akhirnya saya memilih melakukan therapy trip. Padahal sebenarnya mereka juga menawarkan home visit lho. Dan sebelumnya saya juga sudah mencoba home visit ini. Tapi home visit ini menjadi tidak efesien ketika hanya shanaz sebagai satu-satunya pasien yang akan diterapi, selain harganya jadi lebih mahal, tempat dilakukan terapi juga tidak terlalu terkondisikan dengan baik sehingga proses terapi juga jadi kurang optimal.

 Ketika melakukan perjalanan terapi ini saya berusaha sehemat mungkin menghabiskan durasi di Jakarta. Tidak jarang bahkan kurang dari 24 jam. Kamis sore berangkat, jumat pagi terapi, jumat siang sudah kembali ke Pekanbaru lagi. kecuali ada hal-hal yang harus dilakukan, misalnya kontrol ke dokter dan lain sebagainya.
Kalau ditanya apa tidak capek ya? awalnya capek. Banget malah. Tiap selesai perjalanan, kepala saya pusing dan badan super pegal. Lambat laun badan mulai beradapstasi dan sekarang semuanya jadi biasa saja. Benar seperti kata ibu dion (salah satu teman saya yang sama-sama memiliki anak dengan gangguan pendengaran juga), “we never know how strong we are, until that only choose we have”. Dan lagi saya lebih memilih capek dibayar dimuka, tapi Insya Allah hasilnya akan baik daripada saya kalem-kalem saja, argo kehidupan berjalan terus, tau-tau shanaz sudah sangat besar dan sudah terlambat untuk menyelamatkan verbalnya.

Toh sejatinya hidup ini adalah perjalanan. Hanya tinggal bagaimana kita berani membuka pintu dan melangkah jauh keluar atau berdiri di tempat dengan segala ketakutan dan kecemasan yang sebenarnya hanya ada di dalam kepala kita saja.

“aaah shanaz mah enak terapinya gratis, ditanggung kantor. Mau kemana juga gak usah mikir.”

Pernah tidak berpikir apa yang terlihat ‘enak’ itu adalah hasil yang terlihat saja. Sedangkan proses di dapur saat pencampuran bumbu dan lain sebagainya tidak lah benar-benar diketahui orang banyak.

Saat pertama kali kita memutuskan untuk melakukan perjalanan terapi ini, percaya lah satu-satu modal yang kita punya hanya nekat. Bismillah saja, pakai kalkulator Allah, Insya Allah rejeki Allah yang atur. Allah yang memberi rejeki, maka Allah juga yang akan mencukupkan sesuai kebutuhan. Karena saya sangat percaya ketika berpikir positif kepada Allah, maka hasilnya pun akan sama positifnya. Dan terbukti Alhamdulillah rejeki Shanaz untuk urusan ikhtiar  dan lain-lain semuanya dimudahkan.

Jadi sekali lagi kuncinya memang lah apakah kita berani membuka pintu lalu melangkah atau tidak. Karena hidup memang tidak selalu menawarkan nyamannya sofa, serial tv terbaru dan cemilan micin, terkadang kita harus berani mengangkat b*k*ng kita dan keluar melewati batu kerikil  dan tanah becek agar memahami apa arti hidup itu sebenarnya. Dan kalian akan tekejut apa yang sudah Allah siapkan ketika berani melangkahkan kaki keluar. Percaya lah.










6 comments:
Monday, September 25, 2017

Mengenal lebih dekat tentang hotel tjokro Pekanbaru


Sabtu, 23 September 2017 kemarin saya dan teman-teman blogger pekanbaru diundang oleh hotel tjokro untuk acara blogger gathering. Acara dimulai dengan sarapan pagi bersama, dilanjutkan jalan-jalan di dalam hotel dan yang paling menarik adalah permainan mencari beberapa voucher yang sudah disembunyikan oleh pihak hotel. Tidak tanggung-tanggung vouchernya ada voucher menginap dan juga voucher makan senilai Rp 100.000,-. Beuuh sensor mamak-mamak langsung bunyi kalau dengar yang gratisan.

Bersama bapak Renaldi selaku Director of Sales dan mba vanda Nofrika sebagai sekretaris GM dan Public Relation kami diajak berkenalan lebih dalam lagi tentang hotel tjokro ini.

Hotel tjokro adalah hotel yang berada dibawah manajemen SAS Hospitality yang menaungi 33 hotel di seluruh Indonesia. Tjokro sendiri diambil dari nama sang pemilik Tjokro Hidayat Susanto. Saat ini hotel tjokro sudah memiliki 7 hotel dengan bintang 3 dan 4 di beberapa kota di Indonesia, yaitu Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Klaten, Balik papan dan termasuk salah satunya di Pekanbaru.

Hotel bernuansa modern dengan sedikit sentuhan jawa ini mempunyai keunikan tersendiri. Salah satunya adalah menu wajib yang selalu ada di buffet sarapan di seluruh hotel tjokro di Indonesia, yaitu jamu dan gudeg. Mengapa harus jamu dan gudeg? Karena kedua kuliner ini adalah ciri khas kuliner daerah jogja sebagai cikal awal berdirinya hotel tjokro pertama sekali.



Konsep dari hotel tjokro pekanbaru tak lain dan tak bukan adalah Indonesia warm hospitality. Itu terlihat dari awal masuk sudah langsung disambut dengan ornamen-ornamen khas Indonesia yang begitu membumi.  Interior dengan dominan coklat juga memberikan nilai kesejukan tersendiri.
Awalnya memang hotel tjokro terkenal dengan kekentalan khas jawa nya, tapi tentu karena terus berkembang ke pelbagai daerah yang tidak hanya jawa, maka hotel tjokro mulai memasukkan beberapa kearifan lokal di dalamnya. Seperti contohnya di hotel tjokro pekanbaru ini terlihat ada beberapa unsur melayu yang tak kalah menariknya. Karena memang yang tidak boleh dilupakan adalah dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung.

Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga diberikan kenyamanan tersendiri dengan adanya kids corner yang letaknya tidak jauh dari loby utama yang disebut Batik lounge. Mengingat salah satu kebutuhan keluarga milenial saat ini adalah piknik, maka keberadaan tempat bermain  ini sangat membantu para keluarga muda yang sedang berlibur bersama si kecil. Saya sendiri sering mengalami kerepotan ketika mengajak anak-anak menginap di hotel dan sedang mengurus administrasi di meja depan resepsionis. Anak-anak suka berkeliaran kesana-kemari sementara saya tidak bisa benar-benar fokus mengawasi mereka. Keberadaan kids corner ini adalah solusi yang sangat tepat. Semoga akan banyak hotel-hotel lain yang meniru konsep ini.


Meski hotel tjokro tidak memiliki kolam renang, tapi pihak manajemen sudah bekerja sama dengan salah satu kolam renang yang berlokasi tidak begitu jauh dari hotel, sehingga para tamu bisa tetap berenang di sela-sela waktu menginap di hotel tjokro. Tidak usah khawatir tentu lah kolam renang yang dipilih sudah memenuhi kriteria standar kolam renang hotel pada umumnya. Tidak hanya itu  pihak hotel juga menyediakan transportasi khusus untuk mempermudahkan mengantar dan menjemput tamu yang ingin berenang ke sana.

Konsep lainnya yang tidak kalah menarik adalah sarana MICE (Meeting – Incentives-Conferencing -Exhibition) yang ditawarkannya oleh hotel tjokro ini. Saat ini hotel tjokro memiliki 7 meeting room dengan berbagai pilihan kapasitas. Yang cukup unik adalah nama-nama dari tiap meeting room ini diambil dari nama daerah yang ada di provinsi Riau, seperti bengkalis, indra pura, rokan 1, rokan 2, Kampar, pelalawan dan juga Indragiri.
Selain itu, hotel tjokro juga memiliki satu ballroom dengan kapasitas teater kurang lebih 400 orang. Sesuai dengan konsep MICE, meeting room dan ballroom yang ada di hotel tjokro ini bisa dipakai dengan pelbagai macam acara. Dari acara besar seperti pameran sampai pertemuan organisasi dengan skala kecil sekalipun. Beberapa meeting room ada yang hanya berkapasitas minimal 25 orang. Cocok untuk mereka yang sedang mencari tempat pertemuan intens dengan beberapa orang saja.




Untuk kamar, ada 3 tipe kamar yang ditawarkan oleh hotel tjokro, yaitu superior, deluxe dan executive. Harga kamar berkisar antara Rp 400.000,- sampai dengan Rp 700.000,-. Cukup terjangkau ya?. Total kamar yang disediakan oleh hotel tjokro ada 90 kamar dengan pilihan king atau pun twin bedroom. Sayangnya mereka tidak punya kamar dengan connecting room.


Untuk keluarga yang tidak lagi kecil seperti saya (baik secara fisik maupun umur), menginap di hotel dengan satu kamar hanya akan berakibat tidur ala ikan pepes. Tapi disaat bersamaan kok ya belum rela melepas anak-anak berada di kamar lain tanpa terhubung. Bukan apa-apa curiga aja nanti mereka tengah malam pesta pora tanpa pengawasan orangtua di kamarnya. *mamak halu tingkat tinggi ;-p

Istilah dimana memulai disitu diakhiri sangat cocok disematkan saat kegiatan blogger gathering beberapa hari yang lalu. Bagaimana tidak kegiatan saat itu dimulai dari restoran dan kemudian berakhir kembali ke restoran (maklum blogger juga manusia, bisa lapar juga terutama setelah lelah bertarung mencari kertas jimat berisi voucher;-p).

Restoran yang diberi nama tjokro restaurant berada tidak jauh dari lobi utama. Sesuai dengan konsepnya indonesia warm hospitality maka makanan yang disajikan tentu lah bertema masakan Indonesia. siapa sih yang bisa menolak citarasa makanan Indonesia yang kaya rasa? Apalagi dibuat dengan pilihan bahan terbaik yang disajikan langsung oleh chef-chef andalan hotel tjokro. Seperti yang saya sebut diawal, ada 2 menu yang selalu ada dan menjadi ciri khas hotel tjokro diseluruh Indonesia, yaitu gudeg dan jamu. Rasanya yang khas membuat yang mencicipi seakan-akan terbang langsung menuju kota Jogja. Everybody loves jogja. Bahkan Rangga dan Cinta setelah sekian purnama terpisah dan bertemu lagi di jogja ;-p




Maka jika ada pertanyaan yang muncul kenapa harus memilih hotel tjokro daripada hotel-hotel lain ketika berkunjung ke pekanbaru? Jawabannya mudah saja, kenapa tidak?. Selain konsep yang ditawarkan hotel tjokro cukup unik, hal lain yang tak kalah pentingnya adalah lokasi hotel yang sangat dekat dengan bandara sultan syarif qasyim 2. Hanya sekitar 15 menit saja. Wow bangetkan? Tidak hanya itu, lokasinya yang juga terletak di tengah kota memudahkan untuk para tamu menuju ke pelbagai lokasi manapun. Tinggal sebut deh, mau makan ikan patin? dekeeet, pusat oleh-oleh? dekeeet, satu-satunya yang jauh hanyalah hatimu dan hatinya yang terpisah jarak dan waktu ;p

Jadi jangan ragu lagi ya, jika berkunjung ke Pekanbaru, hotel tjokro adalah pilihan tepat untuk menginap. Silahkan klik www.grandtjokro.com untuk harga terbaiknya. Selamat liburan..

Referensi tulisan :
1. www.grandtjokro.com
2. www.id.wikipedia.org/wiki/MICE
7 comments:

Menjalin Keluarga Baru Bersama SAS Hospitality

DISCLAIMER : Tulisan dibawah merupakan press release yang diterbitkan oleh pihak manajemen hotel Tjokro terkait acara blogger gathering yang terjadi pada beberapa hari yang lalu. segala isi dan informasi didalamnya sepenuhnya bukan tanggung jawab penulis.
***



Ada suasana hangat yang terasa di Sabtu pagi, 23 September 2017. Berlokasi di Tjokro Restaurant, Tjokro Hotel Pekanbaru , SAS Hospitality, operator hotel yang mengelola seluruh unit hotel Grand Tjokro di Indonesia, mengajak teman-teman blogger untuk menikmati sajian sarapan. Tak hanya makanan yang tersaji dalam sarapan kali ini, tapi juga perbincangan hangat dan keluarga baru. Ya, sarapan bersama kali ini adalah momen berharga bagi SAS Hospitality untuk menjalin hubungan keluarga dengan teman-teman blogger.
Seusai sarapan, teman-teman blogger diajak untuk berkeliling hotel dan melihat fasilitas hotel yang ada, seperti  Meeting Room, Kids Corner, Room dan Ballroom. Keseruan berlanjut saat para blogger mencari voucher hadiah yang sudah di sembunyikan di setiap sudut ruangan hotel.
Mengenai SAS Hospitality
SAS Hospitality adalah perusahaan operator hotel yang terinspirasi nilai-nilai keramahan, budaya lokal dan spiritual Indonesia dalam memberikan pelayanan di setiap hotel yang dikelolanya. Berdiri di awal tahun 2017, kini SAS Hosptaity telah mengelola 7 hotel yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, yakni Klaten, Yogyakarta, Jakarta, Pekanbaru, Bandung, dan Balikpapan. Dengan 4 brand utama, yakni Grand Tjokro Premiere, Grand Tjokro, Tjokro Hotel, dan Tjokro Style, SAS Hospitality optimistis menjadi perusahaan bidang jasa yang terbaik di Indonesia, dan menjadi aset berharga di dunia pariwisata.

Brand kami
SAS Hospitality telah mengelola 4 brand hotel, mulai dari hotel kelas ekonomi hingga kelas atas, dengan konsep bisnis maupun untuk berwisata

Grand Tjokro Premiere
Hotel dengan brand Grand Tjokro Premiere memberikan pengalaman unik bagi setiap tamu. Pelayanan yang mengadaptasi budaya lokal, fasilitas terlengkap untuk keperluan bisnis maupun  liburan keluarga, dilengkapi dengan tim F&B yang menampilkan keahlian memasak terbaik. Grand Tjokro Premiere adalah dedikasi kami terhadap dunia hospitality.
Hotel dengan brand Grand Tjokro Premiere ini terdiri dari 364 kamar, di 1 hotel, di 1 kota, yakni Bandung,

Grand Tjokro
Hotel dengan brand Grand Tjokro memberikan karakteristik budaya lokal yang diangkat dari masing-masing daerah, digabungkan dengan nilai keramahan yang universal demi terciptanya rasa nyaman bagi setiap pelanggan. Grand Tjokro adalah kekhasan budaya Indonesia yang indah, diintegerasikan ke dalam detail pelayanan hospitality terbaik.
Hotel dengan brand Grand Tjokro ini terdiri dari 400 kamar, di 3 hotel, yang tersebar di 3 kota, yakni Yogyakarta, Jakarta dan Balikpapan

Tjokro Hotel
Definisi kenyamanan hotel dengan harga terbaik. Kamar yang lengkap, tempat tidur ternyaman, lokasi paling strategis, suasana terbaik untuk trip bisnis anda, dengan pelayanan 24 jam. Inilah Tjokro Hotel, pilihan tepat untuk pelancong bisnis dengan ritme luar biasa.
Hotel dengan brand Tjokro Hotel ini terdiri dari 145 kamar, di 2 hotel, yang tersebar di 2 kota, yakni Klaten dan Pekanbaru

Tjokro Style
Brand Tjokro Style memiliki desain unik dengan kepribadian muda yang kuat. Hotel yang paling dicari oleh traveler muda yang menginginkan pengalaman menginap yang berbeda. Muda, dinamis dan cerdas, itulah Tjokro Style.
Hotel dengan brand Tjokro Style ini terdiri dari 99 kamar, di 1 hotel, di 1 kota, yakni Yogyakarta.


Kontak Media:
Deya Yulika – Corporate Assistant Marketing Communication Manager (deya.yulika@sas-hospitality.com)
Terra Patriana - Corporate Marketing Communication Officer (terra.patriana@sas-hospitality.com)
Marketing Department SAS Hospitality
Jl. Cihampelas no. 211-217 Bandung 40131 (Grand Tjokro Bandung)

Vanda Nofrika  – Executive Secretary & Marcom  ( vanda.nofrika@grandtjokro.com)
Tjokro Hotel Pekanbaru
Jl. Jenderal Sudirman No. 51 Pekanbaru

No comments:
Sunday, August 27, 2017

Operasi pengangkatan adenoid pada Shanaz




Beberapa waktu yang lalu Shanaz baru saja melakukan Adenoidectomy. Bahasa sederhananya adalah pengangkatan Adenoid. Apa itu Adenoid?. Adenoid adalah amandel yang ada di hidung. Beberapa orang bertanya apakah itu sama dengan polip atau sinus? Maaf saya tidak bisa menjawabnya Karena saya tidak tahu bagaimana polip atau sinus itu sendiri.
Saya bukan lah dokter, saya hanya seorang ibu yang rasa ingin tahu ‘what exactly happen to my kid? itu besar sekali. Makanya apapun diagnosa dokter selalu saya serap dan saya dengar baik-baik. Jadi untuk pertanyaan di luar kondisi Shanaz, sekali lagi maaf saya tidak bisa menjawab, ada baiknya langsung konsultasi ke dokter THT saja.
untuk mengetahui lebih detail tentang adenoid ini silahkan cari di mesin pencari atau lagi-lagi saya sarankan konsultasi langsung ke dokter terkait.

Sekarang saya coba cerita mundur ke belakang ya. Mudah-mudahan bisa dipahami dengan baik.

Berawal dari setelah 6 bulan Shanaz memakai alat bantu dengarnya, saya berniat untuk melakukan evaluasi. Selain evaluasi dengan terapis terhadap perkembangan bahasanya, juga evaluasi ke dokter THT nya terkait kondisi pendengaran Shanaz.
Dulu Saat pertama kali melakukan rangkaian tes bera (tympanometry, OAE, ASSR dan Bera) itu dilakukan di salah satu RS swasta di Pekanbaru. Lalu Karena kebetulan saat itu saya sedang ada di Jakarta, saya pikir tidak ada salahnya untuk tes yang keduanya dilakukan di RSCM saja. Dari segi kualitas SDM, jelas disini dokternya lebih baik dan bukan hanya sekedar THT tapi juga sudah sub spesialis gangguan pendengaran pada anak.

Singkat cerita, ketika saya membawa hasil yang ada dari Pekanbaru, dokternya mengatakan “bu, ini ada cairan di telinga tengahnya”. Dokter melihat dari hasil tympanometrinya yang jelek. Lalu dokternya menambahkan lagi, “ oke, kita coba lakukan tes ulang ya semuanya. Mungkin bisa jadi saat dilakukan tes dulu, anak ibu sedang pilek. Semoga yang sekarang hasilnya lebih baik ya”. Dan kemudian Shanaz pun membuat janji untuk melakukan rangkaian tes Bera yang kedua.

Hasilnya sangat mengejutkan. ASSR Shanaz berubah drastis. Dari yang awalnya kanan 85 db dan kiri >110 db kemudian menjadi kanan 85 db dan kiri 80 db. Yang tadinya status Shanaz Profound Hearing Loss kemudian berubah menjadi Severe Hearing Loss. Meskipun saat saya membawa hasilnya ke audiologist katanya ada ketidaksinambungan antara hasil Bera dengan hasil ASSR. Dan saat saya perhatikan lagi, iya sih, hasil Bera pertama dan kedua tidak terlalu jauh berbeda, tapi kenapa hasil ASSR nya berubah drastis ya?

Oiya, untuk cairan yang dilihat dari tympanogram sebelumnya menurut dokternya ternyata masih ada. Waktu itu yang sangat terlihat jelek  di sebelah kiri. Berikut saya masukkan tympanogramnya ya.




Menurut Dokternya, hasil yang seharusnya adalah tidak boleh ada minus di tekanannya. Kondisi sebelah kanan lebih baik (ada minus tapi tidak signifikan), tapi yang sebelah kiri dikatakan banyak cairan di dalamnya. Harusnya posisi sebelah kiri tonjolan grafiknya tidak boleh dibawah titik 0 (garis vertikal)

Saat itu dokter memutuskan untuk melakukan observasi terlebih dahulu. Shanaz diberikan obat minum dan juga nasal spray selama 2 minggu lalu kemudian kembali ke kontrol ke dokter THT nya dan kembali melakukan tympanometry untuk melihat apakah cairannya berkurang atau tidak. Dan ini tympanogram setelah 2minggu minum obat dan nasal spray



Untuk yang kanan, hasilnya terlihat lebih baik, tapi yang kiri sama saja. Tekanannya masih terlihat jelas. Saat itu dokter THT nya masih ingin melakuakan tindakan non invasif dan tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan untuk di operasi. Shanaz diberikan obat lagi dan juga nasal spray. Kata dokter jika hasilnya tetap tidak ada perubahan, baru kemudian dilihat kemungkinan lainnya.

Setelah sebulan shanaz mengkonsumsi obat pilek dan nasal spray dan berkali-kali dilakukan tes typanometri namun hasilnya tetap sama, tekanan cairannya masih minus. Dokter menduga adenoid Shanaz membesar sebagai biang kerok menyebab cairan di telinga tengahnya ada terus. Akhirnya dokter meminta untuk di rontgen hidung shanaz. Dan dugaannya pun terbukti benar

Lalu dokter menyarankan untuk sebaiknya dilakukan tindakan operasi saja. Kemudian pertanyaan yang muncul di benak saya adalah bagaimana proses tindakan tersebut? Apakah ada pembedahan? Dimana? Telinga kah atau di hidung? Call me mamak kepo, tapi kalau untuk urusan medis anak, keinginan tahu saya emang sangat besar. Makanya suka sebel kalau ketemu dokter yang tidak komunikatif dan pelit penjelasan.

Dokter THT nya menjelaskan meski namanya operasi tapi tidak akan dilakukan pembedahan. Prosesnya adalah setelah shanaz di bius total, adenoid di dalam hidung Shanaz akan diambil melalui alat khusus yang saya tidak tahu namanya apa (sebagai orang awam saya sih melihatnya itu mirip dengan pinset). Lalu setelah itu dengan alat yang sama, dokter akan memasangkan pipa ke dalam kedua telinganya agar cairannya tersebut tidak mengalir ke telinga tengahnya. Jangan membayangkan seperti pipa paralon atau pipa air ya. Pipa yang dimasukkan sangat kecil. Dan masih menurut dokternya setelah itu tidak perlu ada pengangkatan pipa kembali Karena nanti akan berubah jadi kotoran kuping biasa saja.
Disaat persamaan setelah cairannya hilang dan karena shanaz masih dalam keadaan tertidur akan dilakukan tes Bera dan ASSR kembali, karena 2 hasil sebelumnya dianggap kurang valid karena ada si cairan tersebut.

Kenapa harus diangkat?

Jawabannya sederhana saja, Karena menganggu. Sama seperti amandel, tidak semua adenoid harus diangkat. Tapi untuk kasus Shanaz adenoid ini membuat cairan menumpuk di telinga tengah Shanaz dan itu menghalangi suara yang masuk. Sudahlah rumah siputnya tidak berfungsi, eeh jalan masuk suaranya juga terhalang, jadi wajar kalau perkembangannya tidak maksimal.

Dan memang terbukti sih setelah operasi adenoid, shanaz terlihat perubahan yang cukup bagus. Terutama dari deteksi ling nya yang semakin stabil, beberapa sudah bisa identifikasi dan imitasi dan bahkan sudah ada kata-kata spontan mengulang setiap kali saya sedang berbicara sesuatu.

Untuk hasil ASSR nya juga berubah menjadi kanan 70 db dan kiri >110 db, meskipun hasil bera nya kurang lebih. Dan ini juga masih menjadi tanda tanya besar apa penyebabnya.
Dokter mencurigai bisa jadi Shanaz mempunyai gangguan saraf lainnya seperti Audioneuropaty mengingat ASSR nya yang berubah-ubah terus. Tapi faktor si cairan tadi bisa juga sih penyebab ASSR nya yang tidak stabil.
Kecurigaan lainnya dokter menduga jangan-jangan Shanaz juga memiliki kelainana saraf sebelah melihat adanya ketimpangan hasil ASSR yang kanan dan kiri. Untuk mengetahuinya dokternya menyarankan melakukan CT scan dan MMR agar bisa melihat anatomi rumah siputnya. Tapi tidak usah terburu-buru katanya. Karena tidak ada hal mendesak yang harus dilakukan segera. Tunggu 2-3 bulan lagi, karena shanaz baru saja dioperasi dan dibius, kasian nanti saat prosedur harus dibius lagi.

Menurut dokter yang menangani Shanaz ambang dengar shanaz sekarang ini yang 70 db masuk kedalam moderate hearing loss. Dengan menggunakan alat bantu dengarnya sebenarnya itu sudah sangat bisa menjangkau sampai 35 db dan itu masuk ke dalam spektrum percakapan.  Masalah Shanaz nanti adalah  pada lokalisir suara. Karena sebelah kirinya yang tidak terdeteksi sama sekali dan alat bantu dengarnya tidak mengjangkau gangguannya. Dan bahkan menurut dokternya jika terbukti nanti ada kelainan saraf sebelah, maka yang sebelah kirinya dilakukan implan koklea pun tidak bisa.

Jadi selain terapi, tugas saya selanjutnya adalah memaksimalkan habilitasi di rumah karena meski hanya telinga sebelah kanan tetapi tiket Shanaz untuk menyelamatkan verbalnya sudah ditangan. bismillah..



keterangan tambahan :
Hasil BERA pertama, kedua dan ketiga. dilakukan di tiga RS yang berbeda dengan jarak masing-masing 6 bulan dan 1 bulan. hasilnya kurang lebih mirip




Hasil ASSR pertama, kedua dan ketiga dilakukan bersamaan dengan Bera diatas, hasilnya berbeda-beda



Dan ini si adenoid yang diangkat dari hidung Shanaz



1 comment:
Wednesday, August 16, 2017

6 anggapan salah orang terhadap gangguan pendengaran


Salah satu hikmah mempunyai anak dengan gangguan pendengaran adalah sangat membuka pikiran dan cakrawala saya. Sejujurnya sebelum saya tahu shanaz mengalami Tuli sensorial derajat sangat berat, saya bahkan tidak pernah bertemu dengan orang lain yang menggunakan alat bantu dengar. Bahkan manula pun tidak. Jadi ini benar-benar satu dunia baru untuk saya. Mungkin ini cara Allah agar saya terus dan terus belajar.

Ada banyak sekali anggapan-anggapan orang tentang anak-anak seperti Shanaz. Sebagian ada benarnya, sebagian lagi adalah mitos belaka. Dan disini saya coba mematahkan semua mitos tentang gangguan pendengaran ini yang beredar di masyarakat awam. silahkan dikoreksi jika ada yang salah atau kurang.
Berikut saya coba urutkan beberapa kesalahan umum anggapan orang terhadap anak dengan gangguan pendengaran
1.       Apakah ini bisa sembuh?
Ini adalah pertanyaan yg pertama sekali saya ungkapkan ketika mengetahui keadaan Shanaz. Pertanyaan yang sama juga sering sekali dilontarkan terhadap orang-orang yang sedang menanyakan keadaan Shanaz. Jawabannya adalah Tidak. Kenapa? Karena yang dialami Shanaz bukan lah sebuah penyakit. Jadi tidak ada yang harus disembuhkan. Ini adalah Takdir.
Sama halnya seperti takdir Allah yang memberikan warna kulit ada yang hitam dan putih, rambut lurus dan keriting, hidung mancung atau pesek. Semua adalah kehendak-Nya.

2.       Jika tidak bisa disembuhkan, lalu untuk apa terapi?
Untuk anak-anak seperti Shanaz tujuan terapi adalah meyelamatkan verbalnya. Tentu sebagai orangtua kami ingin anak-anak kami mendapatkan hak dan perlakuan yang sama di Indonesia ini. Tanpa bermaksud mengecilkan peranan bahasa isyarat, hanya saja dengan mereka bisa berbicara lebih mudah untuk mereka bisa terjun ke dunia masyarakat dan menggapai cita-cita sesuai potensi yang mereka miliki.  Itu lah mengapa semua orangtua yang memiliki anak dengan gangguan pendengaran akan rela jungkir balik melakukan ikhtiar apa saja demi meyelematkan verbal anaknya.

3.       Belum berbahasa bukan berarti tidak mendengar
Untuk menyelamatkan verbal anak-anak seperti Shanaz itu membutuhkan proses yang sangat puanjaaaang sekali. Ada 3 hal yang akan sangat menunjang keberhasilan dalam menyelamatkan verbal mereka, yaitu : alat yang memadai. Habilitasi keluarga dan bimbingan ahlinya (termasuk di dalamnya terapis, dokter THT dan audiologistnya).

Terkadang orang terburu-buru ingin mendapatkan hasilnya tapi lupa menikmati prosesnya. Padahal dalam prosesnya itu sangat membutuhkan kesabaran dan kosistensi yang sangat tinggi agar mendapat hasil yang diharapkannya.

Tapi tentu akan sangat menyanyat hati ketika sebagai orangtua kita sedang berusaha semaksimal mungkin, tapi orang lain sudah memperlakukannya mereka bicara dengan bahasa tarzan. Bahasa tarzan lho ya, bukan bahasa isyarat. Tau kan bahasa tarzan? Itu lhoo contohnya kalau mau bilang makan, alih-alih mengucakan kata makan dengan jelas malah justru menguncupkan tangannya dan menggerak-gerakkannya ke mulut seperti gerakan sedang menyuap makanan dengan tangan. Padahal kalau disebutkan saja kata ‘makan’ anak-anak ini paham lho.

 Selama alat bantu dengarnya terpasang dengan baik di telinga mereka, mereka itu mendengar dan memahami ucapan-ucapan kita kok. Bicara saja seperti bicara dengan yang lain. Meski kadang mereka belum berbahasa dengan sempurna, tapi dengan mengajak mereka berbicara layaknya seperti berbicara dengan yang lainnya, percaya lah itu juga sudah sangat ikut membantu mereka dalam proses menyelematkan verbalnya. Dan sebagai orangtua tentu kami sangat berterima kasih untuk itu.

4.       Tidak perlu bicara terlalu keras
Nah ini juga salahsatu hal yang orang awam tidak paham dan sering banget salah kaprah juga. Alat bantu dengar yang dipakai oleh Shanaz dan teman-temannya itu sudah berfungsi sebagai pengeras suara. Jadi suara yang masuk akan dibesarkan sesuai dengan tingkatan gangguan masing-masing mereka. Cara kerjanya mirip seperti amplifier atau microphone. Orang yang bicara dengan mic tidak perlu dia berteriak tapi suaranya sudah cukup besar untuk didengar oleh orang yang jaraknya cukup berjauhan dengannya sekalipun, ya kan?

Begitu pun dengan alat bantu dengarnya Shanaz. Dengan tidak berteriak pun, sebenarnya shanaz sudah bisa mendengar dengan baik. Malah jika bicara terlalu keras justru membuat beberapa huruf menjadi hilang. Contoh kata ‘makan’ tadi, jika disebutkan dengan teriak maka yang terdengar oleh Shanaz justru hanya ‘ma-an’, huruf K nya malah hilang. Tidak percaya? Coba saja bicara sambil menggunakan mic, mana yang lebih terdengar jelas, saat teriak atau bicara normal?

5.       Akankah Shanaz diajarkan bahasa isyarat?
Saat awal-awal shanaz divonis tidak bisa mendengar, saya sering sekali mendapat tautan video tentang bahasa isyarat. Menurut saya itu cukup sweet (maaf bukan tidak mau menggunakan bahasa Indonesia yang benar, hanya saja saat menulis cukup manis, kok makna nya jadi beda ya?;p). Dan sampai sekarang pun saya juga sering ditanyakan juga, apakah nanti Shanaz akan diajarkan bahasa isyarat?

Saya pribada melihat bahasa isyarat memiliki seni tersendiri. Jauh sebelum saya mengetahui Shanaz seorang Tuli, saya sudah lebih dulu jatuh cinta dengan bahasa isyarat sejak menonton serial switch at birth di starworld (iya, hidup saya sereceh ini, hanya seorang mamak yang menghabiskan jatah me-time nya dengan menonton serial di starworld ;-p).  Menurut saya itu suatu hal yang keren ketika kita bisa berkomunikasi tanpa harus menggunakan suara.

Yang saya baru tahu adalah ternyata tiap negara memiliki bahasa isyarat yang berbeda. Di Amerika disebut American Sign language (ASL), sedangkan di Indonesia disebut Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia).

Hanya saja karena dalam masyarakat kita penggunaan Bisindo ini masih sangat terbatas, tentu saja fokus utama saya saat ini adalah menyelamatkan verbalnya. Dan masih besar harapan saya untuk shanaz agar dia bisa bicara seperti anak-anak mendengar lainnya.

Tapi nanti saya janji saya akan tetap mengajarkan dia bahasa isyarat, Karena saya mau kelak Shanaz tidak hanya bisa berguna untuk dirinya sendiri dan keluarga, tapi juga berguna untuk semua orang, tidak peduli entah orang tersebut bisa mendengar atau tidak, bisa berbicara atau tidak.

6.       Tuli = masa depan suramnya (?)
Saya ingat sekali setelah Shanaz divonis tidak bisa mendengar, malamnya yang saya dan suami lakukan adalah mencari di mesin pencari dengan kata kunci “orang Tuli yang sukses”. Mengejutkan, saya menemukan banyak sekali nama.

Sekarang saya paham kenapa Tuli dewasa tidak ingin dikasihani. Bahkan mereka juga tidak ingin disebut tuna rungu. Karena memang tidak ada yang perlu dikasihani. Selama mereka mendapat kesempatan yang sama, bisa berkembang sesuai dengan potensi masing-masing, kalian akan kaget melihat banyak sekali profesi yang sudah dijalani oleh para Tuli ini. Ada dokter gigi, fotografer, model, Public Relationship dan banyak lagi.

Masa depan seseorang tidak diukur dari dia bisa mendengar atau tidak, tapi bagaimana dia mau benar-benar mengenal potensi dirinya sebaik mungkin. Mungkin anak-anak dengan gangguan pendengaran seperti Shanaz dan teman-temannya memang harus berjuang sedikit lebih keras, tapi bukankah tak ada hasil yang mengkhianati usaha kan?





5 comments:
Saturday, July 22, 2017

Jangan mau menjadi Super Mom


Sumber gambar www.freepik.com
Ketika telah menjadi seorang ibu ada satu hal yang sebenarnya tidak ingin saya lakukan, yaitu menjadi super mom. Kalau sekarang saya terlihat seperti melakukan semuanya sendiri, sebenarnya tidak. Ada bantuan-bantuan ‘tak tampak’ yang meringankan pekerjaan saya. Nanti akan saya sebutkan di bagian terakhir. Tapi sebelumnya saya ingin membahas yang ini dulu.

Saya akui pernah pada masanya saya seperti terobsesi ingin bisa melakukan semuanya sendiri. Rumah harus bersih, makanan harus lengkap, cucian harus wangi dan licin. Masa-masa itu terjadi diawal-awal pernikahan saya saat hamil Indira, anak pertama saya. Dan sampai Indira lahir pun saya masih juga terobsesi pengen mengerjakan semuanya sendiri.

Puncaknya itu ketika Indira masuk usia 6 bulan dan dia butuh makan. Mengurus Mpasi bayi itu kan punya tantangan tersendiri ya, akhirnya saya kewalahan, bingung sendiri mau mengurus yang mana dulu, ujung-ujungnya saya lambaikan bendera putih dan mulai mencari asisten rumah tangga.

Singkat cerita, setelah ada ART saya merasa hidup saya penuh warna. Tidak hanya mendapatkan bantuan untuk urusan rumah, tapi saya juga jadi punya teman ngobrol di rumah. Dan tidak lama kemudian, saya hamil anak kedua, Danesh. Eeeh setelah itu gantian si mba yang ikutan hamil. Mungkin kata orang tentang hamil itu menular benar lah adanya.

Sayangnya rejeki saya mendapat ART harus berhenti sampai disitu. Karena si mba hamil, kemudian si mba nya memutuskan untuk pulang kampung dan melahirkan disana. Dia juga lebih memilih hidup dan membesarkan anaknya disana daripada balik ke Jakarta (waktu itu saya masih tinggal di Jakarta).

Setelah itu saya patah hati buibu. Entah kenapa saya tidak tertarik untuk mencari ART lagi, Karena tidak akan ada yang bisa gantikan si mba dihati saya. Hiks

Berbeda dengan dulu awal menikah, kali ini justru saya lebih santai meski tidak ada ART. Rumah kotor? Ya wiss lah. Tidak sempat masak? Cari matengan di warteg aja. Ajaibnya hidup saya pun baik-baik saja meski tidak ada asisten yang membantu.

Tanpa saya sadari keadaan itu terus berlanjut sampai sekarang saya sudah punya anak tiga dan sudah hijrah ke Pekanbaru juga. Entah kenapa saya jadi sangat menikmati ‘kesendirian’ saya ini dan jadi malas membuka diri buat yang baru (ini lagi ngomongin ART lho ya. jangan Baper. Ingat ART alias Asisten Rumah Tangga).

Nah seperti saya sebut diatas, meski saya terlihat ‘super mom’, tapi sebenarnya tidak kok. Ada tangan-tangan tak tampak yang sebenarnya terlibat dalam urusan domestik rumah tangga saya.

Untuk tim konsumsi, saya punya katering harian yang siap menghantarkan lauk & sayur setiap hari ke rumah saya. Butuh cemilan? Tenang, ada babang go food yang akan beraksi. Cucian numpuk? Serahkan kepada Ahlinya, yaitu tim laundry kiloan.

Dan ada satu lagi tim yang tidak kalah pentingnya untuk kewarasan hati, jiwa dan pikiran saya sebagai mamak beranak tiga. Meski tim ini tidak bisa dimasukkan ke dalam tim inti, tapi sebenarnya kehadirannya cukup sangat menunjang kelancaran roda pemerintahan rumah tangga kami. Karena pepatah yang mengatakan, mamak senang, anak senang, bapak pun tenang (pepatah apa itu coba?) tidak lah terbantahkan lagi.

Dan ini lah yang disebut dengan tim estetika alias salon kecantikan. Ibarat mobil ada masa nya kadang saya harus di ‘tune up’ agar lebih nyaman untuk dinaiki (eh, gimana? Kok istilahnya kayak ada yang mengganjal ya?;p). Dan untuk urusan kecantikan saya percayakan kepada Latifa beauty clinic.


Kenapa? Karena di Latifa ini bukan hanya ada terapisnya tapi juga ada dokter kecantikannya. Sebelum melakukan perawatan, kita bisa berkonsultasi dulu dengan dokternya agar dokternya bisa memutuskan perawatan yang tepat dengan kondisi kulit kita.

Tidak hanya itu, untuk tempat perawatannya juga rapi dan hygenis sekali. Di bawah tempat tidur perawatan wajah terletak satu kotak kuning tempat pembuangan suntik yang sudah tidak dipakai. Jadi suntik-suntik bekas pakai tersebut tidak boleh dibuang sembarangan.

Kalau ke Latifa saya sukanya di facial PDT. Facial PDT ini macam-macam variannya tergantung kondisi kulit masing-masing. Untuk saya sih seringnya dipakai yang whitening. Bukan bermaksud memutihkan sih tapi hanya mencerahkan saja Karena kulit saya memang cenderung kusam.

Tahap-tahap untuk facial ini adalah pertama membersihkan wajah dengan milk cleanser, lalu dilanjutkan dengan facial wash dan toner. Setelah itu muka saya di uap yang kata terapisnya ini disebut sebagai vapo zone. Seingat saya dulu terakhir saya sering di facial, alat uap itu besar sekali dan ditaruh sekitar 2 cm di atas wajah saya. Entah hanya perasaan saya saja tapi  jadi merasa kayak susah nafas gitu dan akhirnya lebih memilih minta dipakaikan handuk basah ditempel di daerah T di wajah saya. Dan kemudian saya menyadari, terakhir saya di facial itu kan beberapa puluh tahun sebelum masehi, saat tingkat ke-kerenan seseorang diukur dengan bisa mengetik sms dengan satu jempol tanpa melihat layar, jadi jelas lah saat ini era nya sudah berubah. Kalau sekarang alatnya mah sudah canggih-canggih.




Dan setelah itu yang dilakukan adalah ekstraksi komedo alias mencabut komedo. Nah ini, ini yang tidak berubah, rasa sakitnya masih sama seperti yang saya rasakan dulu. Periiih jendral. Tapi abis itu sih hidung jadi licin banget kayak perosotan di taman bermain anak ;p.

Setelah komedo bersih, terapis mengoleskan semacam alkhol ke daerah T wajah saya agar tidak iritasi katanya. Saya lupa kegiatan ini istilah ini namanya apa, di catatan saya sih ditulisnya HF, tapi entah saya yang lupa tulis atau terapisnya yang lupa jelaskan HF itu kepanjangannya dari apa ya. lalu setelah dioles alcohol, proses selanjutnya itu ada semacam alat berbentuk stik yang sedikit ada rasa sengatan listrik di wajah saya.




Dan kemudian masker PDT pun dimulai. PDT adalah singkatan dari Photo Dynamic Therapy yang mempunyai banyak manfaat, salah satunya mampu meperlancar peredaran darah. Jadi ini semacam topeng dengan sinar biru yang diletakkan ke wajah kita dan dibiarkan beberapa saat. Saya tidak tahu bagaimana proses si topeng ini bekerja tapi setelah pakai ini memang terasa sih kulit jadi lebih kenyal dan lembut.

Tapi jangan salah, ini bukan langkah terakhir lho. Habis ini ditambah lagi dengan masker whiteningnya. Masker ini berbentuk peel-off, jadi setelah beberapa lama maskernya mengering sendiri dan dikelupas oleh terapisnya. Lalu kemudian wajah saya di lap pakai kapas basah agar sisa-sisa maskernya terangkat sempurna. Dan setelah itu diberikan kul-cool oleh terapisnya yang katanya  ini bisa untuk menutup pori-pori saya kembali.  Langkah terakhir saya di oleskan pelembab sunblock. Selesai..


The power of salon itu emang terasa banget ya efeknya. Pulang-pulang langsung berasa cantik, segar terus mau ngapa-ngapain juga jadi bersemangat lagi. Apalagi kalau klinik kecantikannya super memuaskan seperti di Latifa ini. Recommended lah pokoknya.

Di latifa tidak hanya ada facial saja, tapi juga ada creambath, medi pedi dan yang paling jadi produk andalannya adalah MESO BB GLOW alias sulam bedak. Pernah kepikiran ga sih kenapa artis korea bisa kinclong banget? Nah salah satu rahasianya ya ini. Mereka sulam bedak. Penjelasannya sederhananya adalah sulam bedak ini memasukkan ‘bedak’ ke wajah kita sehingga wajah kita terlihat seperti memakai bedak terus. Obatnya di impor langsung dari Korea lho. Dan ini tahan sampai 6 bulan.

Jadi buat kamu-kamu yang suka selfie di pagi hari dengan caption ‘ I wake up like this’, cocok nih di sulam bedak dulu biar tidak usah bedakan lagi sebelum difoto atau pakai aplikasi beauty cam. Karena cantik itu datangnya dari dalam. Atau paling tidak sulam bedak cukup mendekati lah😉

Penasaran? Cuus silahkan cari info selengkapnya ke LATIFA BEAUTY CLINIC di Jalan. Tuanku Tambusai No. 59 Pekanbaru atau boleh tanya-tanya di Line mereka @latifabeauty atau follow juga Instagramnya di @latifabeauty ya. Selamat mencoba. Selamat jadi cantik.
5 comments: