Wednesday, April 26, 2017

Resensi Buku “SAYANG KAKAK SAYANG ADIK” oleh Naning Chandra  




Punya saudara itu adalah anugerah. Teman boleh datang dan pergi, tapi tidak dengan saudara. Dia tetap akan ada tidak peduli seburuk apa pun kita. Itulah kenapa ada istilah “blood is thicker than water”. Tapi tentu saja anak-anak belum benar-benar paham akan hal ini. Boro-boro berharap mereka akan mengganggap saudara mereka adalah anugerah, yang ada juga mereka menganggap saudara mereka adalah hal yang paling menganggu dalam hidup mereka

“Bun, ade kesel sama kakak. Selalu kalau main harus sesuai mau kakak. Tukar aja kakaknya.”
“iiih, ada juga ade tuuh bun yang kalau main ga pernah ikut aturan. Ngga seru main ade. Enakan juga main sama temen kaka di sekolah. Dasar ade jeleeeeeek”
( Bundanya pura-pura tidak dengar sambil terus makan bakwan dengan 3 biji rawit sekaligus)
Pasti yang punya anak lebih dari satu sudah akrab kan ya dengan kejadian seperti diatas? Bahkan mungkin banyak yang lebih ajaib lagi kali ya. Namanya juga anak-anak ya. Sebentar berantam, sebentar baikan lagi. Tinggal bundanya saja yang harus nyetok bakwan yang banyak, biar ada pelampiasan yang bisa digigit kalau anak-anak lagi ‘manis-manis’ nya😝.
Nah buku nya Naning Chandra yang terbaru ini pas nih buat diceritakan ke mereka kalau sebenarnya mereka beruntung karena punya saudara. Buku berisi 7 cerita pendek tentang keseruan kakak beradik ini bisa jadi pilihan yang tepat untuk dijadikan bacaan seluruh keluarga. Halamannya yang penuh warna pasti akan menarik perhatian anak-anak. Dan juga ceritanya menggunakan dua Bahasa lho, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, jadi cocok buat anak seperti Indira yang memang lagi belajar Bahasa inggris juga. Masih belum cukup? Tenaaaang, masih ada lagi kok. Di buku ini juga disertai aktivitas di setiap akhir ceritanya. Anak-anak dijamin pasti akan suka.
Kalau untuk isi ceritanya sih tidak perlu diragukan lagi ya, penuh makna dan pesan moral didalamnya. Contohnya saja seperti cerita tentang Ninan dan Ninin, si anak kembar tapi tidak sama. Ninan berambut lurus dan punya lesung pipit, sedangkan Ninin berambut gelombang. Masing-masing dari mereka juga punya kelebihan dan kekurangan yang berbeda pula. Dan yang paling menyebalkan adalah ketika dikomentari orang lain disekitar mereka, “tuuh nanin sudah bisa ini, kok ninin belum?”. Begitu pun sebaliknya.

Kejadian serupa juga sering sekali terjadi  dengan Indira dan Danesh. Meski mereka bukan kembar, tapi umur yang terpaut hanya 18 bulan ini membuat mereka terlihat nyaris sepantaran. Dan tentu saja ini jadi bahan perbandingan orang-orang setiap ketemu mereka. Kalau sudah begitu, bundanya yang harus pintar-pintar menjelaskan kalau mereka tidak lah harus sama. Dan buku ini makin mempermudah penjelasan bundanya. Karena memang tidak ada orang yang benar-benar sama di dunia ini.
Cerita lainnya adalah tentang 4 saudara laki-laki Beni, Binu, Bono dan adik kecil mereka Dio. Sudah jadi rahasia umum kalau adik kecil pasti suka sama kakaknya, tapi kakak-kakaknya menganggap adiknya terlalu kecil buat main dengan mereka. Seperti Beni, Binu dan Bono yang menganggap Dio hanya menganggu permainan mereka saja. Meski sebenarnya Dio tidak bermaksud begitu, tapi tetap saja kakak-kakak telanjur kesal dengan adiknya. Cerita ini sangat cocok sebagai media kita menjelaskan ke anak-anak terutama buat para kakak yang suka sebal dengan adiknya. Sebenarnya bagaimanapun dari hati mereka terdalam mereka itu sayang banget lho dengan adiknya. Hanya saja kadang jika kita sebagai orangtua salah memberikan penjelasan yang ada malah si kakak merasa bundanya selalu berpihak dengan si adik. Jadi cerita ini bisa sangat mengajarkan betapa berharga dan beruntungnya mereka memiliki saudara.
Cerita yang tidak kalah seru adalah tentang Loli kelinci yang awalnya sangat senang karena  ditinggal sang kakak Lota ke acara kemping. Karena itu artinya dia bebas bermain tanpa harus mengikuti aturan si kakak. Dia bisa bermain boneka kakak tanpa harus minta izin terlebih dahulu, bisa bermain masak-masakan tanpa harus rebutan siapa yang jadi koki, dan juga bisa main ayunan sepuasnya tanpa harus gantian. Tapi justru ada perasaan aneh saat Loly memainkan itu tanpa kaka. Harusnya ini adalah permainan yang  seru tapi kok jadi terasa kurang menyenangkan ya. Waduh kira-kira perasaan apa yang muncul itu?

Cerita selengkapnya bisa dibaca di buku SAYANG KAKAK SAYANG ADIK ini ya. Seru-seru kan ya ceritanya? Yang diatas tadi itu baru 3 cerita lho, bayangkan ada 4 cerita lainnya yang tidak kalah serunya.

Selain alur ceritanya yang sederhana, kejadian-kejadian di buku ini juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Jadi saat dibacakan ke anak-anak mereka akan merasa 'senasib'.  Apalagi ditambah dengan ilustrasi yang sangat menarik, tidak ada alasan untuk anak-anak tidak jatuh cinta sama buku ini. Saya aja kesengsem apalagi mereka.

Naning Chandra ini adalah salah satu penulis buku kesukaan saya dan anak-anak. Sebut saja 40 karakter pemenang 1 dan 2, juga ada buku Gloob 1 dan 2 adalah judul buku Naning Chandra lainnya yang sudah setia menemani Indira dan Danesh dari saat mereka awal-awal belajar membaca, belajar Bahasa inggris  dan bahkan juga sebagai cerita pengantar tidur. Makanya saat tahu Naning Chandra mengeluarkan buku baru nya lagi, orang yang pertama paling semangat yaaa para kaka-kaka ini.
Kalau dulu mereka dibacakan oleh saya tapi sekarang mereka sudah bisa dan senang membaca sendiri. Dan inilah reaksi Indira setelah membaca buku ini:

“ Bun, cerita di buku ini persis kayak cerita kakak dengan adik danesh dan shanaz lho bun. Persiiiiis banget. Kok bisa sih?”.

Dan setelah itu dia langsung berubah jadi super manis dengan adik-adiknya. Walau pun cuma bertahan 15 menit sih, lalu kemudian rebutan lagi, berantam lagi-_____-.

Penasaran kan sama buku ini? Ayoo buruan cari di toko buku terdekat. Buku terbitan BIP ini dibandrol hanya seharga Rp 79.000,- saja lho. Selembar uang merah juga masih ada kembaliannya tuh. Murah kan? Beli yang banyak ya dan bagikan ke teman-teman dan saudara. Mari budayakan anak-anak kita biar senang membaca. Karena seperti kata poster yang selalu ada di dinding SD kita dulu bahwa membaca adalah jendela dunia.


2 comments:
Tuesday, April 18, 2017

Sahabat dari tubuh sendiri


Akhir-akhir ini isi blog saya sering sekali seputar Shanaz dan gangguan pendengarannya. Bahkan kalau dilihat ke media sosial pun sebagian besar unggahannya  juga seputar Shanaz. padahal kan profil blog ini tentang seorang ibu dengan 3 orang anak kan ya? Pembelaan saya sih karena kaka-kakanya  sekarang sibuk sekolah, jadi waktu yang tersisa bersama saya mulai sedikit. Shanaz itu sebenarnya anak ketiga dan dia punya 2 kakanya, yaitu  Indira (7 th) dan Danesh (5 th). Ketiga anak saya memang perempuan semua. Kata orang-orang itu artinya saya kaya, kaya cinta maksudnya.
Punya anak perempuan artinya kita punya sahabat dari tubuh kita sendiri. My best friend from my body.  Tapiii itu pun kalau kita bisa mendidiknya dengan benar. Bisa benar-benar menempatkan diri sebagai sahabat mereka. Ini kan masa nya mereka, ada beberapa hal tertentu dimana kita lah yang harus belajar dari mereka dan tidak sotoy.
Emang situ mau punya sahabat sotoy? Ngga kan? Sahabat yang kalau dicurhat-in bukannya jadi pendengar yang baik, tapi malah menceramahi balik, mana ceramahnya panjang ngalah-ngalahin rel kereta api lagi. Saya sih ogah punya sahabat kayak gitu. Dan nyatanya, anak perempuan kita pun sama, tidak mau juga punya sahabat seperti itu.
Ingat tidak beberapa tahun yang lalu ada sebuah film animasi yang judulnya Brave? Tokoh utama dari film ini adalah putri Merida. Inti ceritanya tentang hubungan seorang ibu dengan anak perempuannya dan bagaimana mereka akhirnya mampu menyelesaikan konflik diantara keduanya karena mau saling sama-sama belajar. Yang belum nonton gih cari DVD nya nonton bareng si anak gadis, dijamin mereka juga pasti suka. Film besutan Disney sih tidak usah diragukan lagi untuk urusan moral lesson nya ya.
Sumber gambar dari google.com

Ini salah satu putri Disney kesukaan saya dan juga kesukaan danesh. Putri tidak harus selalu girly, yang penting berani. Gara-gara film ini juga Danesh terinspirasi ingin latihan memanah katanya. Sayang bundanya belum sempat mencari tempat latihan memanah yang sesuai tapi semoga dalam waktu dekat akan realisasikan ya.
Satu hal yang paling melekat di benak saya dari film ini adalah ada kala nya sebagai ibu kita harus menurunkan ego, tidak memaksakan kehendak kita kepada si anak. Anak bukan lah wayang yang tangan dan kaki nya diikat dengan benang sehingga bisa digerak-gerakkan sesuka hati kita. Mereka adalah makhluk hidup dengan garis jalan hidupnya sendiri. Sebagai ibu kita adalah malaikat pelindungnya yang bertugas tidak hanya mengajarkannya banyak hal tetapi juga membiarkan mereka sesekali jatuh dan belajar untuk bangkit lagi.
Tapi tentu lah hidup tidak semudah bacotnya Mario -Mario bross maksudnya- yang penuh dengan teori tapi saat dijalankan ternyata sulit. Anak saya yang pertama umurnya baru 7 tahun, masih gampang-gampang susah untuk menjalin hubungan dia.
Bayangkan lagi kalau nanti dia sudah mulai belasan umurnya, lagi ngeyel-ngeyelnya, sudah mulai PMS, dan untuk kasus saya itu artinya dikali 3 karena ada 2 anak perempuan lainnya yang umurnya terpaut tidak jauh beda satu sama lain. Waah alamatnya bakal ada serangan invasi nih karena jumlah anak lebih banyak dari jumlah orang dewasa. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana kondisi rumah saya 10 tahun kedepan. *hela nafaaas panjang*
Terus solusinya gimana? Yaaa ngga gimana-gimana, kan anak saya belum ABG, jd belum bisa berbagi banyak dan saya juga bukan ahli psikolog jadi kurang paham juga solusinya apa. Lagian kan juga sebenarnya isi blog ini kan cuma curhat receh mamak doang yang tidak bisa memberikan solusi apa-apa. LOL.
Tapi mungkin yang mulai dari sekarang bisa saya lakukan adalah memupuk hubungan baik dengan si anak sejak dini. Kuncinya satu, komunikasi harus terbuka.
Contoh kasus waktu itu Indira pernah curhat katanya dia sedih kemarin salah satu temannya di sekolah meledek dia tidak bisa bilang “R”.
Indira : “Bun tadi si A ledekin kaka ngga bisa bilang R. trus dia juga marah-marah sama kaka bun”
Bunda : “Marah-marah gimana?”
Indira : “waktu itu kaka kan bercanda ngangetin dia dari belakang gitu, trus dia marah-marah sambil bilang dasar kamu ngga bisa bilang R juga”
*bunda diam sambil mikir*
Kalau lagi kurang eling mungkin responnya saya pasti akan seperti ini, “ kaka siiih bikin orang marah, kan dia jadi bete Karena kaka kagetin. Makanya lain kali jangan bercanda yang aneh-aneh lah”, tapi Alhamdulillah waktu dicurhatin Indira perut saya sudah kenyang makan pecel dan bakwan 3 potong. jadi bisa berpikir sedikit  waras. Respon saya saat itu setelah diam sejenak mikir dulu adalah,
Bunda : kaka sedih Karena diledek ga bisa bilang R ya?
Indira : (nangis) iyaa.. Bun ajarin kaka bilang R bun. Biar kaka ga diledek lagi
Bunda : ka, tiap orang itu special, punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mungkin kaka ngga bisa bilang R, tapi kaka pinter menggambar. Pinter Bahasa inggris juga. Dan lagi tau ngga kak, kalau yang ngga bisa bilang R itu kan pas ngomong Bahasa inggris aksennya jadi bagus lho kak. Kayak bule-bule gitu. Kan keren. Kalo kaka ngga suka diledekin, kaka boleh bilang sama temennya ga suka diledek seperti itu. Kalau masih diledek juga, ya udah biar aja, biar aja urusan dia dicatat malaikat. Mungkin juga dia sebenarnya ngga bermaksud meledak kaka, mungkin dia kaget saat kaka kagetin dari belakang. Coba ditanya sama temennya, kalau memang iya, jangan lupa minta maaf juga.

Beberapa hari kemudian, Indira cerita lagi kalau temannya sudah minta maaf dan dia sudah minta maaf juga. Sekarang mereka jadi teman cs, kemana-mana selalu berdua.
Hal yang paling membuat saya bahagia disini adalah bukan karena masalah terpecahkan tapi saya senang masih dijadikan tempat curhat untuk Indira. Dan itu penting. Karena dalam pergaulannya, kita tidak pernah bisa mencegah dia akan bertemu dengan siapa atau pun gesekan-gesekan apa yang akan muncul. Dan juga ngga mungkin selamanya ngintilin dia 24 jam memastikan dia tidak disakiti oleh teman-temannya. Tapi selama dia tahu persis ada bundanya sebagai tempat dia curhat, Insya Allah dia akan baik-baik saja.
Disini lah kita harus benar-benar memposisikan diri sebagai sahabatnya, bukan orangtua yang sok tahu dan menggurui. Sekali lagi, mana ada sih orang yang tahan curhat dengan orang sotoy, ya kan?
Hal lain yang juga saya lakukan sejak mereka kecil adalah menghargai pendapat dan pilihan mereka. Dan juga yang tidak kalah penting memberikan mereka kesempatan untuk menentukan pilihan mereka sendiri. Contohnya seperti  dari kecil saya selalu membiarkan mereka bebas memilih mau memakai baju apa. Saya tidak pernah mengambilkan atau menyediakan baju untuk mereka dari lemari. Paling yang saya lakukan adalah memberitahu jika pilihan mereka kurang tepat, kalau pun ngeyel ya sudah konsekuensi mereka tanggung sendiri.
Dulu pernah waku kita masih berdomisili di Jakarta dan suatu hari mengajak anak-anak mengisi akhir pekan ke Planetarium. Lalu dari rumah Indira memilih memakai  gaun putri Elsa. Benar-benar gaun Elsa yang bahannya dari satin & kain tile gitu lho. Lengkap dengan sarung tangannya juga. Padahal saat itu kita akan naik commuter line dan dari stasiun ke TIM nya kita lanjut ojek. Sudah dijelaskan dari rumah keadaan di jalan nanti akan seperti apa, tapi dia tetap dengan pilihannya. Bisa kebayang kan gerahnya bagaimana saat itu? 

Sesampai disana benar aja keringatnya bercucuran di seluruh badan Indira, saya tawarkan untuk berganti pakain denga baju kaos dan celana panjang yang sudah saya siapkan di dalam tas. Indira pun menyambutnya dengan sukacita dan menganggap saya pahlawan sambil tidak lupa bilang, “ makasih ya bun udah bawain baju ganti untuk kaka. Maaf ya kaka tadi ngga nurut sama bunda”.
Bayangkan kalau tadi saat di rumah saat dia memutuskan pakai gaun Elsa dan langsung saya tolak mentah-mentah. Meski maksud saya baik, tapi tetap saja pasti bakal jadi perang urat antara saya dan Indira. Jadi membiarkan mereka sesekali memilih keputusan yang salah adalah hal yang perlu dilakukan juga, tapi jangan lupa selalu siap jadi pahlawan ketika mereka menyadari keputusan mereka itu salah. Kalau sudah begitu semoga saja lama-lama mereka akan menobatkan kita sebagai penasehat pribadi dalam mengambil setiap keputusan mereka tanpa harus jadi ibu yang reseh yang selalu ingin ikut campur urusan anaknya. cerdas kan? *senyumpenuhkemenangan
Meski saya sadari apa  yang saya alami ini masih jauh dari konflik sebenarnya, bahkan seujung kuku pun tidak ada apa-apanya, tapi saya Insya Allah sudah siap batin. Semakin mereka besar tentu lah konfliknya akan semakin komplek. Dan ini tidak akan mungkin bisa dihindari.
Belum lagi perkembangan zaman yang kita tidak akan pernah tahu 10-20 tahun lagi dunia ini bakal secanggih apa, tapi selama tidak pernah berhenti belajar dan mau terus tumbuh dan berkembang bersama mereka, semua pasti akan terlewati dengan baik. Hp saja perlu di-upgrade, masak kita sebagai orangtua masih begini-begini saja. Saya yang sekarang sebagai ibu dari anak 7 tahun tentu tidak akan relevan  lagi untuk 10 tahun kemudian. Saya harus meng-upgrade diri saya menjadi seorang ibu dari anak 17 tahun. Baru lah nati semuanya akan berjalan dengan lancar, Aamiin..






1 comment:
Monday, April 10, 2017

Terapi AVT untuk anak Tuli

Hari ini saya akan berbagi tentang apa itu terapi AVT.  Seperti biasa sebelum dimulai yang ingin selalu saya garis bawahi adalah tulisan ini bukan lah pendapat dari ahlinya, ini murni dari sudut pandang orangtua yang anaknya mengalami Profound Hearing Loss. Yang baru mampir kemari, saya kenalkan kembali, anak saya bernama Shanaz, statusnya kanan 85 db dan kiri >110 db. Saat ini Shanaz menggunakan alat bantu dengar di kedua kupingnya.


AVT adalah singkatan dari Audio Verbal Therapy atau beberapa orang juga menyebutnya terapi mendengar. Karena memang dalam terapi ini yang dititik beratkan adalah proses mendengarnya bukan bicara. Itu lah kenapa terapi AVT sangat bertolak belakang dengan terapi wicara.

Masih kental di ingatan saya setelah shanaz dibacakan hasil BERA yang menyatakan dia Tuli Sensorineural Derajat Sangat Berat dan kemudian dokter THT nya menyarankan untuk membeli alat bantu dengar. Lalu setelah itu disarankan juga untuk melakukan skrining ke klinik tumbuh kembang anak. Saat itu dalam bayangan saya setelah ini Shanaz akan terapi wicara. Toh tujuan utamanya adalah menyelamatkan verbalnya, jadi tentu yang harus dilakukan adalah terapi wicara, ya kan? Tapi kemudian saya kaget ketika saya di klinik tumbuh kembang & dokter anaknya bilang " Bu, Shanaz butuh terapi AVT. Tapi disini (Pekanbaru, red) tidak ada terapi itu jadi ibu harus usaha sendiri atau ibu bisa terapi mandiri di rumah"

Duaaarrr hati saya seperti kesambar petir saat mendengar penjelasan itu. Saya bahkan sampai tawar menawar ke dokternya minta diterapi wicara juga ngga pa-pa lah, tapi kata dokternya kalau tidak dioptimalkan mendengarnya dulu percuma diterapi yang lain.

Seperti biasa, saya galau lagi. Shanaz sudah pakai alat bantu dengar saat itu, tapi dia tidak diterapi apa-apa. Waduuh gimana ini ya? Saya benar-benar tidak punya gambaran terapi mendengar itu seperti apa. Saya coba cari di mesin pencari tapi hasilnya tidak ada yang benar-benar menggambarkan AVT itu apa.

Sampai kemudian saya menemukan iklan seminar tentang menangani Pendekatan Audio Verbal Therapy (AVT) dalam penanganan Gangguan Pendengaran yang diselenggarakan oleh Medel dan Yayaasan Rumah Siput Indonesia. Saat itu yang jadi pembicaranya adalah ibu Eka Kurnia Hikmat, S.Psi dari Rumah siput dan DR. Dr. Semiramis Zizlavsky, sp. THT-KL (K). Seminar ini ternyata Roadshow di beberapa kota & beruntung Pekanbaru salah satunya. Tanpa babibu saya langsung menelpon dan mendaftarkan diri untuk ikut seminar itu.

Dari seminar ini saya mendapatkan pencerahan tentang apa itu AVT. Isi seminarnya sudah pernah saya tulis disini. Silahkan di klik untuk isi selengkapnya.

Tantangan selanjutnya adalah terapi AVT tidak ada di dalam kota. Tapi hey banyak jalan menuju Roma, ya kan? Singkat cerita sampai saat ini Shanaz mendapatkan kesempatan untuk bisa ikut terapi AVT meski dengan pengorbanan  yang tidak sedikit. Tapi itu sepadan dengan hasilnya. Umur pendengaran shanaz baru 3 bulan, tapi Alhamdulillah dia sudah sangat sadar suara. Dia juga sudah bisa meng-vokalisasi beberapa kegiatan seperti saat makan dia sebut namnamnam dan baru-baru ini shanaz bisa menyebut toktoktok sambil tangan mengetuk benda yang ingin dibukanya (misalnya pintu atau pun kotak).

Konsep dari terapi AVT ini adalah mendengar, mendengar dan mendengar. Bukan berbicara. Memang ada beberapa kasus terapi AVT dibarengi dengan terapi wicara, tapi jika dilakukan sejak dini & tidak ada masalah dengan struktur oral, kognisi dan lain sebagainya, bukan tidak mungkin dia tidak butuh terapi lain selain AVT ini saja.

Banyak yang mengeluh katanya AVT ini hanya untuk kaum tertentu karena AVT ini harganya mahal, hanya ada di kota besar jadi sulit dijangkau. Tapi tahu tidak bapak & ibu hebat, ada satu terapis yang siap melakukan terapi ini tanpa dibayar, terapis bersertifikat tertinggi langsung dari yang Maha Pemilik Kehidupan, terapis yang dijamin sangat cocok dengan anak kita. Terapis itu bernama orang tua.

Yup, kita lah yang harus terus melakukan terapi ini setiap saat di rumah. Seperti yang saya sebut diatas, inti terapi ini adalah si anak mendengar mendengar dan mendengar. Dan itu artinya kita sebagai orangtua harus bicara bicara dan bicara. Jangan dulu berharap si anak langsung bias menirukan suara yang kita ajarkan, tapi teruslah untuk mengisi berbagai kosakata dengan membahasakan setiap hal yang dia lakukan.

Memang harus ada beberapa teknis yang harus dipelajari dan berikut saya coba berbagi beberapa teknis yang saya dapat dari belbagai seminar tentang AVT yang pernah saya ikuti, termasuk salah satu nya beberapa hari lalu secara 'keroyokan' komunitas orangtua yang memiliki anak Tunarungu di Pekanbaru baru saja mendatangkan ibu Sinta Nursimah untuk mengajarkan praktek AVT
  • Ada yang namanya ear shoot, yaitu jarak bicara antara kita dengan telinga anak. Kenali ear shoot si anak. Jika dia membutuhkan ear shoot yg pendek misal hanya 20 cm, maka bicara lah di samping kupingnya tidak lebih dari 20 cm. Pelan-pelan jaraknya coba dinaikkan sedikit demi sedikit.
  • Tidak berteriak. Bicara terlalu keras hanya membuat huruf-huruf konsonannya menjadi hilang. Misalkan kita ingin mengajarkan kata 'makan', jika kita berteriak maka yang terdengar oleh si anak hanya lah huruf vokalnya saja 'a-an', M dan K nya menjadi hilang. Cukup bicara dengan suara standar saja, biar lah tugas alat bantu dengarnya saja yang mengeraskannya.
  • Bicara dengan intonasi. Gunakan intonasi saat berbicara dengan anak kita, tapi jangan berlebihan, sewajarnya saja. Karena mereka paling cepat menangkap suara dengan nada. Itu lah kenapa bernyanyi adalah kegiatan wajib dalam terapi AVT.
  • Bahasakan setiap hal yang dia lakukan. Apa pun itu. Karena ini adalah masa-masa saat dia harus mendengar, mendengar dan mendengar. Jadi mari bicara sebanyak-banyaknya.
  • Jangan patah semangat ketika si anak terlihat cuek dan masih belum mengeluarkan satu kata pun, padahal kita sudah sangat cerewet. Otak anak seperti spon, saat ini masanya kita memasukkan semua kata dan biarkan si anak menyerap semuanya, nanti ketika sudah penuh, akan ada waktunya akan dikeluarkan apa yang sudah didengarnya. Jadi tetap semangat ya.
  • Terapi tidak selalu harus dilakukan dengan duduk tenang, tangan dilipat di meja dan terapi pun dimulai. Yang tahu persis  si anak adalah kita orangtua nya sendiri. Jika dia anak yang aktif terapi bisa dilakukan sambil bermain bola misalnya.
    " ini bola. Mama tendang bola ke gawang ya. Bola nya besar, warnanya merah".
    Yang harus diperhatikan adalah pastikan alat bantu dengar berfungsi dengan baik, tidak ada suara-suara lain yang mengganggu dan jangan lupa dengan earshoot tadi.
  • Di dalam terapi AVT yang dihabilitasi mungkin hanya si anak, tetapi seluruh keluarga. Seluruh keluarga harus ikut serta dalam berinteraksi sehari-hari dengan si anak menggunakan metode AVT ini.
  • Tidak hanya itu di dalam AVT juga ada istilah sabotase terapi, yaitu menyabotase hal-hal yang disuka dengan tujuan agar dia 'terpaksa' mendengar apa yang kita ingin ajarkan. Contohnya jika si anak suka bersepeda, kita bisa menggembok sepedanya, ketika dia meminta buka, disaat itu lah kita bisa memasukkan kata-kata baru dengan cepat (karena saat itu si anak lagi punya perhatian penuh dengan kita berharap gemboknya dibuka
" oooo sepedanya dikunci ya? tunggu ya, mama cari kuncinya dulu. Tadi kuncinya mama disimpan di sebelah kanan, tapi kok tidak ada ya? mungkin ada di sebelah kiri di dalam plastik warna merah. yuk kita lihat yuk".
Tentunya sebelumnya kita sudah benar-benar menyiapkan kunci tersebut ada di dalam kantong merah di sebelah kiri tersebut.


Yang ingin saya tekankan di tulisan ini adalah bahwa kita semua sama. Jadi jangan mengkotak-kotakkan si A mampu AVT, si B tidak. Apalagi sampai berkecil hati. Tidak ada kasta diantara kita semua. Kita semua diberi amanah yang sama oleh Yang Maha Kuasa, itu artinya kita semua mempunyai kemampuan yang sama. Hanya jalannya saja yang berbeda-beda, tinggal kita mau belajar atau tidak. Dan jangan lupa, selalu banyak jalan menuju Roma, ya kan?
2 comments:
Sunday, February 26, 2017

Monster itu bernama Rubella

Karena postingan saya beberapa waktu yang lalu tentang hasil lab shanaz yang positif Rubella, banyak yang bertanya Rubella itu apa . Saya coba rangkum disini sependek pengetahuan saya ya, biar makin banyak orang yang sadar tentang Rubella.

Rubella atau biasa dikenal dengan campak jerman (German Measles) sebenarnya bukan lah virus berbahaya, tapi dia adalah musuh besar bagi ibu hamil terutama trimester pertama. Karena di masa itu lah saat-saat terbentuknya organ-organ penting pada janin.

Pada ibu hamil, Rubella bisa menyerang apa saja, mata, jantung, organ pendengaran, dan bahkan jika kena di otak bagian tengah bisa menyebabkan si anak mengalami cerebral palsy seperti yang dialami oleh salah satu teman blogger saya Grace melia pada anak pertamanya, ubi. Oh iya, yang diserang itu bukan ibunya lho ya, melainkan anak yang di dalam kandungan ibunya.
Sumber gambar : http://www.aloevera.in.net/GermanMeasles.htm

Munculnya Rubella biasa ditandai dengan demam tinggi dan ruam bintik-bintik di seluruh tubuh. Sayangnya tidak semua orang mengalami gejala yang sama, dalam kasus saya, bahkan tidak menyadari kalau saat itu saya terkena rubella. Tidak ada bintik-bintik, mungkin sedikit sumeng, tapi tidak ada gejala klinis yang serius.

Sebenarnya waktu itu yang kena Rubella adalah kaka-kaka shanaz, Indira (7th) & Danesh (5th). Dokter anaknya sih memang sudah mengingatkan saya untuk jangan terlalu dekat dengan mereka, takut menular ke saya yang saat itu lagi hamil shanaz umur 3 menuju 4 bulan. Tapi yaa waktu itu kita tinggal di unit apartemen yang luasnya tidak lebih dari 27m, gimana coba caranya biar tidak dekat-dekat? Sudah diantisipasi semampu saya bisa, misalnya dengan tiap hari lantai dan perabot dibersihkan dengan pembersih anti bakteri, baju mereka dicuci terpisah dan juga untuk urusan ke dokter, minum obat dan lain-lain, langsung ditangani dengan pak suami. Tapi emang qadarullah ternyata tanpa disadari saya terkena rubella juga.

Saat Shanaz lahir tidak ada yang aneh, semua terlihat baik-baik saja. Kecolongan saya lainnya adalah karena Shanaz lahir di klinik kecil, dia tidak melakukan tes OAE sebelum dibawa pulang ke rumah. Singkat cerita di umur shanaz 18 bulan baru lah kami sadar dia mengalami Tuli sensorineural derajat sangat berat pada telinga kanan dan kiri


Awalnya saat pertama saya tahu tentang kondisi shanaz, fokus utama saya adalah bagaimana menangani gangguan pendengaran yang dialami shanaz ini dengan benar. Saat itu saya tidak punya energi untuk mencari apa penyebab shanaz mengalami gangguan pendengaran sangat berat ini.


Sampai kemudian setelah 2 bulan berjalan, tepatnya beberapa hari yang lalu, saya membawa shanaz untuk tes darah & skrinning mata dan jantung. Dari pertama saya sudah curiga kalau biang keroknya pastilah si Rubella. Tapi tetap saya butuh hasil klinis supaya bisa benar-benar memastikan kalau dugaan saya benar.

Untuk prosedurnya, pertama saya konsultasi ke dokter anak sub spesialis tumbuh kembang. Di sana saya menceritakan riwayat medis saat hamil shanaz dulu. Dari dokter anak, beliau merujuk saya skrinning ke dokter mata & dokter jantung. Selain itu shanaz dirujuk juga untuk melakukan tes TORCH, tapi tidak perlu lengkap, cukup tes Rubella dan CMV. Kenapa CMV? Karena CMV juga termasuk virus yang paling sering menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran.

FYI, TORCH singkatan dari Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), Herpes. Dan semua ini adalah virus-virus yang sangat berbahaya jika menyerang janin pada ibu yang sedang hamil.

Di poli mata, shanaz diberikan tetes mata untuk membesarkan pupilnya agar dokter matanya bisa melihat apakah ada tanda-tanda penyebab katarak atau tidak. Alhamdulillah hasilnya bagus. Dokter tidak melihat ada gangguan pada organ penglihatannya.

Setelah itu, shanaz menuju ke poli jantung. Disana shanaz melakukan tes ECHO jantung. Dokter menanyakan perkembangan motorik kasar shanaz selama setahun belakang, grafis berat badan, dan juga melakukan USG untuk memastikan semua baik-baik saja. Alhamdulillah lagi dokter juga tidak melihat ada yang mencurigakan. Hasilnya jantung shanaz cukup bagus.

Oh ya sebelum shanaz skrinning di  kedua poli tersebut, shanaz lebih dulu diambil darah di laboratorium untuk mengecek rubella & CMV nya. Hasil tes keluar sekitar 3 jam kemudian. Dan tepat sekali setelah skrinning selesai, hasilnya pun keluar. Hasilnya adalah Anti Rubella IgG shanaz tinggi, yang artinya shanaz sudah pernah kena Rubella dan kemungkinan besar itu saat dia di perut dulu.

Untuk biaya rangkaian tes ini memang tidak bisa dikatakan murah. Biaya laboratoriumnya dikenakan sebesar Rp 1.932.100. Ditambah biaya konsultasi dokter Rp 280.000, maka totalnya adalah Rp. 2.242.100,-. Itu belum termasuk konsultasi dokter anak yang saya lakukan sehari sebelum tes dan sehari setelah tes keluar. Alhamdulillah rejekinya Shanaz saya tidak mengeluarkan satu rupiah pun, karena semuanya ditanggung oleh asuransi perusahaan tempat pak suami bekerja. Saya tidak tahu pasti apakah BPJS juga menanggung untuk tes ini atau tidak, tapi seingat saya teman saya yang memakai BPJS juga ditanggung semuanya.

Rasa syukur lainnya adalah saya bersyukur shanaz 'hanya' tidak bisa mendengar saja, sedangkan organ yang lain masih berfungsi dengan baik. Saya melihat sendiri ada banyak sekali teman-teman shanaz yang tidak seberuntung shanaz dengan multi gangguan baik di pendengaran, mata dan jantung. Saya doakan semoga Allah selalu memberikan kekuatan terbesar untuk para orangtua hebat di luar sana yang dengan sangat tegar bolak-balik mengantarkan anaknya ke ruang operasi untuk ikhtiar agar anak-anaknya mendapatkan hasil terbaik. You rock guys..

Kalau dirunut ke belakang, sebenarnya semua ini bisa dicegah. Untuk Rubella sendiri sudah ada vaksin untuk pencegahannya. Dan kalau pun sudah terjadi gangguan, seharusnya jika saat itu saya lebih teliti memilih tempat bersalin yang meyediakan tes OAE, tentunya semakin cepat diketahui semakin cepat ditangani dengan baik pula.

Tulisan ini bukan untuk menyesali apa yang sudah terjadi. Bagaimana pun saya dan pak suami sudah ikhlas & berbesar hati menerima semua ini. Saya hanya ingin pengalaman saya ini bisa jadi pelajaran buat yang lain. Pengalaman adalah guru berharga sudah so yesterday. Pengalaman ORANG adalah guru yang berharga jauh lebih efisien untuk sekarang ini. Sekali lagi, saya tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Sudah jalannya seperti ini. Insya Allah selalu percaya Allah maha baik dengan segala rencana-Nya untuk shanaz dan semuanya.

Saya sangat berharap buat teman-teman yang lagi program hamil, rencanakanlah kehamilan sematang mungkin, periksa status TORCH sebelum hamil. Sedikit pricey emang, tapi percaya lah mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Yang sedang mempersiapkan kelahirannya juga, pilihlah tempat bersalin dengan standar yang paling aman, salah satunya tes OAE pada bayi sebelum dibawa pulang ke rumah. Meskipun melahirkan adalah proses natural mempersiapkan semua sebaik mungkin tentu tidak ada salahnya.
11 comments:
Sunday, February 19, 2017

Memilih Alat bantu Dengar yang tepat

Tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang bagaimana memilih alat bantu dengar (hearing aids) untuk anak Tuli. Ini bukanlah referensi dari ahlinya, ini hanya berdasarkan pengalaman saya saja. Sekedar gambaran dari sudut pandang orangtua yang anaknya mengalami gangguan pendengaran berat.

Karena saya ingat sekali, 2 bulan yang lalu ketika Shanaz divonis tidak bisa mendengar dan langkah awal disarankan menggunakan Alat bantu dengar, saya blank. Bener-bener tidak ada bayangan sama sekali untuk alat bantu dengar belinya dimana, bahkan bentuknya pun saya belum pernah lihat. Dokter THT nya hanya berkomentar, "masak ibu ngga tahu belinya dimana? Yaa di hearing center lah". saya bahkan tidak pernah tahu di dunia ini ada tempat yang namanya hearing center.

Kalau dokter menyarankan membeli kacamata, saya dan semua orang pasti tahu kemana harus mencari kacamata, optik kacamata. Tapi jika yang disuruh beli ini alat bantu dengar, siapa yang bisa tahu kalau ada toko sejenis optik tapi khusus untuk kuping yang disebut hearing center.

Beruntung kita hidup di dunia milenial, tinggal ketik kata kunci "hearing center di pekanbaru"  maka muncul hasilnya. Keberuntungan lainnya saya menemukan komunitas anak-anak Tuli di facebook yang kemudian dari komunitas ini saya sampai ke group lebih kecil dengan ruang lingkup di Pekanbaru dan sekitarnya. Disini lah saya kemudian menemukan pencerahan apa dan bagaimana membeli alat bantu dengar yang sesuai kebutuhan.

Hal yang pertama harus dilakukan adalah survei ke beberapa tempat untuk mendapatkan perbandingan sebelum memutuskan membeli. Karena di Pekanbaru hearing center terbatas, saya waktu itu hanya pergi ke 2 tempat, ABDI dan optik melawai (beberapa optik melawai juga menjual alat bantu dengar). Belakangan saya baru tahu ada hearing center lainnya di Panam namanya eartec, tapi karena saya tidak sempat ke sana jadi saya tidak bisa tulis tentang hearing center ini ya.

Berikut hasil survei dari 2 hearing center yang saya kunjungi :

ABDI adalah hearing center berskala nasional yang sudah ada di 31 kota besar. ABDI menganjurkan Shanaz menggunakan Alat Bantu Dengar merk Starkey. Ada 2 tipe yang ditawarkan ke saya saat itu, yaitu :
  1. 3 series i30, mempunyai 6 gelombang, directional microphone, wireless dan memiliki 4 program. Harganya Rp 12.700.000,- untuk satu kuping
  2. 3 series i20 mempunyai 4 gelombang, directional microphone, wireless dan memiliki 4 program juga. Harganya Rp 9.200.000,- untuk satu kuping.

Pada dasarnya kedua alat bantu dengar diatas memiliki fitur yang sama, yang membedakannya hanya pada gelombangnya saja. Gelombang ini lah yang menentukan kejernihan suara yang diterima si pemakainya. semakin besar gelombangnya, semakin jernih suara yang ditangkapnya.

Sedangkan di Optik Melawai ada 3 tipe yang ditawarkan dengan klasifikasi dibagi menjadi 3 kelas, standart, middle dan upper.
  1. Standar : GM Resound - Magna 290, memiliki 6 gelombang dengan harga Rp 7.410.000 untuk satu kuping.
  2. Middle : GM Resound - Magna 490, memiliki 9 gelombang dengan harga Rp 8.468.000 untuk satu kuping.
  3. Upper : Aumbel - A3 Gold, memiliki 12 gelombang dengan harga Rp 15.500.000 untuk satu kuping.
ABDI menyarankan saya mengambil alat bantu dengar untuk kedua kuping agar stimulasinya seimbang. Sedangkan Optik Melawai menyarankan cukup mengambil satu kuping saja, karena kuping kiri shanaz termasuk ke dalam gangguan pendengaran kategori sangat berat jadi tidak akan terjangkau jika hanya menggunakan alat bantu dengar.

Dan galau pun dimulai kembali sodara-sodara. Saya coba cek lagi di internet tentang ini dan itu, konsultasi ke sana-kemari, sampai pada akhirnya saya dan pak suami memutuskan membeli alat bantu dengar untuk Shanaz di ABDI saja dengan pilihan merk Starkey tipe 3 series i30 untuk kedua kupingnya.

Kenapa memilih ABDI? Berikut pertimbangannya :
  • Seperti yang saya sebut diatas, ABDI adalah hearing center berskala nasional. Dengan pertimbangan pak suami bisa hijrah kemana saja, banyaknya cabang ABDI di hampir seluruh Indonesia tentu tidak akan merepotkannya kami di kemudian hari. Optik melawai berskala nasioal juga sih tapi tidak semua tokonya menjual alat bantu dengar, hanya tertentu saja, karena fokusnya mereka lebih ke kacamata.
  • Membeli Alat bantu dengar tidak sama dengan membeli kacamata. Kacamata hanya sekedar mengukur minus/plus nya,  kemudian dipakai dan urusan pun selesai. Berbeda dengan Alat bantu dengar dimana banyak hal yang harus dilakukan agar alat tersebut bisa bekerja dengan maksimal. Jadi sangat disarankan membeli alat bantu dengar di tempat yang tidak hanya menjual tapi juga menyediakan jasa audiometri . Dan yang tidak kalah penting adalah pilihlah konsultan yang ramah dan komunikatif sehingga mampu mengedukasikan orangtua tentang alat bantu dengar tersebut. Di kota-kota besar seperti Jakarta hearing center sudah dilengkapi dengan Audio Verbal Therapy (AVT), Free Field Test (FFT) dan lain sebagainya. Sayang fasilitas-fasilitas ini belum ada di Pekanbaru.
Dan yang harus digarisbawahi adalah apapun alat yang dipilih tetap yang mempunyai peranan penting itu orangtua. Sebagai orangtua kita harus berperan aktif baik untuk melakukan terapi di rumah maupun memantau alat tersebut agar tetap bekerja secara optimal. Karena orang tua, bimbingan ahlinya dan alat yang mumpuni adalah 3 faktor utama keberhasilan anak-anak Tuli agar bisa mendengar seperti yang lainnya. Jadi, Mari kita semangat. Jangan menyerah karena nanti akan ada saatnya kita akan memetik hasil terbaik. Aamiin

Tulisan lainnya tentang Shanaz & gangguan pendengarannya ada di :
  1. tes pendengaran pada anak penting kah?
  2. mereka adalah ladang amal kita
  3. shanaz yang tak sunyi lagi
  4. menangani gangguan pendengaran pada anak
P.s. Harga-harga diatas adalah harga tahun 2016. Harga tersebut bisa saja sudah mengalami kenaikan. Silahkan cek langsung ke terkait untuk pastinya.


3 comments:

Menangani gangguan pendengaran pada anak

Beberapa hari yang lalu saya dan pak suami mengikuti seminar tentang penanganan gangguan pendengaran. Seminar ini membuka wawasan saya tentang apa dan bagaimana cara menangani gangguan pendengaran itu sendiri.


Di blogpost sebelumnya saya pernah bahas tentang tingkatan gangguan pendengaran berdasarkan ambang dengar. Untuk mempermudah memahami, saya jelaskan dulu sebelumnya apa itu ambang dengar. Ambang dengar adalah batas sejauh mana si penderita bisa mendengar yang diukur dengan satuan decibels (dB)
Sumber : yayasan rumah siput indonesia

Ada gangguan pendengaran ringan (slight/mild) untuk ambang dengar 26 dB-40 dB, gangguan pendengaran sedang (moderate) di ambang dengar 41 dB - 60 dB,  gangguan pendengaran berat (severe) di ambang dengar 61 dB - 80 dB dan gangguan pendengaran sangat berat (profound) diatas 81 dB.

Ambang dengar shanaz masuk dalam kategori berat (profound), yaitu kanan 80 dB dan kiri 110 dB.

Dalam teorinya, untuk sampai ke tahap si anak bisa berbicara status ambang dengarnya harus di dalam area merah pada gambar dibawah ini.
Sumber : yayasan rumah siput indonesia

Status ambang dengar yang dimaksud ini bukan lah ambang dengar saat tes pendengaran awal, tetapi ambang dengar yang sudah diintervensi baik menggunakan alat bantu dengar (selanjutnya akan disebut ABD) atau pun implan koklea. Biasanya untuk pemakai ABD ambang dengarnya bisa naik sampai setengah dari yang sebelumnya. Sedangkan implan koklea bisa mencapai lebih dari itu.

Untuk itu ada 3 hal yang harus agar tercapainya ke tahap anak bisa berbicara, yaitu :

1. Identifikasi dini

Rumus identifikasi adalah 1:3:6, yaitu sebelum bayi berumur 1 bulan, pihak rs wajib melakukan tes pendengaran berupa OAE (Oto acoustic Emission). Akan ada 2 hasil yang akan muncul dalam test ini, pass (lulus) dan refer (merujuk ke test berikut). Jika refer, maka anak wajib mendapatkan tes berikutnya di umur 3 bulan. Disini dokter sudah dapat memutuskan diagnosa terhadap anak tersebut apakah anak tersebut mengalami gangguan pendengaran atau tidak. Lalu di umur 6 bulan harus sudah ada intervensi untuk membantu si anak bisa mendengar, misalnya memakai ABD. Semakin cepat diintervensi semakin baik. Karena artinya semakin kecil jarak antara umur biologis dan umur pendengarannya.


2. Dukungan penuh orangtua
Setelah pemasangan ABD atau pun implan koklea peranan orang tua  adalah hal yang cukup krusial. Seberapa pun mahal terapi yang kita ambil untuk anak-anak kita, tetap lah dukungan penuh dari kita segalanya. Karena terapis hanya membantu anak kita sekitar 1 atau 2 jam, selebihnya orangtua lah yang harus ikut berperan aktif di rumah. 
Menurut Hart & Risley (1995 & 1999) orangtua wajib berbicara dengan si anak 340 kalimat per jam, 1440 kata per jam, 90 pertanyaan per jam, 17 pujian per jam, dan 7 larangan per jam *lap keringat*


3. Bimbingan dari ahlinya
Untuk kasus anak tuna rungu, terapi yang harus pertama kali diambil adalah terapi mendengar atau Audiotary-verbal therapy (selanjutnya akan disebut AVT). Fokus utama dari terapi ini adalah mengejar keterlambatan mendengar. Otak auditory (pendengaran) sudah dibentuk dari 20 minggu sebelum melahirkan. Jadi meski dari lahir sudah diidentifikasi ada gangguan pendengaran, tetap saja sudah telat 20 minggu. Konon lagi shanaz yang baru diketahui diumurnya 18 bulan.
Umur biologis shanaz sekarang adalah 20 bulan, tapi umur pendengarannya baru 14 hari atau 2 minggu. Harapan saya dan saya yakin semua orangtua dari anak tuna rungu pasti menginginkan hal yang sama, yaitu umur pendengaran anaknya bisa sama dengan umur biologisnya

Jika 3 hal itu dilakukan 100 %, saya percaya Allah akan membayar semua usaha kita. Allah maha baik. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini.

PR saya untuk shanaz sekarang ada di poin 3. Sayangnya terapi AVT ini belum ada di Pekan Baru. Sejauh ini baru ada di jakarta, medan dan bali. But hey where there is a will, there is a way, right? Saya dan pak suami insya Allah sudah menyusun langkah-langkah apa yang harus kami tempuh demi shanaz mendapatkan terapi AVT ini. Nanti di blogpost berikutnya akan saya bahas khusus tentang ini.

Seperti yang saya sebut diawal, di seminar ini banyak sekali ilmu yang saya dapat. Salah satunya saya jadi tahu ternyata bukan telinga yang membuat kita bisa mendengar tetapi otak. Otak auditory lebih tepatnya. Telinga hanya lah pintu masuknya bunyi-bunyian

Suara masuk ke liang telinga kemudian melewati gendang telinga. Dari gendang telinga suara (dalam hal ini bisa juga disebut energi akustik) menuju ke sebuah tempat yang mirip dengan rumah siput atau istilahnya adalah koklea. Di koklea ini  tempat terjadinya perubahan bentuk dari energi akustik menjadi energi listrik dan kemudian dihantarkan ke syaraf pendengaran.

Masalah pada anak yang mempunyai gangguan pendengaran  biasanya ada pada rumah siputnya. Di dalam rumah siput ini terdapat lagi rambut-rambut halus. Nah rambut halus ini lah yang biasanya mengalami kerusakan sehingga tidak dapat menghantarkan listrik ke otak.

Disitulah awal fungsinya pemakaian ABD pada anak tuna rungu. Untuk mengeraskan suara sampai ke ambang dengar si pemakai. Dan semua itu butuh proses yang sangaaaat sangaaat panjang sekali.

Sedangkan tujuan utama operasi implan koklea adalah untuk mengalihkan fungsi koklea atau rumah siput yang tidak aktif tersebut dengan alat tertentu sebagai penghantar listrik langsung ke syaraf pendengaran .

Saat awal saya membayangkan operasi ini pasti lah sangat mengerikan. Bayangkan saja katanya alat tersebut di tanam dalam otak sebagai pengganti rumah siput. Terus itu masuknya gimana? Dibelah kah kepalanya?iiiiih...

Ternyata proses operasinya termasuk operasi sederhana. Yang diiris hanya lah belakang kuping saja. Dan bahkan pendarahannya jauh lebih sedikit dari operasi amandel. Ooooohh ya ya ya..

Saya pribadi sih masih sangat berharap semoga ABD shanaz masih menjangkau semua gangguan pendengaran shanaz. Tapi kalau pun Allah merencanakan hal yang lain, saya yakin pasti Allah sudah mempersiapkan sepaket dengan jalan keluarnya. Insya Allah..
1 comment:
Sunday, February 12, 2017

Drama antara Jakarta - Pekanbaru

Saya baru saja mengalami penerbangan terburuk dalam hidup saya beberapa hari yang lalu saat terbang dari Jakarta ke Pekanbaru. Dimulai dari saat proses check-in yang semrawut sampai harus mendadak mendarat di Palembang. Dan tau tidak apa yang semakin memperburuk dari semua itu? Orang-orang yang ada di dalam pesawat tersebut. Flight attendant bahasa sononya. Penumpang bahasa sininya.

Gimana tidak? Pesawat saya dijadwalkan berangkat pukul 14.30 dan kebetulan saya sudah ada di terminal keberangkatan pukul 12.00. Tadinya saya pikir dengan waktu yang cukup luang, saya masih sempat untuk makan dulu. Tapi ternyata saya baru selesai antre  pukul 13.30. Satu jam setengah saja sodara-sodara berdiri ngantre buat check in. Dan sekedar informasi itu ngantrenya di counter tanpa bagasi lho.

Jadi gini, saat pertama saya masuk ke terminal kedatangan aja itu isinya udah sangat cendol. Dimana-mana lautan manusia. Lalu kemudian ada seorang petugas berteriak " TANPA BAGASI COUNTER 21". Saya pun langsung menuju ke counter 21

Sampai disana, antrean cukup manusiawi. Tapi sayang antreannya tidak jalan-jalan. Satu orang mungkin butuh dilayani 10 sampai 15 menit. Bahkan lebih.

Awalnya saya pikir sistemnya rusak. Sampai kemudian saya melihat sendiri ketika ada seorang ibu yang tadinya mengantre tanpa bagasi, saat kemudian gilirannya dan si petugas lagi memproses tiba-tiba dia lari ke belakang dan tau ngapain? MENGAMBIL BAGASI NYA YANG DISIMPAN DI BELAKANG ANTREAN. Mungkin definisi tanpa bagasi si ibu adalah 'tanpa' bagasi saat mengantre. Ngok (1).

Dan kemudian ketika bagian saya dilayani, saya pun bertanya ke petugasnya

"kok lama banget sih mba antriannya jalan? Sistemnya lagi rusak ya?"

"Ngga kok bu. Tapi yaa itu ada aja penumpangnya yg bermasalah".

Dan saya pun dilayani tidak sampai 5 menit boarding pass saya terbit.

Rentetan masalah terus berlanjut sampai di ruang tunggu, pesawatnya terlambat datang. Delayed cuy delayed. Tapi itu sudah bukan kabar baru lagi ya? Sudaaah biasaaaaa. Yang luar biasa dan paling membuat panik tingkat dewa itu adalah saat  tiba-tiba pilotnya melakukan pendaratan tapi bukan ke tujuan semula melainkan dialihkan ke Palembang. Wait, WHAAAAT????

Sebenarnya saya bukan ingin membahas itu sih. Itu adalah masalah teknis. Saya percaya siapa pun yang punya otorisasi mengambil keputusan pasti lah sudah mempertimbangkan banyak hal dan keselamatan penumpang diatas segalanya.

Yang justru ingin saya bahas adalah perilaku konsumennya. Dalam hal ini penumpang. Iyah, saya, kamu dan kita. Ada perbedaan  signifikan ketika saya naik pesawat dari terminal 3 dan ketika saya ada di terminal 1 B. Tidak usah deh ngomong harga dulu. Terminal 1 B memang untuk maskapai budgeting tapi tidak berarti sikap kita bisa murahan juga dong. Sebelum marah-marah protes sana sini coba pastikan dulu kamu penumpang yang sudah taat aturan belum?. Karena marah-marahnya situ makan waktu, menghambat orang lain yang butuh cepat.

Contohnya saja seperti kemarin ada beberapa orang-orang yang marah-marah karena dia belum check in  sedangkan waktu keberangkatan sudah mepet. Padahal petugas sudah mengumumkan untuk rute yang 30 menit lagi akan  berangkat, silahkan maju ke depan antrean, proses check-in nya diutamakan. Saya dengar sendiri kok si petugas beberapa kali berteriak dan orang-orang yang sesuai rute disebutkan maju ke depan untuk diproses lebih dulu. Nah kalau ada beberapa yang tidak mendengar itu salah siapa? Ngok (2).

Yang harus digaris bawahi adalah bukan cuma kita saja sebagai penumpang yang ingin urusan cepat selesai, para petugas itu pun sama. Jadi belajarlah jadi penumpang yang cerdas ya.

Hal menyebalkan lainnya terjadi ketika pesawat mendarat di Palembang. Belakangan saya baru tahu alasannya karena ternyata bandara Pekanbaru ditutup sementara dan harus menunggu sampai ada pemberitahuan dibuka kembali. Estimasi waktu sekitar 2 jam katanya. Begitu pesawat mendarat di bandara Palembang, semua orang mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi orang yang akan menjemputnya. Ok, bisa dimengerti.

Untungnya tidak lama kemudian kami mendapat pengumuman kembali bahwa bandara Pekanbaru sudah dibuka. Penumpang diharap duduk kembali ke pesawat karena pesawat akan lepas landas.

Tapi sebelum itu, pesawat akan melakukan pengisian bahan bakar terlebih dahulu. Penumpangnya ngapain? Penumpangnya masih saja sibuk bermain ponsel. Berkali-kali pramugari mengingatkan untuk mematikan ponsel karena sedang melakukan pengisian bahan bakar tapi semua bergeming.

HEY KALIAN, SAYA ITU MAU SAMPAI DI RUMAH DENGAN SELAMAT. IYA MEMANG NYAWA DITANGAN TUHAN, TAPI KALAU GARA-GARA KEKONYOLAN SITU AI MATI KAN MERUGIKAN ORANG ITU NAMANYA.

Sayangnya kata-kata itu cuma tertahan di tenggorokan saja. Dan masih jadi misteri illahi kenapa ya orang kita sangat sulit sekali peduli dengan peraturan? Yang menciptakan peraturan untuk tidak menghidupkan ponsel saat di pesawat tentu lah sudah melakukan penelitian  panjang dan mengetahui dampaknya apa, mbok ya diikuti saja toh apa susahnya sih. Lagian juga itu ponsel dipakai bukan untuk hal-hal yang krusial amat, cuma buat scroll-scroll path sama facebook doang. Ya elah, mblo.

Masalah menghidupkan ponsel ini bukan terjadi sekali dua kali sih, tapi hampir setiap saat, terutama ketika saya naik pesawat yang naik/turunnya di terminal 1B. Kalau pesawat yang atu lagi tuh, yang dari terminal 3, rada mendingan, orang-orangnya masih pada taat aturan. Pesawat belum juga berhenti sempurna, udah bunyi aje telolet telolet (eh, itu suara klakson bis ya?). Mungkin dipikirnya, "aaah udah mendarat ini, ga bakal jatuh lagi". Padahal kan selama itu pesawat belum benar-benar berhenti apa pun bisa terjadi kan ya? Sistem navigasi bisa terganggu.  Makanya itu ponsel dipakai buat baca berita yang bener, jangan baca berita hoax doang. Ngok (3).

Kesimpulan dari perjalanan saya ini adalah sebenarnya yang membuat keadaan menjadi semakin tidak nyaman itu ya diri kita sendiri. Saya memang tidak bilang si maskapai ini punya kredibilitas yang baik, ada hal-hal teknis yang harus ditingkatkan lagi. Tapi setidaknya jika kita sebagai konsumen cukup waras saja, mengikuti aturan yang ada, pasti lah semuanya akan lebih mudah. Hanya karena pembeli adalah raja, bukan berarti bisa semena-mena. Jangan jadi Raja Firaun, situ mau sebadan dililit sama perban, hah?


Sumber gambar :

Semua gambar diunduh gratis di www.freepik.com

15 comments: