Perjalanan Panjang Menuju Implan koklea


Banyak yang bertanya kenapa Shanaz akhirnya memutuskan untuk implan koklea?. Dan memang harus saya akui keputusan sampai ke titik itu sudah melalui proses yang sangat panjang sekali, setelah melakukan banyak hal, baru kemudian akhirnya memilih implan koklea.

Dari awal saya sudah bilang saya bukan lah kubu anti implan, bukan juga yang mendewa-dewakan impalan koklea sebagai jawaban dari segala-segalanya. Saya adalah tipe rasionalis. Segala sesuatunya harus ada alasan rasional. Dan saya selalu mendiskusikan kondisi Shanaz dengan para ahlinya. Bersyukur shanaz menemukan tim Ahli yang siap saya recoki dengan segudang pertanyaan setiap harinya. Ada dokter THT nya, ada Audiologistnya, dan ada terapisnya juga. Saya dan mereka sama-sama mempunyai tujuan yang sama, yaitu berusaha menyelamatkan verbal Shanaz.

Seperti yang saya sebut diatas sebelum memutuskan melakukan implan koklea, saya sudah melakukan banyak hal.

Berawal dari saya ingin evaluasi Shanaz setelah 6 bulan memakai alat bantu dengarnya. Evaluasi per 6 bulan sebenarnya adalah hal wajib yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa anak kita sudah berada di jalur yang benar atau tidak. Nah dari sana dokter THT nya menemukan shanaz mempunyai cairan di telinga tengahnya. Saat itu hasil ASSR Shanaz adalah 80-85 dB. Mengalami kenaikan dari ASSR pertama  80-110 dB. Menurut dokter jika cairannya diobati sangat disarankan untuk melakukan ASSR ulang karena kemungkinan besar pasti dB nya akan lebih baik lagi.
Saat mengambil darah untuk prosedur pra operasi

Singkat cerita setelah berbulan-bulan melakukan observasi dengan diberi obat minum alergi dan nasal spray, tetapi cairan yang di telinga tengah tetap ada. Dicurigai salah satu penyebab cairanya itu muncul sumbernya dari Adenoidnya yang terus membesar. Sampai pada akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan Adenoid atau disebut dengan Adenoidectomy dan juga memasang grommet di kedua telinga Shanaz.

Cerita ini sudah pernah saya tulis di operasi pengangkatan adenoid pada shanaz

Setelah itu dokter kembali melakukan ASSR untuk Shanaz. Karena diharapkan saat cairannya sudah diangkat tentu ASSR nya akan semakin baik. Dan yeah benar saja, hasil ASSR terakhir adalah 70-90 dB.  Dengan hasil seperti ini sebenarnya Shanaz tidak lah butuh implan koklea. Dokter juga mengatakan alat bantu dengarnya sudah cukup menjangkau gangguan pendengarannya. Setidaknya untuk satu sisi. Satu sisi lagi sudah masuk ke dalam gangguan pendengaran sangat berat (profound). Tapi itu harusnya tidak akan jadi masalah besar. Karena nantinya yang akan menjadi kendala Shanaz nanti adalah lokalisir suara. Tapi toh yang paling penting modal untuk menyelamatkan verbalnya sudah lebih dari cukup.

Tapi ternyata masalah Shanaz tidak selesai sampai sini. Setelah sebulan operasi adenoid dan pemasangan grommet, dia mengalami infeksi. Satu bulan dia tidak memakai alat bantu dengarnya. Dan dia mengalami penurunan daya tangkap. Hati ibu mana yang tidak hancur saat melihat si anak menunjuk ke telinganya meminta alatnya tapi tidak bisa digunakan.

Dan infeksi ini tidak hanya terjadi sekali, tapi beberapa kali. Yang kanan membaik, gantian yang kiri. Dua-duanya dalam kondisi bagus, eh tidak sampai seminggu muncul lagi cairannya. Begitu aja terus, sehingga pemakaian alatnya dan terapinya jadi sangat tidak efektif.
Detik-detik sebelum masuk kamar operasi

Menurut dokter diagnosa Shanaz ini disebut otitis media. Otitis media yang terlalu lama terjadi menyebabkan mastoid kronis. Dan kemungkinan lainnya apabila sudah dibiarkan terlalu lama seperti ini adalah akan muncul jaringan-jaringan infeksi didalamnya.

Maka itu dokter menyarankan rencana tindakan terbaik untuk Shanaz adalah sebelah kanan shanaz dilakukan operasi Tympanomastoidectomy (tujuannya untuk membersihkan tulang-tulang mastoid yang muncul akibat otitis media yang terjadi berulang) dan sebelah kiri dipasang Implan koklea.

Kenapa harus dipasang Implan koklea? Karena apalah artinya Shanaz punya 70 dB jika dia tidak bisa menggunakan alatnya karena bolak balik muncul cairan itu tadi (belum lagi kalau kemudian sampai terjadi infeksi). Sedangkan  jika menggunakan implan koklea suara tidak lagi masuk melalui telinga tengah, tapi langsung lewat jalan pintas menuju ke koklea(rumah siput)nya. Jadi apa pun yang sedang terjadi dengan telinga tengahnya atau ketika cairan lagi banyak-banyaknya dan suara tidak optimal didengar oleh alat bantu dengarnya, maka dia tetap bisa mendengar dan menggunakan alatnya melalui telinga kiri yang sudah diimplan koklea.

Karena saat ini Shanaz sedang dikejar waktu. Banyak sekali waktu yang harus ditebus untuk mengejar umur pendengarannya setara dengan umur biologisnya (atau disebut juga umur kronologis). Jadi yang dibutuhkan Shanaz saat ini adalah akses suara yang super mulus seperti jalan toll. Diusahakan hambatan seminimal mungkin agar target-target yang diharapkan bersama dapat tercapai dengan baik.

Meski begitu beberapa kali dokternya mengingatkan kondisi Shanaz tidak lah sama dengan teman-temannya lainnya yang sama sekali tidak punya riwayat otitis media. Cairan itu bisa saja muncul lagi dan lagi, dan yang namanya ada alat yang dimasukkan ke dalam tubuh, bukan tidak mungkin bisa menyebabkan infeksi. Apalagi implan koklea adalah implan yang paling rentan terkena infeksi karena kondisinya yang terbuka dibandingkan implan anggota tubuh yang lain.

Dan kalau sudah begitu alat implan kokleanya bisa tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal paling buruk yang mungkin saja terjadi adalah tubuhnya menolak alat tersebut. Jadi oleh karena itu dokter sangat menyarankan untuk melakukan  beberapa antisipasi seperti menghindari pemicu penyebab munculnya cairan dan juga diberikan obat alergi secara berkesinambungan agar mendapatkan hasil yang maksimal.
Saat baru keluar dari kamar operasi

Oh ya sedikit informasi otitis media ini sering muncul pada anak-anak yang memiliki bawaan alergi. Saya belum tahu persis shanaz alergi apa, tapi kecurigaan terbesarnya adalah alergi kelembapan udara dan debu karena ayah dan kaka keduanya juga mempunyai alergi yang sama.

Lalu pertanyaan lain yang muncul adalah apakah semua anak Tuli dengan riwayat otitis media ini harus dipasang implan koklea? Tidak juga sih. Saya pernah mendengar cerita anak yang memiliki riwayat yang sama dengan Shanaz tapi dia bisa bicara dengan baik tanpa harus diimplan koklea. Tentu lah itu karena kondisi setiap anak tidak ada yang benar-benar sama.

Jadi tetap harus selalu konsultasikan kondisi anak kita kepada ahlinya ya. Pendapat dari ahlinya tentu lebih akurat daripada pendapat orang awam. Berbagi dengan sesama orang tua tidaklah salah, tapi menjadi sangatlah tidak bijak ketika plek-plek menyamakan atau bahkan mengaplikasikan kondisi anak orang lain terhadap anak kita. Percaya lah, ketika punya tim ahli yang kita percayai, itu akan sangat mudah untuk kita memutuskan langkah terbaik apa yang harus kita lakukan untuk anak kita.

Inti tulisannya ini sebenarnya adalah memutuskan memasang implan koklea ke tubuh anak kita adalah sebuah komitmen seumur hidup. Sebelum memutuskan pastikan sudah melakukan banyak hal dan menyalahkan alat adalah hal terakhir yang akan kalian lakukan. Karena sering sekali saya mendengar para orang tua yang mengeluh katanya anaknya tidak cocok dengan ABD, soalnya sampai sekarang tidak respon, lalu ketika ditanya apakah anaknya melakukan terapi atau tidak, dia menggeleng. Saat ditanya apakah anaknya sudah dimasukkan bahasa yang cukup dengan 1500 kata per jam, dia cuma mesem. Kalau begitu sih jangankan ABD, dengan implan koklea pun (maap kata nih) saya tidak yakin hasilnya akan seperti yang diharapkan.

Nanti di tulisan berikutnya saya akan tulis hal-hal apa saja yang harus dilakukan sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan implan koklea ya. Sekarang saya mohon doanya saja untuk Shanaz agar semua yang sudah diikhtiarkan ini memberikan hasil terbaik ya teman-teman. Doa yang sama juga untuk anak-anak ibu dan bapak semua.
Masa penyembuhan pasca operasi,Alhamdulillah masih mau makan






Share:

Menembus Batas Dengan Alat Bantu


“ bu, itu anaknya pakai apa di kupingnya?”
Pertanyaan itu sering sekali muncul ketika melihat alat yang yang dicantelkan ke telinga shanaz. Alat bantu dengar Shanaz memang selalu terlihat mencolok di kedua telinganya karena saya sering menguncir rambutnya. Shanaz itu tipe anak yang gampang sekali mengeluarkan keringat, makanya saya sering sekali menguncir rambutnya ke atas.

Untuk sebagian orang (bahkan saya pun dulu begitu) tidak begitu familiar dengan alat  bantu dengar. Bahkan tidak sedikit orangtua yang memiliki anak dengan gangguan pendengeran takut memakaikan anaknya alat bantu dengar. Takut telinganya tambah rusak katanya. Padahal ya alat bantu dengar itu penting untuk mereka yang mempunyai gangguan pendengaran.

Sama hal nya dengan orang yang memiliki masalah dengan penglihatan dan harus memakai kacamata, begitu pun dengan alat bantu dengar. Kacamata dan alat bantu dengar sama-sama alat yang bermanfaat untuk si penggunanya. Jadi jika kita tidak merasa aneh melihat orang lain menggunakan kacamata, please perlakukan hal yang sama untuk pengguna alat bantu dengar.

Beberapa waktu yang lalu saya dijapri oleh seorang yang mengalami gangguan pendengaran. Dia sudah cukup dewasa, umurnya belasan tahun (saya lupa tepatnya berapa). Dia baru saja mengalami penurunan gangguan pendengaran dan disarankan memakai alat bantu dengar. Tapi dia takut dan galau. Takut malah memperburuk kondisi telinganya. Dan lebih dari itu dia takut dianggap aneh karena ada benda asing di telinganya.

Mungkin karena stigma masyarakat yang masih sangat asing dengan alat bantu dengar, jadi sangat lah wajar jika dia merasa begitu tertekan ketika disarankan memakai alat bantu dengar. Coba bandingkan jika ada seseorang yang disarankan memakai kacamata, saya yakin tidak akan ada yang segalau itu.

Hal ini menjadi semacam morning call untuk saya yang dititipkan amanah anak dengan gangguan pendengaran, yaitu kelak shanaz harus bangga dengan keadaannya. Shanaz tidak harus menutup-nutupi keadaannya. Dia harus dengan lantang dan bangga mengatakan kepada dunia, AKU TULI dan AKU BISA. Dan kalaupun kelak dia memakai jilbab itu karena murni perintah agama bukan karena menutupi keberadaan alat bantu dengarnya.

Memang benar saat ini saya sedang berikhtiar sekuat hati dan tenaga untuk menyelamatkan verbal shanaz. Tapi tujuan utama saya melakukan itu, BUKAN karena ingin mengubah dia menjadi anak yang kata orang ‘normal’. Shanaz juga normal kok. Normal dengan caranya sendiri. Shanaz akan tetap menjadi shanaz dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan yang paling penting tidak akan ada satu pun yang bisa mengubah identitas shanaz.

Ikhtiar yang saya lakukan ini karena sebagai orangtua saya wajib memfasilitasi anak saya semampu yang saya bisa. Tanpa bermaksud mengecilkan kaka-kaka Tuli yang memilih menggunakan bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia), saya merasa Shanaz butuh bahasa verbal untuk memudahkan dia berkomunikasi dengan semua khalayak.

Alat bantu dengar bukanlah satu momok yang harus ditakutkan. Itu hanya sebuah alat. Alat yang memudahkan si pengguna agar bisa mengakses suara lebih baik. Alat bantu dengar ini termasuk di dalam implan koklea ataupun ABD (hearing aids) itu sendiri. Keduanya memiliki fungsi yang sama, sama-sama membantu si pemakainya untuk mengakses suaranya. Hanya cara kerjanya saja yang berbeda.
Shanaz dan Alat bantu dengarnya

Selain alat bantu dengar, alat bantu lainnya yang masih dianggap aneh oleh masyarakat umum adalah kursi roda ataupun kruk. Saya jadi ingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat saya sedang di bandara hendak pulang ke pekanbaru karena baru saja selesai melakukan therapy trip.


Saat itu saya sedang duduk di kursi prioritas  sambil menunggu jadwal boarding. Lalu tidak lama kemudian muncul seorang laki-laki muda yang didorong dengan kursi roda ke arah kursi prioritas yang saya duduki.  Dia  ‘diparkirkan’ tidak jauh dari saya duduk. Dan sebelum petugasnya pergi, sang petugas menanyakan terlebih  dahulu “sudah boleh ditinggal disini, pak?”. “ ya ya terserah “ katanya dengan nada sedikit ketus. Lalu sang petugas pun meninggalkan laki-laki tersebut.

Sambil menunggu dia terlihat sibuk bermain ponselnya dan saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak melirik ke arahnya. Kalau boleh jujur level kepo saya sudah super maksimal, penasaran ingin tahu kenapa dia harus menggunakan kursi roda. Singkat cerita, karena sudah waktunya boarding petugas pun datang dan mengajak laki-laki tersebut masuk. Ternyata tujuan keberangkatan kita sama. Dan bahkan dia duduk tepat di depan kursi saya.

Sebelum lepas landas tiba-tiba dia berusaha bangun sambil memegang tempat penyimpanan barang (kabin) diatas. Dengan sedikit tertatih dia sepertinya hendak mengambil tasnya. Mungkin ada sesuatu yang tertinggal yang ingin diambilnya. Awalnya saya berusaha untuk tidak melihatnya, tapi karena saya lihat dia sedikit kesulitan (dan orang-orang sekitarnya mungkin tidak menyadari kalau dia tidak bisa berdiri) lalu saya tawarkan diri, “mau dibantu?”. Dia menggeleng dan tersenyum “ngga pa-pa” katanya. Dan saya pun berusaha  untuk tidak memperhatikan gerak-geriknya lagi. lalu saat hendak duduk, dia bilang “makasih ya”. saya hanya tersenyum tanpa menjawab.

Saya menyadari bahwa salah satu cara menghargai mereka yang berkebutuhan khusus adalah dengan memperlakukan sama dengan yang lain. Meski berniat baik tapi jika caranya salah tentu akan menimbulkan kesan bahwa kita menganggap mereka lemah dan saya yakin tidak ada satu orang pun yang nyaman dengan perasaan itu.

Dan yang tidak kalah penting adalah mereka berhak melakukan apa saja tanpa harus ‘ditelanjangi’. Stop melihat mereka seperti melihat Alien. Stop merasa aneh dan bingung dengan alat bantunya. Jika penasaran lebih baik googling saja, setidaknya mata kalian akan lebih fokus ke ponsel daripada ke orang tersebut.

Mereka itu sudah berjuang sekuat tenaga untuk menerima takdir mereka. Berusaha mengambil hikmah dengan keadaan yang mereka harus jalani. Jadi please buat lah dunia ini jadi sedikit saja lebih ramah untuk mereka. Sedikiiit saja. Tidak usah lebih. Karena banyak sekali nikmat yang sudah kita dapat tapi mereka tidak pernah merasakan itu. So once again please be nice. Because they are just diferent able, not DISable.
Sumber gambar : www.freepik.com


Tulisan ini didedikasikan  untuk semua kaka-kaka hebat di luar sana. Terimakasih sudah memberikan kami sebagai orangtua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus ini harapan dan semangat  yang besar. Kalian penuh inspirasi.












Share:

Jelajah Riau : Mengenal budaya Melayu di Kota Siak





Kategori kedua yang akan saya luncurkan kali ini adalah tentang jalan-jalan atau orang aceh sebutnya wet-wet atau sebagian lagi bilangnya cari angin. Dan seperti biasa, mohon doakan agar kategori-kategori ini bisa istiqamah tayang secara regular di blog saya ya. Meski saya tidak berani menjamin frekuensi kemunculan untuk kategori yang satu ini akan ada seberapa sering di blog, semuanya berbanding lurus dengan ajakan ayah olis. Berdoa saja ya semoga ayah olis semakin peka dengan kode-kodean yang nanti akan dimoduskan untuk menjaga traffic blog (sadaaap, kayak bener aja;p).

Dan kali ini saya mau tulis tentang jalan-jalan kami beberapa waktu lalu ke salah satu kabupaten di Riau, Siak sri Indrapura.


Awalnya saya tidak tahu kalau Siak ini ternyata jauh banget dari kota pekanbaru. Eh ga pakai banget deng, cuma jauh aja. Karena tidak jauh dari  kota Pekanbaru ada jembatan siak namanya, jadi yaa saya pikir kota siak di sekitar situ.

Ternyata membutuhkan lebih dari 2 jam menuju kabupaten Siak Sri Indrapura ini. Tentu 2 jam lintas Sumatera tidak bisa disamakan dengan 2 jam lintas kota pulau jawa. Disana jalanan antar kota masuk melalui jalan berbayar alias toll, sedangkan lintas Sumatera kontur jalanannya masih sangat terasa seperti berada di kaki penggunungan (atau beneran emang dibawah kaki penggunungan ya?). Belum lagi minim sarana dan prasarana disepanjang perjalanannya. Bahkan beberapa kali saya melihat tiang-tiang listrik yang botak tanpa kabel di pinggir jalan yang menimbulkan tanda tanya besar di kepala saya trus pasokan listriknya dari mana ya?

Tapi bagaimanapun kota Siak sangat worth it dikunjungi jika sedang jalan-jalan ke Riau. Meski kota kecil tapi sangat bersih dan kental budaya melayu. Unsur islaminya juga terlihat sangat menonjol disini. berikut daftar yang wajib dikunjungi kalau sedang berlibur ke kota Siak

1.       Istana Asserayah Hasyimiah


Istana yang berartikan istana matahari timur atau dewasa ini lebih dikenal dengan istana Siak adalah istana tempat dulu kediaman sultan Syarif Hasyim. Istana ini mulai dibangun pada tahun 1889 pada masa pemerintah Sultan Syarif Hasyim. Harga tiket masuknya cukup murah, hanya Rp 3000 untuk dewasa, dan seibu matus untuk anak-anak.


Pertama masuk sejujurnya saya sedikit merasa creepy, karena langsung disambut dengan patung-patung pengawal dan raja. Pada lantai pertama terdiri dari ruang makan, ruang rapat, ruang arsip, dan juga ada tempat penyimpanan Meriam di bagian depan sebelah kanan. Di lantai  ini saya juga melihat pemutar musik bernama komet yang konon katanya di dunia hany ada 2, di Jerman dan di Siak ini. woow yah.
Bagian depan saat pertama masuk kerajaan

pemutar music komet

ruang makan istana


Sedangkan di lantai kedua terdiri dari beberapa kamar tidur yang lengkap dengan interior foto-foto jaman dulu. Bahkan disana juga disimpan baju kebesaran sultan dan permaisuri. Istana ini memiliki dua lantai yang  dihubungkan oleh tangga kuning melingkar yang cukup memberikan nilai artistik tersendiri.
tangga untuk naik ke lantai 2



Ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika melihat ke langit-langit di lantai satu, beberapa sudut terlihat ada seperti patung anjing yang menggigit merpati atau pun kelinci. Awalnya saya pikir itu adalah simbol kerajaan, lalu kemudian saya bertanya kepada petugas berbaju melayu disana dan ternyata katanya itu semacam sindiran untuk penjajah yang terus ‘menggigit’ rakyat.  Aaah I see.






patung yang berada di langit-langit sindiran untuk Belanda



2.       Taman tengku Mahratu

Taman ini terletak tepat di depan istana siak. Meski banyak penjual yang berjualan di sekitar taman, tapi taman ini sangat bersih sekali. Jika pergi saat penghujung minggu, sebaiknya pergi setelah magrib karena mulai jam 8 ada air mancur  menari. Tidak jauh dari situ juga ada panggung yang bernuansa melayu yang dibuka bebas untuk siapa saja yang ingin menyumbangkan lagu, membaca puisi atau apa saja. Berhubung anak-anak sudah lelah, kita sih tidak berlama-lama disana, tapi sepertinya taman ini akan terus ramai sampai menjelang tengah malam.

 
Air mancur menari



3.       Rumah makan Wan Syafariah

Masih diseputaran istana & taman, tak jauh dari situ ada sebuah rumah makan melayu namanya Wan syafariah. Andalan utama rumah makan ini adalah udang galah goreng yang gurih dan enak banget. Harga udang per potongnya adalah Rp 50.000. Makanan disajikan seperti khas rumah makan melayu umumnya, yaitu dihidangkan semua jenis makanan diatas meja dan dihitung per piring yang diamakan (kecuali udang galah dihitung per potong).  Selain si udang galah tadi makanan lainnya sih bisa dikatakan cukup murah. Yaah udang galah juga sepadan kok harga dan rasanya. Tidak nyesal lah kalau ke Siak makan disini, dijamin super kenyang.





4.       Hotel Grand Mempura

Kebanyakan orang sebenarnya jika dari Pekanbaru lebih suka pulang-pergi dalam satu hari ke kota Siak ini. Pergi sangat pagi, lalu sore atau malam kembali lagi ke pekanbaru. Tapi jika tidak terburu-buru dan ingin menikmati kota Siak lebih dalam lagi, tidak ada salahnya juga untuk menginap semalam dulu disini. Saat itu hotel yang kita pilih adalah hotel Grand Mempura. Lokasi hotel tidak terlalu dekat dengan kota, tapi hotel ini cukup lebih baru dan semi minimalis dibanding hotel disekitaran kota. Harganya juga cukup terjangkau, hanya RP 385.000 untuk kamar standar superoir. Dan seperti biasa karena para kaka sudah mulai gadis kita pesan kamar yang punya akses connecting room.

Untuk fasilitas yaa standar hotel bintang 3 lah. Sarapannya juga cuma ada 2 menu nasi goreng & mi goreng. saya juga sebanarnya tidak berharap muluk-muluk sih, yang penting bisa istirahat, nyaman, bersih, itu juga sudah lebih dari cukup kok.


ini saya masukkan beberapa foto dari bagian hotel grand mempura ini ya, biar bisa ada gambaran hotelnya seperti apa. Lumayan sih kalau kata saya.

Lobi utama hotel Grand mempura


Lounge

Ruang Makan




5.       Agrowisata Mangrove Mengkapan


Trust me, ini tuh jauh banget dari kota dan sejujurnya tempatnya yaa begitu aja. Tidak telalu direkomendasikan sih kesini, lebih baik jelajahi di kota siaknya aja. Tapi kalau memang niatnya ingin berpetualang dan merasakan suasana yang berbeda sih silahkan saja. ada 2 alternatif ke sana, kondisi jalannya jelek tapi jalurnya lebih singkat atau kondisi jalan bagus tapi jalurnya lebih jauh. Dan untungnya saat kita kesini kita udah dulu ke kerajaan siaknya, karena kalau tidak, bisa-bisa udah tidak berminat lagi masuk ke kerajaannya, keburu lelah. Katanya sih ada hutan mangrove yang lebih bagus dari ini, tapi saya lupa namanya apa, tapi karena waktu sudah menjelang sore, kita memutuskan untuk langsung pulang ke pekanbaru saja.



6.       Masjid Sultan Syarif Hasyim

Masjid yang terletak tidak jauh dari jembatan dan sungai siak ini terlihat berdiri sangat megah dan kokoh yang langsung menarik perhatian siapapun yang melintasnya, termasuk kita.  Itulah kenapa secara  sengaja kita menyempatkan diri untuk mampir shalat magrib dulu disini. menurut informasi yang saya dapat, kota Siak memang  sangat terkenal dengan ketaatan beragamanya. Dan bahkan setelah ditelusuri  lagi ternyata secara harfiah arti dari Siak Sri Indrapura adalah pusat kota raja yang taat beragama. Jadi wajar lah kalau masjid ini juga bagian dari ikonik kota siak ini sendiri. Masjid ini memiliki 5 kubah besar berwarna biru dan kuning, ciri khas warna kota Riau. Dan sebenarnya jika dilihat-lihat lagi model kubah ini cukup familiar bentuknya karena ternyata memang diikuti oleh masjid-masjid lainnya diseluruh Riau, termasuk di Pekanbaru saya beberapa kali melihat kubah seperti ini.





Sumber Tulisan

1.       www.wikipedia.com















Share:

Bermain peran dengan menggunakan mainan berbahan Flanel


Disclaimer : Blogpost ini bukanlah sponsorpost ataupun post berbayar. Semuanya adalah pendapat objektif sang penulis saja. Sekedar ingin berbagi mainan-mainan yang biasa dimainkan para krucils di rumah. Tidak menutup kemungkinan akan ada beberapa mainan yang akan ada di giveaway nantinya (tentunya mainan yang diberikan adalah mainan yang baru), jadi ikuti terus ya setiap postinganya.


****

Sebenarnya kalau ada hal yang paling sulit untuk saya tahan godaannya adalah mainan anak-anak. Saya tidak punya koleksi tas, koleksi sepatu bahkan koleksi Tupperware pun tidak ada. Semua dibeli sifatnya fungsional, sudah rusak baru beli lagi. Tapi entah kenapa saya selalu kalap kalau urusan beli mainan untuk anak-anak.  Apalagi sekarang Shanaz butuh media untuk terapi di rumah, jadi makin banyak alasan buat jajan mainan. Dan bagusnya semua mainan yang saya beli semua dipakai dan dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak, jadi Insya Allah di akhirat saya ada jawaban kenapa membeli mainan tersebut.

Nah dalam rangka ingin merapikan konten blog, Insya Allah mulai sekarang saya mau coba membuat postingan berdasarkan kategorinya masing-masing. Dan untuk kategori mainan ini akan masuk ke dalam kategori yang saya namakan dengan "MAINAN BUDAK'




Rencanya kedepannya akan muncul kategori-kategori berikutnya. Doakan Istiqomah ya. Pengennya sih akan ada jadwal tayang juga untuk masing-masing kategori, tapi yaa tidak usah muluk-muluk dulu deh, jalani pelan-pelan saja. Bukan apa-apa soalnya saya sangat menyadari kapasitas diri saya yang cuma sekian ram, kalau terlalu banyak aktivitas akan berakibat hang sendiri.

Baiklah, episode perdana ini saya akan bahas tentang mainan kain flannel yang baru saja saya beli. Jadi ini adalah semacam  pelbagai macam perangkat maianan yang mempunyai konsep tematik, seperti ada oven set, cupcake set, breakfast set dan tea set yang semuanya terbuat dari bahan kain flannel. Dan ini handmade lho. Dibuat penuh cinta oleh crafter bandung, namanya teh betsy dengan brand nya magnamit.

Ada sedikit kejadian unik saat pertama kali saya bertemu via daring dengan teh betsy ini di salah satu marketplace yang cukup besar di Indonesia. Jadi saat itu saya memang lagi mencari mainan tea set untuk Shanaz. Makanya keyword yang saya tulis adalah ‘tea set’. Qadarullah saya bertemu dengan toko daring teh betsy disitu. Tapi anehnya harga yang dicantumkan adalah Rp 0

Kemudian mulai lah saya menyapa di kolom chat room untuk menanyakan harganya berapa. Eh tapi malah ditanya balik, berapa ya kira-kira yang pantas? Saya juga bingung jawabnya gimana. Jadilah kami bingung berjamaah. hehehe. Karena saya tahu yang namanya handmade ada harga selain harga bahan yang tidak bisa diukur dengan uang, yaitu ide dan kesulitan proses pembuatannya. Dari situ lah kita mulai ngobrol-ngobrol dan kemudian berakhir dengan semua mainan ini diangkut sama saya langsung fresh from rumah kaka nya teh betsy ;p

Sekarang kita coba bahas satu-satu mainan yang ada di saya ini ya.

1.       Oven Set

Oven set ini terdiri dari sebuah standing oven miniature berwarna ungu yang dilengkapi dengan kompor induksi dan juga 3 knop pemutar dengan pilihan mode api kecil, api besar ataupun mode masak ayam/ panggang kue. Diatas sebelah kanan juga ada pemanis jam yang jarumnya bisa diputar sesuai arah jam. Jadi bisa sekalian mengajarkan anak tentang waktu juga. Misalnya “yuk kita masak ayam yuk. Ayamnya matang dalam 1 jam lagi ya.” sambil digerakkan jarum jamnya.

Aksesoris lainnya adalah panci penggorengan, spatula, rooling pin, pengocok telur (whisker) dan measure cup. Sebenarnya saya kurang yakin juga ini measure cup atau bukan ya. Atau bisa jadi ini semacam rak penyimpan untuk si spatula dan teman-temannya itu. Kadang-kadang malah sama anak-anak suka dijadikan sebagai salad bowl, yaah tergantung gimana imajinasi masing-masing aja kali ya.

2.       Cookies set

Untuk cookies set ada dua versi yang dibuat oleh teh betsy, yang masih dalam bentuk adonan dan yang sudah jadi. Dan ada cetakannya juga. Jadi awal-awal anak-anak bisa pura-pura mencetak adonan cookiesnya dlu, lalu masukkan ke Loyang, nati kalau pura-pura sudah jadi bisa ditempel dengan cookies yang sudah dihias (dibelakangnya ada tempelan Velcro jadi sangat mudah untuk ditempelkan). Ohya ada icing sugarnya juga lho. Lucu banget yah. Dan adonan cookies nya bisa juga dipakai untuk anak belajar mengenal & mencocokkan bentuk. Ada bentuk hati, lingkaran dan bentuk bintang.

3.       Cupcake set

Mirip seperti cookies set, cupcake ini juga dibuat dua versi, dalam bentuk adonan dan yang sudah jadi. Terus yang tambah membuat ngengemesin adalah ada stroberi dan cheri kecilnya. Jadi anak-anak bisa sangat totalitas dalam bermain peran. Oh ya ada juga bahan-bahan dasarnya seperti tepung, mentega, telur, dan susu juga.



4.       Breakfast Set

Breakfast set ini terdiri dari ayam goreng, sosis, roti lapis lengkap dengan isian dalamnya seperti tomat, timun, daun selada dan telur mata sapi. Nah seperti yang saya bilang diatas kadang-kadang anak-anak suka improvisasi membuat salad. Bahannya itu yaa dari isian si roti lapis ini. Diaduk-diaduk di dalam ( yang diduga sebagai) measure cup nya yang berubah fungsi jadi salad bowl;p

5.       Tea set

Nah ini nih inti dan cikal awal ‘permasalahan’nya. Gara-gara tea set setitik muncul lah mainan lain sebelanga (peribahasa ngasal). Awal pertama mau beli tea set, lalu tergoda sama yang lain-lain. Untung teh betsy nya baik banget, jadi saya dikasi diskon dan bonus yang berlimpah. Alhamdulillah.

Seperti maianan tea set umumnya terdiri dari 1 teko, 4 cangkir dan tatakannya, juga ada 4 sendok teh. Tapi bukan magnamit namaya kalau harus anti mainstream, plus tambahannya itu adalah 4 kantong teh celup yang mirip banget sama aslinya.


Kalau kalian juga sama jatuh cintanya seperti saya dengan mainan-mainan diatas, kalian boleh menghubungi pemilik magnamit langsung, teh betsy namanya. Nanti dibawah akan saya cantumkan emailnya ya, kalian bisa langsung hubungi kesana. Tapi sekali lagi, saya garis bawahi ini bukanlah sponsorpost, bukan post berbayar, yang ditulis diatas murni pendapat saya sendiri. Jadi ini benar-benar kepuasaan saya menemukan mainan baru untuk anak-anak dengan kualitas yang sangat baik. Tidak kalah dengan mainan import lainnya.

Terus manfaat dari bermain ini apa? Menurut ke-sotoy-an saya sih bermain peran sangat bagus untuk anak-anak melatih imajinasi mereka. Mereka bisa jadi apa saja disini dengan alur cerita yang bagaimana juga terserah mereka. Dan ini juga bisa ikut membantu melatih meraka di ‘dunia kerja’. Mereka jadi tahu bagaimana harus berinteraksi ketika menjadi kasir, dokter, atau apa saja yang ada dalam benak anak-anak. Karena saya  tidak ingin anak-anak saya ke depan hanya menjadi penonton saja, mereka harus bisa berkarya sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing mereka.

Selain itu bermain peran juga sangat bagus untuk melatih perkembangan bahasa mereka. Untuk anak seumur Shanaz (2 tahun) tentu bermain perannya cukup yang sederhana saja, seperti membuat teh dan itu kesempatan yang sangat bagus untuk memasukkan bahasa ke shanaz. Contoh “tuangkan air”, “masukkan gula”, “minum” dan lain sebagainya.
Oh ya dengan bermain peran ini juga mengajarkan interaksi sosial untuk anak-anak lho. Kadang mereka berebutan ingin menjadi peran yang sama tetapi karena mereka tahu jika dua-duanya menginginkan peran yang sama maka tidak akan menghasilkan satu cerita. Disitu lah mereka belajar mengalah dan mengenal konsep bergantian.

Dan yang paling penting adalah bermain peran adalah permainan yang paling mudah dilakukan kapan saja dan dimana saja. Ada atau tidak adanya mainan pendukungnya bukan lah masalah, hanya tinggal bagaimana imajinasi anak-anak berkembang saja. mari kita ciptakan anak-anak bahagia, karena generasi penerus yang baik berawal dari mereka yang masa kecilnya baik pula. Dan ingat pesan bunda ferna :
JANGAN BERHENTI BERMAIN YA, BUDAK-BUDAK….




P.s semua produk diatas adalah koleksi pribadi yang dibeli di online shop magnamit. silahkan email ke magnamit@yahoo.com jika tertarik atau bisa juga cari di aplikasi carousell.

Untuk review versi video silahkan diklik dibawah ini ya...




Share:

karena tiap orang punya ukuran sepatu yang tak sama


Jaman sekarang memasuki dunia motherhood sama seremnya dengan masuk ke dunia uka-uka (please jangan bilang kalian tidak pernah dengar uka-uka. Jangan biarkan saya menua sendirian).  Gimana tidak, salah langkah sedikit siap-siap dihujat dengan pelbagai macam petuah dan nasihat.

Padahal ya PR kita sebagai ibu itu sebenarnya banyak banget. Ingat tidak beberapa waktu yang lalu ada sebuah kampus besar meng-unggah tata cara menghubungi dosen lewat ponsel. meski pihak kampus mengakui kalau itu tidak ada maksud apa-apa, tapi secara tersirat bisa disimpulkan bagaimana tata krama mahasiswa/i jaman sekarang kan ya. Saya sendiri juga beberapa kali melihat sih beberapa oknum generasi muda (uhuk berasa tua saya) yang jauh banget dari kata sopan.

Hanya karena dunia makin lama makin canggih bukan berarti sopan santun digadaikan. Dan ini lah PR terbesar kita untuk mendidik anak kita lebih baik lagi dari sekarang. Ada norma-norma yang mulai dilupakan oleh mereka.  Jadi daripada energinya hanya dipakai untuk nyiyir dan ngurusin orang (padahal belum tentu orangnya mau kurus juga) lebih baik kita pakai untuk menciptakan generasi emas penerus bangsa.

Untuk hal-hal yang sifatnya krusialnya sih saya rasa sah-sah saja jika kita memberi masukan atau saran  sebagai sesama para ibu ya. contoh jika ada seorang ibu yang mandiin bayinya ke dalam mesin cuci,biar praktis katanya, pencat pencet, tau-tau bayinya bersih. Atau contoh lain ada anak umur 3 tahun diperdayakan disuruh timba sumur karena pompa air mati sementara dia malah asik facebook-an dan malah anaknya direkam ke dalam insta-story dengan tambahan tulisan “hebatnya anak bujang mamak *lope* *lope*”. Kalau ketemu model begitu sok silahkan mau dicincang jadi baso juga saya rasa darahnya halal saja:-p.

Masalahnya saat ini adalah banyak sekali para ibu yang selalu merasa pilihannya dia yang paling benar, paling akurat, paling hebat, pokoknya paling segala-gala nya lah. Oke lah kalau cuma hanya sekedar merasa ya, yang paling repot itu ketika kemudian dia mulai menyalahkan pilihan orang lain. Loh kok anaknya digiiniin sih? Duuh ga sayang anak ya, kok tega sih dan kalimat=kalimat bermuatan cibiran lainnya.

Padahal ya, kita ini diciptakan sebagai manusia berbeda-beda lho. Dari segi suku, warna kulit, dan yang paling penting adalah dari segi kebutuhan yang tidak akan pernah sama antara satu manusia dengan manusia lainya. Kecuali situ adalah mbek, nah itu baru bisa dipukul rata, yang penting dikasi rumput, yang penting dibawa ngangon dari pagi sampai sore, udah urusan selesai. Tidak  perlu repot memikirkan ini mbek A alergi rumput liar, jadi kasi makannya harus rumput organik atau ini si mbek B punya masalah Bandot disorder jadi sebaikya dikarantina daripada dia nyosor melulu.


Jika ada seorang ibu yang menyekolahkan anaknya dari umur 6 bulan misalnya, lalu kemudian ada yang nyinyir kenapa cepat banget sih masukan anak ke sekolah, ibunya ngapain aja di rumah? mungkin dia tidak tahu si ibu sudah sangat repot dengan berbagai urusan di rumah, belum lagi harus ternak teri (anter anak kesana kemari), daripada si bayi kurang stimulasi dan malah makin capek harus ikut ibunya melulu, jadi yaa lebih baik dia sekolah.

Atau kasus lain ada seorang ibu yang sangat teliti dalam memilih bahan-bahan makanan untuk anaknya. Tidak mengandung kacang, tidak mengandung susu sapi dan turunannya, gluten-free, dan lain sebagainya. Lalu kemudian dengan seenak jidat ada yang komentar, “udah laaah anak itu jangan terlalu dimanjain, biar aja dia rasa semuanya, biar kuat badannya.” Yang dia tidak tahu adalah si anak ini punya asma dan alergi akut misalnya. Yang dia tidak tahu adalah pernah sekali bablas lalu asma si anak kumat dan tengah malam harus dibawa lari ke UGD. Si ibu hanya bisa menangis tersedu melihat anaknya kesakitan di UGD sambil menyesali kecerobohanya. Trus yang komentar tadi? Lagi tidur pulas dengan daster yang sudah tidak diganti 3 hari. Ngook

Dan tidak perlu dijelaskan lagi untuk pilihan yang terus kontroversial seperti ASI vs sufor, vaginam vs SC, aaah sudah lah, sudah so yesterday untuk dijabarkan. Karena pada akhirnya sepatu orang lain tidak akan pernah pas dengan sepatu kita.

Ada orang yang memakai sepatu ukuran 38, lalu kebesaran dengan kaki kita yang ukurannya 36, apakah kemudian harus menghujat si ukuran 38 ? Ada orang yang hanya nyaman dengan sepatu flatshoes, lalu kemudian mencoba high heel dan tumit kaki nya kesakitan, lalu apakah yang salah si sepatu high heel nya?. Semua sudah ada porsinya masing-masing. Yang sepatu ukuran 36 pakailah ukurannya sendiri, karena ukuran 38 hanya untuk orang-orang dengan kaki ukuran tersebut. Yang tim flat shoes silahkan berjalan-jalan dengan sepatunya sendiri, karena hanya orang-orang tertentu yang dilahirkan dengan kemampuan menggunakan sepatu high heel.

Ibarat  makhluk supra natural, kita ini sebenarnya sudah diberikan kekuatan supernya berdasarkan kebutuhan masing-masing. Sudah ada porsinya masing-masing. Lihat saja para wanita mutan di X-men (jangan bilang yang ini juga ngga pernah dengar  ya), tidak ada yang benar-benar memiliki kekuatan yang plek-plek sama kan?  Ada Storm yang mampu mengontrol dan memanipulasi cuaca yang ada di sekitar. Ada Jean Grey yang mempunyai kekuatan telepati. Dan ada Rogue yang mampu menyerap ingatan dan tenaga untuk hidup jika bersentuhan dengan manusia.

Kebayang tidak kalau mereka saling nyinyir dan menganggap kekuatan masing-masing lebih hebat dari yang lain

Storm : Rog,  kamu tu kepo banget sih nyerap ingatan orang melulu. Apa yang ada didalam pikiran orang is none ur business tauk.

Rogue : aaah eelah mak, kayak kekuatan situ manfaat aja. Nurunin hujan melulu. Bikin repot orang aja. Kasian kan yang pada naik motor jadi keujanan.

Jean Grey : berisik deh kalian semua. Mending juga eike  bisa telepati, orang-orang mah ngga perlu ngomong juga eike udah paham maunya apa.

Trus kata professor X : BODO AMAT !!!!!!


Jadi please stop merasa apa yang sudah kita lakukan lebih baik dari yang lain. Anak yang sebapak-seibu saja kebutuhannya tidak ada yang benar-benar sama, konon lagi anak tetangga.

 Menjaga lisan itu penting lho, itu lah kenapa kita disarankan untuk lebih dulu mengutamakan habluminannas daripada habluminallah. Karena kita tidak tahu manusia mana yang tanpa sengaja sudah kita sakiti dan dia mungkin belum memaafkan kita. Ngejar-ngejar di dunia saja ribetnya kayak apa gimana lagi ngejar di alam mahsyar coba. Aaah saya jadi ingat kebiasaan Almarhum nenek saya yang tiap berpamitan dengan orang, beliau selalu meminta maaf lahir bathin. Karena tidak ada yang bisa menjamin apakah akan ada pertemuan berikutnya atau justru itu yang terakhir.

Buat para ibu-ibu diseluruh dunia (hiperbola, kayak pembacanya ada di mana-mana saja;p), yuk kita buat dunia motherhood ini lebih moms-friendly. Ibu-ibu baru bukan lah sasaran empuk untuk dihujat dan kemudian boleh  merasa paling sotoy tahu segalanya. Pasal senior selalu benar, jika senior salah kembali ke pasal pertama sudah tidak relevan lagi. Dewasa lah, karena anak-anak kita tidak bisa dibesarkan dengan manusia yang pikirannya masih sama kecilnya dengan mereka.



Share: