Wednesday, August 16, 2017

6 anggapan salah orang terhadap gangguan pendengaran


Salah satu hikmah mempunyai anak dengan gangguan pendengaran adalah sangat membuka pikiran dan cakrawala saya. Sejujurnya sebelum saya tahu shanaz mengalami Tuli sensorial derajat sangat berat, saya bahkan tidak pernah bertemu dengan orang lain yang menggunakan alat bantu dengar. Bahkan manula pun tidak. Jadi ini benar-benar satu dunia baru untuk saya. Mungkin ini cara Allah agar saya terus dan terus belajar.

Ada banyak sekali anggapan-anggapan orang tentang anak-anak seperti Shanaz. Sebagian ada benarnya, sebagian lagi adalah mitos belaka. Dan disini saya coba mematahkan semua mitos tentang gangguan pendengaran ini yang beredar di masyarakat awam. silahkan dikoreksi jika ada yang salah atau kurang.
Berikut saya coba urutkan beberapa kesalahan umum anggapan orang terhadap anak dengan gangguan pendengaran
1.       Apakah ini bisa sembuh?
Ini adalah pertanyaan yg pertama sekali saya ungkapkan ketika mengetahui keadaan Shanaz. Pertanyaan yang sama juga sering sekali dilontarkan terhadap orang-orang yang sedang menanyakan keadaan Shanaz. Jawabannya adalah Tidak. Kenapa? Karena yang dialami Shanaz bukan lah sebuah penyakit. Jadi tidak ada yang harus disembuhkan. Ini adalah Takdir.
Sama halnya seperti takdir Allah yang memberikan warna kulit ada yang hitam dan putih, rambut lurus dan keriting, hidung mancung atau pesek. Semua adalah kehendak-Nya.

2.       Jika tidak bisa disembuhkan, lalu untuk apa terapi?
Untuk anak-anak seperti Shanaz tujuan terapi adalah meyelamatkan verbalnya. Tentu sebagai orangtua kami ingin anak-anak kami mendapatkan hak dan perlakuan yang sama di Indonesia ini. Tanpa bermaksud mengecilkan peranan bahasa isyarat, hanya saja dengan mereka bisa berbicara lebih mudah untuk mereka bisa terjun ke dunia masyarakat dan menggapai cita-cita sesuai potensi yang mereka miliki.  Itu lah mengapa semua orangtua yang memiliki anak dengan gangguan pendengaran akan rela jungkir balik melakukan ikhtiar apa saja demi meyelematkan verbal anaknya.

3.       Belum berbahasa bukan berarti tidak mendengar
Untuk menyelamatkan verbal anak-anak seperti Shanaz itu membutuhkan proses yang sangat puanjaaaang sekali. Ada 3 hal yang akan sangat menunjang keberhasilan dalam menyelamatkan verbal mereka, yaitu : alat yang memadai. Habilitasi keluarga dan bimbingan ahlinya (termasuk di dalamnya terapis, dokter THT dan audiologistnya).

Terkadang orang terburu-buru ingin mendapatkan hasilnya tapi lupa menikmati prosesnya. Padahal dalam prosesnya itu sangat membutuhkan kesabaran dan kosistensi yang sangat tinggi agar mendapat hasil yang diharapkannya.

Tapi tentu akan sangat menyanyat hati ketika sebagai orangtua kita sedang berusaha semaksimal mungkin, tapi orang lain sudah memperlakukannya mereka bicara dengan bahasa tarzan. Bahasa tarzan lho ya, bukan bahasa isyarat. Tau kan bahasa tarzan? Itu lhoo contohnya kalau mau bilang makan, alih-alih mengucakan kata makan dengan jelas malah justru menguncupkan tangannya dan menggerak-gerakkannya ke mulut seperti gerakan sedang menyuap makanan dengan tangan. Padahal kalau disebutkan saja kata ‘makan’ anak-anak ini paham lho.

 Selama alat bantu dengarnya terpasang dengan baik di telinga mereka, mereka itu mendengar dan memahami ucapan-ucapan kita kok. Bicara saja seperti bicara dengan yang lain. Meski kadang mereka belum berbahasa dengan sempurna, tapi dengan mengajak mereka berbicara layaknya seperti berbicara dengan yang lainnya, percaya lah itu juga sudah sangat ikut membantu mereka dalam proses menyelematkan verbalnya. Dan sebagai orangtua tentu kami sangat berterima kasih untuk itu.

4.       Tidak perlu bicara terlalu keras
Nah ini juga salahsatu hal yang orang awam tidak paham dan sering banget salah kaprah juga. Alat bantu dengar yang dipakai oleh Shanaz dan teman-temannya itu sudah berfungsi sebagai pengeras suara. Jadi suara yang masuk akan dibesarkan sesuai dengan tingkatan gangguan masing-masing mereka. Cara kerjanya mirip seperti amplifier atau microphone. Orang yang bicara dengan mic tidak perlu dia berteriak tapi suaranya sudah cukup besar untuk didengar oleh orang yang jaraknya cukup berjauhan dengannya sekalipun, ya kan?

Begitu pun dengan alat bantu dengarnya Shanaz. Dengan tidak berteriak pun, sebenarnya shanaz sudah bisa mendengar dengan baik. Malah jika bicara terlalu keras justru membuat beberapa huruf menjadi hilang. Contoh kata ‘makan’ tadi, jika disebutkan dengan teriak maka yang terdengar oleh Shanaz justru hanya ‘ma-an’, huruf K nya malah hilang. Tidak percaya? Coba saja bicara sambil menggunakan mic, mana yang lebih terdengar jelas, saat teriak atau bicara normal?

5.       Akankah Shanaz diajarkan bahasa isyarat?
Saat awal-awal shanaz divonis tidak bisa mendengar, saya sering sekali mendapat tautan video tentang bahasa isyarat. Menurut saya itu cukup sweet (maaf bukan tidak mau menggunakan bahasa Indonesia yang benar, hanya saja saat menulis cukup manis, kok makna nya jadi beda ya?;p). Dan sampai sekarang pun saya juga sering ditanyakan juga, apakah nanti Shanaz akan diajarkan bahasa isyarat?

Saya pribada melihat bahasa isyarat memiliki seni tersendiri. Jauh sebelum saya mengetahui Shanaz seorang Tuli, saya sudah lebih dulu jatuh cinta dengan bahasa isyarat sejak menonton serial switch at birth di starworld (iya, hidup saya sereceh ini, hanya seorang mamak yang menghabiskan jatah me-time nya dengan menonton serial di starworld ;-p).  Menurut saya itu suatu hal yang keren ketika kita bisa berkomunikasi tanpa harus menggunakan suara.

Yang saya baru tahu adalah ternyata tiap negara memiliki bahasa isyarat yang berbeda. Di Amerika disebut American Sign language (ASL), sedangkan di Indonesia disebut Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia).

Hanya saja karena dalam masyarakat kita penggunaan Bisindo ini masih sangat terbatas, tentu saja fokus utama saya saat ini adalah menyelamatkan verbalnya. Dan masih besar harapan saya untuk shanaz agar dia bisa bicara seperti anak-anak mendengar lainnya.

Tapi nanti saya janji saya akan tetap mengajarkan dia bahasa isyarat, Karena saya mau kelak Shanaz tidak hanya bisa berguna untuk dirinya sendiri dan keluarga, tapi juga berguna untuk semua orang, tidak peduli entah orang tersebut bisa mendengar atau tidak, bisa berbicara atau tidak.

6.       Tuli = masa depan suramnya (?)
Saya ingat sekali setelah Shanaz divonis tidak bisa mendengar, malamnya yang saya dan suami lakukan adalah mencari di mesin pencari dengan kata kunci “orang Tuli yang sukses”. Mengejutkan, saya menemukan banyak sekali nama.

Sekarang saya paham kenapa Tuli dewasa tidak ingin dikasihani. Bahkan mereka juga tidak ingin disebut tuna rungu. Karena memang tidak ada yang perlu dikasihani. Selama mereka mendapat kesempatan yang sama, bisa berkembang sesuai dengan potensi masing-masing, kalian akan kaget melihat banyak sekali profesi yang sudah dijalani oleh para Tuli ini. Ada dokter gigi, fotografer, model, Public Relationship dan banyak lagi.

Masa depan seseorang tidak diukur dari dia bisa mendengar atau tidak, tapi bagaimana dia mau benar-benar mengenal potensi dirinya sebaik mungkin. Mungkin anak-anak dengan gangguan pendengaran seperti Shanaz dan teman-temannya memang harus berjuang sedikit lebih keras, tapi bukankah tak ada hasil yang mengkhianati usaha kan?





No comments:
Saturday, July 22, 2017

Jangan mau menjadi Super Mom


Sumber gambar www.freepik.com
Ketika telah menjadi seorang ibu ada satu hal yang sebenarnya tidak ingin saya lakukan, yaitu menjadi super mom. Kalau sekarang saya terlihat seperti melakukan semuanya sendiri, sebenarnya tidak. Ada bantuan-bantuan ‘tak tampak’ yang meringankan pekerjaan saya. Nanti akan saya sebutkan di bagian terakhir. Tapi sebelumnya saya ingin membahas yang ini dulu.

Saya akui pernah pada masanya saya seperti terobsesi ingin bisa melakukan semuanya sendiri. Rumah harus bersih, makanan harus lengkap, cucian harus wangi dan licin. Masa-masa itu terjadi diawal-awal pernikahan saya saat hamil Indira, anak pertama saya. Dan sampai Indira lahir pun saya masih juga terobsesi pengen mengerjakan semuanya sendiri.

Puncaknya itu ketika Indira masuk usia 6 bulan dan dia butuh makan. Mengurus Mpasi bayi itu kan punya tantangan tersendiri ya, akhirnya saya kewalahan, bingung sendiri mau mengurus yang mana dulu, ujung-ujungnya saya lambaikan bendera putih dan mulai mencari asisten rumah tangga.

Singkat cerita, setelah ada ART saya merasa hidup saya penuh warna. Tidak hanya mendapatkan bantuan untuk urusan rumah, tapi saya juga jadi punya teman ngobrol di rumah. Dan tidak lama kemudian, saya hamil anak kedua, Danesh. Eeeh setelah itu gantian si mba yang ikutan hamil. Mungkin kata orang tentang hamil itu menular benar lah adanya.

Sayangnya rejeki saya mendapat ART harus berhenti sampai disitu. Karena si mba hamil, kemudian si mba nya memutuskan untuk pulang kampung dan melahirkan disana. Dia juga lebih memilih hidup dan membesarkan anaknya disana daripada balik ke Jakarta (waktu itu saya masih tinggal di Jakarta).

Setelah itu saya patah hati buibu. Entah kenapa saya tidak tertarik untuk mencari ART lagi, Karena tidak akan ada yang bisa gantikan si mba dihati saya. Hiks

Berbeda dengan dulu awal menikah, kali ini justru saya lebih santai meski tidak ada ART. Rumah kotor? Ya wiss lah. Tidak sempat masak? Cari matengan di warteg aja. Ajaibnya hidup saya pun baik-baik saja meski tidak ada asisten yang membantu.

Tanpa saya sadari keadaan itu terus berlanjut sampai sekarang saya sudah punya anak tiga dan sudah hijrah ke Pekanbaru juga. Entah kenapa saya jadi sangat menikmati ‘kesendirian’ saya ini dan jadi malas membuka diri buat yang baru (ini lagi ngomongin ART lho ya. jangan Baper. Ingat ART alias Asisten Rumah Tangga).

Nah seperti saya sebut diatas, meski saya terlihat ‘super mom’, tapi sebenarnya tidak kok. Ada tangan-tangan tak tampak yang sebenarnya terlibat dalam urusan domestik rumah tangga saya.

Untuk tim konsumsi, saya punya katering harian yang siap menghantarkan lauk & sayur setiap hari ke rumah saya. Butuh cemilan? Tenang, ada babang go food yang akan beraksi. Cucian numpuk? Serahkan kepada Ahlinya, yaitu tim laundry kiloan.

Dan ada satu lagi tim yang tidak kalah pentingnya untuk kewarasan hati, jiwa dan pikiran saya sebagai mamak beranak tiga. Meski tim ini tidak bisa dimasukkan ke dalam tim inti, tapi sebenarnya kehadirannya cukup sangat menunjang kelancaran roda pemerintahan rumah tangga kami. Karena pepatah yang mengatakan, mamak senang, anak senang, bapak pun tenang (pepatah apa itu coba?) tidak lah terbantahkan lagi.

Dan ini lah yang disebut dengan tim estetika alias salon kecantikan. Ibarat mobil ada masa nya kadang saya harus di ‘tune up’ agar lebih nyaman untuk dinaiki (eh, gimana? Kok istilahnya kayak ada yang mengganjal ya?;p). Dan untuk urusan kecantikan saya percayakan kepada Latifa beauty clinic.


Kenapa? Karena di Latifa ini bukan hanya ada terapisnya tapi juga ada dokter kecantikannya. Sebelum melakukan perawatan, kita bisa berkonsultasi dulu dengan dokternya agar dokternya bisa memutuskan perawatan yang tepat dengan kondisi kulit kita.

Tidak hanya itu, untuk tempat perawatannya juga rapi dan hygenis sekali. Di bawah tempat tidur perawatan wajah terletak satu kotak kuning tempat pembuangan suntik yang sudah tidak dipakai. Jadi suntik-suntik bekas pakai tersebut tidak boleh dibuang sembarangan.

Kalau ke Latifa saya sukanya di facial PDT. Facial PDT ini macam-macam variannya tergantung kondisi kulit masing-masing. Untuk saya sih seringnya dipakai yang whitening. Bukan bermaksud memutihkan sih tapi hanya mencerahkan saja Karena kulit saya memang cenderung kusam.

Tahap-tahap untuk facial ini adalah pertama membersihkan wajah dengan milk cleanser, lalu dilanjutkan dengan facial wash dan toner. Setelah itu muka saya di uap yang kata terapisnya ini disebut sebagai vapo zone. Seingat saya dulu terakhir saya sering di facial, alat uap itu besar sekali dan ditaruh sekitar 2 cm di atas wajah saya. Entah hanya perasaan saya saja tapi  jadi merasa kayak susah nafas gitu dan akhirnya lebih memilih minta dipakaikan handuk basah ditempel di daerah T di wajah saya. Dan kemudian saya menyadari, terakhir saya di facial itu kan beberapa puluh tahun sebelum masehi, saat tingkat ke-kerenan seseorang diukur dengan bisa mengetik sms dengan satu jempol tanpa melihat layar, jadi jelas lah saat ini era nya sudah berubah. Kalau sekarang alatnya mah sudah canggih-canggih.




Dan setelah itu yang dilakukan adalah ekstraksi komedo alias mencabut komedo. Nah ini, ini yang tidak berubah, rasa sakitnya masih sama seperti yang saya rasakan dulu. Periiih jendral. Tapi abis itu sih hidung jadi licin banget kayak perosotan di taman bermain anak ;p.

Setelah komedo bersih, terapis mengoleskan semacam alkhol ke daerah T wajah saya agar tidak iritasi katanya. Saya lupa kegiatan ini istilah ini namanya apa, di catatan saya sih ditulisnya HF, tapi entah saya yang lupa tulis atau terapisnya yang lupa jelaskan HF itu kepanjangannya dari apa ya. lalu setelah dioles alcohol, proses selanjutnya itu ada semacam alat berbentuk stik yang sedikit ada rasa sengatan listrik di wajah saya.




Dan kemudian masker PDT pun dimulai. PDT adalah singkatan dari Photo Dynamic Therapy yang mempunyai banyak manfaat, salah satunya mampu meperlancar peredaran darah. Jadi ini semacam topeng dengan sinar biru yang diletakkan ke wajah kita dan dibiarkan beberapa saat. Saya tidak tahu bagaimana proses si topeng ini bekerja tapi setelah pakai ini memang terasa sih kulit jadi lebih kenyal dan lembut.

Tapi jangan salah, ini bukan langkah terakhir lho. Habis ini ditambah lagi dengan masker whiteningnya. Masker ini berbentuk peel-off, jadi setelah beberapa lama maskernya mengering sendiri dan dikelupas oleh terapisnya. Lalu kemudian wajah saya di lap pakai kapas basah agar sisa-sisa maskernya terangkat sempurna. Dan setelah itu diberikan kul-cool oleh terapisnya yang katanya  ini bisa untuk menutup pori-pori saya kembali.  Langkah terakhir saya di oleskan pelembab sunblock. Selesai..


The power of salon itu emang terasa banget ya efeknya. Pulang-pulang langsung berasa cantik, segar terus mau ngapa-ngapain juga jadi bersemangat lagi. Apalagi kalau klinik kecantikannya super memuaskan seperti di Latifa ini. Recommended lah pokoknya.

Di latifa tidak hanya ada facial saja, tapi juga ada creambath, medi pedi dan yang paling jadi produk andalannya adalah MESO BB GLOW alias sulam bedak. Pernah kepikiran ga sih kenapa artis korea bisa kinclong banget? Nah salah satu rahasianya ya ini. Mereka sulam bedak. Penjelasannya sederhananya adalah sulam bedak ini memasukkan ‘bedak’ ke wajah kita sehingga wajah kita terlihat seperti memakai bedak terus. Obatnya di impor langsung dari Korea lho. Dan ini tahan sampai 6 bulan.

Jadi buat kamu-kamu yang suka selfie di pagi hari dengan caption ‘ I wake up like this’, cocok nih di sulam bedak dulu biar tidak usah bedakan lagi sebelum difoto atau pakai aplikasi beauty cam. Karena cantik itu datangnya dari dalam. Atau paling tidak sulam bedak cukup mendekati lah😉

Penasaran? Cuus silahkan cari info selengkapnya ke LATIFA BEAUTY CLINIC di Jalan. Tuanku Tambusai No. 59 Pekanbaru atau boleh tanya-tanya di Line mereka @latifabeauty atau follow juga Instagramnya di @latifabeauty ya. Selamat mencoba. Selamat jadi cantik.
5 comments:
Wednesday, July 19, 2017

Mendengar vs Berbicara

Pertanyaan yang selalu muncul setelah Shanaz menggunakan alat bantu dengarnya adalah “sudah bisa ngomong apa?”. Pertanyaan ini tidak hanya muncul oleh orang-orang yang awam terhadap masalah gangguan pendengaran pada anak, tapi juga sering ditanyakan oleh orangtua yang anaknya memiliki gangguan pendengaran yang sama kayak Shanaz.
Tulisan ini saya tulis bukan karena saya marah ditanyain terus, percaya lah saya anggap pertanyaan-pertanyaan itu adalah doa dan dukungan dari teman-teman semua dan saya hargai itu. Tapi tujuan saya menulis ini justru untuk para orangtua yang memiliki gangguan pendengaran juga sama seperti Shanaz.
Saya sangat paham sebagai orangtua kita selalu berharap anak kita mengalami perkembangan yang sesuai harapan kita. Sangat besar harapan kita ketika anak sudah menggunakan alat bantu dengar atau bahkan implant koklea agar si anak bisa mendengar seperti anak-anak lainnya. Itu lah kenapa pertanyaan itu muncul sekedar memastikan harapan itu tetap ada.
Memakai alat bantu dengar ini tentu tidak sama dengan memakai kacamata. Meski sama-sama membantu kekurangan yang terjadi pada indera manusia, tapi untuk fungsi pendengaran yang benar-benar bertugas untuk mendengar bukan lah telinga tapi saraf pendengaran. Dan yang namanya sudah berhubungan dengan saraf, tentu mau tidak mau harus distimulasi agar mendapatkan hasil maksimal.  Setelah berbulan atau bahkan bertahun si anak tidak dapat mengakses suara lalu tiba-tiba kita berikan alat bantu dengarnya dan berharap dia langsung berbicara? Jelas bukan begitu prosesnya. Untuk anak-anak seperti shanaz, selain umur biologis, yang harus diperhatikan adalah umur pendengarannya.

Apa itu umur pendengaran? Umur pendengaran adalah umur yang dihitung setelah si anak menggunakan alat bantu dengar yang sesuai dengan tingkat gangguannya.

 Shanaz sendiri baru menggunakan alat bantu dengar di bulan desember 2016, itu artinya umur pendengaran Shanaz baru 7 bulan. Lalu apakah kita berharap anak bayi 7 bulan akan bisa langsung berbicara? Tentu tidak. Dia harus mendengar lebih banyak dan lebih sering lagi baru dia bisa mengeluarkan suaranya. Apalagi untuk kasus shanaz yang baru memakai alat bantu dengarnya di umur 19 bulan, itu artinya shanaz harus lebih dipacu proses mendengarnya untuk mengejar keterlambatannya selama 19 bulan sebelum itu saat dia masih berada dalam kesunyian.
Buat yang baru membaca tulisan saya, saya kenalkan lagi, anak ketiga saya bernama Shanaz Katilu. Sekarang umurnya adalah 2 tahun 3 bulan. Dia menggunakan alat bantu dengarnya sejak umur 19 bulan (sebenarnya dia ketahuan memiliki gangguan pendengaran di umurnya 18 bulan, lalu kemudian proses mencari dan membeli alat maka baru benar-benar memakai alat di umur 19 bulan). saya pernah cerita tentang ini di blogpost sebelumnya.
Gangguan pendengaran Shanaz adalah kanan 85 db dan kiri 80 db. ini pun sebenarnya belum benar-benar valid. Dan ini adalah hasil dari ASSR kedua yang saya lakukan setelah dia meggunakan alat bantu dengarnya selama 6 bulan (sebelumnya status Shanaz itu kanan 85 db & kiri >110 db). Menurut dokternya ada sedikit masalah pada telinga bagian tengah, tapi ini pun masih dalam tahap observasi dan pengobatan. Nanti lain kali akan saya ceritakan detailnya di blogpost kalau sudah dapat diagnosa akhirnya ya.
Saat shanaz pertama kali melakukan tes BERA
Lalu apakah shanaz sudah mengeluarkan kata-kata? Sudah. Dia sudah bisa bilang toktoktok, dodo untuk duduk, namnamnam untuk makan atau nyamnyamnyam dan yang paling sering disebut adalah do alias no. sebenarnya saya mengajarkannya ‘tidak’, tp dia kesulitan menyebut kata ‘tidak’ jadi yang tersebut adalah do dan bersama terapisnya kita sepakati do itu adalah no. 
Selain itu ada beberapa kata lainnya juga yang secara spontan pernah diucapkan oleh shanaz. Yang terbaru dia bisa mengucapkan awah untuk pesawat. Tapi kosakata Shanaz belum lah konsisten. Kadang muncul tapi kadang hilang lagi. Masih harus sangat sangat sangat dilatih lagi.
Dalam ilmu AVT kata-kata yang sudah bisa diucapkan ini disebut bahasa ekspresif. Dan ini adalah hal yang paling jadi target semua orangtua (termasuk saya). Tapi sebenarnya selain ini, yang tidak kalah penting adalah apa yang disebut bahasa reseptif, yaitu bahasa yang belum bisa diucapkan tapi si anak paham maksudnya. Contohnya shanaz belum bisa menyebutkan sandal tapi dia paham ketika saya memberikan intruksi mengambil sandal tanpa ada gesture atau melihat gerak bibir.
Dan ini yang selalu diabaikan oleh orangtua yang memiliki anak Tuli atau tuna rungu atau apa pun lah istilahnya sekarang. Mereka sering mengeluh anak-anaknya belum mengeluarkan satu kata pun katanya, tapi mereka tidak memperhatikan terhadap kemampuan reseptif si anak. Bisa jadi si anak punya bahasa reseptif yang cukup banyak.
Meski tujuan utama kita adalah menyelamatkan verbalnya, tapi jangan lupa yang harus pertama sekali kita fokuskan itu mendengarnya. Apakah si anak sudah sadar bunyi, identifikasi bunyi, baru kemudian dia mampu imitasi bunyi.  Tidak perlu berkecil hati jika si anak sampai sekarang belum mengeluarkan satu kata pun, mungkin dia sedang menyimpan memori mendengarnya sebanyak mungkin. Nanti jika penuh pasti akan keluar dengan sendirinya.
Tentu yang harus digarisbawahi yaitu memang benar hasil tidak akan mengkhianati usaha, tapi tanpa usaha maka jangan harap akan membuahkan hasil. Bagaimana mungkin kita bisa berharap memori mendengar si anak bisa penuh, jika dia bahkan tidak banyak mendengar kata-kata.

Dan suara terbaik adalah suara yang didengar dilangsung dari sumbernya, bukan suara digital baik itu dari tv, laptop atau pun youtube. Bukan bermaksud untuk sama sekali melarang, realistis saja, melepaskan gadget pada anak di dunia milenial ini tentu lah tidak mudah. Saya pun kadang-kadang memberikan shanaz tontonan juga. Tapi tak jarang saya suka mematikan suara tv atau gadget tersebut, lalu saya ceritakan kembali dengan bahasa dan suara saya sendiri. Mirip seperti sedang membaca buku tapi medianya berbeda.

Dan ngomong-ngomong soal baca buku, kata terapis Shanaz idealnya kita membacakan buku pada anak itu sekitar 10 buku sehari lho. Mari hela nafas panjang berjamaah buibu. hihihihi
Jadi intinya adalah kita tidak boleh patah semangat. Kalau lagi capek, bosan, silahkan isi amunisi dulu. Istirahat sejenak. Ngumpul sama teman-teman, jalan-jalan, atau bahkan makan micin pun sebenarnya adalah piknik tersendiri buat emak-emak seperti kita ini, ya kan? Dan yang paling penting dari itu semua adalah jangan baper liat perkembangan anak orang lain. Fokus terhadap masing-masing dari anak kita saja. Insya Allah jika usaha sudah semaksimal mungkin pasti akan ada hasil yang terbaik juga. Ganbatte semua..

1 comment:
Thursday, July 6, 2017

Mereka yang disebut segmented people.


Sumber gambar : www.freepik.com
Hidup adalah pilihan. Pilihan untuk memilih yang terbaik dari yang paling baik. Satu-satunya yang tidak ada didalam pilihan adalah menyenangkan semua orang. Karena apa pun pilihan yang kita ambil, selalu saja ada yang mempertanyakan pilihan kita tersebut.

Saya ingat beberapa waktu yang lalu sempat beredar ilustrasi yang sangat cocok dengan saya maksudkan ini. Ilustrasinya tentang sepasang suami istri yang menaiki keledai berduaan, lalu ada orang yang berkomentar “kasian amat keledai sekecil itu dinaiki dengan 2 orang sekaligus”. Lalu digambar berikutnya sang suami turun dari keledai, hanya istri yang menaiki keledai dan tetap orang tersebut berkomentar “ pasti itu suaminya takut sama istri. Makanya dia rela jalan sedangkan sang istri enak-enakan duduk di keledai’. Gambar terakhir akhirnya kedua nya turun dari keledai. The end? Of course not. Tetap saja ada yang berkomentar, "bodoh sekali suami istri itu, punya keledai tapi malah tidak dinaiki”. See ? Apa pun pilihan kita, selalu saja ada yang berkomentar negatif.

Itu lah kenapa terkadang kita tidak perlu mendengarkan setiap komentar yang diberikan orang lain kepada kita. Dan itu bagian tersulit sebenarnya. Ketika kita sudah terlanjur mendengarkannya, bagaimana caranya meng-undo kembali apa yang sudah kita dengar?

Ada beberapa orang yang memang dianugerahkan sifat lempeng, jadi apa pun yang dikatakan orang lain dia tidak mau ambil pusing. Beruntung lah orang-orang seperti itu. Ada juga yang sifatnya mercon alias meledak-ledak, sedikit saja disulut api langsung dar der dor. Walau terlihat menyeramkan, positifnya orang-orang seperti ini ya meledaknya saat itu saja. Setelah itu selesai, tidak ada beban yang tersisa. Yang paling repot adalah yang ketiga ini, yaitu orang-orang yang terlihat lempeng tapi sebenarnya kata-kata yang didengarnya disimpan di hati dan terus terngiang-ngiang di kepalanya. Tak jarang yang ngomongnya saja kadang sudah lupa dulu pernah bicara seperti itu.

Apesnya saya termasuk tipe yang ketiga. Seberapun kerasnya saya mengabaikan kata-kata orang lain, jika sudah terlanjur terdengar pasti akan terekam di memori saya dan terus diputar kayak kaset rusak.

Beberapa waktu lalu suami saya sempat komentar setelah membaca draft tulisan saya, katanya “ gaya tulisan kamu kok ga berubah. Ga ada peningkatan, gitu-gitu aja”. Walau saya terus yakinkan ke diri sendiri kalau tiap orang punya gaya tulisan yang berbeda-beda, tapi tetap saja setelah komentar itu muncul saya nge blank mau menulis apa. Tulis satu kalimat, hapus, tulis lagi, hapus lagi. Dan kemudian tulisan tersebut berakhirnya mati suri didalam folder draft.

Pepatah yang mengatakan “kau tidak bisa menutup mulut semua orang, tapi bsa menutup kedua kupingmu sendiri” sebenarnya tidak lah benar-benar efektif. Terutama untuk orang-orang yang cukup sensitif seperti saya dan Indira. Fyi, Indira adalah anak pertama saya, tahun ini umurnya masuk 8 tahun.

Indira juga termasuk anak yang cukup sensitif ketika mendengar komentar-komentar yang kurang menyenangkan. Beruntungnya dia, Indira punya saya yang siap menegarkannya kembali tiap kali dia sedih mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan. Keberuntungan lainnya, Karena saya tau persis tidak enaknya dikomentarin, saya berusaha berhati-hati jika ingin mengatakan sesuatu ke Indira.

Tapi tentu saya sangat sadar betul diluar sana tidak semua orang akan melakukan hal yang sama ke Indira. Tidak semua orang akan sebaik ibu nya. Oleh Karena itu saya mulai belajar ‘menebalkan’ perasaan saya dahulu. Karena kalau saya lebih dulu bisa, maka dengan mudah saya mengajarkan trik yang sama ke Indira.

Sebagai orang yang pernah kuliah di Fakultas Ekonomi, saya cukup paham dengan yang namanya segmentasi pasar. Jika ingin bisnis kita berjalan lancar, yang paling pertama yang harus kita pelajari adalah yaa segmentasi pasar ini. Dan sebenarnya  ini juga bisa berlaku untuk semua implemantasi kehidupan. Dan bahkan ilmu ini juga bermanfaat saat dulu saya mencari jodoh, saya harus tahu segmentasi calon imam yang saya cari yang bagaimana demi kenyamanan dan kemaslahatan hidup ;-p #terekenomi

Hubungannya dengan sensitif dengan komentar orang-orang apa? Jelas hubungannya sangat erat. Saat ini dalam kehidupan sehari-hari saya mulai mencoba menerapkan hukum segmentasi pasar ini. Segmentasi pasar saya adalah orang-orang yang mempunyai pikiran yang sama dengan sama, dan kalau pun berbeda dia cukup tahu bagaimana menghargai perbedaan berpikir dan mengemukakan pendapat. Maka orang-orang ini lah yang akan jadi konsentrasi saya. Diluar dari itu, siapa peduli.

Kesimpulannya adalah segementasi pasar tidak hanya berlaku untuk bisnis saja, tapi berlaku untuk semua aspek kehidupan. Dan bahkan sebenarnya bisnis ini sendiri diambil dari kata business yang bisa diartikan ‘urusan’. So when u hear something that u wont hear, u can say loadly, ‘its not ur business. Because u’re not my segmented’. Gampang kan? Iyah, semoga gampang (ngomong sama diri sendiri 😝)

Sumber foto : www.freepik.com



P.s. Hukum ini tidak berlaku untuk suami saya, dia bebas mengemukakan pendapatnya. Karena selain pendapat, dia juga memberikan saya pendapatan. Hanya saja pendapatnya akan berbanding lurus dengan kenyamanan hidupnya. Semakin bagus pendapatnya, semakin nyaman juga hidup yang dia dapat. Semakin jelek pendapatnya, silahkan tidur di ruang tamu ditemani nyamuk dan beralaskan lampit (karena kami tidak punya sofa, syukur2 kalau saya berbaik hati memberikan dia bantal). Eventhough it never make me to stop loving u, just use ur voice so wise man ;p.








3 comments:
Saturday, June 10, 2017

Buka puasa bersama


Tidak terasa sudah setengah bulan kita berpuasa ya. Pertanyaannya adalah sudah dapat undangan bukber bersama berapa biji nih? Mmm, ok diubah pertanyaannya, berapa banyak dari undangan itu yang sudah pasti tanggalnya dan berapa yang ‘gampang atur aja,aku ikut aja lah’-in  dan kemudian tidak ada berita lagi sampai lebaran pun datang? Its sound familiar, hah?

Satu hal yang saya pelajari dari hukum bukber bersama ini adalah semakin tua umur kita, semakin sedikit undangan bukber bersama, benar? Dulu waktu masih muda, berjaya dan berkibar (bendera kali) kayaknya hampir setiap hari ada undangan bukber bersama. Makin kesini makin berkurang sampai ke satu titik sekarang lebih memilih makan malam daripada bukber bersama. Maksudnya itu lebih memilih buka puasa dulu di rumah (minimal makan takjil dulu), shalat magrib, baru kemudian cuss ke tempat bukber bersama buat makan beratnya. Aaaah saya sudah setua itu ternyata

Kegiatan bukber bersama sebenarnya tidak lah salah. Setahun sekali kita bisa menyambung silaturahim dengan teman-teman yang hampir tidak pernah bertemu sebelumnya. Itu lah hikmah Ramadhan. Dan itu indah. Tapi ada beberapa hal yang sebaiknya harus diperhatikan dalam mengadakan acara bukber bersama, diantaranya adalah :

1.       Perhatikan tempat diadakan acara bukber bersama. Jika memungkinkan sebaiknya dilakukan di rumah saja biar lebih santai dan lebih akrab. Tapi kalau pun tidak, jangan lupa untuk memastikan tempat acara bukber bersama tersebut memiliki mushola atau pun tempat shalat yang layak. Jangan sampai habis bukber bersama trus lupa shalat magrib ya.

2.       Jika diadakan di rumah, sebisa mungkin jangan sampai merepotkan pemilik rumah. Tawarkan sistem potluck atau layanan antar makanan supaya si pemilik rumah tidak direpotkan karena kedatangan kita.

3.       Jika undangan bukber bersama untuk seluruh keluarga, pastikan tidak hanya kita saja yang menikmati acara tersebut karena bertemu dengan teman lama, tapi suami dan anak-anak yang kita bawa harus senyaman mungkin di acara tersebut juga. Kalau ada pilihan untuk tidak dibawa, saya lebih memilih itu sih terutama untuk anak-anak. Karena kadang-kadang meski restorannya cukup ramah anak, belum tentu teman-teman dari masa lalu kita ini terkondisikan hal yang sama. Nanti pada saling ledek, saling becanda, kasian anak-anak kita bingung tiba-tiba mamaknya berubah jadi se-barbar itu;-p. kecuali semuanya janjian membawa anak dan konsep bukber bersama nya playdate itu lain lagi ceritanya.

4.       Kalau untuk saya, bukber bersama itu sebenarnya bukan ajang untuk makan sih, lebih ke tujuan utamanya silaturahim, ngumpul bersama teman-teman lama. Bukan bermaksud jaim di depan teman-teman, tapi biasanya kalau lagi bukber bersama porsi makan saya itu sedikit, mungkin Karena sudah asik ngobrol kali ya. Makanya saya tuh selalu memesan makanan ekstra untuk dibawa pulang atau kalau lagi menghemat, sebelum berangkat bukber bersama saya tetap masak nasi di rice cooker, selain bisa untuk sahur nanti, juga hampir dipastikan nanti sepulang bukber bersama pasti akan ada  makan malam sessi kedua. Dan itu ternyata berlaku juga untuk suami dan anak-anak.  Makan harus se-hikmat itu sodara-sodara, biar afdol😊

5.       Dan yang paling harus dipahami sekali adalah ketika sudah berkeluarga maka ada prioritas yang harus diutamakan. Jangan sampai Karena undangan bukber bersama yang tiada habis-habisnya, suami dan anaknya kita terlantar di rumah. Saya rasa tidak perlu lah sampai bukber bersama di semua alumni tingkat sekolah, dari TK sampai kuliah. padahal mah teman-temannya juga itu-itu saja. Dan lagi anggaran untuk bukber bersama kan kalau dihitung-hitung lumayan juga tuh, mending uangnya buat beli baju lebaran anak, ya ngga sih?



Kira-kira ada lagi yang bisa nambahin ngga tuh dari 5 poin diatas ? Pada akhirnya kita harus menyadari kalau ‘panggung’ sudah bukan milik kita lagi. Jelas ada beberapa hal-hal yang tidak memungkinkan kita untuk se-eksis dulu lagi. Selektif memilih undangan bukber bersama sebijaksana mungkin sangatlah dianjurkan. Ada suami dan anak-anak yang menanti kita di rumah. Lebih baik bukber bersama mereka saja, Karena barang siapa yang menyediakan makanan untuk berbuka suami dengan penuh keikhlasan, niscaya akan terbuka pintu mall dari arah mana saja (diriwayatkan oleh ibu-ibu dan dikutip dari pesan yang bersebaran di group sebelah), setuju?

credit picture : https://www.shutterstock.com/image-vector/hand-drawn-ramadan-iftar-illustration-blue-637179856?irgwc=1&utm_medium=Affiliate&utm_campaign=Graphic%20resources%20SL&utm_source=39422


2 comments:
Sunday, May 28, 2017

Mencari tiket murah disaat Mudik

Mudik atau pulang kampung adalah satu hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya sampai kemudian saya menikah 8 tahun yang lalu dan ikut pak suami merantau. Wajar saja dari lahir  dan sampai tumbuh besar saya hanya berada di Aceh. Di ujung bagian paling barat Indonesia ini hampir semua keluarga dekat saya ada disini. Nenek dari pihak ibu tinggal tepat di sebelah rumah, dari pihak bapak sedikit jauh, tapi tidak sejauh hatimu dan hatinya sih, yaah cuma beda kecamatan saja, masih di kota yang sama. Makanya saya sangat bersemangat kalau sudah menjelang mudik. Bahkan sampai hari ini pun masih merasakan getar yang sama.

Bagian yang paling deg-degan dari mudik adalah saat pencarian tiket. Apalagi untuk saya yang kampungnya cukup jauh dan hanya bisa dijangkau dengan pesawat, jadi duuh itu rasanya kalau tiket pesawat belum ditangan, super H2C alias harap-harap cemas.  Ini bukan nama reality show lho ya dan percaya lah perasaan saya lebih nyata dari acara tersebut.

Sebenarnya bisa saja sih pakai alternatif lain selain naik pesawat yaitu via darat.  Tapi itu membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa sampai ke Aceh. Dan jika dihitung kembali biaya operasional termasuk menginap, makan dan lain-lain selama perjalanan sama saja dengan harga tiket pesawat.
Mencari tiket pesawat di musim mudik seperti ini memang agak sedikit tricky. Kalau tidak pintar-pintar, bisa-bisa pulang mudik langsung jadi gembel. Kalau dulu saya selalu saya cari tiket jauh sebelum tanggal keberangkatan, bahkan sebelum puasa sebisa mungkin saya sudah pegang tiket. Tapi semenjak beberapa tahun terakhir banyak aplikasi pencari tiket murah justru mencari tiket terlalu jauh dari hari- H harganya malah cukup tinggi.
Dan Alhamdulillah sejauh ini dari pertama saya hijrah ke Jakarta sampai sekarang saya sudah merantau di kota berikutnya dan juga sudah berkembang biak cukup pesat, saya selalu dimudahkan untuk urusan tiket pesawat. Bayangkan dari yang awalnya cuma perlu beli 2 tiket pesawat, lalu tahun berikutnya bertambah menjadi 2 tiket pesawat dewasa + infant dan bertambah terus tiap tahunnya sampai saat ini formasi bertahan di 2 tiket pesawat dewasa + 2 tiket anak (yang harganya sama saja dengan tiket dewasa) +1 tiket infant (yang sebenarnya dari beberapa bulan lalu sih sudah bayar satu tiket penuh, tapi sama bundanya masih di-infant-infant-kan;p). Jadi kebayang ya itu dompet kalau tidak ketemu tiket promo babak belurnya kayak apa.  
Berikut saya coba berbagi tips agar dapat harga tiket pesawat yang murah saat menjelang mudik seperti ini :

1.      Semenjak dunia dalam genggaman, saya selalu mencari tiket pesawat di aplikasi pencari tiket murah. Dan seperti saya sebut diatas, entah kenapa membeli jauh-jauh hari di aplikasi ini justru harganya masih sangat tinggi sekali. Jadi saya selalu mencari tiket pesawat tidak terlalu jauh dari tanggal keberangkatan, yaaah minimal 2 minggu sebelum hari H. Saya tidak tahu apakah  ini hanya berlaku ke saya saja atau yang lain juga begitu ya. Dan percaya atau tidak katanya kalau ingin mendapat harga tiket pesawat dengan harga yang bagus, lebih baik pesannya di hari selasa dan kamis. Lebih bagus lagi katanya kalau dicari saat tengah malam hari. Entah mungkin kebetulan atau bagaimana, saya sih sudah buktikan sendiri. Untuk hari selasa dan kamis nya ya, kalau untuk tengah malamnya sejauh ini harganya sama saja, tidak ada perbedaan yang signifikan. Dan baru-baru ini aplikasi pencari tiket murah ini mulai menerapkan sistem poin lho. Semakin sering kita bertransaksi semakin besar juga poinnya, yang nantinya poinnya bisa ditukar dengan voucher  Rp 50.000 – Rp 100.000. Lumayan kan?


2.      Kalau ingin bermain aman, yang paling tenang  itu sebenarnya sudah memegang tiket mudik jah-jauh hari ya. Paling tidak satu urusan selesai, jadi tinggal memikirkan untuk hal-hal lainnya. Nah kalau untuk beli tiket pesawat jauh-jauh hari saran saya sebaiknya langsung ke layanan penjualan resmi nya saja. Apalagi untuk maskapai premium seperti Garuda, itu kan biasanya layanan penjualan resmi nya suka ada di mall-mall, jadi sambil mencari tiket pesawat bisa sambil cuci mata juga.


3.      Beberapa bulan sebelum lebaran (bahkan sebelum puasa ) biasanya maskapai tertentu suka mengadakan fair dengan menjual  tiket pesawat murah. Acara seperti ini wajib disambangi nih untuk para pejuang mudik yang menggunakan tiket pesawat. Walau sebenarnya saya belum pernah sih ikut ke acara-acara seperti itu, selain sudah kebayang ramainya seperti apa dan saya juga cukup ribet kalau harus kesana dengan membawa 2 anak dan 1 batita. Ternyata saya belum seseterong itu manteman.


4.      Kalau punya kartu debet atau kartu kredit yang bekerja sama dengan maskapai penerbangan tertentu ini bisa juga dijadikan pilihan untuk menghemat. Karena biasanya akan ada harga khusus jika membeli dengan pembayaran dari kartu bank terkait. Apalagi kalau kartu tersebut juga berhubungan dengan kartu frequent flyer, selain dapat harga khusus, biasanya juga dapat bonus poin lho. Dan terutama jika suaminya punya rutinitas berkala harus dinas ke luar kota menggunakan pesawat, wah poinnya bisa dikumpul tuh dan kemudian ditukar untuk tiket pesawat saat mudik. Lumayan hemat satu tiket. True story ;))))


5.      Jika memungkinkan sebaiknya hindari tanggal keberangkatan ketika sudah masuk arus mudik. Tapi tentu ini hanya berlaku untuk orang-orang seperti saya yang notabene adalah seorang ibu rumah tangga dengan anak-anak yang belum bersekolah saat itu. Jadi bisa curi start mudik duluan. Dan sekarang pun meski Indira sudah masuk SD, untungnya dua tahun terakhir lebaran bertepatan dengan libur kenaikan kelas, jadi begitu urusan ujian selasai, langsung cuuus  berangkat mudik. Entah bagaimana untuk tahun-tahun kedepan yang mungkin saja antara libur dan puasa sudah tidak bersamaan lagi. Kita lihat saja nanti.


6.      Yang tidak kalah penting adalah sebelum mencari tiket pesawat, berbanyak amalan baik. Karena semakin banyak amalan baiknya, semakin bagus harga tiket pesawat yang didapat. Hahahaha. Teori ngaco ya. Tapi ada benernya sih, intinya mantapkan tujuan dan niat mudik karena ingin silaturahim ke orangtua dan saudara. Kalau setelah itu sekalian dengan wisata kuliner dan jalan-jalan, ya anggap itu sebagai bonus lah.


So, sudah siap berjibaku mencari tiket pesawat murah? Selamat berjuang ya teman-teman. Saya doakan kalian berhasil mendapatkan tiket pesawat dengan harga yang paling bagus. Permisiii,,,saya mudik duluan ya. da.... *lambaikan tangan dari pesawat
ini adalah kumpulan foto saat kita mudik dri tahun ke tahun. yang kiri atas bukan lah Shanaz, tapi Indira saat umur dia 9 bulan. Dari yang modal cuma bayar infant, sampai kemudian satu persatu harus bayar tiket penuh *nangis darah*

4 comments:
Monday, May 22, 2017

The Master Asi 2017

Bapak-bapak dan ibu-ibu semua, dengan bangga mari kita sambit eh sambut Master ASI 2017, ini lah diaaaaaaaa *suara drum* SHANAZ KATILU. Beri tepuk tangan yang meriah untuk shanaz *prokprokprok*

Fyuuh, lega akhirnya, salah satu hak Shanaz sudah terpenuhi dengan baik. Kekhawatiran terbesar saya adalah saya takut akan banyak drama saat proses menyapih. 

Dari jaman  kaka-kakanya menyusui, saya adalah penganut WWL alias Weaning With Love. Kalau diindonesiakan artinya menyapih dengan cinta. Jadi maksudnya adalah tidak ada proses sapih dengan paksaan, memakai pahit-pahitan, atau apalagi ujug-ujug menitipkan anak ke nenek atau yang lainnya. Walau baru-baru ini saya sempat dengar tentang sapih trip, meski saya belum pelajari sepenuhnya sih metodanya seperti apa,  tapi tadinya sempat mikir kalau WWL ini tidak berhasil, mau coba masukan proposal ke bapake untuk sapih trip, ke Jepang mungkin atau minimal ke Singapore lah ;-p. Antara beneran niat nyapih dan modus sih sebenarnya.
Seperti namanya, pokok utama dari WWL ini tentu saja adalah love alias cinta. Saat proses menyapih yang paling harus ditekankan meski tidak nenen lagi bukan berarti cinta bunda berkurang. Makanya saat menyapih harus selalu sambil dipeluk dan terus diberikan ‘mantra’ seperti, "bunda tetap sayang sama kamu. Tapi kamu sudah besar, nen nya sudah habis. Kalau kamu haus kamu minum air putih saja ya".
Dulu waktu menyapih dengan metoda yang sama untuk kaka Danesh, drama nya beuuuh luar biasa banget. Saat saya jelaskan kalau dia sudah besar, eeh dia nya malah bilang “ ade ngga mau besar, ade mau jadi ade bayi aja” terus sambil mata nya dimerem-meremin pura-pura jadi bayi. Belum lagi kemudian Danesh marah mengusir saya dari kamar dan bahkan sampai berkali-kali minta maaf karena dipikir saya tidak memberikan dia nen Karena dia sedang dihukum. Hati ibu mana yang tidak galau kalau sudah begitu ya.
Sampai kemudian di satu titik Danesh melakukan negoisasi ke saya, boleh tidak nenen asal digendong bayi. Gendong bayi itu maksudnya digendong pake gendongan model sling gitu. Harus model itu, tidak boleh model kangguru atau yang lainnya. Jadi setiap kali dia kangen nen, dia minta digendong bayi. Walau sebenarnya itu hanya menyelesaikan masalah dengan masalah baru, Karena setelah itu dia jadi ketergantungan dengan gendong bayi, tapi tetap saja kesepakatannya saya iya kan. Karena saat itu saya hanya ingin memberikan penekanan ke Danesh bahwa dunia akan baik-baik saja tanpa nen. Bunda nya akan tetap sayang sama dia meski sudah tidak nen lagi.
Berbeda dengan Danesh, saya bingung bagaimana membahasakan hal serupa ke shanaz tentang proses menyapih ini.  Meski sama-sama diumur 2 tahun, tapi saat itu Danesh sudah bisa berkomunikasi dengan saya. Sudah ada pembicaraan 2 arah antara saya dan Danesh sehingga dengan mudah kami bisa mencapai kesepakatan.
Sedangkan shanaz, mungkin saat menggunakan alat bantu dengarnya, dia bisa mendengar saya, tapi tentu dia belum dapat konsep mendengarnya. Akan sangat abstrak untuk Shanaz ketika saya bilang, “shanaz sudah besar, shanaz jangan nen lagi ya”. Shanaz tidak akan paham intruksi seperti itu.
Maka yang pertama sekali saya lakukan adalah membuat pola baru untuk dia. Kalau dulu dia bisa nen dimana saja dan kapan saja, sekarang sudah tidak bisa lagi. setiap kali dia minta nen ketika kita di luar, dengan sedikit gesture saya bilang ke dia, “malu.. malu.. ga boleh nen disini. malu”. Dan saya juga mulai memakai baju yang sulit untuk dia mengakses nen nya. Jadi selamat tinggal baju menyusui. Lalu saya juga memberikan dia pilihan lain, misalnya susu UHT atau biskuit. Tujuannya supaya keinginan dia untuk nen teralihkan.
Untungnya tidak butuh waktu lama untuk shanaz memahami pola yang baru. Lama-lama dia mengerti aturan mainnya, di luar tidak boleh nen, di kasur boleh nen. Walau kemudian setelah itu dia selalu mengajak saya ke kamar sambil nunjuk-nunjuk kasur tanda dia minta nen.
Dan kemudian ini menjadi PR saya selanjutnya yaitu bagaimana membuat shanaz berhenti nenen saat di kasur, terutama di malam hari. Karena makin ke sini shanaz jadi kayak mengambil kesempatan gitu, mumpung ini lagi di kasur, mumpung boleh nen, eh dia malah nen sepanjang malam:-/.
Sampai satu malam, saat dia lagi nen, saya angkat sedikit badannya  kemudian saya tawarkan air putih. Awalnya Shanaz tidak mau, dia tetap mencari nen. Lalu saya letakkan dia ke kasur lagi, tapi tidak saya kasi nen sambil saya elus-elus punggungnya. Saya bilang, ‘ kalau shanaz haus, minum air putih aja ya. Jangan nen”. Walau sebenarnya saya tau sih dia tidak bisa mendengar ucapan saya karena dia tidak menggunakan alat bantu dengarnya saat tidur, tapi saya percaya bahasa ibu dan anak pasti akan sampai meski bukan dari organ pendengaran. Benar saja lama-lama dia pasrah, dia mau dikasi air putih, habis segelas penuh, terus plek tidur lagi. beneran tidur sampai besok pagi. Yaaay.
Pola baru terbentuk lagi, setiap dia terbangun di malam hari, saya tawarkan dia air putih. Awal-awal kadang mau, kadang tidak. Lama-lama dia sadar tidak ada pilhan lain, jadi pasrah mau saja dikasi air putih. Dan sekarang Shanaz malah hampir tidak pernah bangun malam lagi, tidur nyenyak sampai pagi. Another yaaay.
Jadi sebenarnya inti menyapih itu ibu nya dulu yang harus lepas. Dulu waktu menyapih kaka danesh, jujur saya masih berat melepas. ada ketakutan-ketakutan seperti, 'duuh kalau bonding saya dan danesh berkurang gimaya ya' atau 'duuuh setelah ini harus jaga makan nih soalnya 100% lemaknya masuk ke badan saya ;-p". Makanya proses menyapihnya jadi drama.
Pas bagian Shanaz, saya sudah lebih lempeng, mungkin faktor umur juga yang makin kesini makin tidak kuat pinggang super pegel di nenen-in sepanjang malam. Karena saya nya siap melepas, maka begitu pun anaknya.
Dan bagian terbaik dari proses menyapih ini adalah setelah itu anak-anak makannya jadi super duper lahap. Sagala digahar.  Mission accomplished. *take a bow* *standing applause please*
6 comments: