5 strategi AVT untuk anak dengan gangguan pendengaran


Mendengar adalah kebutuhan yang paling luhur dalam diri manusia. Ketika seseorang tidak bisa melihat, namun dia masih bisa meraba dan mendengar maka informasi akan tetap sampai ke orang tersebut. Namun jika seseorang tidak mendengar, meski dia sudah melihat benda tersebut, tetap dia tidak pernah tahu nama benda tersebut apa. Itu lah kenapa akhirnya muncul terapi AVT ini.
Terapi AVT atau Audio verbal therapy adalah sebuah terapi yang sangat dianjurkan untuk anak dengan gangguan pendengaran terutama di usia dini. Sasaran utama dari terapi ini bukanlah si anak, melainkan orangtuanya. Kenapa? Karena anak dan terapis hanya bersama selama kurang lebih satu jam, paling lama 2 jam, selebihnya 23 jam lagi anak bersama orangtua di rumah. Jadi para orangtua sangat disarankan untuk mempunyai bekal yang cukup tentang ilmu AVT ini.
Banyak yang bertanya dengan saya bagaimana sih proses terapi AVT ini? Prosesnya sederhana sebenarnya, sama seperti bermain biasa dengan anak, hanya bedanya disertai pendekatan-pendekatan tertentu yang memudahkan si anak menyerap informasi secara optimal dengan menggunakan fungsi mendengarnya.
Dan di tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang beberapa pendekatan strategi AVT yang sering saya pakai saat bermain dengan Shanaz di rumah.
Oh ya sebelumnya saya ingin beritahu dulu bahwa tulisan ini dari perspektif saya sebagai orangtua dan saya bukan pelaku AVT profesional. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut maka akan dengan senang hati saya berikan rekomendasi kemana harus bertanya.
Tujuan dari tulisan ini adalah murni hanya ingin berbagi. Karena saya tahu di luar sana masih banyak sekali orang yang sulit mendapat akses untuk terapi AVT ini. Semoga apa yang saya tulis disini bisa membantu walau hanya sedikit. Bismillah..

Dan berikut 5 strategi AVT yang sering dilakukan Shanaz di rumah, yaitu :

1.       Listening first

Otak manusia bekerja secara plastis, jadi ketika salah satu syaraf tidak berfungsi maka akan dengan segera diambil alih oleh syaraf yang lain.


Secara anatomi, posisi syaraf pendengaran berdekatan dengan syaraf visual. Ini lah kenapa untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran, mereka selalu unggul dibagian visual.


Semakin lama dia di-intervensi dengan alat, maka semakin banyak syaraf pendengarannya diisi oleh visual. Jika sudah begitu akan lebih besar usaha yang dilakukan untuk membuat si anak menggunakan kembali pendengarannya.


Meski sudah menggunakan alat, anak biasanya hanya tahu jika itu ada suara, tapi mereka belum punya konsep mendengar. Dan itu lah fungsi utama AVT, melatih si anak memahami konsep mendengar.


Dalam artikel-artikel berbahasa inggris yang saya baca, disana dikatakan they can hear, but they not listening yet. Nah saya sedikit kesulitan mengartikannya dalam bahasa indonesia, karena jika diartikan keduanya sama-sama bermakna mendengarkan. Jadi dalam tulisan ini mari kita sepakati, untung hearing akan saya tulis ‘mendengar’ (dengan tanda kutip) dan untuk listening akan saya tulis mendengar (tanpa tanda kutip).


Dalam strategi listening first, yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka makna nya adalah mendengar terlebih dahulu, maka sangat disarankan sebelum menunjukkan benda atau gambarnya, selalu meminta mereka untuk mendengar dahulu.



Contoh jika ingin menunjukkan gambar gajah, maka yang bisa dilakukan sebutkan kata gajah dulu baru tunjukkan gambarnya. Karena jika dilakukan berbarengan (apalagi jika menunjukkan gambar terlebih dahulu) bisa dipastikan si anak hanya menggunakan visualnya tanpa mendengar bahwa itu gajah. 


Tentu yang kita harapkan adalah si anak mendengar dan mendapatkan informasi bahwa itu adalah gajah, bukan sekedar hanya melihat saja. Maka jika disimpulkan teknik ini adalah hal dasar dan cukup krusial yang wajib dikuasai ketika berkomunikasi dengan anak-anak dengan gangguan pendengaran.



2.       Sandwich Auditory

Kemudian pertanyaan yang muncul adalah apakah artinya anak-anak yang sedang terapi AVT diharamkan menggunakan visual sama sekali? Tentu saja tidak begitu.


Jika kita sedang mengajarkan kognisi ataupun pemahaman kepada si anak, sebenarnya tidak apa kok mengunakan semua indera, termasuk indera penglihatan (visual) didalamnya. Dan strategi sandwich auditory adalah yang paling sering saya gunakan saat mengajarkan hal yang baru ke shanaz.


Rumusnya adalah : audiotory – visual – auditory. Ini sebenarnya diadaptasi dari konsep roti lapis atau sandwich, dimana artinya adalah pertama kita menggunakan pendengarannya, lalu tunjukkan bendanya,  dan kembali menggunakan pendengarannya lagi.


Anak-anak yang murni hanya gangguan pendengaran (tanpa gangguan penyerta lainnya) biasanya punya kognisi yang cukup baik. Bahkan tak jarang kognisi mereka bisa melebihi dari umur seharusnya. Jadi jangan ragu untuk terus mengenalkan hal baru kepada si anak ya. Meski dia tidak (atau belum) merespon bukan berarti dia tak paham lho.



3.       Auditory closure

Teknik auditory closure juga termasuk teknik  yang sering saya lakukan ke shanaz. Sebenarnya bisa dikatakan banyak hal-hal yang sederhana yang sering kita lakukan dengan menggunakan teknik ini, hanya kita saja tidak menyadarinya.


Contoh saat bermain cilukba dengan si anak. Berkali-kali kita mengatakan cilukba  ke anak, lalu kemudian satu kali kita menyebutnya “ci luuuk” dan si anak menjawabnya “ba”.  Itu lah auditory closure.


Atau contoh lain, saat kita bermain dengan anak dan memulai dengan berhitung, “yuk shanaz lempar bola ini. Hitung ya. Satu... dua...” lalu si anak menjawab “(ti)ga”. Lagi-lagi kita sudah menggunakan teknik auditory closure disini.


Jika tahapannya sudah lebih lanjut, maka bisa dicoba juga dengan lagu. Misalnya nyanyikan sebuah lagu kesukaannya, lalu hilangkan satu kata dan biarkan si anak yang melengkapinya. Posisi lirik yang dihilangkan tidak selalu harus terakhir sih, bisa ditengah juga.


Tapi tentu kita fokuskan ke bagian yang paling mudah dan familiar dulu dengan si anak, karena kalau belum apa-apa sudah diberi yang susah (apalagi disalahkan) lama-lama si anak bisa ngambek dan tidak mau bermain lagi sama kita.


Kalau shanaz sendiri biasanya paling senang kalau dinyanyikan lagu cicak di dinding, lalu sampai ke lirik “datang seekor nyamuk”, dan kemudian saya diam, setelah itu biasanya dia pasti jawab “hap” sambil senyum lebar nan menggemaskan. Yes, mission accomplishedJ





4.       Sabotase

Sejujurnya saya sedikit lupa nama strategi ini apa, tapi mari kita mengarang bebas dan sebut saja sabotase ya ;-p. Tapi tenang, untuk teknik yang dipakai insya Allah cukup akurat kok. Teknik ini sangat membantu untuk anak-anak yang mulai sok gede kayak Shanaz dan tidak mau dites.


Saat ini shanaz sudah bisa mengimitasi ke 6 suara ling dengan cukup baik. Hanya saja dia sering malas ketika disuruh melakukan suara ling. Mungkin kalau dia sudah bisa ngeyel, dia akan bilang “ apa sih disuruh itu-itu melulu. Aku kan sudah bisa tauk”. Padahal kan suara ling kan cukup penting ya peranannya (nanti kapan-kapan akan saya bahas tentang ini ya).


Nah untuk mengakalinya kita bisa menggunakan strategi ini. Biasanya saya melakukannya saat dia menginginkan sesuatu, contoh dia mau makan atau mau nonton youtube, “ooo shanaz mau nonton, ok, shanaz dengar dulu” sambil tunjuk ke telinga dan langsung melakukan 6 suara ling. Percaya lah itu jurus yang cukup ampuh untuk dia mengeluarkan suaranya.



Contoh lain misalnya buat anak yang sudah lebih besar dan senang bermain sepeda. Kita bisa melakukan trik dengan mengunci sepeda nya dan meletakkan kuncinya diatas. Lalu saat dia meminta sepedanya, minta dia mengeluarkan suaranya misalnya “mau” atau “buka” baru kemudian kita membuka sepedanya.


Atau bisa juga untuk anak yang suka mewarnai dengan melakukan sabotase pensil warnanya (dipatahkan ujungnya misalnya), lalu kita ketika dia ingin pensil warnanya diraut, maka minta dia mengeluarkan suaranya dulu baru kemudian diraut. Kan kalau ada 12 pensil warna, lumayan tuh ada 12 kata yang kita suruh keluarkan.


Jadi inti sabotase ini adalah sesuaikan dengan kesukaan masing-masing si anak. Karena ketika si anak menyukai atau menginginkan sesuatu, akan sangat mudah untuk kita memintanya mengeluarkan suaranya.



5.       Thinking at same place

Menurut sebuah penelitian anak-anak dengan gangguan pendengaran harus diajak bicara minimal 1500 kata per jam. Itu semua dilakukan untuk mengejar umur biologis dan umur pendengarannya.


Dengan kata lain maksudnya adalah kita harus siap menjadi radio komentator untuk si anak. Apa pun yang sedang dilakukan atau dilihat, harus selalu dibahasakan.


Nah masalahnya saya juga termasuk yang sering kecele disini terutama ketika sedang membacakan buku untuk Shanaz. Acap kali yang sedang dilihat si anak tidak sinkron dengan apa yang kita bahasakan.


Contoh saat saya sedang membacakan buku untuk shanaz, saya sedang menceritakan tentang beruang yang sedang makan madu, tapi ternyata shanaz sedang melihat gambar matahari yang juga ada di halaman tersebut. Meski berkali-kali saya menyebut kata beruang, maka informasinya tidak akan masuk ke shanaz karena saat itu ternyata dia sedang melihat gambar matahari.



Jadi memang kita harus jeli melihat mata si anak sedang tertuju kemana, lalu kemudian kita bahasakan atau bicarakan hal tersebut. Dan itu lah yang disebut strategi thinking at same place atau berpikir ditempat yang sama.


Sebenarnya kalau dijabari lagi ada banyak sekali strategi AVT, tapi karena sekali saya tegaskan bahwa porsi saya disini  bukan lah profesional, maka saya rasa 5 strategi itu akan sangat membantu jika benar-benar diterapkan di rumah.


Saya tidak bilang saya sudah sukses dalam menyelematkan verbal Shanaz, saat ini PR shanaz masih banyak, yang harus saya kejar pun tidak bisa dibilang sedikit. Tapi tentu ketika sudah berusaha semaksimal mungkin dan menikmati setiap prosesnya, maka urusan hasil biarlah diserahkan kepada Sang pemilik kehidupan. Karena toh selalu percaya hasil tidak akan pernah menghianati usaha, ya kan?




Share:

5 Kiat Bagaimana Merawat Alat Implan Rumah Siput



Sabtu kemarin saya baru saja mengikuti seminar yang membahas tentang perawatan alat rumah siput implan koklea. Kebetulan yang mengadakannya adalah merk rumah siput yang sama yang dipakai oleh Shanaz dan bekerja sama dengan tempat shanaz terapi AVT juga.

Ada banyak sekali ilmu yang saya dapat disana. Ternyata selama ini saya termasuk salah dalam menangani alatnya shanaz. 

Ini adalah isu yang cukup krusial untuk diketahui. Terlepas dari harga spare-part nya yang mahal bila harus diganti, yang lebih disayangkan adalah waktu yang terbuang percuma saat alat rusak dan si anak terpaksa tidak bisa mendengar. Oleh karena itu jelas pencegahan jauh lebih baik daripada sudah telanjur rusak, ya kan?

Nah karena kebetulan alat yang dipakai shanaz adalah merk Med-el dengan tipe prosesornya Sonnet, maka dalam tulisan ini saya akan menulis cara merawat tipe tersebut. Tapi tentu saja secara prinsip apa pun merk dan  tipe alatnya cara menangani dan merawatnya kurang lebih sama, hanya beberapa karakter fisik tertentu saja yang membedakannya.

Yang pertama sekali harus digaris bawahi adalah alat implan koklea yang dipakai anak-anak kita ini proses kerjanya menggunakan listrik. Jadi jika tidak ditangani dengan baik, maka hal yang terburuk yang mungkin terjadi (walau sangat jarang, hanya dikasus-kasus tertentu saja) yaitu munculnya arus pendek.

Dan jangan lupa alat tersebut letaknya di kepala anaknya kita yang terhubung dengan magnet yang sudah ditanam didalam kepalanya. Jadi memang sudah saatnya kita memberikan porsi perhatian lebih untuk ini.

Berikut saya coba merangkum beberapa tips yang sudah diberikan saat acara tersebut. Semoga tulisan ini bisa membantu untuk teman-teman lain juga yang anaknya menggunakan alat implan koklea.

1.  Pastikan socket baterai dan berbagai lempengan kuning yang berada di prosesor maupun yang menyambung ke koil dalam keadaan bersih. Karena apabila kotor, itu akan berpengaruh terhadap daya tahan baterai tersebut. Semakin kotor semakin cepat daya tahan baterainya habis. Kondisi terparah akan tumbuh jamur dan membuat komponen-komponen di dalamnya patah.

Selain membuat daya tahan baterai berkurang, jika aliran listrik tidak bisa mengalir dengan baik maka akan menyebabkan kualitas suara yang didengar si anak menjadi lemah. Tentu akan sangat disayangkan disaat si anak memakai alatnya sepanjang hari, tapi ternyata dia tidak mendengar sempurna.




Nah pertanyaaan berikutnya adalah bagaimana cara menjaga agar socket dan lempengan kuningan tetap bersih dan terhindar dari jamur? yaitu dengan membersihkannya menggunakan sikat khusus atau pun cotton bud sebelum dimasukkan ke dalam pengering di malam hari.

Walaupun sebenarnya ini menjadi sedikit dilema, karena jika terlalu sering dibongkar pasang bagian rumah baterai ataupun koneksi dari  prosesor menuju ke koil (yang ini khusus untuk tipe opus, karena kalau sonnet tidak ada lempengan kuningan di bagian tersebut) maka akan menyebabkan kerusakan juga terutama jika tidak diperlakukan dengan benar.

Jadi memang sebaiknya harus diperhatikan lagi bagaimana aktivitas sehari-hari si anak. Jika si anak termasuk yang mempunyai produksi keringat berlebih, membersihkannya bisa dilakukan 2 hari sekali, namun jika usia si anak relatif masih kecil dan tidak terlalu berkeringat bisa dilakukan 1-2 minggu sekali. 

Karena memang musuh utama anak-anak pengguna alat bantu dengar baik itu implan koklea maupun abd  adalah keringat. Terutama untuk kita yang hidup di daerah tropis, sedangkan alat-alat ini (khusunya yang dipakai shanaz) itu diproduksi dari negara beriklim dingin.



2.   Khusus untuk pengguna Sonnet, yang tak kalah penting harus diperhatikan adalah sirkulasi udara yang ada di bagian tutup. Sonnet menggunakan baterai dengan metoda zinc air yang membuatnya harus memiliki ruang untuk keluar masuknya udara. Jika kalian melihat di tutup bagian samping ada titik-titik kecil, nah itu lah sirkulasi udaranya. Jadi pastikan itu dalam keadaan bersih dan tidak tertutup debu ya.




Oh ya sonnet juga mempunyai design yang unik dimana dia tidak memiliki tombol on off, melainkan ada semacam lempengan sensor di dalam tutup tersebut. Pada kasus tertentu, lama-kelamaan tutupnya bisa mengalami pemuaian atau menjadi lebih besar dari yang seharusnya. Dan itu bisa meyebabkan saat ditutup (karena ukurannya membesar) sehingga tidak pas menyentuh si lempengan sensor lagi dan akibatnya alat tidak nyala.

Maka disarankan juga untuk sering mengganti tutupnya secara berkala. Kan di dalam kotak starter kit banyak tuh tutup cadangan warna-warni, nah sering-sering saja diganti, selain biar ada nuansa baru dan juga menghindari pemuaian jika yang dipakai hanya itu-itu saja.



3. Bagian terpenting lain yang juga harus diperhatikan dalah microphone. Sonnet memiliki 2 microphone yaitu di dalam ear hook dan di badan bagian atas prosesor. Microphone ini mempunyai andil penting sebagai penangkap suara dari luar. Oleh karena itu sangat penting memastikan microphone tidak dalam keadaan tertutup apa pun agar suara yang ditangkap berkualitas jernih.

Yang paling sering terjadi microphone tertutup jamur akibat kondisi lembab terus menerus yang lagi-lagi biang keroknya adalah keringat. Lama kelamaan jamur akan meyebabkan korosi dan microphone mengalami disfungsi dari yang seharusnya.

Nah untuk membersihkannya butuh kehati-hatian yang luar biasa. Sebenarnya sih tidak dianjurkan juga untuk melakukannya sendiri. Akan lebih aman untuk melakukan kunjungan berkala ke kantor hearing center terdekat dan dikerjakan oleh yang lebih berkompeten di bidang ini. 

Tapi setidaknya ada pencegahan representatif yang bisa kita lakukan di rumah, yaitu dengan rajin membersihkan microphone menggunakan blower khusus terutama sebelum masuk pengering dimalam hari dengan tujuan untuk menghindari keringat yang tertinggal di dalamnya.



4.     Untuk pengguna implan koklea yang usianya masih kecil seperti Shanaz ini masalah yang cukup sering muncul adalah kabel yang keriting yang akhirnya menyebabkan kabel tersebut putus. Untungnya sih kabel sonnet terkenal cukup bandel, tapi walau begitu tetap harus jadi isu yang wajib diperhatikan juga mengingat harga kabelnya yang tidak bisa dibilang murah. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah saat memakai alat ke kepala si anak pastikan posisinya seperti ini :




Nah masalahnya untuk anak yang masih kecil  terutama yang yang cukup aktif  membuat posisi kabel tetap seperti ini agaknya sedikit mustahil ya. Tipsnya bisa diakali dengan memberikan sedikit plester micropore untuk merekatkan kabel dengan prosesor agar posisnya tetap U seperti gambar diatas.

Dalam kasus Shanaz masalah yang juga kerap terjadi adalah karena daun telinganya yang masih kecil, jadi prosesor sering jatuh sedangkan magnetnya masih menempel di kepala. Posisi menggantung seperti ini juga yang sering menyebabkan si kabel menjadi rentan putus karena beban yang terlalu berat. Jadi sebaiknya gunakan baby wear agar membantu prosesor tetap berada di daun telinga.



5.  Sama hal seperti perlakuan elektronik lainnya yang menggunakan baterai sebagai sumber energinya, maka yang sangat amat harus diperhatikan adalah jangan sampai saat melakukan pengisian baterai melewati batas seharusnya atau overcharge. Baterai sonnet harus diisi kurang lebih selama 4 jam, jadi sebaiknya usahakan jangan sampai lebih dari itu. Jika takut kelupaan dicabut, ada baiknya menggunakan colokan yang mempunyai pengingat waktu agar bisa diatur sesuai waktu yang disarankan




Begitulah kurang lebih beberapa saran yang saya tangkap saat seminar kemarin tentang merawat alat implan rumah siput.  Untuk lebih jelasnya mungkin bisa langsung menghubungi audiologis masing-masing ya.

Sangat disayangkan untuk materi sebagus itu masih kurang sekali animo yang diberikan oleh para orangtua. Padahal jangan lupa lho ada 3 hal yang harus diperhatikan untuk mengejar verbal anak-anak kita, yaitu terapi yang sesuai, alat yang kompeten, dan dukungan orangtua maupun keluarga.

Dengan kata lain adalah terapis, audiologis dan orangtua adalah satu tim yang berada dalam satu kapal yang sama.



If you have kids with hearing loss, all u do is not only buy hearing aid for them, but you have pay attention more than you think.



Karena alat itu akan selamanya ada di telinga anak-anak kita. Bagaimana kita bisa berharap nantinya mereka akan memperlakukan alat tersebut dengan benar, jika sebagai orangtua kita bahkan tidak punya ilmu mumpuni untuk melakukan hal yang sama.


Share:

Sekolah Rumah dan Perempuan


Sebelum memulai saya ingin menggaris bawahi dulu bahwasanya tulisan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan tokoh  perempuan yang berapa tahun belakang terus didebatkan orang banyak ( dan disaat bersamaan ini juga menjadi tanda tanya besar ke saya : “whats wrong with all of you ladies? Kenapa sih demen amat segala diperdebatkan?”).
.
.
Sebenarnya saya bukanlah tipe orang yang terlalu peduli dengan pendapat orang lain. Terutama jika pendapat mereka tidak bisa membayar tagihan saya.

Saya sadar takdir hidup saya penuh anomali dan itu jadi sasaran empuk buat orang lain memberi komentar. Makanya saya sudah biasa mendengar komentar macam-macam tentang ini dan itu.

Tapi ada satu komentar yang sebenarnya cukup mengusik saya. Dan ini diucapkan nyaris sama tetapi oleh beberapa orang berbeda. Seolah-olah ini adalah pendapat umum yang wajar saja.

Dari awal orang-orang mulai tahu anak-anak saya melakukan sekolah rumah, segala macam reaksi dan pertanyaan berdatangan.

“anak-anaknya homeschooling di mana mba”?
“bayar berapa homeschooling nya?”
Dan lain sebagainya.

Biasanya saya jawab seadanya. Karena rata-rata yang bertanya hanya sekedar kepo bin penasaran saja. Nah lucunya dari semua pertanyaan diatas 4 dari 10 yang bertanya selalu menutup dengan pernyataan yang mereka simpulkan sendiri, yaitu :
untung anak-anaknya cewe ya mba. Jadi ga pa pa ga sekolah juga. Paling bentar lagi kawin, punya anak, udah beres”

THEY DON'T GET MY POINT AT ALL


Qadarullah anak saya memang perempuan semua, tapi jika anak saya  laki-laki saya juga akan memperlakukan hal yang sama kok. Come on emangnya kita hidup di jaman apa sih ini sekarang? Kok gender dibawa-bawa.

Menikah dan punya anak adalah prestasi besar, bukan hanya sekedar “udah beres” doang. Sebelum mereka sampai ke tahap itu saya pastikan mereka memang sudah benar-benar qualified melakukannya.

Takdir anak perempuan memang Insya Allah menjadi ibu. Ibu berkualitas lebih tepatnya. Bukan cuma sekedar makhluk hidup yang punya kantong rahim dan tugasnya melahirkan doang.

Berkerja di rumah atau di luar rumah itu adalah sepenuhnya keputusan mereka nanti. Tapi satu yang pasti mereka harus berkarya.

Berkarya dan berilmu sih lebih tepatnya. Karena sesuatu yang dikerjakan tanpa ilmu adalah perbuatan yang sia-sia.

Dan saya dan suami berkeyakinan bahwa semua itu tidak harus  didapat dari sekolah kok. Karena ilmu yang sebenarnya justru ada di luar sana. Tidak dibatasi oleh tembok dan atap.

Saya bukannya anti sekolah tapi saya hanya ingin mengkerucutkan ilmu yang didapat anak saya benar-benar sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

karena saya merasa saya adalah contoh produk sekolah yang gagal. Bagaimana tidak saya habiskan 12 tahun bersekolah dan 4 tahun berkuliah dan kemudian saya baru menyadari bahwa selama ini saya mempelajari sesuatu yang bukanlah bakat saya.

Saya sudah senang menulis sejak SD. Saya ingat sekali selalu senang jika diberi PR mengarang oleh guru Bahasa Indonesia saya saat itu.


Dan ketika besoknya saya bacakan karangan saya didepan kelas, guru saya justru berkomentar “ ini kamu nyontek dari majalah bobo ya? Ga mungkin anak sekecil kamu bisa menulis karangan seperti ini”.

Dan sejak itu saya semakin jauh dengan potensi saya. Bertahun-tahun menghabiskan hari dengan belajar yang bahkan tidak memberikan bekal apa-apa untuk saya sampai saat ini.

Itu lah yang menjadi salah satu alasan kami selaku orangtua memutuskan memilih sekolah rumah untuk anak-anak kami. Karena kami tidak ingin potensi mereka terbuang percuma seperti kami dulu.

Dan itu jelas bukan karena mereka perempuan..

Perempuan atau bukan semua anak berhak di-maksimalkan potensinya. Selama tidak keluar dari kodratnya, tidak melenceng dari aturan Alquran dan hukum negara Insya Allah apapun potensi mereka akan kami fasilitasi dengan baik semampu kami bisa.

Justru sebenarnya perempuan lah yang paling harus diberi ilmu sebanyak-banyaknya. Karena dari mereka lah sebuah kehidupan bermula.

Mungkin ini diluar konteks tapi sudah cukup paradigma the power of mak-mak yang makin kesini makin negatif. Hanya karena dia seorang mamak maka dia pikir dia boleh seenaknya menyelak antrian, menyerang petugas, menyalakan lampu sein ke kanan belok ke kiri. 

Saatnya ambil alih panggung. saatnya tunjukkan kekuatan seorang perempuan yang sebenarnya. 


Seorang perempuan yang mempunyai bakat dan potensial sehingga mampu menaklukan dunia.
*take a bow*










Share:

Karena sekolah mereka tak beratap dan tak berdinding



Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau saya menjadi praktisi homeschooling (selanjutnya akan disebut sekolah rumah) untuk anak-anak saya sendiri. Saya sering kagum dengan mereka yang melakukan praktik ini. Tapi hanya sebatas kagum. Karena saya tidak yakin bisa menjalaninya sendiri.

Yang saya tahu menjadi praktisi rumah sekolah butuh konsistensi yang tinggi. Dan kalau ada orang yang sangat in-konsisten, itu lah saya. Say tipe hot-hot poop chicken.  Nge-gas diawal, tapi ujung-ujungnya bosan dan tidak dijamah lagi. 

Ketidak-konsisten saya terparah sampai ke level saat memberikan MPASI pada anak saya dari yang rajin banget mengolah berbagai macam resep sampai ke tahap tidak memberikan makan anak seharian saking malasnya ke dapur. Untung saat itu Alhamdulillah ASI saya berlimpah jadi setidaknya anak saya tidak mati kelaparan ;-p

Jadi yaah kalau boleh jujur saya ‘tercemplung’ di dunia ini karena the power of kepepet. Sudah pernah saya ceritakan di blogpost sebelumnya tentang ini.


Tapi sampai hari ini sedikit pun saya tidak merasa menyesal dengan keputusan yang saya dan suami ambil untuk anak-anak. Entah kalau nanti ya. Saya belum pernah melihat mereka begitu bahagia dengan proses belajar. Potensi yang tadinya tertutupi dengan segala macam PR dan ujian ini itu dari sekolah, pelan-pelan mulai muncul ke permukaan.

Siapa yang sangka Danesh yang tidak bisa diam dan punya motorik halus yang tak terlalu bagus, tapi ternyata sangat tertarik dengan memasak. Dia melatih motorik halusnya dengan memotong sayuran saat membuat sayur sop. Dia melatih kesabaran dan diam di tempat saat menggoreng tempe. Dan disaat bersamaan dia belajar konsekuensi yang apabila tempenya ditinggal dan telat dibalik, maka tempenya  akan hangus.
Danesh lagi menggoreng tempe

Indira yang sebenarnya sudah ketebak si otak kiri, yang sangat literatur sekali. Dia sangat suka membaca dan menulis. Dan dia bisa belajar menulis dimana saja, termasuk dalam caption instagramnya. Saya membiarkan dia mengekspresikan tulisannya disana. Karena saya percaya pelan tapi pasti tulisannya akan memiliki ‘nyawa’nya tersendiri.
Indira yang tak pernah lepas dari buku

Mungkin ini lah yang orang-orang (termasuk saya dulu) salah kaprah tentang sekolah rumah. Mereka pikir sekolah rumah artinya memindahkan sekolah dengan berbagai macam atributnya ke dalam rumah. How come?

Makanya tidak heran ketika memberitahukan orang-orang bahwa anak-anak kami akan sekolah rumah, maka komentar yang bermunculan adalah: “ waaah sulit itu. Butuh konsisten tinggi. Bahkan si A aja yang sudah S2 di luar negeri ga bisa lho sekolah rumah anak-anaknya”. Atau komentar lainnya seperti “ nanti ngajarinnya bagaimana? Anak-anak mah susah  pasti kalau diajarkan orang tua sendiri, pasti ngeyel. Giliran diajarin gurunya, nurut.”. dan komentar-komentar miring lainnya.

First of all, yang pertama harus dipahami adalah sekolah rumah tidaklah sesulit yang dibayangkan. Gimana caranya? gampang, yaa jangan dibayangkan hal-hal yang sulit.

Dan lagi siapa yang suruh sih memindahkan sekolah ke dalam rumah? Yaa ga muat lah. Pun sebenarnya secara konteks sekolah dan rumah adalah 2 hal yang berbeda.

Sekolah adalah tempat belajar massal yang menghasilkan produk massal juga. Sedangkan rumah adalah tempat belajar personal yang sangat disesuaikan dengan si pemilik rumah itu sendiri.

Ibarat membuat baju, yang satu produksi pabrik, dan yang satu lagi produksi rumahan. Toh sama-sama menghasilkan baju, tapi dengan cara yang berbeda. Soal kualitas dan rasa, itu kembali ke bagaimana selera masing-masing saja.

Lalu apakah menjalani sekolah rumah artinya tidak akan ada hambatan sama sekali? Hwooo jangan tanya, hambatannya ada dan banyak sekali. But hey its called life, rite? Kalau tidak ada hambatan bukan hidup dong namanya. Dan disini lah kita belajar memecahkan masalah bersama-sama.

Di sekolah, ketika si anak bermasalah, maka yang  akan membahas masalah tersebut adalah orangtua dan guru di dalam suatu ruangan. Si anak menunggu diluar, pasrah menantikan apapun keputusan yang (mungkin) terbaik yang diambil orang dewasa untuknya.

Dan ini berbeda dengan  di sekolah rumah, apapun masalahnya kita duduk bersama, saling berbicara dan mendengarkan sampai menemukan akar permasalahannya, dan kemudian berakhir dengan mencari solusi terbaik bersama.

Kunci sukses sekolah rumah sebenarnya hanya ada satu, yaitu tidak pernah berhenti belajar. Dan itu berlaku untuk semua penghuni di rumah. Ayah, bunda, anak-anak, kakek-nenek (jika berada di rumahnya  yang sama) pokoknya semua lah. Yang harus diingat adalah belajar bisa dimana saja dan kapan saja.

Saya dan suami saya sepakat kami menyebut sekolah anak-anak tak beratap dan tak berdinding. Karena jauh lebih penting mereka tak ‘bersekolah’ tapi belajar, daripada (mengaku) bersekolah tapi tak pernah belajar.

p.s. sebenarnya saya tidak punya terget khusus untuk anak-anak dalam sekolah rumah ini, tapi jika harus memilih maka ada 2 target utama yang muncul, yaitu yang pertama anak-anak tumbuh dan berkembang sesuai potensi masing-masing, dan kedua berat badan saya turun karena 24/7 bertemu dengan mereka terus. Percaya lah mereka tidak selalu selucu seperti di feed instagram saya ;-p.


can u feel how happy they are?

Belajar dimana saja


karena ibu adalah madrasah pertama untuk setiap anaknya

membuat percobaan sains di rumah





Share:

Resensi Film Wonder, "ketika seseorang tidak bisa mengubah bagaimana rupanya, mengapa tidak kita yang mengubah cara melihatnya"



Sumber gambar dari google

Sejak pertama sekali saya melihat cuplikan film Wonder di linimasa facebook, saya sudah nangis sesengukan.  Saat itu masih 2 bulan lagi tayang di Indonesia tapi saya sudah memastikan akan memasukan film ini sebagai film wajib ditonton.

Qadarullah saat film tersebut tayang, Shanaz malah sakit dan dirawat di RS. Bukan  hanya itu saat itu kita juga lagi repot pindahan dari Pekanbaru – Jakarta sehingga sampai film tersebut diturunkan dari bioskop saya benar-benar tidak sempat menontonnya.  Akhirnya saya baru nonton film Wonder beberapa bulan kemudian dari DVD bajakan yang saya beli di ITC BSD.

Film ini bercerita tentang perjalanan Auggie Pullman, seorang anak laki-laki yang terlahir dengan facial differences disorder.  Pada dasarnya Auggie  sama saja dengan anak laki-laki seumurnya. Auggie senang luar angkasa, senang star wars, bermain minecraft dan semua hal yang dilakukan oleh anak berumur 10 tahun, dia pun lakukan hal yang sama.  

Tapi kemudian semua menjadi tidak sama, ketika Auggie  hanyalah satu-satunya anak yang akan membuat anak lain takut dan menangis saat melihat wajahnya. Dan dia satu-satunya anak yang jika tidak sengaja tersentuh oleh anak lain, maka anak  lain tersebut akan mengatakan "plangeu"

Film ini memang menceritakan bagaimana ketika Auggie yang tadinya bersekolah di rumah bersama ibunya, kemudian mulai masuk ke sekolah umum.  Bagaimana dia bersikap ketika mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan di awal-awal pertama mulai bersekolah.

Tidak hanya itu saja, film ini juga menceritakan dari berbagai sudut pandang, seperti dari sudut pandang kakak Auggie, Via dan juga dari sudut pandang sahabat Auggie, Jack. Tentu cerita Auggie tetap lah inti dari film tersebut, tapi seakan ingin menegaskan bahwa yang paling penting diatas segalanya yaitu support system dari orang sekitarnya.

Dan anehnya justru yang menjadi bagian kesukaan saya adalah saat bercerita tentang kaka Auggie, Via yang merasa dinomorduakan. Rasa sayang Via ke Auggie tidak perlu diragukan lagi, dia lah orang pertama yang akan selalu menghibur adiknya saat adiknya bersedih, dia juga orang pertama yang akan membela adiknya ketika adik laki-laki satu-satunya diejek orang. 

Hanya saja terkadang Via merasa semenjak ada Auggie seluruh pusat perhatian orang disekitarnya berpusat pada Auggie saja. Ibaratnya Auggie adalah matahari dan yang lain planet yang mengelilingi matahari sebagai lintas orbitnya.

I feel so relate with this movie.  Dan saya yakin semua orangtua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus dan memiliki anak lebih dari satu pasti merasakan hal yang sama. Terkadang kita lupa mereka yang kata orang anak ‘normal’ juga sebenarnya butuh dan memiliki hak yang sama atas perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Apalagi jika si ‘anak normal’ tersebut posisinya sebagai kaka atau anak pertama.
Sumber gambar dari google


Anak pertama secara otomatis selalu dinobatkan dalam keluarga sebagai pengganti orangtua. Mereka terpaksa bertanggung jawab yang sebenarnya itu bukan lah porsi yang harus mereka pikul. Apalagi jika adiknya adalah  anak berkebutuhan khusus, dengan seenaknya kita rampas hak mereka dengan dalih mereka bersyukur sudah terlahir sempurna. Maka tidak heran jika anak pertama kebanyakan saat besar memiliki karakter perfeksionis dan sedikit control freak. Karena begitulah tanpa sengaja kita membentuknya sejak kecil.

Pertama kali saya menonton Wonder ini saya menontonnya tengah malam dan sendirian.  Setelah itu baru beberapa hari kemudian saya mengajak Indira dan Danesh untuk nonton bersama. Sebelum film dimulai saya memberikan sedikit sinopsis cerita kepada mereka termasuk didalamnya saya memberitahukan bahwa nanti akan ada adegan Via berciuman dengan teman dekat lelakinya, Justin.

 Saya jelaskan itu adalah tanda cinta mereka dan hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa. Mungkin di barat sana ada yang melakukannya sebelum menikah, tapi sebagai muslim kita hanya boleh melakukannya sesudah menikah. Lalu saya juga meminta saat adegan tersebut muncul boleh tidak untuk menutup mata saja. Alasannya yang saya berikan adalah karena adegan tersebut akan membuat tidak nyaman saat dilihat.  Mereka pun setuju.

Salah satu alasan kenapa saya mengajak mereka ikut nonton film Wonder ini adalah karena saya ingin tahu reaksi mereka setelah menonton film ini. Di tempat berbeda saya tanyakan kepada mereka tentang pendapat masing-masing terhadap film tersebut. Lalu pelan-pelan pertanyaan tersebut saya arahkan  ke pertanyaan inti, yaitu : “apakah kalian merasakan seperti yang Via rasakan di film tersebut?”

Dan tebak jawabannya apa, Indira bilang iya. Sedangkan jawaban Danesh adalah “ga juga sih bun”.  Tidak mengejutkan ya. Mengingat indira memang punya perasaan sensitif dan Danesh lebih cuek.

Menurut Indira bundanya persis seperti ibunya Auggie yang ada di film tersebut. Segala sesuatunya selalu tentang Shanaz, termasuk instagram saya yang isinya Shanaz semua (itulah kenapa sekarang Shanaz dibuatkan akun instagram sendiri, jadi cerita tentang Shanaz akan ditautkan disana, tidak lagi di akun bundanya).  

Jawaban dari mereka ini sekaligus jadi PR untuk bundanya agar lebih sering melihat para kaka bukan hanya sebagai ‘guardian angel’ nya Shanaz, tetapi juga tetap sebagai anak yang butuh cinta & perhatian yang sama dari orangtuanya. Setelah ini Insya Allah saya akan lebih sering bonding dengan para kaka, terutama Indira.
Tapi emang dasar anak-anak yang tidak baper berkepanjangan seperti orang dewasa, setelah film selesai mereka malah penasaran dengan proses pembuatan film tersebut. Lalu mereka mencari behind the scene nya di youtube dan yang paling membuat mereka penasaran katanya adalah bagaimana proses transformasi wajah Jacob Tremblay bisa berubah menjadi Auggie Pulman. Sangat kids zaman now yah. Sisi baiknya adalah mereka belajar ilmu baru dari sini.

Sumber gambar dari google

Selain buat para kaka, film ini juga  sudah mengajarkan banyak hal kepada saya. Seperti yang sudah saya tulis diatas, film ini mengajarkan saya untuk jangan  mengabaikan anak lainnya hanya karena mereka tidak berkebutuhan khusus .Dan juga mengingatkan saya bahwa setiap anak wajib diajarkan keahlian untuk bertahan alias survival skill, terlebih jika anak tersebut adalah anak yang kata orang berkebutuhan khusus.

Ada pesan yang bagus yang diberikan ibunya Augie saat pertama Augie sekolah, yaitu :

“if people do  act small front of you, you do bigger than them”


Kita bisa saja mengajarkan anak kita bersikap sebaik mungkin, tapi bagaimana anak orang lain bersikap itu sudah bukan lagi menjadi ranah kita. Dan ketika mereka melakukan hal-hal yang sebenarnya justru membuat mereka menjadi orang yang kerdil, maka ajarkan anak kita untuk mampu melakukan hal yang besar.

Dan ini ada beberapa qoutes lainnya dari film Wonder yang membuat saya semakin  jatuh cinta sama film ini. Saya tulis lagi disini ya plus ditambah dengan adegan saat qoutes tersebut muncul biar kita jatuh cinta berjamaah.


“when given the choice between being right or kind, choose kind” (Mr.browne, Augie’s teacher)”

Sumber gambar dari google


“You cant blend in when you were born to stand out” (Via, Auggies’s sister)


Sumber gambar dari google



“if u dont like where u are, picture where  you want to be” Auggie

Sumber gambar dari google


“Auggie cant change  the way he looks, maybe we can change the way we see” Mr. Tushman, Auggie’s principal

Sumber gambar dari google




Boom.. u got that point right? Gombalan Dilan mah lewat  kalau sudah nonton film ini. Buat para ibu dan calon ibu wajib nonton film ini dan siapkan tisu yang banyak ya. I bet u must be love this movie so bad.


Share:

kerikil doang mah lewat



Beberapa waktu yang lalu dunia sosial media lagi ramai dengan seorang ibu berinisial DW karena statusnya yang menyinggung tentang anak berkebutuhan khusus. Tulisan ini sebenarnya bukan ingin mengomentari tentang kasus tersebut. Toh kasus itu juga sudah dianggap selesai dengan permintaan maaf langsung DW secara live. Justru kejadian ini membuat saya ingin berfikir mundur  ke 13 bulan yang lalu.

13 bulan yang lalu saat saya pertama kali mengetahui shanaz mengalami gangguan pendengaran. Seperti disambar petir saya baru ngeh bahwa ternyata selama ini shanaz tidak mendengar apa-apa. Dan sejak saat itu juga  kehidupan saya tidak pernah sama lagi. Fokus saya berubah, pola pikir saya berubah, bahkan lini masa saya di sosial media pun ikut berubah.

Saya yakin tidak hanya saya, pastilah teman-teman juga ingat tentang hari itu. Hari dimana rasanya dunia mau runtuh. Hari dimana apapun yang ada didunia ini seakan tidak akan pernah  membuat kita bahagia lagi. jika ada penobatan hari terburuk mungkin hari itulah harinya.

Mendengar kabar bahwa anak kita berbeda dengan anak lain bukanlah berita yang mudah dicerna. Saya bahkan saat itu berkali-kali memastikan kalau saya sedang tidak bermimpi. Berkali-kali menangis, berkali-kali itu juga saya menghapus air mata saya sendiri.
foto ini diambil tepat hari pertama resmi menjadi ibu dengan anak berkebutuhan khusus. mata panda & kantong mata menceritakan segalanya.



Keluarga, sahabat dan orang-orang terdekat semua berusaha menghibur saya, tapi tetap kontrol ada di diri saya sendiri. Saya lah yang memutuskan sendiri kapan air mata ini harus berhenti, lalu bangkit dan beraksi. Karena saya sangat menyadari bersamaan dengan diagnosa itu tentu  Allah sudah menyiapkan sepaket dengan stok kekuatan untuk saya.

Tidak ada yang bilang menjadi orang tua dengan kebutuhan khusus itu adalah perjalanan mudah. Pasti lah berbatu, berliku dan penuh anomaly. Tapi selama kita yakin mobil yang kita kendarai  dalam kondisi prima dan bahan bakarnya juga full tank, lalu apa yang harus dikhawatirkan?

Apa yang dilakukan oleh ibu DW tersebut ibaratnya hanyalah segelintir jalan berbatu yang harus kita lewati. Tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan medan jalan lainnya di depan nanti. Jadi ada baiknya jangan buang energi kita berlebihan. Kembali fokus dengan apa yang mejadi sasaran utama kita saja.

Dan sebenarnya di dunia nyata ada banyak sekali DW-DW lainnya. Yang mengernyitkan mata saat melihat alat yang dipakai anak kita, yang tidak melepas pandangan saat melihat anak kita tantrum, dan reaksi-reaksi lainnya yang mau tidak mau harus kita hadapi.

Biasanya kalau sudah begitu selalu saya beri senyuman dan tanpa ditanya suka saya bilang sendiri “ anak saya tidak bisa mendengar dan yang dipakai ini alat agar dia bisa mendengar”. Ketika kita membuka diri justru malah jadi moment yang tepat untuk meng-edukasi mereka tentang apa itu gangguan pendengaran. Karena sebenarnya mereka hanya tidak tahu dan sebagai orang yang tahu kita wajib memberitahukannya. As simple as like that.

Tugas kita sebagai seorang ibu dengan berkebutuhan khusus itu sudah banyak sekali. Apalagi jika anaknya lebih dari satu. Karena secara umum tugas menjadi seorang ibu sudahlah berat, bahkan lebih berat dari rindunya dilan. Jadi tidak ada faedahnya jika kita  menambah-nambah kerjaan dengan memberi ‘pelajaran’ untuk orang-orang seperti ibu DW. Dia sudah cukup besar untuk belajar sendiri.

Kalau ada orang diluar disana yang tidak suka dengan anak kita, ya mau dibilang apa? Itu hak mereka. Sama seperti kita yang juga kadang tidak suka dengan si A, B, C atau D sah-sah saja toh. Masalah ketidaksukaan ini diungkapkan atau tidak  itu hanya tergantung seberapa persen kadar muatan otak masing-masing saja.

Kejadian ini harusnya membuat kita sadar untuk  menambah daftar baru dalam hal-hal yang harus diajarkan untuk anak kita, yaitu belajar mengabaikan yang tidak penting untuk dipikirkan. Ajarkan mereka apa saja yang harus fokus dan apa saja yang boleh dianggap kentut. Sedikit berbau tapi anggap angin lalu saja.

Karena kelak mereka sendiri lah yang harus menanggapi reaksi-reaksi seperti ini. Mereka sendiri yang harus menjelaskan tentang identitas mereka kepada dunia. Harus kita sadari bahwa mereka tidak selamanya akan diperlukan dengan baik. Dan siapa yang bisa menjamin bahwa kita juga akan  selamanya ada disamping mereka?

Jika hari ini kita sedih saat banyak sekolah menolak mereka, bayangkan jika nanti besar mereka sendiri yang menerima penolakan tersebut? Jika hari ini kita marah karena ada yang menghina mereka, maka kira-kira akan semarah apa mereka ketika ada orang yang menyinggung tentang kondisi mereka yan sedikit berbeda dengan yang lain?

 Jadi yuk sebagai orangtua kita harus pastikan anak-anak kita sudah dibekali ‘ransum’ yang lebih dari cukup. Karena bagaimanapun juga mereka lah pemeran utamanya. Mereka lah yan mengukir cerita mereka sendiri. Simpan energimu para orangtua hebat. Simpan untuk hal-hal yang bermanfaat. Mari kita sama-sama belajar untuk tidak terusik dengan urusan receh. Kerikil doang mah lewat, ya ga sih?;-D










Share: