Sekolah Rumah dan Perempuan


Sebelum memulai saya ingin menggaris bawahi dulu bahwasanya tulisan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan tokoh  perempuan yang berapa tahun belakang terus didebatkan orang banyak ( dan disaat bersamaan ini juga menjadi tanda tanya besar ke saya : “whats wrong with all of you ladies? Kenapa sih demen amat segala diperdebatkan?”).
.
.
Sebenarnya saya bukanlah tipe orang yang terlalu peduli dengan pendapat orang lain. Terutama jika pendapat mereka tidak bisa membayar tagihan saya.

Saya sadar takdir hidup saya penuh anomali dan itu jadi sasaran empuk buat orang lain memberi komentar. Makanya saya sudah biasa mendengar komentar macam-macam tentang ini dan itu.

Tapi ada satu komentar yang sebenarnya cukup mengusik saya. Dan ini diucapkan nyaris sama tetapi oleh beberapa orang berbeda. Seolah-olah ini adalah pendapat umum yang wajar saja.

Dari awal orang-orang mulai tahu anak-anak saya melakukan sekolah rumah, segala macam reaksi dan pertanyaan berdatangan.

“anak-anaknya homeschooling di mana mba”?
“bayar berapa homeschooling nya?”
Dan lain sebagainya.

Biasanya saya jawab seadanya. Karena rata-rata yang bertanya hanya sekedar kepo bin penasaran saja. Nah lucunya dari semua pertanyaan diatas 4 dari 10 yang bertanya selalu menutup dengan pernyataan yang mereka simpulkan sendiri, yaitu :
untung anak-anaknya cewe ya mba. Jadi ga pa pa ga sekolah juga. Paling bentar lagi kawin, punya anak, udah beres”

THEY DON'T GET MY POINT AT ALL


Qadarullah anak saya memang perempuan semua, tapi jika anak saya  laki-laki saya juga akan memperlakukan hal yang sama kok. Come on emangnya kita hidup di jaman apa sih ini sekarang? Kok gender dibawa-bawa.

Menikah dan punya anak adalah prestasi besar, bukan hanya sekedar “udah beres” doang. Sebelum mereka sampai ke tahap itu saya pastikan mereka memang sudah benar-benar qualified melakukannya.

Takdir anak perempuan memang Insya Allah menjadi ibu. Ibu berkualitas lebih tepatnya. Bukan cuma sekedar makhluk hidup yang punya kantong rahim dan tugasnya melahirkan doang.

Berkerja di rumah atau di luar rumah itu adalah sepenuhnya keputusan mereka nanti. Tapi satu yang pasti mereka harus berkarya.

Berkarya dan berilmu sih lebih tepatnya. Karena sesuatu yang dikerjakan tanpa ilmu adalah perbuatan yang sia-sia.

Dan saya dan suami berkeyakinan bahwa semua itu tidak harus  didapat dari sekolah kok. Karena ilmu yang sebenarnya justru ada di luar sana. Tidak dibatasi oleh tembok dan atap.

Saya bukannya anti sekolah tapi saya hanya ingin mengkerucutkan ilmu yang didapat anak saya benar-benar sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

karena saya merasa saya adalah contoh produk sekolah yang gagal. Bagaimana tidak saya habiskan 12 tahun bersekolah dan 4 tahun berkuliah dan kemudian saya baru menyadari bahwa selama ini saya mempelajari sesuatu yang bukanlah bakat saya.

Saya sudah senang menulis sejak SD. Saya ingat sekali selalu senang jika diberi PR mengarang oleh guru Bahasa Indonesia saya saat itu.


Dan ketika besoknya saya bacakan karangan saya didepan kelas, guru saya justru berkomentar “ ini kamu nyontek dari majalah bobo ya? Ga mungkin anak sekecil kamu bisa menulis karangan seperti ini”.

Dan sejak itu saya semakin jauh dengan potensi saya. Bertahun-tahun menghabiskan hari dengan belajar yang bahkan tidak memberikan bekal apa-apa untuk saya sampai saat ini.

Itu lah yang menjadi salah satu alasan kami selaku orangtua memutuskan memilih sekolah rumah untuk anak-anak kami. Karena kami tidak ingin potensi mereka terbuang percuma seperti kami dulu.

Dan itu jelas bukan karena mereka perempuan..

Perempuan atau bukan semua anak berhak di-maksimalkan potensinya. Selama tidak keluar dari kodratnya, tidak melenceng dari aturan Alquran dan hukum negara Insya Allah apapun potensi mereka akan kami fasilitasi dengan baik semampu kami bisa.

Justru sebenarnya perempuan lah yang paling harus diberi ilmu sebanyak-banyaknya. Karena dari mereka lah sebuah kehidupan bermula.

Mungkin ini diluar konteks tapi sudah cukup paradigma the power of mak-mak yang makin kesini makin negatif. Hanya karena dia seorang mamak maka dia pikir dia boleh seenaknya menyelak antrian, menyerang petugas, menyalakan lampu sein ke kanan belok ke kiri. 

Saatnya ambil alih panggung. saatnya tunjukkan kekuatan seorang perempuan yang sebenarnya. 


Seorang perempuan yang mempunyai bakat dan potensial sehingga mampu menaklukan dunia.
*take a bow*










Share:

Karena sekolah mereka tak beratap dan tak berdinding



Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau saya menjadi praktisi homeschooling (selanjutnya akan disebut sekolah rumah) untuk anak-anak saya sendiri. Saya sering kagum dengan mereka yang melakukan praktik ini. Tapi hanya sebatas kagum. Karena saya tidak yakin bisa menjalaninya sendiri.

Yang saya tahu menjadi praktisi rumah sekolah butuh konsistensi yang tinggi. Dan kalau ada orang yang sangat in-konsisten, itu lah saya. Say tipe hot-hot poop chicken.  Nge-gas diawal, tapi ujung-ujungnya bosan dan tidak dijamah lagi. 

Ketidak-konsisten saya terparah sampai ke level saat memberikan MPASI pada anak saya dari yang rajin banget mengolah berbagai macam resep sampai ke tahap tidak memberikan makan anak seharian saking malasnya ke dapur. Untung saat itu Alhamdulillah ASI saya berlimpah jadi setidaknya anak saya tidak mati kelaparan ;-p

Jadi yaah kalau boleh jujur saya ‘tercemplung’ di dunia ini karena the power of kepepet. Sudah pernah saya ceritakan di blogpost sebelumnya tentang ini.


Tapi sampai hari ini sedikit pun saya tidak merasa menyesal dengan keputusan yang saya dan suami ambil untuk anak-anak. Entah kalau nanti ya. Saya belum pernah melihat mereka begitu bahagia dengan proses belajar. Potensi yang tadinya tertutupi dengan segala macam PR dan ujian ini itu dari sekolah, pelan-pelan mulai muncul ke permukaan.

Siapa yang sangka Danesh yang tidak bisa diam dan punya motorik halus yang tak terlalu bagus, tapi ternyata sangat tertarik dengan memasak. Dia melatih motorik halusnya dengan memotong sayuran saat membuat sayur sop. Dia melatih kesabaran dan diam di tempat saat menggoreng tempe. Dan disaat bersamaan dia belajar konsekuensi yang apabila tempenya ditinggal dan telat dibalik, maka tempenya  akan hangus.
Danesh lagi menggoreng tempe

Indira yang sebenarnya sudah ketebak si otak kiri, yang sangat literatur sekali. Dia sangat suka membaca dan menulis. Dan dia bisa belajar menulis dimana saja, termasuk dalam caption instagramnya. Saya membiarkan dia mengekspresikan tulisannya disana. Karena saya percaya pelan tapi pasti tulisannya akan memiliki ‘nyawa’nya tersendiri.
Indira yang tak pernah lepas dari buku

Mungkin ini lah yang orang-orang (termasuk saya dulu) salah kaprah tentang sekolah rumah. Mereka pikir sekolah rumah artinya memindahkan sekolah dengan berbagai macam atributnya ke dalam rumah. How come?

Makanya tidak heran ketika memberitahukan orang-orang bahwa anak-anak kami akan sekolah rumah, maka komentar yang bermunculan adalah: “ waaah sulit itu. Butuh konsisten tinggi. Bahkan si A aja yang sudah S2 di luar negeri ga bisa lho sekolah rumah anak-anaknya”. Atau komentar lainnya seperti “ nanti ngajarinnya bagaimana? Anak-anak mah susah  pasti kalau diajarkan orang tua sendiri, pasti ngeyel. Giliran diajarin gurunya, nurut.”. dan komentar-komentar miring lainnya.

First of all, yang pertama harus dipahami adalah sekolah rumah tidaklah sesulit yang dibayangkan. Gimana caranya? gampang, yaa jangan dibayangkan hal-hal yang sulit.

Dan lagi siapa yang suruh sih memindahkan sekolah ke dalam rumah? Yaa ga muat lah. Pun sebenarnya secara konteks sekolah dan rumah adalah 2 hal yang berbeda.

Sekolah adalah tempat belajar massal yang menghasilkan produk massal juga. Sedangkan rumah adalah tempat belajar personal yang sangat disesuaikan dengan si pemilik rumah itu sendiri.

Ibarat membuat baju, yang satu produksi pabrik, dan yang satu lagi produksi rumahan. Toh sama-sama menghasilkan baju, tapi dengan cara yang berbeda. Soal kualitas dan rasa, itu kembali ke bagaimana selera masing-masing saja.

Lalu apakah menjalani sekolah rumah artinya tidak akan ada hambatan sama sekali? Hwooo jangan tanya, hambatannya ada dan banyak sekali. But hey its called life, rite? Kalau tidak ada hambatan bukan hidup dong namanya. Dan disini lah kita belajar memecahkan masalah bersama-sama.

Di sekolah, ketika si anak bermasalah, maka yang  akan membahas masalah tersebut adalah orangtua dan guru di dalam suatu ruangan. Si anak menunggu diluar, pasrah menantikan apapun keputusan yang (mungkin) terbaik yang diambil orang dewasa untuknya.

Dan ini berbeda dengan  di sekolah rumah, apapun masalahnya kita duduk bersama, saling berbicara dan mendengarkan sampai menemukan akar permasalahannya, dan kemudian berakhir dengan mencari solusi terbaik bersama.

Kunci sukses sekolah rumah sebenarnya hanya ada satu, yaitu tidak pernah berhenti belajar. Dan itu berlaku untuk semua penghuni di rumah. Ayah, bunda, anak-anak, kakek-nenek (jika berada di rumahnya  yang sama) pokoknya semua lah. Yang harus diingat adalah belajar bisa dimana saja dan kapan saja.

Saya dan suami saya sepakat kami menyebut sekolah anak-anak tak beratap dan tak berdinding. Karena jauh lebih penting mereka tak ‘bersekolah’ tapi belajar, daripada (mengaku) bersekolah tapi tak pernah belajar.

p.s. sebenarnya saya tidak punya terget khusus untuk anak-anak dalam sekolah rumah ini, tapi jika harus memilih maka ada 2 target utama yang muncul, yaitu yang pertama anak-anak tumbuh dan berkembang sesuai potensi masing-masing, dan kedua berat badan saya turun karena 24/7 bertemu dengan mereka terus. Percaya lah mereka tidak selalu selucu seperti di feed instagram saya ;-p.


can u feel how happy they are?

Belajar dimana saja


karena ibu adalah madrasah pertama untuk setiap anaknya

membuat percobaan sains di rumah





Share:

Resensi Film Wonder, "ketika seseorang tidak bisa mengubah bagaimana rupanya, mengapa tidak kita yang mengubah cara melihatnya"



Sumber gambar dari google

Sejak pertama sekali saya melihat cuplikan film Wonder di linimasa facebook, saya sudah nangis sesengukan.  Saat itu masih 2 bulan lagi tayang di Indonesia tapi saya sudah memastikan akan memasukan film ini sebagai film wajib ditonton.

Qadarullah saat film tersebut tayang, Shanaz malah sakit dan dirawat di RS. Bukan  hanya itu saat itu kita juga lagi repot pindahan dari Pekanbaru – Jakarta sehingga sampai film tersebut diturunkan dari bioskop saya benar-benar tidak sempat menontonnya.  Akhirnya saya baru nonton film Wonder beberapa bulan kemudian dari DVD bajakan yang saya beli di ITC BSD.

Film ini bercerita tentang perjalanan Auggie Pullman, seorang anak laki-laki yang terlahir dengan facial differences disorder.  Pada dasarnya Auggie  sama saja dengan anak laki-laki seumurnya. Auggie senang luar angkasa, senang star wars, bermain minecraft dan semua hal yang dilakukan oleh anak berumur 10 tahun, dia pun lakukan hal yang sama.  

Tapi kemudian semua menjadi tidak sama, ketika Auggie  hanyalah satu-satunya anak yang akan membuat anak lain takut dan menangis saat melihat wajahnya. Dan dia satu-satunya anak yang jika tidak sengaja tersentuh oleh anak lain, maka anak  lain tersebut akan mengatakan "plangeu"

Film ini memang menceritakan bagaimana ketika Auggie yang tadinya bersekolah di rumah bersama ibunya, kemudian mulai masuk ke sekolah umum.  Bagaimana dia bersikap ketika mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan di awal-awal pertama mulai bersekolah.

Tidak hanya itu saja, film ini juga menceritakan dari berbagai sudut pandang, seperti dari sudut pandang kakak Auggie, Via dan juga dari sudut pandang sahabat Auggie, Jack. Tentu cerita Auggie tetap lah inti dari film tersebut, tapi seakan ingin menegaskan bahwa yang paling penting diatas segalanya yaitu support system dari orang sekitarnya.

Dan anehnya justru yang menjadi bagian kesukaan saya adalah saat bercerita tentang kaka Auggie, Via yang merasa dinomorduakan. Rasa sayang Via ke Auggie tidak perlu diragukan lagi, dia lah orang pertama yang akan selalu menghibur adiknya saat adiknya bersedih, dia juga orang pertama yang akan membela adiknya ketika adik laki-laki satu-satunya diejek orang. 

Hanya saja terkadang Via merasa semenjak ada Auggie seluruh pusat perhatian orang disekitarnya berpusat pada Auggie saja. Ibaratnya Auggie adalah matahari dan yang lain planet yang mengelilingi matahari sebagai lintas orbitnya.

I feel so relate with this movie.  Dan saya yakin semua orangtua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus dan memiliki anak lebih dari satu pasti merasakan hal yang sama. Terkadang kita lupa mereka yang kata orang anak ‘normal’ juga sebenarnya butuh dan memiliki hak yang sama atas perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Apalagi jika si ‘anak normal’ tersebut posisinya sebagai kaka atau anak pertama.
Sumber gambar dari google


Anak pertama secara otomatis selalu dinobatkan dalam keluarga sebagai pengganti orangtua. Mereka terpaksa bertanggung jawab yang sebenarnya itu bukan lah porsi yang harus mereka pikul. Apalagi jika adiknya adalah  anak berkebutuhan khusus, dengan seenaknya kita rampas hak mereka dengan dalih mereka bersyukur sudah terlahir sempurna. Maka tidak heran jika anak pertama kebanyakan saat besar memiliki karakter perfeksionis dan sedikit control freak. Karena begitulah tanpa sengaja kita membentuknya sejak kecil.

Pertama kali saya menonton Wonder ini saya menontonnya tengah malam dan sendirian.  Setelah itu baru beberapa hari kemudian saya mengajak Indira dan Danesh untuk nonton bersama. Sebelum film dimulai saya memberikan sedikit sinopsis cerita kepada mereka termasuk didalamnya saya memberitahukan bahwa nanti akan ada adegan Via berciuman dengan teman dekat lelakinya, Justin.

 Saya jelaskan itu adalah tanda cinta mereka dan hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa. Mungkin di barat sana ada yang melakukannya sebelum menikah, tapi sebagai muslim kita hanya boleh melakukannya sesudah menikah. Lalu saya juga meminta saat adegan tersebut muncul boleh tidak untuk menutup mata saja. Alasannya yang saya berikan adalah karena adegan tersebut akan membuat tidak nyaman saat dilihat.  Mereka pun setuju.

Salah satu alasan kenapa saya mengajak mereka ikut nonton film Wonder ini adalah karena saya ingin tahu reaksi mereka setelah menonton film ini. Di tempat berbeda saya tanyakan kepada mereka tentang pendapat masing-masing terhadap film tersebut. Lalu pelan-pelan pertanyaan tersebut saya arahkan  ke pertanyaan inti, yaitu : “apakah kalian merasakan seperti yang Via rasakan di film tersebut?”

Dan tebak jawabannya apa, Indira bilang iya. Sedangkan jawaban Danesh adalah “ga juga sih bun”.  Tidak mengejutkan ya. Mengingat indira memang punya perasaan sensitif dan Danesh lebih cuek.

Menurut Indira bundanya persis seperti ibunya Auggie yang ada di film tersebut. Segala sesuatunya selalu tentang Shanaz, termasuk instagram saya yang isinya Shanaz semua (itulah kenapa sekarang Shanaz dibuatkan akun instagram sendiri, jadi cerita tentang Shanaz akan ditautkan disana, tidak lagi di akun bundanya).  

Jawaban dari mereka ini sekaligus jadi PR untuk bundanya agar lebih sering melihat para kaka bukan hanya sebagai ‘guardian angel’ nya Shanaz, tetapi juga tetap sebagai anak yang butuh cinta & perhatian yang sama dari orangtuanya. Setelah ini Insya Allah saya akan lebih sering bonding dengan para kaka, terutama Indira.
Tapi emang dasar anak-anak yang tidak baper berkepanjangan seperti orang dewasa, setelah film selesai mereka malah penasaran dengan proses pembuatan film tersebut. Lalu mereka mencari behind the scene nya di youtube dan yang paling membuat mereka penasaran katanya adalah bagaimana proses transformasi wajah Jacob Tremblay bisa berubah menjadi Auggie Pulman. Sangat kids zaman now yah. Sisi baiknya adalah mereka belajar ilmu baru dari sini.

Sumber gambar dari google

Selain buat para kaka, film ini juga  sudah mengajarkan banyak hal kepada saya. Seperti yang sudah saya tulis diatas, film ini mengajarkan saya untuk jangan  mengabaikan anak lainnya hanya karena mereka tidak berkebutuhan khusus .Dan juga mengingatkan saya bahwa setiap anak wajib diajarkan keahlian untuk bertahan alias survival skill, terlebih jika anak tersebut adalah anak yang kata orang berkebutuhan khusus.

Ada pesan yang bagus yang diberikan ibunya Augie saat pertama Augie sekolah, yaitu :

“if people do  act small front of you, you do bigger than them”


Kita bisa saja mengajarkan anak kita bersikap sebaik mungkin, tapi bagaimana anak orang lain bersikap itu sudah bukan lagi menjadi ranah kita. Dan ketika mereka melakukan hal-hal yang sebenarnya justru membuat mereka menjadi orang yang kerdil, maka ajarkan anak kita untuk mampu melakukan hal yang besar.

Dan ini ada beberapa qoutes lainnya dari film Wonder yang membuat saya semakin  jatuh cinta sama film ini. Saya tulis lagi disini ya plus ditambah dengan adegan saat qoutes tersebut muncul biar kita jatuh cinta berjamaah.


“when given the choice between being right or kind, choose kind” (Mr.browne, Augie’s teacher)”

Sumber gambar dari google


“You cant blend in when you were born to stand out” (Via, Auggies’s sister)


Sumber gambar dari google



“if u dont like where u are, picture where  you want to be” Auggie

Sumber gambar dari google


“Auggie cant change  the way he looks, maybe we can change the way we see” Mr. Tushman, Auggie’s principal

Sumber gambar dari google




Boom.. u got that point right? Gombalan Dilan mah lewat  kalau sudah nonton film ini. Buat para ibu dan calon ibu wajib nonton film ini dan siapkan tisu yang banyak ya. I bet u must be love this movie so bad.


Share:

kerikil doang mah lewat



Beberapa waktu yang lalu dunia sosial media lagi ramai dengan seorang ibu berinisial DW karena statusnya yang menyinggung tentang anak berkebutuhan khusus. Tulisan ini sebenarnya bukan ingin mengomentari tentang kasus tersebut. Toh kasus itu juga sudah dianggap selesai dengan permintaan maaf langsung DW secara live. Justru kejadian ini membuat saya ingin berfikir mundur  ke 13 bulan yang lalu.

13 bulan yang lalu saat saya pertama kali mengetahui shanaz mengalami gangguan pendengaran. Seperti disambar petir saya baru ngeh bahwa ternyata selama ini shanaz tidak mendengar apa-apa. Dan sejak saat itu juga  kehidupan saya tidak pernah sama lagi. Fokus saya berubah, pola pikir saya berubah, bahkan lini masa saya di sosial media pun ikut berubah.

Saya yakin tidak hanya saya, pastilah teman-teman juga ingat tentang hari itu. Hari dimana rasanya dunia mau runtuh. Hari dimana apapun yang ada didunia ini seakan tidak akan pernah  membuat kita bahagia lagi. jika ada penobatan hari terburuk mungkin hari itulah harinya.

Mendengar kabar bahwa anak kita berbeda dengan anak lain bukanlah berita yang mudah dicerna. Saya bahkan saat itu berkali-kali memastikan kalau saya sedang tidak bermimpi. Berkali-kali menangis, berkali-kali itu juga saya menghapus air mata saya sendiri.
foto ini diambil tepat hari pertama resmi menjadi ibu dengan anak berkebutuhan khusus. mata panda & kantong mata menceritakan segalanya.



Keluarga, sahabat dan orang-orang terdekat semua berusaha menghibur saya, tapi tetap kontrol ada di diri saya sendiri. Saya lah yang memutuskan sendiri kapan air mata ini harus berhenti, lalu bangkit dan beraksi. Karena saya sangat menyadari bersamaan dengan diagnosa itu tentu  Allah sudah menyiapkan sepaket dengan stok kekuatan untuk saya.

Tidak ada yang bilang menjadi orang tua dengan kebutuhan khusus itu adalah perjalanan mudah. Pasti lah berbatu, berliku dan penuh anomaly. Tapi selama kita yakin mobil yang kita kendarai  dalam kondisi prima dan bahan bakarnya juga full tank, lalu apa yang harus dikhawatirkan?

Apa yang dilakukan oleh ibu DW tersebut ibaratnya hanyalah segelintir jalan berbatu yang harus kita lewati. Tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan medan jalan lainnya di depan nanti. Jadi ada baiknya jangan buang energi kita berlebihan. Kembali fokus dengan apa yang mejadi sasaran utama kita saja.

Dan sebenarnya di dunia nyata ada banyak sekali DW-DW lainnya. Yang mengernyitkan mata saat melihat alat yang dipakai anak kita, yang tidak melepas pandangan saat melihat anak kita tantrum, dan reaksi-reaksi lainnya yang mau tidak mau harus kita hadapi.

Biasanya kalau sudah begitu selalu saya beri senyuman dan tanpa ditanya suka saya bilang sendiri “ anak saya tidak bisa mendengar dan yang dipakai ini alat agar dia bisa mendengar”. Ketika kita membuka diri justru malah jadi moment yang tepat untuk meng-edukasi mereka tentang apa itu gangguan pendengaran. Karena sebenarnya mereka hanya tidak tahu dan sebagai orang yang tahu kita wajib memberitahukannya. As simple as like that.

Tugas kita sebagai seorang ibu dengan berkebutuhan khusus itu sudah banyak sekali. Apalagi jika anaknya lebih dari satu. Karena secara umum tugas menjadi seorang ibu sudahlah berat, bahkan lebih berat dari rindunya dilan. Jadi tidak ada faedahnya jika kita  menambah-nambah kerjaan dengan memberi ‘pelajaran’ untuk orang-orang seperti ibu DW. Dia sudah cukup besar untuk belajar sendiri.

Kalau ada orang diluar disana yang tidak suka dengan anak kita, ya mau dibilang apa? Itu hak mereka. Sama seperti kita yang juga kadang tidak suka dengan si A, B, C atau D sah-sah saja toh. Masalah ketidaksukaan ini diungkapkan atau tidak  itu hanya tergantung seberapa persen kadar muatan otak masing-masing saja.

Kejadian ini harusnya membuat kita sadar untuk  menambah daftar baru dalam hal-hal yang harus diajarkan untuk anak kita, yaitu belajar mengabaikan yang tidak penting untuk dipikirkan. Ajarkan mereka apa saja yang harus fokus dan apa saja yang boleh dianggap kentut. Sedikit berbau tapi anggap angin lalu saja.

Karena kelak mereka sendiri lah yang harus menanggapi reaksi-reaksi seperti ini. Mereka sendiri yang harus menjelaskan tentang identitas mereka kepada dunia. Harus kita sadari bahwa mereka tidak selamanya akan diperlukan dengan baik. Dan siapa yang bisa menjamin bahwa kita juga akan  selamanya ada disamping mereka?

Jika hari ini kita sedih saat banyak sekolah menolak mereka, bayangkan jika nanti besar mereka sendiri yang menerima penolakan tersebut? Jika hari ini kita marah karena ada yang menghina mereka, maka kira-kira akan semarah apa mereka ketika ada orang yang menyinggung tentang kondisi mereka yan sedikit berbeda dengan yang lain?

 Jadi yuk sebagai orangtua kita harus pastikan anak-anak kita sudah dibekali ‘ransum’ yang lebih dari cukup. Karena bagaimanapun juga mereka lah pemeran utamanya. Mereka lah yan mengukir cerita mereka sendiri. Simpan energimu para orangtua hebat. Simpan untuk hal-hal yang bermanfaat. Mari kita sama-sama belajar untuk tidak terusik dengan urusan receh. Kerikil doang mah lewat, ya ga sih?;-D










Share:

HAPPYLAND, when ur imagination can run free (but not ur wallet)





Meski memiliki 3 anak perempuan justru satu-satunya maianan yang tidak mereka punya adalah Barbie. Ada siih mainan yang mirip barbie tapi itu pun biasanya hadiah dari orang dan tidak pernah bertahan lama. Kalau tidak rusak atau seringnya berakhir di dalam kotak triangle (triangle adalah istilah barang-barang yang jarang dipakai dan masih sangat layak pakai lalu kemudian dikeluarkan untuk diberikan ke panti asuhan atau program charity lainnya. Terutama ketika hendak membeli barang baru, sistem FIFo –first in first out- masih terus berlaku di rumah kami).

Meski begitu bukan berarti anak-anak tidak suka dengan bermain peran. Suka banget malah. Nah untuk menggantikan si Barbie itu saya akhirnya membelikan mereka seri Happyland dari ELC.
sumber :koleksi pribadi


Sebenarnya ada banyak sekali edisi dari seri Happyland ini dan semuanya super menggemaskan. Tapi karena harganya lumayan jadi kami hanya punya satu seri, yaitu seri happyland village. Selebihnya saya lebih suka membeli figurine nya saja. Kan yang namanya kreatif tidak harus punya semuanya ya, justru dengan barang seadanya namun mampu menghasilkan manfaat yang maksimal *ngeles

Bentuknya yang mudah digenggam ini membuat happyland cocok untuk berbagai usia. Bahkan dari mulai bayi sekalipun. Cuma bedanya kalau masih bayi dikasi yang edisi binatang saja sudah senang banget, kalau makin besar seperti kakak Indira-danesh, mintanya sudah yang macam-macam. Nanti tunggu pohon duit kita panen dulu ya kak baru kita koleksi semuanya ;-p.

Yang bikin saya jatuh cinta dari seri happyland ini adalah karena  jenis edisi yang dikeluarkannya seringnya out of the box.  Contohnya edisi  school kids ini dimana tidak hanya ada anak-anak berseragam sekolah saja  tetapi salah satunya ada yang versi seorang anak menggunakan kursi.  Ide brilian ya? mengajarkan anak berempati dengan temannya apapun kondisinya. Selain itu ada banyak seri-seri lainnya seperti edisi happy family yang isinya ada ayah,ibu yang lagi hamil,anak kecil, anak balita dan anjing. Lalu juga ada versi profesi, yaitu pemadam kebakaran, polisi, dokter dan suster.

edisi Happy Family


Nah kalau versi yang lebih lengkap lagi sih tak usah ditanya kadar kelucuannya ya, dari yang versi kecil seperti school bus sampai versi besar village, circus, dan lain sebagainya. Duuh kalau lihat sendiri rasanya itu pasti ingin dibawa pulang semua.
Edisi School Bus


Di luar negeri versi happyland nya lebih lucu-lucu lagi lho. Ada versi royal wedding nya William-kate, royal family sampai royal happy 1st birthdaynya juga ada. Tidak heran sih karena kan ELC ini sendiri memang perusahaan mainan asal inggris sono jadi wajarlah saat euphoria tentang royal wedding beberapa waktu yang lalu, ELC ikut meramaikan dan kemudian terus berlanjut ke edisi-edisi berikutnya.
sumber dari google.com

Sumber dari google.com

Sumber : dari google.com


Tidak hanya versi royal, untuk versi timur tengahnya juga ada lho edisi dari happyland yaitu namanya  Happyland Khaleeji family. Menurut hasil mesin pencari  khaleeji diambil dari Bahasa arab yang artinya teluk. Dan yang masuk kedalam Negara-Negara teluk adalah Saudi Arabia, Bahrian, Qatar,Oman,UAE,kuwait dan Irak. Jadi maksudnya figurine ini menggambarkan keluarga di negara teluk secara umum yaa seperti ini.
Sumber : dari google.com

Sumber : dari google.com




Kalau kata ELC happyland is place where  childrens imaginations can run free. Tapi kalau kata saya  tidak hanya imajinasi, but my money is also run too ;-p. Tapi worth it kok, meski harganya yang tidak bisa dibilang murah sepadan dengan kualitas yang diberikannya.


Happyland pertama kita adalah versi profesi, itu sudah lama banget dibeli saat Indira masih kecil dan sampai sekarang masih bisa dimainkan bahkan dilungsur ke adik-adiknya. Mungkin nanti kalau anak-anak sudah besar bisa dijual jadi harga yang mahal karena sudah rare collection kali ya. *otakbisnismulaijalan. hahahhaha

Koleksi pertama kita, edisi profesi minus anjingnya



Share:

Mendadak jadi turis di Museum Bank Indonesia



Beberapa bulan yang lalu saya, suami dan anak-anak sempat berjalan-jalan ke salah satu ikonik Jakarta di bagian sebelah utara, yaitu Museum Bank Indonesia.  Sebagai turis gadungan (dibilang turis tapi ber-ktp Jakarta, dibilang bukan turis kan saat itu domisilinya bukan di Jakarta ) jalan-jalan ke kota tua ini menjadi sensasi tersendiri. Dan jujur sebenarnya ini pertama kalinya kami main ke kota Tua. Yaaah pernah sih ke stasiun kereta api nya tapi cuma numpang lewat saja. Apalagi dulu kan para kaka masih pinyik, jadi belum begitu paham kalau diajak ke tempat seperti ini. Kalau sekarang sih edu-vacation seperti ini sudah masuk ke dalam daftar yang harus dilakukan.

Tujuan ke Jakarta  saat itu sebenarnya bukan lah murni sedang liburan, tetapi karena Shanaz akan melakukan operasi telinga.


Untuk memudahkan beberapa prosedural yang harus diikuti pra operasi kita memutuskan saat itu untuk menginap tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Shanaz dioperasi.  Pilihan kita adalah Hotel Mercure Cikini (nanti akan saya update untuk link resensi pengalaman menginap disini ya). makanya kemudian setelah urusan rumah sakit selesai akhirnya kami memilih untuk berjalan-jalan sejenak, sekaligus memberikan semacam ‘upah’ buat para kaka karena sudah mau ikut menemani ade Shanaz selama melakukan beberapa pemeriksaan di RS. Dan seperti yang sudah disebut diatas pilihan kita jatuh kepada MUSEUM BANK INDONESIA.



Museum bank Indonesia sebenarnya tidak lah stroller-friendly (mungkin karena memang tidak diperuntukkan untuk bayi juga kali ya).  Kita sedikit mengalami kesulitan saat hendak membeli tiket masuk karena loket pembelian tiket berada di lantai 2. Sayangnya museum ini juga tidak meyediakan fasilitas lift sehingga satu-satunya akses hanya bisa dilalui dengan tangga saja. Akhirnya saat itu terpaksa stroller Shanaz kita lipat dan kemudian digotong naik ke atas.

Setelah membeli tiket, stroller dan tas (kecuali barang berharga) harus dititipkan di tempat penitipan barang di depan pintu masuk. Harga tiketnya cukup murah lho, hanya Rp 5000 untuk anak-anak dan dewasa dan dibawah 3 tahun tidak dipungut biaya masuk. Museum ini dibuka setiap hari, dari pukul 09.00 sampai dengan 17.00 WIB

koridor ruangan kasir
Koridor pertama yang kita temui adalah ruang kasir. Ada semacam bilik kecil sebagai ruangan tempat proses terjadinya transaksi keuangan. Seperti hal nya bangunan Belanda pada umumnya, ruangan ini juga terlihat sangat besar dan luas. Ada banyak patung dan tulisan tentang sejarah awal terbentuknya bank Indonesia di bagian ini.

Lalu kemudian kita masuk ke koridor kedua, nah disini ada papan peringatan tidak boleh menghidupkan kamera. Lalu kita masuk ke dalam ruangan yang sedikit gelap dengan beberapa layar raksasa di sisi kanan dan kiri nya. Ternyata ada semacam Lorong dengan virtual koin yang cukup menarik untuk dilihat. Berasa lagi hujan uang saat melewati ke arah situ.

Setelah itu kita disuguhi lagi dengan sejarah perdagangan Indonesia. Seperti yang kita tahu Indonesia adalah negara yang kaya dengan rempah rempah sehingga menarik perhatian para pihak asing dan kapal VOC mendarat di sunda kelapa. Konon katanya harga bumbu dapur dari Indonesia dijual bahkan lebih tinggi dari harga emas itu sendiri. Wow banget ya?
kapal penjajah yang mendarat di sunda kelapa

Ayah olis sedang menjelaskan ke para kaka tentang rempah-rempah


Tidak jauh dari situ, di bagian lantai saya melihat ada beberapa seragam baik  seragam para pejuang Indonesia maupun seragam para penjajah dulu seperti seragam prajurit Belanda dan prajurit jepang juga. Baju-baju ini diletakkan di dalam lantai kayu yang kemudian dilapisi oleh kaca bening agar bisa dilihat saat sedang melintas di sekitaran tersebut.
seragam prajurit Belanda


Dan dari sini saya baru tahu setelah merdeka di tahun 1945, Indonesia belum benar-benar mempunyai mata uang resmi. oleh karena itu ORI (Oeang Republik Indonesia) digunakan sebagai mata uang sementara. Tidak hanya itu masing-masing daerah juga mempunyai mata uangnya sendiri-sendiri atau disebut ORIDA (Oeang Republik Indonesia Daerah). Baru kemudian di tahun 1949 (4 tahun setelah medeka) Rupiah diresmikan sebagai mata uang Negara Indonesia dan ORI-ORIDA dihapuskan sebagai mata uang Indonesia.
Banyak orang beranggapan kalau Rupiah adalah turunan dari mata uang India, yaitu Rupee. ternyata anggapan tersebut salah. Rupiah diambil dari Bahasa Mongolia yang artinya perak. Karena zaman dahulu uang yang beredar hampir kebanyakan terbuat dari perak (itu lah kenapa dalam bahasa sehari-hari nenek-kakek kita dulu sering menyebut nominal dengan satuan perak bukan rupiah, misalnya 500 perak bukan 500 rupiah).
Dan ternyata Rupee pun  diambil dari bahasa yang sama juga dengan arti yang sama, yaitu perak. Jadi Rupiah dan Rupee berada di tingkatan yang sama dengan sumber resapan dari Bahasa yang sama, yaitu Mongolia. Yang membedakannya hanyalah aksen menyebutkannya saja. Indonesia menggunakan H dibelakang karena kecenderungan orang Jawa yang lebih mudah menyebutkan suatu kata dengan akhiran H.
The sisters di dpn poster contoh mata uang ORIDA

Jenis-jenis ORIDA yang beredar zaman dulu

Kaya informasi mungkin itu lah kata yang tepat untuk menggambarkan museum bank Indonesia ini. tidak hanya sejarah perdagangan pada zaman penjajahan dulu saja, sejarah bank Indonesia itu sendiri juga dipaparkan dengan jelas. Perubahan logonya dari masa ke masa, struktur organisasi dan lain sebagainya. Sayangnya di dalam museum tidak ada petugas yang menjaga sehingga kita tidak bisa bertanya lebih detail lagi. Berbeda dengan dulu saat kita ke kerajaan Siak dimana para petugas berdiri di bebarapa tempat sehingga mudah jika ingin bertanya sesuatu.

Saat kami berkunjung kemarin juga banyak sekali anak-anak sekolah yang sepertinya sedang melakukan tugas sekolah mereka tentang Museum Bank Indonesia ini. Museum ini memang cocok sekali untuk anak-anak yang sudah lebih besar dan tertarik dengan sejarah.

Setelah selesai berjalan-jalan lalu kami memutuskan untuk istirahat siang dan makan di kantin. Mengejutkan ternyata kantinnya tidak seperti yang saya bayangkan. Awalnya saya pikir yang namanya kantin pastilah hanya sebatas warung makan seadanya. Ternyata dugaan saya salah. Kantin ini sangat rapi dan lebih mirip cafĂ© sebenarnya. Makanan yang dijual juga sangat khas Indonesia, ada ayam penyet, ayam sambal matah, indomi dan lain sebagainya. Harganya yang sangat bersahabat ternyata tidak membuat kualitas rasa  makanannya menjadi dibawah rata-rata. Makanannya menurut saya sih masuk dalam kategori endes ya.



Kesimpulannya yang bisa diambil dari perjalanan kemarin adalah museum Bank Indonesia adalah tempat wisata yang bisa menjadi alternatif untuk liburan anak ketika sedang di Jakarta. Terutama untuk anak-anaknya sudah mulai besar agar bisa belajar tentang sejarah perbankan di Indonesia. Terutama lagi jika suaminya juga sangat suka dan paham tentang sejarah jadi bisa membantu menjelaskan ke si anak di setiap sudut museum tersebut. Karena jujur kalau ditanya saya, satu-satunya bagian dari  museum ini yang saya pahami dan menarik perhatiannya saya  hanya lah bagian kantinnya saja. :-D


Share:

3 Alasan kenapa memilih HomeSchooling untuk anak



Banyak yang bertanya kenapa kami tiba-tiba memutuskan Home Schooling (HS) untuk sekolah para kaka. Sebenarnya keputusan ini bukan lah sebuah keputusan yang tiba-tiba muncul begitu saja, bukan pula keputusan yang diambil semalam. Ada banyak sekali pertimbangan sebelum memutuskan hal ini, ada banyak malam pula yang kami lewatkan untuk diskusi bantal alias pillow talk tentang ini, dan yang tidak kalah penting ada banyak kuota kami habiskan untuk melakukan riset personal dari video youtube yang beredar dengan kata kunci ‘ homeschooling”. Perasaan maju mundur, galau, antara yakin dan tidak saya akui sempat ada didalam benak saya dan suami. Sampai di titik kami  berada di satu perasaan dan kemudian  bilang, “ ok that’s time. We need move to straight. And no turning back off”.

Ada beberapa alasan kenapa kami memilih HS sebagai sekolah yang paling tepat saat ini untuk para kaka, Indira (8 tahun) dan Danesh (6 tahun). Alasan pertama, karena pekerjaan ayahnya anak-anak yang bisa dimutasikan kemana saja dan kapan saja. faktor terbesar yang menyebabkan maraknya bujang lokal di instansi tempat ayahnya berkerja adalah karena alasan utamanya anak-anak sudah bersekolah jadi sulit untuk bolak balik pindah sekolah terus menerus.

Dan sayangnya saat ini  Long Distance Married (LDM) belum bisa menjadi opsi untuk keluarga kami. Tanpa bermaksud menabuh genderang perang dengan para pelaku LDM, hanya saja saya merasa tiap keluarga diberi kekuatan dan kelemahan masing-masing. Setiap orang punya kryptonite nya masing-masing. Dan ini lah kryptonite keluarga kami.

Suami saya tidak ingin melewatkan melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang setiap harinya. Anak-anak butuh sosok ayahnya sebagai laki-laki pertama yang mereka cintai. Dan saya? Saya butuh orang tempat saya melampiaskan marah saya saat lagi PMS ;-p.  karena hubungan mutualisme satu sama lain ini lah membuat kami sulit untuk berjauhan dalam jangka waktu panjang.

Itulah kenapa saya selalu salut dengan para keluarga yang bisa hidup dipisahkan jarak karena berbagai macam hal. Butuh kekuatan dan kesabaran besar untuk melakukan hal tersebut.  Dan bahkan butuh modal yang tidak sedikit juga untuk itu. Doa terbaik saya untuk para pejuang LDM dimanapun berada, semoga selalu diberi kekuatan dan kebahagian. Aamiin.

Alasan kedua mengapa memilih HS adalah karena ingin menekan anggaran sekolah yang harganya makin lama makin tidak masuk kantong  akal kita lagi. bahasa sederhananya tak ada uang masukin anak sekolah cui.

Buat yang anaknya sekolah di sekolah swasta pasti paham maksud saya ini. terutama sekolah-sekolah swasta di kota besar. Duuh ampun-ampunan deh harganya. Yaa kalau sekali bayar saja untuk 6 tahun kedepan mungkin masih bisa diusahakan,  nah bayangkan berapa  biaya yang harus disiapkan untuk bolak balik masuk ke sekolah yang terus berbeda. Untuk kasus saya dikalikan dua kali lipat karena anak yang sudah masuk umur sekolah ada 2 orang. Pindah kota lagi artinya masuk sekolah baru lagi yang artinya lagi bayar uang pangkal lagi, kalau diakumulasikan  bisa buat naik haji sekeluarga kali.

Dengan homeschooling sama dengan  kita bisa benar-benar mengeluarkan uang secara efektif untuk kepentingan belajar anak-anak. Kita bisa merancang sendiri apa yang penting untuk dipelajari dan apa yang memungkinkan untuk di-skip. Besar kecilnya biaya tentulah sangat tergantung dari bagaimana konsep homeschooling yang ingin dijalani.

Pernah dengar teori tabula rasa tidak ya? Tabula rasa ini diambil dari istilah bahasa Latin yang artinya anak bukan lah kertas kosong. Pernah pada masanya dulu orang tua kita berpikir bahwa masa depan anaknya 100 % dilukis oleh mereka, mereka menganggap hanya orang tua yg tahu apa yang terbaik untuk si anak, tanpa peduli apakah anak suka atau tidak, apakah itu sesuai bakat mereka atau tidak.

Hal ini lah yang memicu munculnya masa-masa dimana dulu orang tua kita menginginkan anaknya menjadi PNS, meski tidak besar yang penting bergaji tiap bulan dan tua dapat pensiunan. Lalu masa itu bergeser berganti dengan cita-cita orangtua yang ingin anaknya menjadi pegawai BUMN, Bank dan  perusahan-perusahaan swasta lainnya, meski tidak mendapatkan pensiunan, tetapi dengan gaji yang besar bisa merencanakan investasi masa tua. Tapi dari semua itu adakah yang benar-benar bekerja sesuai passion?. Saya tidak yakin. Generasi saya adalah generasi yang apapun jurusan kuliah yang dijalaninya, kerjanya tetap di Bank ;p

Dan sekarang sebagai orangtua saatnya kendali ada di tangan kita. Generasi penerus selalu dibentuk dari bagaimana pola orangtuanya berpikir. Saya pribadi berpikir sekarang sudah waktunya anak-anak saya mengoptimalkan potensi masing-masing sesuai bakat mereka.  Karena saya yakin apa pun bakatnya jika dikerjakan dengan sepenuh hati dan profesionalitas, percaya lah Allah tidak akan pernah salah memberi rejeki. Karena hanya ada putri yang tertukar, kalau rejeki mah insya allah tidak akan pernah tertukar. Dan itu adalah alasan ketiga kenapa kami memutuskan HS untuk para kaka.

Meski begitu manusia berencana Allah lah yang menentukan. Apa pun bisa terjadi dikemudian hari. Jika ternyata tiba-tiba di tengah jalan, anak-anak minta ke sekolah umum tentu sah-sah saja. Tidak ada alasan untuk saya sebagai orangtua menghalangi apapun niat mereka selama tidak melanggar  norma agama dan hukum.

Jadi terjawab sudah ya alasan utama kenapa akhirnya kami mendadak meng-HS kan para kaka. Meskipun sebenarnya metode HS yang kami lakukan saat ini belum lah benar-benar sempurna. Saat ini kami masih sangat ‘schooling at home’ alias memindahkan sekolah ke dalam rumah, hal itu karena mengingat mereka pernah bersekolah dan menghindari kekagetan juga. Apalagi saat ini kami masih dalam tahap adaptasi karena baru pindah ke tempat yang baru. Jadi kurikulum yang digunakan saat ini masih melanjutkan kurikulum dari sekolahnya yang lama, tapi Insya Allah pelan-pelan kedepannya akan terus dikerucutkan sesuai potensi mereka masing-masing.

Dan tentu saja yang sangat saya dan suami saya sadari dengan sepenuh hati adalah bahwa perjalanan ini tentu saja tidak akan semudah dan semulus cerita dongeng. Akan banyak sekali tantangan, konflik dan perasaan naik turun di depan nantinya. ibarat sedang marathon yang harus sangat diperhatikan yaitu tidak perlu terburu-buru atau gas poll diawal, yang penting menjaga semangat dan sampai ke garis finish dan yang tak kalah penting menikmati setiap prosesnya.

Insya Allah nantinya saya akan terus mengusahakan untuk meng-update  tentang HS para kaka di blog ini dengan label ‘ Home Schooling Indinesh’ ya. Atau bisa juga kepo di Instagram saya @fernanindhita dengan hastag #HomeSchoolingIndinesh.

Karena menulis adalah bagian hal yang selalu menjadi me time kesukaan saya dan saya butuh energy yang besar untuk menjalankan ini semua. Syukur-syukur lagi kalau ternyata tulisan saya bisa bermanfaat untuk orang lain.



Share: