Saturday, June 10, 2017

Buka puasa bersama


Tidak terasa sudah setengah bulan kita berpuasa ya. Pertanyaannya adalah sudah dapat undangan bukber bersama berapa biji nih? Mmm, ok diubah pertanyaannya, berapa banyak dari undangan itu yang sudah pasti tanggalnya dan berapa yang ‘gampang atur aja,aku ikut aja lah’-in  dan kemudian tidak ada berita lagi sampai lebaran pun datang? Its sound familiar, hah?

Satu hal yang saya pelajari dari hukum bukber bersama ini adalah semakin tua umur kita, semakin sedikit undangan bukber bersama, benar? Dulu waktu masih muda, berjaya dan berkibar (bendera kali) kayaknya hampir setiap hari ada undangan bukber bersama. Makin kesini makin berkurang sampai ke satu titik sekarang lebih memilih makan malam daripada bukber bersama. Maksudnya itu lebih memilih buka puasa dulu di rumah (minimal makan takjil dulu), shalat magrib, baru kemudian cuss ke tempat bukber bersama buat makan beratnya. Aaaah saya sudah setua itu ternyata

Kegiatan bukber bersama sebenarnya tidak lah salah. Setahun sekali kita bisa menyambung silaturahim dengan teman-teman yang hampir tidak pernah bertemu sebelumnya. Itu lah hikmah Ramadhan. Dan itu indah. Tapi ada beberapa hal yang sebaiknya harus diperhatikan dalam mengadakan acara bukber bersama, diantaranya adalah :

1.       Perhatikan tempat diadakan acara bukber bersama. Jika memungkinkan sebaiknya dilakukan di rumah saja biar lebih santai dan lebih akrab. Tapi kalau pun tidak, jangan lupa untuk memastikan tempat acara bukber bersama tersebut memiliki mushola atau pun tempat shalat yang layak. Jangan sampai habis bukber bersama trus lupa shalat magrib ya.

2.       Jika diadakan di rumah, sebisa mungkin jangan sampai merepotkan pemilik rumah. Tawarkan sistem potluck atau layanan antar makanan supaya si pemilik rumah tidak direpotkan karena kedatangan kita.

3.       Jika undangan bukber bersama untuk seluruh keluarga, pastikan tidak hanya kita saja yang menikmati acara tersebut karena bertemu dengan teman lama, tapi suami dan anak-anak yang kita bawa harus senyaman mungkin di acara tersebut juga. Kalau ada pilihan untuk tidak dibawa, saya lebih memilih itu sih terutama untuk anak-anak. Karena kadang-kadang meski restorannya cukup ramah anak, belum tentu teman-teman dari masa lalu kita ini terkondisikan hal yang sama. Nanti pada saling ledek, saling becanda, kasian anak-anak kita bingung tiba-tiba mamaknya berubah jadi se-barbar itu;-p. kecuali semuanya janjian membawa anak dan konsep bukber bersama nya playdate itu lain lagi ceritanya.

4.       Kalau untuk saya, bukber bersama itu sebenarnya bukan ajang untuk makan sih, lebih ke tujuan utamanya silaturahim, ngumpul bersama teman-teman lama. Bukan bermaksud jaim di depan teman-teman, tapi biasanya kalau lagi bukber bersama porsi makan saya itu sedikit, mungkin Karena sudah asik ngobrol kali ya. Makanya saya tuh selalu memesan makanan ekstra untuk dibawa pulang atau kalau lagi menghemat, sebelum berangkat bukber bersama saya tetap masak nasi di rice cooker, selain bisa untuk sahur nanti, juga hampir dipastikan nanti sepulang bukber bersama pasti akan ada  makan malam sessi kedua. Dan itu ternyata berlaku juga untuk suami dan anak-anak.  Makan harus se-hikmat itu sodara-sodara, biar afdol😊

5.       Dan yang paling harus dipahami sekali adalah ketika sudah berkeluarga maka ada prioritas yang harus diutamakan. Jangan sampai Karena undangan bukber bersama yang tiada habis-habisnya, suami dan anaknya kita terlantar di rumah. Saya rasa tidak perlu lah sampai bukber bersama di semua alumni tingkat sekolah, dari TK sampai kuliah. padahal mah teman-temannya juga itu-itu saja. Dan lagi anggaran untuk bukber bersama kan kalau dihitung-hitung lumayan juga tuh, mending uangnya buat beli baju lebaran anak, ya ngga sih?



Kira-kira ada lagi yang bisa nambahin ngga tuh dari 5 poin diatas ? Pada akhirnya kita harus menyadari kalau ‘panggung’ sudah bukan milik kita lagi. Jelas ada beberapa hal-hal yang tidak memungkinkan kita untuk se-eksis dulu lagi. Selektif memilih undangan bukber bersama sebijaksana mungkin sangatlah dianjurkan. Ada suami dan anak-anak yang menanti kita di rumah. Lebih baik bukber bersama mereka saja, Karena barang siapa yang menyediakan makanan untuk berbuka suami dengan penuh keikhlasan, niscaya akan terbuka pintu mall dari arah mana saja (diriwayatkan oleh ibu-ibu dan dikutip dari pesan yang bersebaran di group sebelah), setuju?

credit picture : https://www.shutterstock.com/image-vector/hand-drawn-ramadan-iftar-illustration-blue-637179856?irgwc=1&utm_medium=Affiliate&utm_campaign=Graphic%20resources%20SL&utm_source=39422


2 comments:
Sunday, May 28, 2017

Mencari tiket murah disaat Mudik

Mudik atau pulang kampung adalah satu hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya sampai kemudian saya menikah 8 tahun yang lalu dan ikut pak suami merantau. Wajar saja dari lahir  dan sampai tumbuh besar saya hanya berada di Aceh. Di ujung bagian paling barat Indonesia ini hampir semua keluarga dekat saya ada disini. Nenek dari pihak ibu tinggal tepat di sebelah rumah, dari pihak bapak sedikit jauh, tapi tidak sejauh hatimu dan hatinya sih, yaah cuma beda kecamatan saja, masih di kota yang sama. Makanya saya sangat bersemangat kalau sudah menjelang mudik. Bahkan sampai hari ini pun masih merasakan getar yang sama.

Bagian yang paling deg-degan dari mudik adalah saat pencarian tiket. Apalagi untuk saya yang kampungnya cukup jauh dan hanya bisa dijangkau dengan pesawat, jadi duuh itu rasanya kalau tiket pesawat belum ditangan, super H2C alias harap-harap cemas.  Ini bukan nama reality show lho ya dan percaya lah perasaan saya lebih nyata dari acara tersebut.

Sebenarnya bisa saja sih pakai alternatif lain selain naik pesawat yaitu via darat.  Tapi itu membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa sampai ke Aceh. Dan jika dihitung kembali biaya operasional termasuk menginap, makan dan lain-lain selama perjalanan sama saja dengan harga tiket pesawat.
Mencari tiket pesawat di musim mudik seperti ini memang agak sedikit tricky. Kalau tidak pintar-pintar, bisa-bisa pulang mudik langsung jadi gembel. Kalau dulu saya selalu saya cari tiket jauh sebelum tanggal keberangkatan, bahkan sebelum puasa sebisa mungkin saya sudah pegang tiket. Tapi semenjak beberapa tahun terakhir banyak aplikasi pencari tiket murah justru mencari tiket terlalu jauh dari hari- H harganya malah cukup tinggi.
Dan Alhamdulillah sejauh ini dari pertama saya hijrah ke Jakarta sampai sekarang saya sudah merantau di kota berikutnya dan juga sudah berkembang biak cukup pesat, saya selalu dimudahkan untuk urusan tiket pesawat. Bayangkan dari yang awalnya cuma perlu beli 2 tiket pesawat, lalu tahun berikutnya bertambah menjadi 2 tiket pesawat dewasa + infant dan bertambah terus tiap tahunnya sampai saat ini formasi bertahan di 2 tiket pesawat dewasa + 2 tiket anak (yang harganya sama saja dengan tiket dewasa) +1 tiket infant (yang sebenarnya dari beberapa bulan lalu sih sudah bayar satu tiket penuh, tapi sama bundanya masih di-infant-infant-kan;p). Jadi kebayang ya itu dompet kalau tidak ketemu tiket promo babak belurnya kayak apa.  
Berikut saya coba berbagi tips agar dapat harga tiket pesawat yang murah saat menjelang mudik seperti ini :

1.      Semenjak dunia dalam genggaman, saya selalu mencari tiket pesawat di aplikasi pencari tiket murah. Dan seperti saya sebut diatas, entah kenapa membeli jauh-jauh hari di aplikasi ini justru harganya masih sangat tinggi sekali. Jadi saya selalu mencari tiket pesawat tidak terlalu jauh dari tanggal keberangkatan, yaaah minimal 2 minggu sebelum hari H. Saya tidak tahu apakah  ini hanya berlaku ke saya saja atau yang lain juga begitu ya. Dan percaya atau tidak katanya kalau ingin mendapat harga tiket pesawat dengan harga yang bagus, lebih baik pesannya di hari selasa dan kamis. Lebih bagus lagi katanya kalau dicari saat tengah malam hari. Entah mungkin kebetulan atau bagaimana, saya sih sudah buktikan sendiri. Untuk hari selasa dan kamis nya ya, kalau untuk tengah malamnya sejauh ini harganya sama saja, tidak ada perbedaan yang signifikan. Dan baru-baru ini aplikasi pencari tiket murah ini mulai menerapkan sistem poin lho. Semakin sering kita bertransaksi semakin besar juga poinnya, yang nantinya poinnya bisa ditukar dengan voucher  Rp 50.000 – Rp 100.000. Lumayan kan?


2.      Kalau ingin bermain aman, yang paling tenang  itu sebenarnya sudah memegang tiket mudik jah-jauh hari ya. Paling tidak satu urusan selesai, jadi tinggal memikirkan untuk hal-hal lainnya. Nah kalau untuk beli tiket pesawat jauh-jauh hari saran saya sebaiknya langsung ke layanan penjualan resmi nya saja. Apalagi untuk maskapai premium seperti Garuda, itu kan biasanya layanan penjualan resmi nya suka ada di mall-mall, jadi sambil mencari tiket pesawat bisa sambil cuci mata juga.


3.      Beberapa bulan sebelum lebaran (bahkan sebelum puasa ) biasanya maskapai tertentu suka mengadakan fair dengan menjual  tiket pesawat murah. Acara seperti ini wajib disambangi nih untuk para pejuang mudik yang menggunakan tiket pesawat. Walau sebenarnya saya belum pernah sih ikut ke acara-acara seperti itu, selain sudah kebayang ramainya seperti apa dan saya juga cukup ribet kalau harus kesana dengan membawa 2 anak dan 1 batita. Ternyata saya belum seseterong itu manteman.


4.      Kalau punya kartu debet atau kartu kredit yang bekerja sama dengan maskapai penerbangan tertentu ini bisa juga dijadikan pilihan untuk menghemat. Karena biasanya akan ada harga khusus jika membeli dengan pembayaran dari kartu bank terkait. Apalagi kalau kartu tersebut juga berhubungan dengan kartu frequent flyer, selain dapat harga khusus, biasanya juga dapat bonus poin lho. Dan terutama jika suaminya punya rutinitas berkala harus dinas ke luar kota menggunakan pesawat, wah poinnya bisa dikumpul tuh dan kemudian ditukar untuk tiket pesawat saat mudik. Lumayan hemat satu tiket. True story ;))))


5.      Jika memungkinkan sebaiknya hindari tanggal keberangkatan ketika sudah masuk arus mudik. Tapi tentu ini hanya berlaku untuk orang-orang seperti saya yang notabene adalah seorang ibu rumah tangga dengan anak-anak yang belum bersekolah saat itu. Jadi bisa curi start mudik duluan. Dan sekarang pun meski Indira sudah masuk SD, untungnya dua tahun terakhir lebaran bertepatan dengan libur kenaikan kelas, jadi begitu urusan ujian selasai, langsung cuuus  berangkat mudik. Entah bagaimana untuk tahun-tahun kedepan yang mungkin saja antara libur dan puasa sudah tidak bersamaan lagi. Kita lihat saja nanti.


6.      Yang tidak kalah penting adalah sebelum mencari tiket pesawat, berbanyak amalan baik. Karena semakin banyak amalan baiknya, semakin bagus harga tiket pesawat yang didapat. Hahahaha. Teori ngaco ya. Tapi ada benernya sih, intinya mantapkan tujuan dan niat mudik karena ingin silaturahim ke orangtua dan saudara. Kalau setelah itu sekalian dengan wisata kuliner dan jalan-jalan, ya anggap itu sebagai bonus lah.


So, sudah siap berjibaku mencari tiket pesawat murah? Selamat berjuang ya teman-teman. Saya doakan kalian berhasil mendapatkan tiket pesawat dengan harga yang paling bagus. Permisiii,,,saya mudik duluan ya. da.... *lambaikan tangan dari pesawat
ini adalah kumpulan foto saat kita mudik dri tahun ke tahun. yang kiri atas bukan lah Shanaz, tapi Indira saat umur dia 9 bulan. Dari yang modal cuma bayar infant, sampai kemudian satu persatu harus bayar tiket penuh *nangis darah*

4 comments:
Monday, May 22, 2017

The Master Asi 2017

Bapak-bapak dan ibu-ibu semua, dengan bangga mari kita sambit eh sambut Master ASI 2017, ini lah diaaaaaaaa *suara drum* SHANAZ KATILU. Beri tepuk tangan yang meriah untuk shanaz *prokprokprok*

Fyuuh, lega akhirnya, salah satu hak Shanaz sudah terpenuhi dengan baik. Kekhawatiran terbesar saya adalah saya takut akan banyak drama saat proses menyapih. 

Dari jaman  kaka-kakanya menyusui, saya adalah penganut WWL alias Weaning With Love. Kalau diindonesiakan artinya menyapih dengan cinta. Jadi maksudnya adalah tidak ada proses sapih dengan paksaan, memakai pahit-pahitan, atau apalagi ujug-ujug menitipkan anak ke nenek atau yang lainnya. Walau baru-baru ini saya sempat dengar tentang sapih trip, meski saya belum pelajari sepenuhnya sih metodanya seperti apa,  tapi tadinya sempat mikir kalau WWL ini tidak berhasil, mau coba masukan proposal ke bapake untuk sapih trip, ke Jepang mungkin atau minimal ke Singapore lah ;-p. Antara beneran niat nyapih dan modus sih sebenarnya.
Seperti namanya, pokok utama dari WWL ini tentu saja adalah love alias cinta. Saat proses menyapih yang paling harus ditekankan meski tidak nenen lagi bukan berarti cinta bunda berkurang. Makanya saat menyapih harus selalu sambil dipeluk dan terus diberikan ‘mantra’ seperti, "bunda tetap sayang sama kamu. Tapi kamu sudah besar, nen nya sudah habis. Kalau kamu haus kamu minum air putih saja ya".
Dulu waktu menyapih dengan metoda yang sama untuk kaka Danesh, drama nya beuuuh luar biasa banget. Saat saya jelaskan kalau dia sudah besar, eeh dia nya malah bilang “ ade ngga mau besar, ade mau jadi ade bayi aja” terus sambil mata nya dimerem-meremin pura-pura jadi bayi. Belum lagi kemudian Danesh marah mengusir saya dari kamar dan bahkan sampai berkali-kali minta maaf karena dipikir saya tidak memberikan dia nen Karena dia sedang dihukum. Hati ibu mana yang tidak galau kalau sudah begitu ya.
Sampai kemudian di satu titik Danesh melakukan negoisasi ke saya, boleh tidak nenen asal digendong bayi. Gendong bayi itu maksudnya digendong pake gendongan model sling gitu. Harus model itu, tidak boleh model kangguru atau yang lainnya. Jadi setiap kali dia kangen nen, dia minta digendong bayi. Walau sebenarnya itu hanya menyelesaikan masalah dengan masalah baru, Karena setelah itu dia jadi ketergantungan dengan gendong bayi, tapi tetap saja kesepakatannya saya iya kan. Karena saat itu saya hanya ingin memberikan penekanan ke Danesh bahwa dunia akan baik-baik saja tanpa nen. Bunda nya akan tetap sayang sama dia meski sudah tidak nen lagi.
Berbeda dengan Danesh, saya bingung bagaimana membahasakan hal serupa ke shanaz tentang proses menyapih ini.  Meski sama-sama diumur 2 tahun, tapi saat itu Danesh sudah bisa berkomunikasi dengan saya. Sudah ada pembicaraan 2 arah antara saya dan Danesh sehingga dengan mudah kami bisa mencapai kesepakatan.
Sedangkan shanaz, mungkin saat menggunakan alat bantu dengarnya, dia bisa mendengar saya, tapi tentu dia belum dapat konsep mendengarnya. Akan sangat abstrak untuk Shanaz ketika saya bilang, “shanaz sudah besar, shanaz jangan nen lagi ya”. Shanaz tidak akan paham intruksi seperti itu.
Maka yang pertama sekali saya lakukan adalah membuat pola baru untuk dia. Kalau dulu dia bisa nen dimana saja dan kapan saja, sekarang sudah tidak bisa lagi. setiap kali dia minta nen ketika kita di luar, dengan sedikit gesture saya bilang ke dia, “malu.. malu.. ga boleh nen disini. malu”. Dan saya juga mulai memakai baju yang sulit untuk dia mengakses nen nya. Jadi selamat tinggal baju menyusui. Lalu saya juga memberikan dia pilihan lain, misalnya susu UHT atau biskuit. Tujuannya supaya keinginan dia untuk nen teralihkan.
Untungnya tidak butuh waktu lama untuk shanaz memahami pola yang baru. Lama-lama dia mengerti aturan mainnya, di luar tidak boleh nen, di kasur boleh nen. Walau kemudian setelah itu dia selalu mengajak saya ke kamar sambil nunjuk-nunjuk kasur tanda dia minta nen.
Dan kemudian ini menjadi PR saya selanjutnya yaitu bagaimana membuat shanaz berhenti nenen saat di kasur, terutama di malam hari. Karena makin ke sini shanaz jadi kayak mengambil kesempatan gitu, mumpung ini lagi di kasur, mumpung boleh nen, eh dia malah nen sepanjang malam:-/.
Sampai satu malam, saat dia lagi nen, saya angkat sedikit badannya  kemudian saya tawarkan air putih. Awalnya Shanaz tidak mau, dia tetap mencari nen. Lalu saya letakkan dia ke kasur lagi, tapi tidak saya kasi nen sambil saya elus-elus punggungnya. Saya bilang, ‘ kalau shanaz haus, minum air putih aja ya. Jangan nen”. Walau sebenarnya saya tau sih dia tidak bisa mendengar ucapan saya karena dia tidak menggunakan alat bantu dengarnya saat tidur, tapi saya percaya bahasa ibu dan anak pasti akan sampai meski bukan dari organ pendengaran. Benar saja lama-lama dia pasrah, dia mau dikasi air putih, habis segelas penuh, terus plek tidur lagi. beneran tidur sampai besok pagi. Yaaay.
Pola baru terbentuk lagi, setiap dia terbangun di malam hari, saya tawarkan dia air putih. Awal-awal kadang mau, kadang tidak. Lama-lama dia sadar tidak ada pilhan lain, jadi pasrah mau saja dikasi air putih. Dan sekarang Shanaz malah hampir tidak pernah bangun malam lagi, tidur nyenyak sampai pagi. Another yaaay.
Jadi sebenarnya inti menyapih itu ibu nya dulu yang harus lepas. Dulu waktu menyapih kaka danesh, jujur saya masih berat melepas. ada ketakutan-ketakutan seperti, 'duuh kalau bonding saya dan danesh berkurang gimaya ya' atau 'duuuh setelah ini harus jaga makan nih soalnya 100% lemaknya masuk ke badan saya ;-p". Makanya proses menyapihnya jadi drama.
Pas bagian Shanaz, saya sudah lebih lempeng, mungkin faktor umur juga yang makin kesini makin tidak kuat pinggang super pegel di nenen-in sepanjang malam. Karena saya nya siap melepas, maka begitu pun anaknya.
Dan bagian terbaik dari proses menyapih ini adalah setelah itu anak-anak makannya jadi super duper lahap. Sagala digahar.  Mission accomplished. *take a bow* *standing applause please*
6 comments:

Memilih sekolah untuk anak usia dini

Memilih sekolah untuk anak itu gampang-gampang susah.  Baik untuk pra sekolah apalagi untuk sekolah dasar. Tahun ini anak kedua saya, Danesh (6 tahun) akan masuk SD. Cepatnya waktu berlalu ya. Rasanya baru kemarin dia marah karena disapih, baru kemarin dia nangis pas awal-awal diantar ke sekolahnya, tau-tau sudah mau SD saja. Saya memilih memasukkan Danesh ke sekolah yang sama dengan kakaknya, Indira (7 tahun). Selain memudahkan saya untuk urusan antar-jemput, sejauh ini saya cukup puas dengan kualitas sekolah dan tim pendidiknya. Jadi untuk urusan sekolah sampai 6 tahun kedepan Insya Allah aman (kecuali tiba-tiba kita harus hijrah lagi, itu urusannya akan beda lagi).
Yang ingin saya bahas sekarang ini adalah bukan memilih sekolah dasar sih sebenarnya, tapi memilih pra sekolah untuk anak-anak di usia dini. Apa saja sih yang harus diperhatikan? Dan sebenarnya seberapa penting pra sekolah itu untuk anak usia dini?.  Tapi sebelumnya tidak bosan-bosan saya ingatkan lagi, artikel ini 100 % adalah opini dari sudut pandang saya sebagai orangtua. Setuju atau tidak setuju, kembali lagi ke masing-masing pribadi.
SEKOLAH USIA DINI, YAY OR NAY?
Kalau pertanyaan itu untuk saya maka jawabannya adalah bisa yay, bisa juga nay. Tergantung kebutuhan. Dulu kedua anak pertama saya (Indira & Danesh) saya masukan sekolah diumur 2,5 tahun & 2 tahun. Kenapa ? Karena dulu kita tinggal di apartemen yang ruang lingkupnya sangat kecil, anak-anak butuh wadah yang lebih besar dari sekedar 27 m2. Dan untungnya saya menemukan sekolah yang benar-benar cocok untuk kebutuhan anak saya saat itu. Walau sayangnya kemudian kita harus pindah ke Pekan baru sehingga anak-anak tidak menyelesaikan sekolah mereka disana. Tapi keputusan saya memasukkan Indira-Danesh di usia dini saya rasa keputusan yang tepat.
Lalu apakah Shanaz (2 tahun) akan dimasukan sekolah di usia dini juga? Jawabannya tidak. Kenapa? Dari segi kebutuhan, Shanaz berbeda dengan kedua kakanya. Saat ini fokusnya Shanaz adalalah mengejar keterlambatan mendengarnya agar umur pendengarannya sama dengan umur biologisnya. Tujuan utama saya saat ini untuk Shanaz adalah terapi AVT (Audio Verbal Therapy) dulu. Terlebih lagi Karena disini saya tidak (atau belum) menemukan sekolah yang benar-benar sesuai kriteria yang saya inginkan.
Jadi, kesimpulannya apakah memasukan anak sekolah di usia dini penting atau tidak? Hanya orangtuanya lah yang bisa menjawabnya. Jika dirasa kita adalah orangtua yang cukup kreatif, bukan hanya sekedar punya waktu banyak bersama anak tapi juga mampu menghabiskan waktu berkualitas, saya rasa sekolah bisa menunggu. Lebih baik habiskan waktu dulu bersama di rumah saja. Tapi jika ternyata kita punya kesibukan lain di luar sana, daripada anak dititip ke pembantu, sekolah mungkin bisa jadi pilihan sebagai perpanjang tangan kita dalam mengasah umur keemasan mereka.
HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM MEMILIH PRA SEKOLAH
Menurut saya ada beberapa hal-hal yang harus benar-benar diperhatikan sebelum memutuskan memasukkan anak kita ke sekolah tersebut. Memilih sekolah sama halnya seperti memilih sahabat. Selain cocok-cocokan, tentu lah mempunyai visi dan misi yang sama adalah kunci utama. Kalau dari awal saja tujuannya beda, bagaimana bisa ‘akur’ ke depannya nanti?

Tim pendidik juga hal lain yang wajib diperhatikan. Sekolah yang ideal adalah sekolah yang bisa menjalin komunikasi dengan baik antara orangtua dan guru. Orangtua dan guru harus berada di garis sejajar. Tidak bisa hanya Karena kita sudah membayar, lalu menganggap guru adalah ‘pelayan’ yang harus melayani setiap kebutuhan anak kita. Atau begitu pula sebaliknya, seorang guru hanya memposisikan anak kita sebatas kewajiban yang harus dia jaga selama orangtua nya sudah membayar SPP tepat waktu.
Guru dan orangtua harus seiya, sekata, sebahasa dan se-se lainnya. Danesh pernah lho tidak mau makan mi karena kata gurunya kalau makan mi harus dengan nasi. Lah sedangkan saya adalah penganut paham karbo bukan hanya nasi, ada pasta, mi, kentang, gandum, roti, ubi, dan lain sebagainya. Selama karbohidrat, protein dan seratnya seimbang, silahkan cari pengganti karbo lainnya selain nasi. Dan tentu ini sangat menyulitkan saya ketika menu di rumah adalah mi goreng tapi Danesh malah mintanya dimakan pakai nasi.
Itulah kenapa seiya, sekata sangat lah penting. Karena selain meminimalkan kebingungan si anak, terkadang anak-anak lebih nurut sama gurunya daripada sama orangtuanya. Apalagi untuk hal-hal yang sifatnya prinsipil seperti metode belajar, target pembelajaran dan lain-lain tentu akan lebih sulit lagi jika ada perbedaan antara orang tua dan guru.
Untuk fasilitas dan mainan menurut saya ini bisa jadi penting dan tidak penting. Menjadi tidak penting apabila gurunya cukup kreatif menjadikan suasana belajar se-menyenangkan mungkin. Tapi disaaat bersamaan mainan tentu menjadi penting sebagai media belajar anak. Saya termasuk tipe orangtua yang percaya satu-satunya cara belajar terbaik untuk anak usia dini adalah bermain. Karena memang begitu lah fitrahnya.
Coba sebut satu permainan yang tidak ada manfaatnya untuk anak? Ketika bermain peran, mereka melatih imajinasi mereka, melatih bekerjasama bermain dengan temannya, ,melatih tata bicara dan menambah perbendaharaan kosakata. Ketika mereka bermain jahit jelujur, mereka melatih motorik halus mereka, melatih melemaskan jemari mereka agar nanti terbiasa ketika sudah mulai belajar menulis. Ketika bermain bola, mereka melatih sportivitas, melatih motorik kasarnya, dan juga menyalurkan energi dari dalam tubuh mereka sehingga setelah itu mereka bisa jadi lebih tenang dan konsentrasi belajar di dalam kelas. See? Itu yang saya jembrengin baru 3 lho contohnya. Ada banyak lagi lainnya permainan yang terlihat hanya ‘hahahihi’ tapi mempunyai manfaat yang besar untuk anak-anak.
Saya juga termasuk orangtua yang kontra mengajarkan anak calistung di usia dini. Saya cukup anti dengan les calistung dan sejenisnya. Tapi kedua anak saya bisa membaca tanpa diajari. Kok bisa? Tentu bisa, Karena dari mereka kecil mereka selalu saya bacakan buku cerita. Dan saya mendapatkan tips dari sekolah mereka yang dulu yaitu saat membacakan cerita tunjuk setiap katanya.  Dan itu berhasil. Serius lho. Bahkan jauh lebih berhasil daripada mengajarkan mengeja kepada mereka.  Karena yang ingin saya ajarkan ke mereka bukan membacanya tapi minat bacanya. Semua anak jika diajarkan pasti bisa membaca, tapi berapa orang yang punya minat baca yang besar? Not much
Maka dari itu saya sangat menghargai guru-guru yang mau meluangkan waktu membacakan buku cerita ke anak muridnya. Bukan yang hanya mengajarkan membaca saja. Percaya atau tidak, para guru di sekolah sebenarnya adalah idola bagi murid-muridnya. Lihatlah bagaimana mata mereka berbinar ketika bertemu guru nya di sekolah. Jadi tentu saya akan pastikan orang yang sedang diidolakan oleh anak saya memang lah orang yang pantas diidolakan.
Intinya seperti yang sudah saya sebutkan diatas, sekolah harus lah menjadi sahabat untuk orangtuanya. Tentu sebagai orangtua yang kita inginkan adalah sahabat yang benar-benar tulus, bukan hanya pencitraan di media sosial, bukan pula sahabat yang materialistis yang hanya meraup keuntungan tanpa memberikan manfaat apa-apa untuk anak kita. Sahabat yang baik adalah sahabat yang akan selalu kita kenang dan siap kita rekomendasikan ke orang lain jika ada yang sedang mencari sekolah untuk anaknya. So selamat mencari sahabat buibu. Semoga menemukan yang sesuai dengan pilihan hati ya..
5 comments:
Wednesday, April 26, 2017

Resensi Buku “SAYANG KAKAK SAYANG ADIK” oleh Naning Chandra  




Punya saudara itu adalah anugerah. Teman boleh datang dan pergi, tapi tidak dengan saudara. Dia tetap akan ada tidak peduli seburuk apa pun kita. Itulah kenapa ada istilah “blood is thicker than water”. Tapi tentu saja anak-anak belum benar-benar paham akan hal ini. Boro-boro berharap mereka akan mengganggap saudara mereka adalah anugerah, yang ada juga mereka menganggap saudara mereka adalah hal yang paling menganggu dalam hidup mereka

“Bun, ade kesel sama kakak. Selalu kalau main harus sesuai mau kakak. Tukar aja kakaknya.”
“iiih, ada juga ade tuuh bun yang kalau main ga pernah ikut aturan. Ngga seru main ade. Enakan juga main sama temen kaka di sekolah. Dasar ade jeleeeeeek”
( Bundanya pura-pura tidak dengar sambil terus makan bakwan dengan 3 biji rawit sekaligus)
Pasti yang punya anak lebih dari satu sudah akrab kan ya dengan kejadian seperti diatas? Bahkan mungkin banyak yang lebih ajaib lagi kali ya. Namanya juga anak-anak ya. Sebentar berantam, sebentar baikan lagi. Tinggal bundanya saja yang harus nyetok bakwan yang banyak, biar ada pelampiasan yang bisa digigit kalau anak-anak lagi ‘manis-manis’ nya😝.
Nah buku nya Naning Chandra yang terbaru ini pas nih buat diceritakan ke mereka kalau sebenarnya mereka beruntung karena punya saudara. Buku berisi 7 cerita pendek tentang keseruan kakak beradik ini bisa jadi pilihan yang tepat untuk dijadikan bacaan seluruh keluarga. Halamannya yang penuh warna pasti akan menarik perhatian anak-anak. Dan juga ceritanya menggunakan dua Bahasa lho, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, jadi cocok buat anak seperti Indira yang memang lagi belajar Bahasa inggris juga. Masih belum cukup? Tenaaaang, masih ada lagi kok. Di buku ini juga disertai aktivitas di setiap akhir ceritanya. Anak-anak dijamin pasti akan suka.
Kalau untuk isi ceritanya sih tidak perlu diragukan lagi ya, penuh makna dan pesan moral didalamnya. Contohnya saja seperti cerita tentang Ninan dan Ninin, si anak kembar tapi tidak sama. Ninan berambut lurus dan punya lesung pipit, sedangkan Ninin berambut gelombang. Masing-masing dari mereka juga punya kelebihan dan kekurangan yang berbeda pula. Dan yang paling menyebalkan adalah ketika dikomentari orang lain disekitar mereka, “tuuh nanin sudah bisa ini, kok ninin belum?”. Begitu pun sebaliknya.

Kejadian serupa juga sering sekali terjadi  dengan Indira dan Danesh. Meski mereka bukan kembar, tapi umur yang terpaut hanya 18 bulan ini membuat mereka terlihat nyaris sepantaran. Dan tentu saja ini jadi bahan perbandingan orang-orang setiap ketemu mereka. Kalau sudah begitu, bundanya yang harus pintar-pintar menjelaskan kalau mereka tidak lah harus sama. Dan buku ini makin mempermudah penjelasan bundanya. Karena memang tidak ada orang yang benar-benar sama di dunia ini.
Cerita lainnya adalah tentang 4 saudara laki-laki Beni, Binu, Bono dan adik kecil mereka Dio. Sudah jadi rahasia umum kalau adik kecil pasti suka sama kakaknya, tapi kakak-kakaknya menganggap adiknya terlalu kecil buat main dengan mereka. Seperti Beni, Binu dan Bono yang menganggap Dio hanya menganggu permainan mereka saja. Meski sebenarnya Dio tidak bermaksud begitu, tapi tetap saja kakak-kakak telanjur kesal dengan adiknya. Cerita ini sangat cocok sebagai media kita menjelaskan ke anak-anak terutama buat para kakak yang suka sebal dengan adiknya. Sebenarnya bagaimanapun dari hati mereka terdalam mereka itu sayang banget lho dengan adiknya. Hanya saja kadang jika kita sebagai orangtua salah memberikan penjelasan yang ada malah si kakak merasa bundanya selalu berpihak dengan si adik. Jadi cerita ini bisa sangat mengajarkan betapa berharga dan beruntungnya mereka memiliki saudara.
Cerita yang tidak kalah seru adalah tentang Loli kelinci yang awalnya sangat senang karena  ditinggal sang kakak Lota ke acara kemping. Karena itu artinya dia bebas bermain tanpa harus mengikuti aturan si kakak. Dia bisa bermain boneka kakak tanpa harus minta izin terlebih dahulu, bisa bermain masak-masakan tanpa harus rebutan siapa yang jadi koki, dan juga bisa main ayunan sepuasnya tanpa harus gantian. Tapi justru ada perasaan aneh saat Loly memainkan itu tanpa kaka. Harusnya ini adalah permainan yang  seru tapi kok jadi terasa kurang menyenangkan ya. Waduh kira-kira perasaan apa yang muncul itu?

Cerita selengkapnya bisa dibaca di buku SAYANG KAKAK SAYANG ADIK ini ya. Seru-seru kan ya ceritanya? Yang diatas tadi itu baru 3 cerita lho, bayangkan ada 4 cerita lainnya yang tidak kalah serunya.

Selain alur ceritanya yang sederhana, kejadian-kejadian di buku ini juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Jadi saat dibacakan ke anak-anak mereka akan merasa 'senasib'.  Apalagi ditambah dengan ilustrasi yang sangat menarik, tidak ada alasan untuk anak-anak tidak jatuh cinta sama buku ini. Saya aja kesengsem apalagi mereka.

Naning Chandra ini adalah salah satu penulis buku kesukaan saya dan anak-anak. Sebut saja 40 karakter pemenang 1 dan 2, juga ada buku Gloob 1 dan 2 adalah judul buku Naning Chandra lainnya yang sudah setia menemani Indira dan Danesh dari saat mereka awal-awal belajar membaca, belajar Bahasa inggris  dan bahkan juga sebagai cerita pengantar tidur. Makanya saat tahu Naning Chandra mengeluarkan buku baru nya lagi, orang yang pertama paling semangat yaaa para kaka-kaka ini.
Kalau dulu mereka dibacakan oleh saya tapi sekarang mereka sudah bisa dan senang membaca sendiri. Dan inilah reaksi Indira setelah membaca buku ini:

“ Bun, cerita di buku ini persis kayak cerita kakak dengan adik danesh dan shanaz lho bun. Persiiiiis banget. Kok bisa sih?”.

Dan setelah itu dia langsung berubah jadi super manis dengan adik-adiknya. Walau pun cuma bertahan 15 menit sih, lalu kemudian rebutan lagi, berantam lagi-_____-.

Penasaran kan sama buku ini? Ayoo buruan cari di toko buku terdekat. Buku terbitan BIP ini dibandrol hanya seharga Rp 79.000,- saja lho. Selembar uang merah juga masih ada kembaliannya tuh. Murah kan? Beli yang banyak ya dan bagikan ke teman-teman dan saudara. Mari budayakan anak-anak kita biar senang membaca. Karena seperti kata poster yang selalu ada di dinding SD kita dulu bahwa membaca adalah jendela dunia.


3 comments:
Tuesday, April 18, 2017

Sahabat dari tubuh sendiri


Akhir-akhir ini isi blog saya sering sekali seputar Shanaz dan gangguan pendengarannya. Bahkan kalau dilihat ke media sosial pun sebagian besar unggahannya  juga seputar Shanaz. padahal kan profil blog ini tentang seorang ibu dengan 3 orang anak kan ya? Pembelaan saya sih karena kaka-kakanya  sekarang sibuk sekolah, jadi waktu yang tersisa bersama saya mulai sedikit. Shanaz itu sebenarnya anak ketiga dan dia punya 2 kakanya, yaitu  Indira (7 th) dan Danesh (5 th). Ketiga anak saya memang perempuan semua. Kata orang-orang itu artinya saya kaya, kaya cinta maksudnya.
Punya anak perempuan artinya kita punya sahabat dari tubuh kita sendiri. My best friend from my body.  Tapiii itu pun kalau kita bisa mendidiknya dengan benar. Bisa benar-benar menempatkan diri sebagai sahabat mereka. Ini kan masa nya mereka, ada beberapa hal tertentu dimana kita lah yang harus belajar dari mereka dan tidak sotoy.
Emang situ mau punya sahabat sotoy? Ngga kan? Sahabat yang kalau dicurhat-in bukannya jadi pendengar yang baik, tapi malah menceramahi balik, mana ceramahnya panjang ngalah-ngalahin rel kereta api lagi. Saya sih ogah punya sahabat kayak gitu. Dan nyatanya, anak perempuan kita pun sama, tidak mau juga punya sahabat seperti itu.
Ingat tidak beberapa tahun yang lalu ada sebuah film animasi yang judulnya Brave? Tokoh utama dari film ini adalah putri Merida. Inti ceritanya tentang hubungan seorang ibu dengan anak perempuannya dan bagaimana mereka akhirnya mampu menyelesaikan konflik diantara keduanya karena mau saling sama-sama belajar. Yang belum nonton gih cari DVD nya nonton bareng si anak gadis, dijamin mereka juga pasti suka. Film besutan Disney sih tidak usah diragukan lagi untuk urusan moral lesson nya ya.
Sumber gambar dari google.com

Ini salah satu putri Disney kesukaan saya dan juga kesukaan danesh. Putri tidak harus selalu girly, yang penting berani. Gara-gara film ini juga Danesh terinspirasi ingin latihan memanah katanya. Sayang bundanya belum sempat mencari tempat latihan memanah yang sesuai tapi semoga dalam waktu dekat akan realisasikan ya.
Satu hal yang paling melekat di benak saya dari film ini adalah ada kala nya sebagai ibu kita harus menurunkan ego, tidak memaksakan kehendak kita kepada si anak. Anak bukan lah wayang yang tangan dan kaki nya diikat dengan benang sehingga bisa digerak-gerakkan sesuka hati kita. Mereka adalah makhluk hidup dengan garis jalan hidupnya sendiri. Sebagai ibu kita adalah malaikat pelindungnya yang bertugas tidak hanya mengajarkannya banyak hal tetapi juga membiarkan mereka sesekali jatuh dan belajar untuk bangkit lagi.
Tapi tentu lah hidup tidak semudah bacotnya Mario -Mario bross maksudnya- yang penuh dengan teori tapi saat dijalankan ternyata sulit. Anak saya yang pertama umurnya baru 7 tahun, masih gampang-gampang susah untuk menjalin hubungan dia.
Bayangkan lagi kalau nanti dia sudah mulai belasan umurnya, lagi ngeyel-ngeyelnya, sudah mulai PMS, dan untuk kasus saya itu artinya dikali 3 karena ada 2 anak perempuan lainnya yang umurnya terpaut tidak jauh beda satu sama lain. Waah alamatnya bakal ada serangan invasi nih karena jumlah anak lebih banyak dari jumlah orang dewasa. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana kondisi rumah saya 10 tahun kedepan. *hela nafaaas panjang*
Terus solusinya gimana? Yaaa ngga gimana-gimana, kan anak saya belum ABG, jd belum bisa berbagi banyak dan saya juga bukan ahli psikolog jadi kurang paham juga solusinya apa. Lagian kan juga sebenarnya isi blog ini kan cuma curhat receh mamak doang yang tidak bisa memberikan solusi apa-apa. LOL.
Tapi mungkin yang mulai dari sekarang bisa saya lakukan adalah memupuk hubungan baik dengan si anak sejak dini. Kuncinya satu, komunikasi harus terbuka.
Contoh kasus waktu itu Indira pernah curhat katanya dia sedih kemarin salah satu temannya di sekolah meledek dia tidak bisa bilang “R”.
Indira : “Bun tadi si A ledekin kaka ngga bisa bilang R. trus dia juga marah-marah sama kaka bun”
Bunda : “Marah-marah gimana?”
Indira : “waktu itu kaka kan bercanda ngangetin dia dari belakang gitu, trus dia marah-marah sambil bilang dasar kamu ngga bisa bilang R juga”
*bunda diam sambil mikir*
Kalau lagi kurang eling mungkin responnya saya pasti akan seperti ini, “ kaka siiih bikin orang marah, kan dia jadi bete Karena kaka kagetin. Makanya lain kali jangan bercanda yang aneh-aneh lah”, tapi Alhamdulillah waktu dicurhatin Indira perut saya sudah kenyang makan pecel dan bakwan 3 potong. jadi bisa berpikir sedikit  waras. Respon saya saat itu setelah diam sejenak mikir dulu adalah,
Bunda : kaka sedih Karena diledek ga bisa bilang R ya?
Indira : (nangis) iyaa.. Bun ajarin kaka bilang R bun. Biar kaka ga diledek lagi
Bunda : ka, tiap orang itu special, punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mungkin kaka ngga bisa bilang R, tapi kaka pinter menggambar. Pinter Bahasa inggris juga. Dan lagi tau ngga kak, kalau yang ngga bisa bilang R itu kan pas ngomong Bahasa inggris aksennya jadi bagus lho kak. Kayak bule-bule gitu. Kan keren. Kalo kaka ngga suka diledekin, kaka boleh bilang sama temennya ga suka diledek seperti itu. Kalau masih diledek juga, ya udah biar aja, biar aja urusan dia dicatat malaikat. Mungkin juga dia sebenarnya ngga bermaksud meledak kaka, mungkin dia kaget saat kaka kagetin dari belakang. Coba ditanya sama temennya, kalau memang iya, jangan lupa minta maaf juga.

Beberapa hari kemudian, Indira cerita lagi kalau temannya sudah minta maaf dan dia sudah minta maaf juga. Sekarang mereka jadi teman cs, kemana-mana selalu berdua.
Hal yang paling membuat saya bahagia disini adalah bukan karena masalah terpecahkan tapi saya senang masih dijadikan tempat curhat untuk Indira. Dan itu penting. Karena dalam pergaulannya, kita tidak pernah bisa mencegah dia akan bertemu dengan siapa atau pun gesekan-gesekan apa yang akan muncul. Dan juga ngga mungkin selamanya ngintilin dia 24 jam memastikan dia tidak disakiti oleh teman-temannya. Tapi selama dia tahu persis ada bundanya sebagai tempat dia curhat, Insya Allah dia akan baik-baik saja.
Disini lah kita harus benar-benar memposisikan diri sebagai sahabatnya, bukan orangtua yang sok tahu dan menggurui. Sekali lagi, mana ada sih orang yang tahan curhat dengan orang sotoy, ya kan?
Hal lain yang juga saya lakukan sejak mereka kecil adalah menghargai pendapat dan pilihan mereka. Dan juga yang tidak kalah penting memberikan mereka kesempatan untuk menentukan pilihan mereka sendiri. Contohnya seperti  dari kecil saya selalu membiarkan mereka bebas memilih mau memakai baju apa. Saya tidak pernah mengambilkan atau menyediakan baju untuk mereka dari lemari. Paling yang saya lakukan adalah memberitahu jika pilihan mereka kurang tepat, kalau pun ngeyel ya sudah konsekuensi mereka tanggung sendiri.
Dulu pernah waku kita masih berdomisili di Jakarta dan suatu hari mengajak anak-anak mengisi akhir pekan ke Planetarium. Lalu dari rumah Indira memilih memakai  gaun putri Elsa. Benar-benar gaun Elsa yang bahannya dari satin & kain tile gitu lho. Lengkap dengan sarung tangannya juga. Padahal saat itu kita akan naik commuter line dan dari stasiun ke TIM nya kita lanjut ojek. Sudah dijelaskan dari rumah keadaan di jalan nanti akan seperti apa, tapi dia tetap dengan pilihannya. Bisa kebayang kan gerahnya bagaimana saat itu? 

Sesampai disana benar aja keringatnya bercucuran di seluruh badan Indira, saya tawarkan untuk berganti pakain denga baju kaos dan celana panjang yang sudah saya siapkan di dalam tas. Indira pun menyambutnya dengan sukacita dan menganggap saya pahlawan sambil tidak lupa bilang, “ makasih ya bun udah bawain baju ganti untuk kaka. Maaf ya kaka tadi ngga nurut sama bunda”.
Bayangkan kalau tadi saat di rumah saat dia memutuskan pakai gaun Elsa dan langsung saya tolak mentah-mentah. Meski maksud saya baik, tapi tetap saja pasti bakal jadi perang urat antara saya dan Indira. Jadi membiarkan mereka sesekali memilih keputusan yang salah adalah hal yang perlu dilakukan juga, tapi jangan lupa selalu siap jadi pahlawan ketika mereka menyadari keputusan mereka itu salah. Kalau sudah begitu semoga saja lama-lama mereka akan menobatkan kita sebagai penasehat pribadi dalam mengambil setiap keputusan mereka tanpa harus jadi ibu yang reseh yang selalu ingin ikut campur urusan anaknya. cerdas kan? *senyumpenuhkemenangan
Meski saya sadari apa  yang saya alami ini masih jauh dari konflik sebenarnya, bahkan seujung kuku pun tidak ada apa-apanya, tapi saya Insya Allah sudah siap batin. Semakin mereka besar tentu lah konfliknya akan semakin komplek. Dan ini tidak akan mungkin bisa dihindari.
Belum lagi perkembangan zaman yang kita tidak akan pernah tahu 10-20 tahun lagi dunia ini bakal secanggih apa, tapi selama tidak pernah berhenti belajar dan mau terus tumbuh dan berkembang bersama mereka, semua pasti akan terlewati dengan baik. Hp saja perlu di-upgrade, masak kita sebagai orangtua masih begini-begini saja. Saya yang sekarang sebagai ibu dari anak 7 tahun tentu tidak akan relevan  lagi untuk 10 tahun kemudian. Saya harus meng-upgrade diri saya menjadi seorang ibu dari anak 17 tahun. Baru lah nati semuanya akan berjalan dengan lancar, Aamiin..






3 comments:
Monday, April 10, 2017

Terapi AVT untuk anak Tuli

Hari ini saya akan berbagi tentang apa itu terapi AVT.  Seperti biasa sebelum dimulai yang ingin selalu saya garis bawahi adalah tulisan ini bukan lah pendapat dari ahlinya, ini murni dari sudut pandang orangtua yang anaknya mengalami Profound Hearing Loss. Yang baru mampir kemari, saya kenalkan kembali, anak saya bernama Shanaz, statusnya kanan 85 db dan kiri >110 db. Saat ini Shanaz menggunakan alat bantu dengar di kedua kupingnya.


AVT adalah singkatan dari Audio Verbal Therapy atau beberapa orang juga menyebutnya terapi mendengar. Karena memang dalam terapi ini yang dititik beratkan adalah proses mendengarnya bukan bicara. Itu lah kenapa terapi AVT sangat bertolak belakang dengan terapi wicara.

Masih kental di ingatan saya setelah shanaz dibacakan hasil BERA yang menyatakan dia Tuli Sensorineural Derajat Sangat Berat dan kemudian dokter THT nya menyarankan untuk membeli alat bantu dengar. Lalu setelah itu disarankan juga untuk melakukan skrining ke klinik tumbuh kembang anak. Saat itu dalam bayangan saya setelah ini Shanaz akan terapi wicara. Toh tujuan utamanya adalah menyelamatkan verbalnya, jadi tentu yang harus dilakukan adalah terapi wicara, ya kan? Tapi kemudian saya kaget ketika saya di klinik tumbuh kembang & dokter anaknya bilang " Bu, Shanaz butuh terapi AVT. Tapi disini (Pekanbaru, red) tidak ada terapi itu jadi ibu harus usaha sendiri atau ibu bisa terapi mandiri di rumah"

Duaaarrr hati saya seperti kesambar petir saat mendengar penjelasan itu. Saya bahkan sampai tawar menawar ke dokternya minta diterapi wicara juga ngga pa-pa lah, tapi kata dokternya kalau tidak dioptimalkan mendengarnya dulu percuma diterapi yang lain.

Seperti biasa, saya galau lagi. Shanaz sudah pakai alat bantu dengar saat itu, tapi dia tidak diterapi apa-apa. Waduuh gimana ini ya? Saya benar-benar tidak punya gambaran terapi mendengar itu seperti apa. Saya coba cari di mesin pencari tapi hasilnya tidak ada yang benar-benar menggambarkan AVT itu apa.

Sampai kemudian saya menemukan iklan seminar tentang menangani Pendekatan Audio Verbal Therapy (AVT) dalam penanganan Gangguan Pendengaran yang diselenggarakan oleh Medel dan Yayaasan Rumah Siput Indonesia. Saat itu yang jadi pembicaranya adalah ibu Eka Kurnia Hikmat, S.Psi dari Rumah siput dan DR. Dr. Semiramis Zizlavsky, sp. THT-KL (K). Seminar ini ternyata Roadshow di beberapa kota & beruntung Pekanbaru salah satunya. Tanpa babibu saya langsung menelpon dan mendaftarkan diri untuk ikut seminar itu.

Dari seminar ini saya mendapatkan pencerahan tentang apa itu AVT. Isi seminarnya sudah pernah saya tulis disini. Silahkan di klik untuk isi selengkapnya.

Tantangan selanjutnya adalah terapi AVT tidak ada di dalam kota. Tapi hey banyak jalan menuju Roma, ya kan? Singkat cerita sampai saat ini Shanaz mendapatkan kesempatan untuk bisa ikut terapi AVT meski dengan pengorbanan  yang tidak sedikit. Tapi itu sepadan dengan hasilnya. Umur pendengaran shanaz baru 3 bulan, tapi Alhamdulillah dia sudah sangat sadar suara. Dia juga sudah bisa meng-vokalisasi beberapa kegiatan seperti saat makan dia sebut namnamnam dan baru-baru ini shanaz bisa menyebut toktoktok sambil tangan mengetuk benda yang ingin dibukanya (misalnya pintu atau pun kotak).

Konsep dari terapi AVT ini adalah mendengar, mendengar dan mendengar. Bukan berbicara. Memang ada beberapa kasus terapi AVT dibarengi dengan terapi wicara, tapi jika dilakukan sejak dini & tidak ada masalah dengan struktur oral, kognisi dan lain sebagainya, bukan tidak mungkin dia tidak butuh terapi lain selain AVT ini saja.

Banyak yang mengeluh katanya AVT ini hanya untuk kaum tertentu karena AVT ini harganya mahal, hanya ada di kota besar jadi sulit dijangkau. Tapi tahu tidak bapak & ibu hebat, ada satu terapis yang siap melakukan terapi ini tanpa dibayar, terapis bersertifikat tertinggi langsung dari yang Maha Pemilik Kehidupan, terapis yang dijamin sangat cocok dengan anak kita. Terapis itu bernama orang tua.

Yup, kita lah yang harus terus melakukan terapi ini setiap saat di rumah. Seperti yang saya sebut diatas, inti terapi ini adalah si anak mendengar mendengar dan mendengar. Dan itu artinya kita sebagai orangtua harus bicara bicara dan bicara. Jangan dulu berharap si anak langsung bias menirukan suara yang kita ajarkan, tapi teruslah untuk mengisi berbagai kosakata dengan membahasakan setiap hal yang dia lakukan.

Memang harus ada beberapa teknis yang harus dipelajari dan berikut saya coba berbagi beberapa teknis yang saya dapat dari belbagai seminar tentang AVT yang pernah saya ikuti, termasuk salah satu nya beberapa hari lalu secara 'keroyokan' komunitas orangtua yang memiliki anak Tunarungu di Pekanbaru baru saja mendatangkan ibu Sinta Nursimah untuk mengajarkan praktek AVT
  • Ada yang namanya ear shoot, yaitu jarak bicara antara kita dengan telinga anak. Kenali ear shoot si anak. Jika dia membutuhkan ear shoot yg pendek misal hanya 20 cm, maka bicara lah di samping kupingnya tidak lebih dari 20 cm. Pelan-pelan jaraknya coba dinaikkan sedikit demi sedikit.
  • Tidak berteriak. Bicara terlalu keras hanya membuat huruf-huruf konsonannya menjadi hilang. Misalkan kita ingin mengajarkan kata 'makan', jika kita berteriak maka yang terdengar oleh si anak hanya lah huruf vokalnya saja 'a-an', M dan K nya menjadi hilang. Cukup bicara dengan suara standar saja, biar lah tugas alat bantu dengarnya saja yang mengeraskannya.
  • Bicara dengan intonasi. Gunakan intonasi saat berbicara dengan anak kita, tapi jangan berlebihan, sewajarnya saja. Karena mereka paling cepat menangkap suara dengan nada. Itu lah kenapa bernyanyi adalah kegiatan wajib dalam terapi AVT.
  • Bahasakan setiap hal yang dia lakukan. Apa pun itu. Karena ini adalah masa-masa saat dia harus mendengar, mendengar dan mendengar. Jadi mari bicara sebanyak-banyaknya.
  • Jangan patah semangat ketika si anak terlihat cuek dan masih belum mengeluarkan satu kata pun, padahal kita sudah sangat cerewet. Otak anak seperti spon, saat ini masanya kita memasukkan semua kata dan biarkan si anak menyerap semuanya, nanti ketika sudah penuh, akan ada waktunya akan dikeluarkan apa yang sudah didengarnya. Jadi tetap semangat ya.
  • Terapi tidak selalu harus dilakukan dengan duduk tenang, tangan dilipat di meja dan terapi pun dimulai. Yang tahu persis  si anak adalah kita orangtua nya sendiri. Jika dia anak yang aktif terapi bisa dilakukan sambil bermain bola misalnya.
    " ini bola. Mama tendang bola ke gawang ya. Bola nya besar, warnanya merah".
    Yang harus diperhatikan adalah pastikan alat bantu dengar berfungsi dengan baik, tidak ada suara-suara lain yang mengganggu dan jangan lupa dengan earshoot tadi.
  • Di dalam terapi AVT yang dihabilitasi mungkin hanya si anak, tetapi seluruh keluarga. Seluruh keluarga harus ikut serta dalam berinteraksi sehari-hari dengan si anak menggunakan metode AVT ini.
  • Tidak hanya itu di dalam AVT juga ada istilah sabotase terapi, yaitu menyabotase hal-hal yang disuka dengan tujuan agar dia 'terpaksa' mendengar apa yang kita ingin ajarkan. Contohnya jika si anak suka bersepeda, kita bisa menggembok sepedanya, ketika dia meminta buka, disaat itu lah kita bisa memasukkan kata-kata baru dengan cepat (karena saat itu si anak lagi punya perhatian penuh dengan kita berharap gemboknya dibuka
" oooo sepedanya dikunci ya? tunggu ya, mama cari kuncinya dulu. Tadi kuncinya mama disimpan di sebelah kanan, tapi kok tidak ada ya? mungkin ada di sebelah kiri di dalam plastik warna merah. yuk kita lihat yuk".
Tentunya sebelumnya kita sudah benar-benar menyiapkan kunci tersebut ada di dalam kantong merah di sebelah kiri tersebut.


Yang ingin saya tekankan di tulisan ini adalah bahwa kita semua sama. Jadi jangan mengkotak-kotakkan si A mampu AVT, si B tidak. Apalagi sampai berkecil hati. Tidak ada kasta diantara kita semua. Kita semua diberi amanah yang sama oleh Yang Maha Kuasa, itu artinya kita semua mempunyai kemampuan yang sama. Hanya jalannya saja yang berbeda-beda, tinggal kita mau belajar atau tidak. Dan jangan lupa, selalu banyak jalan menuju Roma, ya kan?
3 comments: