BAGAIMANA PRAKTIK AVT DI RUMAH UNTUK ANAK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN

Sumber foto : dokumentasi Med-el
Hari Sabtu, 23 November 2019 kemarin saya mengikuti seminar parent sharing yang diselenggarakan oleh Med-el Indonesia di Hotel ibis Style T.B Simatupang, Jakarta. Pembicara kali ini adalah Ibu Sinta Nursimah, praktisi Avt senior, sekaligus pendiri Yayasan Aurica Surabaya. Selain itu ada juga Bapak Gutomo atau yang lebih akrab dipanggil bapak Omo, Suami ibu Sinta yang juga ikut menjelaskan sepintas tentang anatomi pendengaran dan syaraf pendengaran. 

Ibu Sinta dan Bapak Omo juga memiliki anak dengan gangguan pendengaran yang verbalnya sudah sangat baik. Sri Andiani namanya atau biasa dipanggil mba dian. Mba Dian ini sudah menyelesaikan S1 psikologi nya dengan status cumlaude lho. Woow hebat ya. 

Mereka berdua adalah tokoh orangtua yang menjadi panutan saya atau bahasa anak jaman sekarang adalah goal relationship banget. Bagaimana tidak mereka berbagi peran dalam mencari ilmu, Ibu Sinta mendalami AVT, bapak Omo mempelajari audiologinya. Klop sekali, yang satu belajar strategi, yang lainnya belajar teknis.

Kemarin tema yang diangkat adalah tentang bagaimana praktik AVT di rumah. Sebenarnya ini bukanlah seminar pertama yang pernah saya ikuti bersama ibu Sinta. Sebelumnya saya juga pernah ikut sekitar 3 tahun lalu saat saya masih berdomisili di Pekanbaru. Pernah saya ulas singkat juga di postingan saya yang lalu. Tapi tentu tidak ada salahnya mengulang biar ilmunya lebih mentok kejedok kalau kata ibu Sinta kemarin:).

Yang pertama akan dibahas adalah, apa itu AVT? Secara bahasa AVT adalah akronim dari Audio Verbal Therapy, yang artinya sebuah terapi dengan mengutamakan pendengaran. Bukan hanya sekedar bisa dengar (hearing) tetapi juga mampu mendengarkan (listening). Terdengar sama tapi sesungguhnya kedua kata itu bermakna beda sekali. Nanti akan kita bahas lebih lanjut di bawah ya.

Ada 3 aspek yang sangat mendukung AVT itu berjalan dengan lancar.  Pertama si anak harus menggunakan teknologi  mendengar secara optimal. ABD maupun CI keduanya adalah alat berteknologi mendengar dengan fungsi yang sama  tetapi ditujukan untuk orang yang berbeda. Rumusnya alat bantu dengar hanya mampu menjangkau 50% dari ambang batas dengar dari gangguan pendengaran si anak.

Jadi jika si anak memiliki ambang batas dengar 100 dB maka abd hanya mampu membuat anak bisa mendengar sampai 50 dB. Apakah 50 dB itu cukup? Dalam percakapan sehari-hari biasanya ambang dengar yang dibutuhkan sekitar 30-40 dB. Hal ini dikenal dengan speech banana. Silahkan diukur sendiri alat berteknologi mendengar anak kita sudah mampu mendengar sampai titik mana ya. Berikut saya kasi gambar detailnya ya
sumber gambar dari internet


Kedua yang juga memberi peran penting dalam AVT adalah Habilitasi keluarga. AVT bukan hanya sekedar mengantar anak terapi dan berakhir sampai sesi selesai. AVT yang baik justru yang diaplikasikan sehari-hari di rumah dengan metode open set. Apa itu open set? Open set lawan kata dari Close set. Jika Close set bermakna tertutup dengan satu tema tertentu (yang biasanya dilakukan di sesi terapi anak belajar dengan satu tema tertentu), maka Open set adalah tidak ada batasan tema. Natural yang terjadi sehari-hari di rumah saja. Misalnya saat hendak makan, saat hendak berjalan-jalan sore di taman, atau apapun lah yang sedang dikerjakan di rumah dibahasakan dengan strategi AVT yang ada.

Dan yang ketiga yang juga sebagai unsur utamanya adalah AVT menggunakan pendengaran sebagai media utamanya. Bukan hanya mendengar (hearing) tetapi juga mendengarkan (listening). Apa sih beda keduanya?

Saya berikan contoh ilustrasinya ya

Ilustrasi I : Ani baru saja menggunakan alat berteknologi mendengarnya. Sejak menggunakan alat, Ani jadi menoleh setiap namanya dipanggil, mendengar ketika ayam berkokok, dan juga kaget ketika ada suara klakson kenderaan bermotor di jalan. Dia mendengar semua sumber suara tersebut (hearing), tetapi belum paham makna dari semua suara yang didengarnya (listening). Ini disebut tahap sadar bunyi.

Ilustrasi II : Eko sudah setahun menggunakan teknologi mendengar dan dihabilitasi dengan cukup baik juga. Eko paham ketika diberi intruksi lebih dari 2 kata, misalnya : Eko tolong ambil mobil warna merah bukan warna biru. Dia tidak hanya menoleh jika ada suara ayam berkokok atau pun suara klakson motor tapi juga mampu membedakan kedua suara tersebut. Dia tahu suara berkokok bersumber dari ayam dan suara klaskon bersumber dari kenderaan bermotor. Ini yang disebut mendengarkan (listening), bukan hanya sekedar sadar bunyi tapi juga paham konsepnya.

Sampai disini paham ya beda nya bisa mendengar(hearing) dengan mampu mendengarkan (listening)..

Ketiga hal itu lah fundamental dari AVT. Sudah melakukan ketiganya? Maka artinya kamu sudah melakukan AVT. Meskipun sebenarnya AVT tidak lah sesederhana itu. Ada strategi-strategi yang harus dilakukan, ada tahapan-tahapan yang harus dilewati dan lain sebagainya.

Menurut ibu Sinta kemarin modal yang paling utama yang harus dimiliki orang tua adalah orang tua harus punya pemahaman tentang Milestone si anak. Dengan demikian orang tua bisa menyadari anaknya sudah berada diposisi mana, sudah di jalur yang tepat atau belum. Dan kalaupun ternyata ada hal-hal lain yang mengalami gangguan dapat diselesaikan dengan baik se-segera mungkin. Orang tua selalu merupakan observer terbaik anak. Amati, cocokkan dengan milestone, jika ada yang salah baru diskusikan dengan profesional terkait. 

Selanjutnya bu Sinta juga memaparkaan apa saja sih yang menjadi target yang harus didapatkan si anak ketika dia sudah ter-intervensi dengan alat teknologi mendengar , berikut skema nya :

Stage 1, pemakaian alat 1-2 bulan anak harus mampu sadar akan bunyi
Stage 2, pemakaian alat 2-5 bulan anak harus mampu membedakan suprasegmental dan asosiasinya
Stage 3, pemakaian alat 6-9 bulan anak harus mampu membedakan segmental dan asosiasinya
Stage 4, pemakaian alat 9-12 bulan anak harus mampu mengidentifikasi berbagai suara dan memori audiotori
Stage 5, pemakaian 18 bulan keatas anak harus mampu mengolah dan memahami bahasa.

Tujuan utama AVT bukan hanya mendengar dan berbicara tetapi lebih dari itu yaitu meng-optimalkan kemampuan otak. Sebuat riset mengatakan ketika seorang bayi diajak berbicara terus menerus yang terstimulasi bukan hanya bagian auditori nya saja, tetapi juga mencakup lainnya termasuk emosi ataupun interaksi sosialnya.
keterangan gambar : beginilah kondisi bayi jika terus diajak berbicara, bagian otak yang 'menyala' bukan hanya auditori saja
Itulah kenapa semua perkembangan anak wajib dilihat satu persatu. Karena justru yang paling sering luput adalah ketika ada  gangguan penyerta lainnya dengan skala ringan yang indikasinya nyaris tak terlihat kasat mata tapi ternyata berefek cukup besar pada hasil akhirnya.  (baca postingan saya sebelumnya tentang gangguan sensori disini).

Tujuan lain dari AVT yang tak kalah pentingnya yaitu menutup jarak antara umur biologis dengan umur pendengaran.

Tahukah kamu kalau anak yang tidak memiliki gangguan pendengaran itu sudah mendengar sejak umur 16 minggu di perut ibunya? Jadi kalaupun  anak yang terlahir tidak bisa mendengar sudah di-intervansi alat bantu dengar  sejak hari pertamanya lahir (walau ini hampir tidak pernah terjadi sih, karena butuh beberapa observasi lebih lanjut sebelum anak didiagnosa Tuli kongenital) tetap saja anak tersebut sudah terlambat 20 minggu dari umur biologisnya. Apalagi jika kita baru mengetahui anak kita tidak bisa mendengar saat si anak berusia 1 tahun, 2 tahun atau bahkan 3 tahun.
sumber gambar : www.verywellfamily.com

Jarak antara umur biologis dan umur pertama sekali dia menggunakan alat berteknologi mendengar inilah yang harus segera dikecilkan, akan lebih baik lagi jika bisa hilang sama sekali. Disitulah peran AVT dengan semua strategi-stareginya yang menunjang si anak agar bisa mendengar dengan optimal.

Nah yang terakhir yang dibahas adalah apa saja sih yang harus selalu di-evaluasi dalam menentukan target ? Ada 6 poin utama yang harus selalu diperhatikan.

Pertama, Audisi. Di poin ini yang harus diperhatikan adalah apakah anak sudah bisa 6 suara ling, baik deteksi, identifikasi juga imitasi atau anak sudah bisa memahami kata dalam kalimat, seperti vokal dan suku kata berbeda (misalnya bis vs kereta api),  ataupun kata dengan konsonan sama tetapi vokal berbeda (buka vs buku) dan juga kata yang memiliki pengucapan yang mirip tetapi makna berbeda (satu vs sapu). Perhatikan juga apakah anak sudah mampu auditory memori baik 1 item, 2 item dan seterusnya.
sumber gambar Yayasan Aurica

Poin kedua yang harus diperhatikan adalah bahasa. Perkembangan bahasa apa saja yang sudah dimiliki si anak? Kata benda, kata kerja,kata preposisi (atas-bawah-kanan-kiri), kata sambung(dan-atau-karena), kata negatif (bukan – jangan dst) dan juga kata tanya (apa-siapa-kenapa). Lebih baik lagi jika semua kata-kata yang sudah dimiliki si anak dicatat dengan baik, sehingga akan mudah untuk menelusurinya.


Poin ketiga adalah berbicara. Di awal pemakaian alat berteknologi mendengar biasanya anak hanya mendengar suara suprasegmental alias yang bernada saja. Makanya sangat penting diawal-awal periode ini berbicara dengan anak menggunakan irama agar mudah dipahami . Jadi jika diawal si anak hanya paham suara ibu tetapi tidak suara yang lain, itu wajar saja. Tapi diumur tertentu anak harus sudah mampu mengucapkan huruf vokal, konsonan, diftong, gabungan vokal dan juga gabungan konsonan.

Poin keempat yang juga harus selalu diperhatikan adalah skala perkembangan anak. Seperti yang disebut diatas AVT tidak hanya auditori dan verbal saja, tetapi juga cakupannya masuk ke semuanya, diantaranya kognisi, artikulasi, emosi/interaksi sosial dan juga motorik. Jika salah satu tidak terstimulasi dengan baik, tentu akan menghambat ke perkembangan berbicara anak. Menurut bu Sinta hal ini yang kerap sekali rancu apakah si anak benar-benar mengalami gangguan perkembangan lainnya atau itu hanya dampak dari pendengarannya yang belum terstimulasi dengan baik (karena baru memakai alat bantu dengarnya). Disinilah komunikasi 2 arah antara orangtua dan pelaku profesional (terapis, audiologist, dokter tht dan bahkan dokter tumbuh kembang anak) sangat penting.
sumber gambar dari internet


Poin kelima yaitu kognisi. Perhatikan bagaimana perkembangan kognisi anak, apakah dia mampu bermain sortir warna, konsep angka, konsep warna, konsep bentuk, mencocokkan lawan kata (besar vs kecil, kering vs basah), urutan, dan lain sebagainya. ini cukup penting, karena bahasa akan bisa terbentuk dengan baik jika kognisinya sudah berdiri dengan kokoh juga.

Dan yang terakhir poin keenam yang harus diperhatikan  dan juga sekaligus sebagai tujuan akhirnya adalah komunikasi. Perhatikan bagaimana kontak mata si anak, apakah dia mampu berbicara bergantian dengan temannya, tahu bagaimana etika berkomunikasi, memiliki skill memulai percakapan dan juga apakah si anak memiliki kemampuan Repair Strategi, yaitu suatu keahlian si anak untuk mampu meminta ulang atau berusaha mencari informasi jika tidak paham dengan lawan bicaranya (misalnya jika dia sudah masuk lingkungan sekolah dan tak paham yang ibu gurunya bicarakan, si anak harus mampu dan berani meminta guru tersebut mengulang informasinya dengan mengatakan: “maaf ibu saya tidak paham ibu bicara, bisakah ibu mengulangnya berlahan?”.

Lalu bagaimana jika ke-6 poin tersebut ada yang belum dimiliki anak kita? Justru itu lah pr yang harus terus kita evaluasi. Tanyakan kepada terapis program jangka pendek maupun jangka panjang apa yang harus dilakukan.

Setiap anak punya karakter yang berbeda-beda, kemampuan yang tak sama juga, jadi tidak perlu membandingkan perkembangan anak kita dengan anak lain tapi yang paling penting pastikan si anak sudah berada di jalur yang tepat. Karena ingat pendengaran itu bukan hanya telinga yang bekerja tetapi juga otak keseluruhannya.

Insya Allah kita semua pasti akan dimudahkan jalannya mendapat yang terbaik ya. Doa terbaik saya untuk semua orangtua yang sedang berikhtiar untuk anak-anak terhebat ya.
Selfi bersama ibu Sinta. Terimakasih untuk ilmunya ibu ♥️


Share:

MENGAPA INTEGRASI SENSORI PENTING UNTUK PERKEMBANGAN ANAK?


sumber gambar : www.freepik.com 
Tahukah kamu jika setiap orang berpotensi mengalami gangguan integrasi sensori? Tidak hanya anak berkebutuhan khusus saja, tapi semua, bahkan manusia dewasa sekali pun.

Kalau kalian hampir selalu menumpahkan cairan saat menuangkannya  ke dalam botol tanpa bantuan corong, itu adalah tanda motorik halus kalian tidak begitu baik. Pernah merasa terganggu dengan label merk baju yang ada di kerah? Itu pun artinya kalian punya masalah dengan taktil (peraba).

Hanya saja bedanya untuk orang-orang yang tidak punya masalah apapun Allah sudah menciptakan kemampuan otak sedemikian rupa sehingga kita mampu memproses dengan baik jika terjadi hal-hal tersebut. Nah kemampuan tersebut yang tidak ada atau butuh di-asah ekstra oleh mereka yang memiliki kebutuhan berbeda dengan kita pada umumnya.

Kenyataannya ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memiliki gangguan sensori, diantaranya kurang stimulasi, pola asuh yang buruk dan gangguan bawaan lahir. Saya tidak akan bahas 2 aspek pertama, tapi mari kita bicara tentang aspek ketiga.

Dan seperti biasa, sebelum saya mulai menulis tentang itu, ingat lah apapun yang saya tulis disini adalah murni pendapat pribadi berdasarkan pengalaman yang saya alami dengan Shanaz. Selain itu ditambah dari pengetahuan-pengetahuan umum yang didapat dari buku, seminar yang saya ikuti bahkan dari saling curhat dengan sesama orang tua yang bernasib sama.

Ini bukan lah pendapat profesional, saya tidak berlatar belakang ahli medis, psikologi dan sejenisnya. Ini murni pendapat amatir dari seorang ibu yang senang berbagi saja. Silahkan bantah atau menambahkan jika ada yang salah dari tulisan ini, ok?

sumber gambar : www.freepik.com
Pertama sekali yang akan saya paparkan adalah, apa itu integrasi sensori dulu? Teori integrasi sensori ditemukan oleh Dr. Jean  Ayres, seorang terapi okupasi asal Amerika, ahli psikolog pendidikan dan juga advokat pribadi bagi orang-orang berkebutuhan khusus (profil lengkapnya bisa dilihat disini ).

Sederhananya menurut Dr. Ayres integrasi sensory adalah suatu kemampuan seseorang dalam menerima berbagai macam sensori yang ada, memproses sensori tersebut, memahaminya lalu mempresentasikan dalam bentuk perilaku. Kenapa saya menebalkan sekaligus menggaris bawahi kata ‘perilaku’?. Karena ini lah kata kuncinya.   

Anak-anak yang mengalami gangguan integrasi sensori acap kali dianggap nakal dan tidak bisa diatur, padahal yang sebenarnya adalah karena keterbatasan kemampuan dia untuk mengolah sensori tersebut yang membuat perilakunya berbeda dengan yang disebut orang ‘anak baik’.

Masih menurut ibu Jane, kemampuan integrasi sensori ini bersifat plastisitas alias mampu berubah dan mampu dibentuk. Dan seorang anak dianggap memiliki kematangan sensori seutuhnya diumur 6 sampai 7 tahun. Jadi makanya jangan terburu-buru untuk melabeli anak dengan diagnosa terterntu. Adakalanya karena umurnya saja yang memang masih dini. 

Lalu kapan kita mulai cemas? Ketika si anak sudah  off track, tidak sesuai dengan milestone yang seharusnya, saat itu lah kita mulai bisa mencari bantuan profesional.

Berdasarkan seminar yang pernah saya ikuti, ada 4 fase dimana seorang anak bisa berkembang integrasi sensori dengan baik, yaitu :
  •  Fase pertama, saat awal-awal kehidupannya sebagai manusia, terutama ketika terjadi bonding yang erat antara ibu dan anak. Kesempatan emas ini bisa didapat salah satunya saat proses menyusui. Dari segi posisi, kelekatan semua sangat mendukung untuk membantu mengembangkan integrasi sensorinya
  •  Fase kedua, ketika anak sudah mulai merasakan emosi dan  mampu mengendalikan setiap emosi yang ada. Di fase ini pola asuh cukup berperan. Fase ini biasa dianggap juga sebagai building block  dari stabilisasi emosi
  •  Fase ketiga, di fase ini auditori dan vestibular (keseimbangan) anak sudah mampu berkembang dengan baik. Kenapa auditori dan vestibular berkaitan? Karena seperti kita tahu, vestibular letaknya ada di telingan bagian dalam. Dan ini lah masalah utama anak saya. Sebagai anak yang terlahir dengan gangguan pendengaran tentu ini berdampak banyak terhadap perkembangan integrasi sensorinya.
  •  Fase keempat, pada fase ini sudah masuk kedalamnya kemampuan bersosial si anak. Bagaimana dia mampu berinteraksi dengan teman sesamanya, menyelesaikan masalah, intersosial, intrasosial dan lain sebagainya.

Jika semua fase tersebut dapat dicapai seutuhnya maka bisa dipastikan si anak akan tumbuh dengan baik tanpa masalah apapun.

Tapi kenyataannya adalah di zaman berteknologi canggih seperti sekarang ini, anak sudah kehilangan kesempatan berkembang integrasi sensorinya sejak dari fase pertama. So sad but its true :(

So what you have to do? Simple sis, just play with ur kid. Bermain dan bermain lah dengan anakmu. Ibu adalah dunia bagi anak-anaknya. Maka jadilah dunia yang menyenangkan. 

Makna bermain sama anak itu bukan hanya mengajak anak ke tempat bermain di pusat perbelanjaan, dimana anak bermain sepuasnya, lalu ibunya di sisi sudut sambil bermain ponsel (sesekali swadaya foto dan unggah ke media sosial). Nope, bukan itu sis.

Bermain bersama anak tidak harus mahal kok, bawa dia ke halaman depan saja anak sudah senang. Rasakan sensasi jalan di rumput tanpa sandal misalnya atau yang paling sederhana dan tidak butuh usaha besar bacakan saja anak buku sebelum tidur. Gampang kan?

Lalu bagaimana kita bisa menyadari jika si anak sudah mengalami gangguan integrasi sensori? 

Ada banyak sekali sebenarnya ciri-ciri untuk itu, salah satunya adalah ketika dia menolak bermain dengan playdough, pasir atau bahkan lem. Ketika dia tidak nyaman dipeluk, suka menggigit jari dan tangan. Ataupun ketika dia suka berguling di lantai dan sering menutup telinganya. Untuk lebih lanjut silahkan cari di internet artikel-artikel mengenai ini ya, akan lebih baik lagi jika langsung berkonsultasi dengan ahli terkait.
sumber gambar : www.freepik.com


Pada akhirya gangguan integrasi sensori ini akan berpengaruh kepada aspek tertingginya yaitu, aktifitas sehari-hari, pembelajaran akademik dan perilaku. Yup seperti saya bilang diawal ketika si anak tidak bisa memproses sensori yg ada pada tubuhnya maka pasti akan berbanding lurus dengan perilakunya.

Mungkin  kalian ingat saat bersekolah dulu selalu saja ada satu anak yang tidak bisa diam, usil dan selalu jadi biang kerok? Itu semuanya sebenarnya adalah akibat dari sensorinya yang tidak ter-integrasi dengan baik, bukan nakal. 

Dan untuk amak-anak seperti itu seharusnya butuh metode belajar khusus, tidak bisa hanya duduk dalam kelas. Jika dipaksakan maka yang kemudian terjadi pastilah akan berhubungan dengan kemampuan akademiknya yang kemudian lagi-lagi orang akan salah kaprah dengan melabelinya ‘anak bodoh’ :(

Untuk mencegah  itu semua maka ada 3 pondasi kuat yang harus dimiliki oleh anak-anak kita, yaitu sentuhan (didapat dari sensori raba/taktil), postur tubuh (didapat dari sensori keseimbangan/vestibular) dan yang terakhir sendi (didapat dari sensori proprioseptif). 

Semua ini saling berkaitan satu sama lain. Jika ketiganya tidak terstimulasi dengan baik, maka ke atasnya juga pasti tidak akan berjalan dengan mulus. 

Berikut saya berikan gambar terkait masalah ini ya

Saat ini shanaz ada didalam tahap perseptual motor. Ini adalah tahap yang seharusnya dikuasai oleh anak umur 3 tahun, tapi mengingat shanaz baru mendengar 18 bulan lebih telat dari umur biologisnya jadi wajar jika dia terlambat dan harus sedikit struggle dibagian ini.  Saya percaya kok shanaz akan melewati semua tahap ini dengan baik. Kalau bukan saya yang percaya dengan dia, lalu siapa lagi?

Jadi kesimpulannya adalah buat  para ibu  dan calon ibu yang sedang baca tulisan ini, yuk jangan berhenti belajar. Gali terus ilmu yang ada. 

Buku adalah jendela dunia itu benar adanya kok. Dari buku kita bisa melihat apa saja yang kita ingin lihat. Percaya lah saya pun bukan orang yang pintar sebenarnya, saya hanya orang yang tidak berhenti belajar, itu saja :)











Share:

Sugar Rush pada anak, benar terjadi kah?

Hari ini saya ingin bercerita ttg sugar rush yg terjadi pada Shanaz. Tadi malam sebelum tidur shanaz jumpalitan ga jelas arah. Pdhl biasanya kalau sudah dimatikan lampu, masuk kamar, bengang bengong sendiri, pasti ga lama akan tidur. 

Pas diingat-ingat lagi, td pagi dia makan roti coklat 2 tangkap, sore makan es krim milo, trus dr abis magrib sampai mau bobo nth brp x bolak balik makan pisang barangan. Udah kelar lah urusannya itu 😣.

Memang sih sampai detik ini belum ada penelitian ilmiah yg membuktikan bahwa sugar rush itu benar-benar ada. Hal tsb sebenarnya tidak sepenuhnya benar dan tdk sepenuhnya salah juga.

Imho pada dasarnya gula adalah karbohidrat sederhana yang mudah diolah dalam tubuh manusia dan diubah menjadi energi. 

Secara alamiah sebenarnya tubuh kita sudah diciptakan sedemikian kompleks sehingga mampu menurunkan kadar gula darah yang tinggi  dengan cara memproduksi insulin. Semakin tinggi kadar gula darahnya semakin banyak insulin yg diproduksi, sehingga kadar gula darah mampu turun secara drastis. 

Nah penurunan yg secara drastis ini bisa menyebabkan tubuh menjadi lemas & otak mengirim sinyal bahwa tubuh membutuhkan  asupan energi (biasanya jadi ingin mengonsumsi gula/manis2 lagi), jd yaa muter aja gitu terus skemanya. 

Justru inilah yang sebenarnya harus lebih ditakutkan dari mengkonsumsi gula berlebih yaitu takut terjadinya resistensi insulin (monggo digoogle untuk info lebih lanjut lagi).

Balik lagi ke kasus sugar rush td, secara teori tentulah dpt disimpulkan bahwa ternyata sugar rush hanya lah mitos. Tetapi untuk anak dg kondisi medis tertentu teori tsb tidak benar-benar bs berlaku. 

Jika secara alamiah tubuh anak-anak lain mampu mengolah kadar gula darah yg cukup tinggi menjadi energi, beberapa anak dengan alasan medis tertentu ternyata tidak semudah itu. Kadar gula darah yg ada pada tubuh si anak meski dengan jumlah tak seberapa itu ternyata sulit untuk bisa diproses dengan baik. Dan tentu itu akan berakibat buruk pada si anak, misalnya seperti terjadinya gangguan konsentrasi, yg akhirnya berdampak ke perilakunya juga.

Shanaz termasuk anak yg susah sekali tidur. Pola tidurnya super kacau. Tidak pernah tidur siang, malam pun begadang. Begadangnya bukan yang cuma jam 11-12 malam, pernah dia baru tidur jam 3 bahkan jam 4 pagi. Pdhl itu kondisinya blas dia blm tidur sama sekali, bahkan  tidur sore pun ga lho.

Waktu itu salah satu terapisnya menyarankan shanaz untuk mengubah pola makannya. Kurangi sumber gula berlebihan seperti coklat, permen dll. Untuk sumber gula pada nasi, lauk pauk selama msh dlm porsi sewajarnya tidak lah masalah. Saya kemudian mencoba menerapkan saran tersebut, eeeh beneran pola tidurnya jadi lebih baik. Sekarang tidak sampai jam 10 malam dia sudah tidur (kecuali seperti tadi malam yang seharian dia bablas makan coklat dll)

Perubahan pola makan dan pola tidur ini sangat diharapkan mampu meningkatkan rentang konsentrasi shanaz dan pada akhirnya meningkatkan kemampuan belajarnya sehingga proses habilitasi bisa berjalan dengan lebih baik.

Berasa sih semanjak pola tidur shanaz lebih baik dia lebih mudah diarahkan ketika saya sedang ajak dia bermain sambil belajar. Beberapa kegiatan yg ada di pembelajaraan tempat terapi shanaz bisa dengan mudah saya ulangi lagi di rumah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa seperti yang sudah saya sebutkan diawal sugar rush itu bisa jadi mitos tetapi bs jg berakibat tidak baik untuk anak dengan kondisi medis tertentu.

Pertanyaannya adalah emang Shanaz punya kondisi medis apa sih selain gangguan pendengaran sensoneurial?.

Jujur saya pun sampai hari ini belum menemukan jawaban yang pasti. Beberapa kecurigaan tentu lah ada, tanpa bermaksud ingin melabeli tetapi menurut para profesional yg saat ini menangani kasus shanaz masih ada beberapa tahap dan observasi lebih lanjut lagi untuk bisa sampai  ke titik diagnosa. Tapi apapun itu Insya Allah saya sudah siap dan berbesar hati menerimanya. Mohon doanya untuk Shanaz agar mendapatkan yang terbaik ya oms & tantes semua.

Share:

5 strategi AVT untuk anak dengan gangguan pendengaran


Mendengar adalah kebutuhan yang paling luhur dalam diri manusia. Ketika seseorang tidak bisa melihat, namun dia masih bisa meraba dan mendengar maka informasi akan tetap sampai ke orang tersebut. Namun jika seseorang tidak mendengar, meski dia sudah melihat benda tersebut, tetap dia tidak pernah tahu nama benda tersebut apa. Itu lah kenapa akhirnya muncul terapi AVT ini.
Terapi AVT atau Audio verbal therapy adalah sebuah terapi yang sangat dianjurkan untuk anak dengan gangguan pendengaran terutama di usia dini. Sasaran utama dari terapi ini bukanlah si anak, melainkan orangtuanya. Kenapa? Karena anak dan terapis hanya bersama selama kurang lebih satu jam, paling lama 2 jam, selebihnya 23 jam lagi anak bersama orangtua di rumah. Jadi para orangtua sangat disarankan untuk mempunyai bekal yang cukup tentang ilmu AVT ini.
Banyak yang bertanya dengan saya bagaimana sih proses terapi AVT ini? Prosesnya sederhana sebenarnya, sama seperti bermain biasa dengan anak, hanya bedanya disertai pendekatan-pendekatan tertentu yang memudahkan si anak menyerap informasi secara optimal dengan menggunakan fungsi mendengarnya.
Dan di tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang beberapa pendekatan strategi AVT yang sering saya pakai saat bermain dengan Shanaz di rumah.
Oh ya sebelumnya saya ingin beritahu dulu bahwa tulisan ini dari perspektif saya sebagai orangtua dan saya bukan pelaku AVT profesional. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut maka akan dengan senang hati saya berikan rekomendasi kemana harus bertanya.
Tujuan dari tulisan ini adalah murni hanya ingin berbagi. Karena saya tahu di luar sana masih banyak sekali orang yang sulit mendapat akses untuk terapi AVT ini. Semoga apa yang saya tulis disini bisa membantu walau hanya sedikit. Bismillah..

Dan berikut 5 strategi AVT yang sering dilakukan Shanaz di rumah, yaitu :

1.       Listening first

Otak manusia bekerja secara plastis, jadi ketika salah satu syaraf tidak berfungsi maka akan dengan segera diambil alih oleh syaraf yang lain.


Secara anatomi, posisi syaraf pendengaran berdekatan dengan syaraf visual. Ini lah kenapa untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran, mereka selalu unggul dibagian visual.


Semakin lama dia di-intervensi dengan alat, maka semakin banyak syaraf pendengarannya diisi oleh visual. Jika sudah begitu akan lebih besar usaha yang dilakukan untuk membuat si anak menggunakan kembali pendengarannya.


Meski sudah menggunakan alat, anak biasanya hanya tahu jika itu ada suara, tapi mereka belum punya konsep mendengar. Dan itu lah fungsi utama AVT, melatih si anak memahami konsep mendengar.


Dalam artikel-artikel berbahasa inggris yang saya baca, disana dikatakan they can hear, but they not listening yet. Nah saya sedikit kesulitan mengartikannya dalam bahasa indonesia, karena jika diartikan keduanya sama-sama bermakna mendengarkan. Jadi dalam tulisan ini mari kita sepakati, untung hearing akan saya tulis ‘mendengar’ (dengan tanda kutip) dan untuk listening akan saya tulis mendengar (tanpa tanda kutip).


Dalam strategi listening first, yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka makna nya adalah mendengar terlebih dahulu, maka sangat disarankan sebelum menunjukkan benda atau gambarnya, selalu meminta mereka untuk mendengar dahulu.



Contoh jika ingin menunjukkan gambar gajah, maka yang bisa dilakukan sebutkan kata gajah dulu baru tunjukkan gambarnya. Karena jika dilakukan berbarengan (apalagi jika menunjukkan gambar terlebih dahulu) bisa dipastikan si anak hanya menggunakan visualnya tanpa mendengar bahwa itu gajah. 


Tentu yang kita harapkan adalah si anak mendengar dan mendapatkan informasi bahwa itu adalah gajah, bukan sekedar hanya melihat saja. Maka jika disimpulkan teknik ini adalah hal dasar dan cukup krusial yang wajib dikuasai ketika berkomunikasi dengan anak-anak dengan gangguan pendengaran.



2.       Sandwich Auditory

Kemudian pertanyaan yang muncul adalah apakah artinya anak-anak yang sedang terapi AVT diharamkan menggunakan visual sama sekali? Tentu saja tidak begitu.


Jika kita sedang mengajarkan kognisi ataupun pemahaman kepada si anak, sebenarnya tidak apa kok mengunakan semua indera, termasuk indera penglihatan (visual) didalamnya. Dan strategi sandwich auditory adalah yang paling sering saya gunakan saat mengajarkan hal yang baru ke shanaz.


Rumusnya adalah : audiotory – visual – auditory. Ini sebenarnya diadaptasi dari konsep roti lapis atau sandwich, dimana artinya adalah pertama kita menggunakan pendengarannya, lalu tunjukkan bendanya,  dan kembali menggunakan pendengarannya lagi.


Anak-anak yang murni hanya gangguan pendengaran (tanpa gangguan penyerta lainnya) biasanya punya kognisi yang cukup baik. Bahkan tak jarang kognisi mereka bisa melebihi dari umur seharusnya. Jadi jangan ragu untuk terus mengenalkan hal baru kepada si anak ya. Meski dia tidak (atau belum) merespon bukan berarti dia tak paham lho.



3.       Auditory closure

Teknik auditory closure juga termasuk teknik  yang sering saya lakukan ke shanaz. Sebenarnya bisa dikatakan banyak hal-hal yang sederhana yang sering kita lakukan dengan menggunakan teknik ini, hanya kita saja tidak menyadarinya.


Contoh saat bermain cilukba dengan si anak. Berkali-kali kita mengatakan cilukba  ke anak, lalu kemudian satu kali kita menyebutnya “ci luuuk” dan si anak menjawabnya “ba”.  Itu lah auditory closure.


Atau contoh lain, saat kita bermain dengan anak dan memulai dengan berhitung, “yuk shanaz lempar bola ini. Hitung ya. Satu... dua...” lalu si anak menjawab “(ti)ga”. Lagi-lagi kita sudah menggunakan teknik auditory closure disini.


Jika tahapannya sudah lebih lanjut, maka bisa dicoba juga dengan lagu. Misalnya nyanyikan sebuah lagu kesukaannya, lalu hilangkan satu kata dan biarkan si anak yang melengkapinya. Posisi lirik yang dihilangkan tidak selalu harus terakhir sih, bisa ditengah juga.


Tapi tentu kita fokuskan ke bagian yang paling mudah dan familiar dulu dengan si anak, karena kalau belum apa-apa sudah diberi yang susah (apalagi disalahkan) lama-lama si anak bisa ngambek dan tidak mau bermain lagi sama kita.


Kalau shanaz sendiri biasanya paling senang kalau dinyanyikan lagu cicak di dinding, lalu sampai ke lirik “datang seekor nyamuk”, dan kemudian saya diam, setelah itu biasanya dia pasti jawab “hap” sambil senyum lebar nan menggemaskan. Yes, mission accomplishedJ





4.       Sabotase

Sejujurnya saya sedikit lupa nama strategi ini apa, tapi mari kita mengarang bebas dan sebut saja sabotase ya ;-p. Tapi tenang, untuk teknik yang dipakai insya Allah cukup akurat kok. Teknik ini sangat membantu untuk anak-anak yang mulai sok gede kayak Shanaz dan tidak mau dites.


Saat ini shanaz sudah bisa mengimitasi ke 6 suara ling dengan cukup baik. Hanya saja dia sering malas ketika disuruh melakukan suara ling. Mungkin kalau dia sudah bisa ngeyel, dia akan bilang “ apa sih disuruh itu-itu melulu. Aku kan sudah bisa tauk”. Padahal kan suara ling kan cukup penting ya peranannya (nanti kapan-kapan akan saya bahas tentang ini ya).


Nah untuk mengakalinya kita bisa menggunakan strategi ini. Biasanya saya melakukannya saat dia menginginkan sesuatu, contoh dia mau makan atau mau nonton youtube, “ooo shanaz mau nonton, ok, shanaz dengar dulu” sambil tunjuk ke telinga dan langsung melakukan 6 suara ling. Percaya lah itu jurus yang cukup ampuh untuk dia mengeluarkan suaranya.



Contoh lain misalnya buat anak yang sudah lebih besar dan senang bermain sepeda. Kita bisa melakukan trik dengan mengunci sepeda nya dan meletakkan kuncinya diatas. Lalu saat dia meminta sepedanya, minta dia mengeluarkan suaranya misalnya “mau” atau “buka” baru kemudian kita membuka sepedanya.


Atau bisa juga untuk anak yang suka mewarnai dengan melakukan sabotase pensil warnanya (dipatahkan ujungnya misalnya), lalu kita ketika dia ingin pensil warnanya diraut, maka minta dia mengeluarkan suaranya dulu baru kemudian diraut. Kan kalau ada 12 pensil warna, lumayan tuh ada 12 kata yang kita suruh keluarkan.


Jadi inti sabotase ini adalah sesuaikan dengan kesukaan masing-masing si anak. Karena ketika si anak menyukai atau menginginkan sesuatu, akan sangat mudah untuk kita memintanya mengeluarkan suaranya.



5.       Thinking at same place

Menurut sebuah penelitian anak-anak dengan gangguan pendengaran harus diajak bicara minimal 1500 kata per jam. Itu semua dilakukan untuk mengejar umur biologis dan umur pendengarannya.


Dengan kata lain maksudnya adalah kita harus siap menjadi radio komentator untuk si anak. Apa pun yang sedang dilakukan atau dilihat, harus selalu dibahasakan.


Nah masalahnya saya juga termasuk yang sering kecele disini terutama ketika sedang membacakan buku untuk Shanaz. Acap kali yang sedang dilihat si anak tidak sinkron dengan apa yang kita bahasakan.


Contoh saat saya sedang membacakan buku untuk shanaz, saya sedang menceritakan tentang beruang yang sedang makan madu, tapi ternyata shanaz sedang melihat gambar matahari yang juga ada di halaman tersebut. Meski berkali-kali saya menyebut kata beruang, maka informasinya tidak akan masuk ke shanaz karena saat itu ternyata dia sedang melihat gambar matahari.



Jadi memang kita harus jeli melihat mata si anak sedang tertuju kemana, lalu kemudian kita bahasakan atau bicarakan hal tersebut. Dan itu lah yang disebut strategi thinking at same place atau berpikir ditempat yang sama.


Sebenarnya kalau dijabari lagi ada banyak sekali strategi AVT, tapi karena sekali saya tegaskan bahwa porsi saya disini  bukan lah profesional, maka saya rasa 5 strategi itu akan sangat membantu jika benar-benar diterapkan di rumah.


Saya tidak bilang saya sudah sukses dalam menyelematkan verbal Shanaz, saat ini PR shanaz masih banyak, yang harus saya kejar pun tidak bisa dibilang sedikit. Tapi tentu ketika sudah berusaha semaksimal mungkin dan menikmati setiap prosesnya, maka urusan hasil biarlah diserahkan kepada Sang pemilik kehidupan. Karena toh selalu percaya hasil tidak akan pernah menghianati usaha, ya kan?




Share:

5 Kiat Bagaimana Merawat Alat Implan Rumah Siput



Sabtu kemarin saya baru saja mengikuti seminar yang membahas tentang perawatan alat rumah siput implan koklea. Kebetulan yang mengadakannya adalah merk rumah siput yang sama yang dipakai oleh Shanaz dan bekerja sama dengan tempat shanaz terapi AVT juga.

Ada banyak sekali ilmu yang saya dapat disana. Ternyata selama ini saya termasuk salah dalam menangani alatnya shanaz. 

Ini adalah isu yang cukup krusial untuk diketahui. Terlepas dari harga spare-part nya yang mahal bila harus diganti, yang lebih disayangkan adalah waktu yang terbuang percuma saat alat rusak dan si anak terpaksa tidak bisa mendengar. Oleh karena itu jelas pencegahan jauh lebih baik daripada sudah telanjur rusak, ya kan?

Nah karena kebetulan alat yang dipakai shanaz adalah merk Med-el dengan tipe prosesornya Sonnet, maka dalam tulisan ini saya akan menulis cara merawat tipe tersebut. Tapi tentu saja secara prinsip apa pun merk dan  tipe alatnya cara menangani dan merawatnya kurang lebih sama, hanya beberapa karakter fisik tertentu saja yang membedakannya.

Yang pertama sekali harus digaris bawahi adalah alat implan koklea yang dipakai anak-anak kita ini proses kerjanya menggunakan listrik. Jadi jika tidak ditangani dengan baik, maka hal yang terburuk yang mungkin terjadi (walau sangat jarang, hanya dikasus-kasus tertentu saja) yaitu munculnya arus pendek.

Dan jangan lupa alat tersebut letaknya di kepala anaknya kita yang terhubung dengan magnet yang sudah ditanam didalam kepalanya. Jadi memang sudah saatnya kita memberikan porsi perhatian lebih untuk ini.

Berikut saya coba merangkum beberapa tips yang sudah diberikan saat acara tersebut. Semoga tulisan ini bisa membantu untuk teman-teman lain juga yang anaknya menggunakan alat implan koklea.

1.  Pastikan socket baterai dan berbagai lempengan kuning yang berada di prosesor maupun yang menyambung ke koil dalam keadaan bersih. Karena apabila kotor, itu akan berpengaruh terhadap daya tahan baterai tersebut. Semakin kotor semakin cepat daya tahan baterainya habis. Kondisi terparah akan tumbuh jamur dan membuat komponen-komponen di dalamnya patah.

Selain membuat daya tahan baterai berkurang, jika aliran listrik tidak bisa mengalir dengan baik maka akan menyebabkan kualitas suara yang didengar si anak menjadi lemah. Tentu akan sangat disayangkan disaat si anak memakai alatnya sepanjang hari, tapi ternyata dia tidak mendengar sempurna.




Nah pertanyaaan berikutnya adalah bagaimana cara menjaga agar socket dan lempengan kuningan tetap bersih dan terhindar dari jamur? yaitu dengan membersihkannya menggunakan sikat khusus atau pun cotton bud sebelum dimasukkan ke dalam pengering di malam hari.

Walaupun sebenarnya ini menjadi sedikit dilema, karena jika terlalu sering dibongkar pasang bagian rumah baterai ataupun koneksi dari  prosesor menuju ke koil (yang ini khusus untuk tipe opus, karena kalau sonnet tidak ada lempengan kuningan di bagian tersebut) maka akan menyebabkan kerusakan juga terutama jika tidak diperlakukan dengan benar.

Jadi memang sebaiknya harus diperhatikan lagi bagaimana aktivitas sehari-hari si anak. Jika si anak termasuk yang mempunyai produksi keringat berlebih, membersihkannya bisa dilakukan 2 hari sekali, namun jika usia si anak relatif masih kecil dan tidak terlalu berkeringat bisa dilakukan 1-2 minggu sekali. 

Karena memang musuh utama anak-anak pengguna alat bantu dengar baik itu implan koklea maupun abd  adalah keringat. Terutama untuk kita yang hidup di daerah tropis, sedangkan alat-alat ini (khusunya yang dipakai shanaz) itu diproduksi dari negara beriklim dingin.



2.   Khusus untuk pengguna Sonnet, yang tak kalah penting harus diperhatikan adalah sirkulasi udara yang ada di bagian tutup. Sonnet menggunakan baterai dengan metoda zinc air yang membuatnya harus memiliki ruang untuk keluar masuknya udara. Jika kalian melihat di tutup bagian samping ada titik-titik kecil, nah itu lah sirkulasi udaranya. Jadi pastikan itu dalam keadaan bersih dan tidak tertutup debu ya.




Oh ya sonnet juga mempunyai design yang unik dimana dia tidak memiliki tombol on off, melainkan ada semacam lempengan sensor di dalam tutup tersebut. Pada kasus tertentu, lama-kelamaan tutupnya bisa mengalami pemuaian atau menjadi lebih besar dari yang seharusnya. Dan itu bisa meyebabkan saat ditutup (karena ukurannya membesar) sehingga tidak pas menyentuh si lempengan sensor lagi dan akibatnya alat tidak nyala.

Maka disarankan juga untuk sering mengganti tutupnya secara berkala. Kan di dalam kotak starter kit banyak tuh tutup cadangan warna-warni, nah sering-sering saja diganti, selain biar ada nuansa baru dan juga menghindari pemuaian jika yang dipakai hanya itu-itu saja.



3. Bagian terpenting lain yang juga harus diperhatikan dalah microphone. Sonnet memiliki 2 microphone yaitu di dalam ear hook dan di badan bagian atas prosesor. Microphone ini mempunyai andil penting sebagai penangkap suara dari luar. Oleh karena itu sangat penting memastikan microphone tidak dalam keadaan tertutup apa pun agar suara yang ditangkap berkualitas jernih.

Yang paling sering terjadi microphone tertutup jamur akibat kondisi lembab terus menerus yang lagi-lagi biang keroknya adalah keringat. Lama kelamaan jamur akan meyebabkan korosi dan microphone mengalami disfungsi dari yang seharusnya.

Nah untuk membersihkannya butuh kehati-hatian yang luar biasa. Sebenarnya sih tidak dianjurkan juga untuk melakukannya sendiri. Akan lebih aman untuk melakukan kunjungan berkala ke kantor hearing center terdekat dan dikerjakan oleh yang lebih berkompeten di bidang ini. 

Tapi setidaknya ada pencegahan representatif yang bisa kita lakukan di rumah, yaitu dengan rajin membersihkan microphone menggunakan blower khusus terutama sebelum masuk pengering dimalam hari dengan tujuan untuk menghindari keringat yang tertinggal di dalamnya.



4.     Untuk pengguna implan koklea yang usianya masih kecil seperti Shanaz ini masalah yang cukup sering muncul adalah kabel yang keriting yang akhirnya menyebabkan kabel tersebut putus. Untungnya sih kabel sonnet terkenal cukup bandel, tapi walau begitu tetap harus jadi isu yang wajib diperhatikan juga mengingat harga kabelnya yang tidak bisa dibilang murah. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah saat memakai alat ke kepala si anak pastikan posisinya seperti ini :




Nah masalahnya untuk anak yang masih kecil  terutama yang yang cukup aktif  membuat posisi kabel tetap seperti ini agaknya sedikit mustahil ya. Tipsnya bisa diakali dengan memberikan sedikit plester micropore untuk merekatkan kabel dengan prosesor agar posisnya tetap U seperti gambar diatas.

Dalam kasus Shanaz masalah yang juga kerap terjadi adalah karena daun telinganya yang masih kecil, jadi prosesor sering jatuh sedangkan magnetnya masih menempel di kepala. Posisi menggantung seperti ini juga yang sering menyebabkan si kabel menjadi rentan putus karena beban yang terlalu berat. Jadi sebaiknya gunakan baby wear agar membantu prosesor tetap berada di daun telinga.



5.  Sama hal seperti perlakuan elektronik lainnya yang menggunakan baterai sebagai sumber energinya, maka yang sangat amat harus diperhatikan adalah jangan sampai saat melakukan pengisian baterai melewati batas seharusnya atau overcharge. Baterai sonnet harus diisi kurang lebih selama 4 jam, jadi sebaiknya usahakan jangan sampai lebih dari itu. Jika takut kelupaan dicabut, ada baiknya menggunakan colokan yang mempunyai pengingat waktu agar bisa diatur sesuai waktu yang disarankan




Begitulah kurang lebih beberapa saran yang saya tangkap saat seminar kemarin tentang merawat alat implan rumah siput.  Untuk lebih jelasnya mungkin bisa langsung menghubungi audiologis masing-masing ya.

Sangat disayangkan untuk materi sebagus itu masih kurang sekali animo yang diberikan oleh para orangtua. Padahal jangan lupa lho ada 3 hal yang harus diperhatikan untuk mengejar verbal anak-anak kita, yaitu terapi yang sesuai, alat yang kompeten, dan dukungan orangtua maupun keluarga.

Dengan kata lain adalah terapis, audiologis dan orangtua adalah satu tim yang berada dalam satu kapal yang sama.



If you have kids with hearing loss, all u do is not only buy hearing aid for them, but you have pay attention more than you think.



Karena alat itu akan selamanya ada di telinga anak-anak kita. Bagaimana kita bisa berharap nantinya mereka akan memperlakukan alat tersebut dengan benar, jika sebagai orangtua kita bahkan tidak punya ilmu mumpuni untuk melakukan hal yang sama.


Share:

Sekolah Rumah dan Perempuan


Sebelum memulai saya ingin menggaris bawahi dulu bahwasanya tulisan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan tokoh  perempuan yang berapa tahun belakang terus didebatkan orang banyak ( dan disaat bersamaan ini juga menjadi tanda tanya besar ke saya : “whats wrong with all of you ladies? Kenapa sih demen amat segala diperdebatkan?”).
.
.
Sebenarnya saya bukanlah tipe orang yang terlalu peduli dengan pendapat orang lain. Terutama jika pendapat mereka tidak bisa membayar tagihan saya.

Saya sadar takdir hidup saya penuh anomali dan itu jadi sasaran empuk buat orang lain memberi komentar. Makanya saya sudah biasa mendengar komentar macam-macam tentang ini dan itu.

Tapi ada satu komentar yang sebenarnya cukup mengusik saya. Dan ini diucapkan nyaris sama tetapi oleh beberapa orang berbeda. Seolah-olah ini adalah pendapat umum yang wajar saja.

Dari awal orang-orang mulai tahu anak-anak saya melakukan sekolah rumah, segala macam reaksi dan pertanyaan berdatangan.

“anak-anaknya homeschooling di mana mba”?
“bayar berapa homeschooling nya?”
Dan lain sebagainya.

Biasanya saya jawab seadanya. Karena rata-rata yang bertanya hanya sekedar kepo bin penasaran saja. Nah lucunya dari semua pertanyaan diatas 4 dari 10 yang bertanya selalu menutup dengan pernyataan yang mereka simpulkan sendiri, yaitu :
untung anak-anaknya cewe ya mba. Jadi ga pa pa ga sekolah juga. Paling bentar lagi kawin, punya anak, udah beres”

THEY DON'T GET MY POINT AT ALL


Qadarullah anak saya memang perempuan semua, tapi jika anak saya  laki-laki saya juga akan memperlakukan hal yang sama kok. Come on emangnya kita hidup di jaman apa sih ini sekarang? Kok gender dibawa-bawa.

Menikah dan punya anak adalah prestasi besar, bukan hanya sekedar “udah beres” doang. Sebelum mereka sampai ke tahap itu saya pastikan mereka memang sudah benar-benar qualified melakukannya.

Takdir anak perempuan memang Insya Allah menjadi ibu. Ibu berkualitas lebih tepatnya. Bukan cuma sekedar makhluk hidup yang punya kantong rahim dan tugasnya melahirkan doang.

Berkerja di rumah atau di luar rumah itu adalah sepenuhnya keputusan mereka nanti. Tapi satu yang pasti mereka harus berkarya.

Berkarya dan berilmu sih lebih tepatnya. Karena sesuatu yang dikerjakan tanpa ilmu adalah perbuatan yang sia-sia.

Dan saya dan suami berkeyakinan bahwa semua itu tidak harus  didapat dari sekolah kok. Karena ilmu yang sebenarnya justru ada di luar sana. Tidak dibatasi oleh tembok dan atap.

Saya bukannya anti sekolah tapi saya hanya ingin mengkerucutkan ilmu yang didapat anak saya benar-benar sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

karena saya merasa saya adalah contoh produk sekolah yang gagal. Bagaimana tidak saya habiskan 12 tahun bersekolah dan 4 tahun berkuliah dan kemudian saya baru menyadari bahwa selama ini saya mempelajari sesuatu yang bukanlah bakat saya.

Saya sudah senang menulis sejak SD. Saya ingat sekali selalu senang jika diberi PR mengarang oleh guru Bahasa Indonesia saya saat itu.


Dan ketika besoknya saya bacakan karangan saya didepan kelas, guru saya justru berkomentar “ ini kamu nyontek dari majalah bobo ya? Ga mungkin anak sekecil kamu bisa menulis karangan seperti ini”.

Dan sejak itu saya semakin jauh dengan potensi saya. Bertahun-tahun menghabiskan hari dengan belajar yang bahkan tidak memberikan bekal apa-apa untuk saya sampai saat ini.

Itu lah yang menjadi salah satu alasan kami selaku orangtua memutuskan memilih sekolah rumah untuk anak-anak kami. Karena kami tidak ingin potensi mereka terbuang percuma seperti kami dulu.

Dan itu jelas bukan karena mereka perempuan..

Perempuan atau bukan semua anak berhak di-maksimalkan potensinya. Selama tidak keluar dari kodratnya, tidak melenceng dari aturan Alquran dan hukum negara Insya Allah apapun potensi mereka akan kami fasilitasi dengan baik semampu kami bisa.

Justru sebenarnya perempuan lah yang paling harus diberi ilmu sebanyak-banyaknya. Karena dari mereka lah sebuah kehidupan bermula.

Mungkin ini diluar konteks tapi sudah cukup paradigma the power of mak-mak yang makin kesini makin negatif. Hanya karena dia seorang mamak maka dia pikir dia boleh seenaknya menyelak antrian, menyerang petugas, menyalakan lampu sein ke kanan belok ke kiri. 

Saatnya ambil alih panggung. saatnya tunjukkan kekuatan seorang perempuan yang sebenarnya. 


Seorang perempuan yang mempunyai bakat dan potensial sehingga mampu menaklukan dunia.
*take a bow*










Share: