Pintu homogen

udah 6bulan aku pindah ke hunian baru. Hunian yang bagi beberapa orang msh selalu ditanya, "kenapa pilih itu?" "Kenapa ga cari rumah aja?". Cukup senyum dan dijawab diplomatis "ud emang jalannya dikasi Allah yang ini". Tapi aku bersyukur dengan hunian baruku ini,walau berluas ga lebih dari 27m, tapi bnyk cerita di dalamnya dan juga ada hasil jerih payah sbg nilai historis yang tak terkira. Beratap satu namun ada berpuluh puluh orang hidup didalamnya. Berkoridor satu namun ada berbelas belas orang saling bersisian. Walau tidak semuanya saling kenal. Beberapa cukup akrab,tapi yang lainnya hanya saling senyum jika berpapasan. Tidak ada yang aneh disini, sama saja dengan rumah-rumah yang lain. Tidak saling peduli bukan berarti tidak saling mengerti. Ada aturan-aturan yang mengikat sehingga selalu setapak seirama. Di sepanjang koridor yang terlihat hanya pintu dengan ukuran dan warna yang sama. Keseragaman yang menjadi nilai plus sehingga tidak ada kecemburuan sosial didalamnya. Tapi ketika pintu itu dibuka, ada warna warni didalamnya. Dimulai dari interior yang tidak sama seakan menunjukkan selera sang pemilik. Masing-masing punya gayanya sendiri,masing-masing punya identitasnya sendiri. Ada ranah pribadi dimana hanya siempunya yang boleh menentukan alunan apa yang berdendang didalam. Ada dunia sendiri di balik pintu,yang hanya kami boleh tau,bahkan semut pun tidak bisa mengintip. Tapi yang terpenting adalah semuanya terbalut rapi dalam satu kesamaan,yaitu pintu homogen. Pintu yang membuat tidak ada diantara kami yang merasa rumput tetangga lebih baik, pintu yang membuat tidak ada yang merasa terintimidasi antara satu dengan yang lainnya, bahkan pintu yang membuat tidak bisa membedakan yang mana yang bertuan dan tidak. Harusnya inilah yang disebut Bhineka Tunggal Ika,walau berbeda-beda tapi tetap satu jua.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

No comments:

Post a Comment