Un Soir du Paris (Review)

Un Soir du Paris adalah kumpulan 12 cerpen yang bertemakan tentang lesbian. Buku ini menarik perhatianku karena 12 cerpen tadi ditulis oleh 12 penulis yang berbeda -beberapa pernah dimuat di koran lokal- dan itu artinya ada 12 'ruh' bersenyawa dalam 1 buku yang sudah pasti menjadi ladang ilmu bagi penulis amatir sepertiku. Setuju dengan yang ditulis Oka Rusmini di kata pengantar dengan judul Percakapan Perempuan sebenarnya dari ke-12 cerpen itu tidak ada yang benar-benar menceritakan tentang lesbian secara mendetail. Bahkan beberapa terkesan hanya angin lalu saja. Mungkin karena dunia itu terlalu misteri sehingga goresan tinta pun tidak mampu menguak tabir di dalamnya. Ada beberapa cerita yang menurutku menarik, lucu, dikemas dengan apik walau tidak ada yang benar-benar menyentuh sanubari. Persis seperti cookies coklat sebagai cemilan di waktu senja. Manis, renyah, tau-tau sudah habis tapi tidak mengeyangkan.
Adalah un Soir du Paris satu dari ke-12 cerpen yang kemudian menjadi judul buku ini bercerita tentang sepasang wanita yang dipaksa pisah karena dunia tidak mengijinkan mereka bersama. Louisa nama salah satu dari mereka diasingkan oleh orangtuanya sendiri sejak tanpa sengaja menemukan mereka sedang bercinta di sofa ruang tamu. Segala upaya dilakukan untuk mengembalikan loui -begitu ia biasa disapa- menjadi sesuatu yang dianggap normal oleh kebanyakan. Hingga sore itu mereka kembali bertemu setelah bertahun-tahun cerita mereka dibawa arus waktu. Kembali mengumpulkan kepingan-kepingan yang sudah berurai walau satu diantara mereka tidak mampu mengingat lebih banyak lagi. Un soir du paris itu sendiri jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah satu petang di Paris.
Lain lagi dengan cerpen karya Agus Noor berjudul Potongan-Potongan cerita di kartu pos. Cerpen ini menjadi begitu familiar karena tokoh-tokoh didalamnya bernama Dhani, Maiya, dan Mulan. Potongan-potongan cerita tentang Maiya yang ditulis dalam kartu pos dan dikirim setiap harinya untuk Dhani. Kartu pos pertama bercerita tentang Maiya yang menemukan kalung yang beruntai permata yang disebut-sebut berasal dari air mata yang mengeras. Kemudian Maiya memakainya ketika arisan dan membuat beberapa teman arisannya iri. Mulan adalah salah satu diantaranya. Kartu pos selanjutnya menceritakan bagaimana Maiya menemukan keanehan dari kalung tsb. Sampai satu malam dia terbangun dan mendengar ada suara tangisan berasal dari kalung air matanya itu. Kaget. Sama kagetnya ketika menyadari suaminya, Dhani ternyata tidak ada di tempat tidur. Sampai di titik ini aku baru menyadari suatu hal, mengapa cerpen ini bisa ada diantara kumpulan cerpen bernafas lesbian? Mungkinkah ada potongan-potongan yang terlewatkan olehku? Baiklah,aku akan membacanya ulang..
***
Dua belas cerita pendek yang terpilih dalam buku ini hanyalah embrio, hanya jejalin mungil dari rangkaian benang yang tumpang tindih dengan indah. Rangkaian ini bisa menjadi pendorong momen bagi para penulis lainnya untuk berani menempuh risiko menghasilkan banyak karya sastra LGBT di wajah literatur masa depan. Tanpa itu semua, bilakah kita meretas jalan sastra lesbian di Indonesia (Redaksi SepociKopi)

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

No comments:

Post a Comment