Gayus vs oemar bakri

Hari ini di twitter lagi rame soal pak jokowi (DKI 1) yg baru 8 hari bertugas melakukan inspeksi mendadak(sidak) ke kantor lurah&ternyata lurahnya lagi tidak ditempat. Saya tidak tahu bagaimana nasib lurah itu selanjutnya,tapi semoga saja ada hukuman yg pantas untuk dia. Hukuman yang membuat jera untuk semua abdi negara lainnya sehingga tidak lagi meninggalkan tugas di hari kerja.

Sama seperti yang lainnya,saya juga termasuk satu dari sekian banyak orang yang membenci pns-pns yang mangkir dari jam kerjanya. Tau kenapa? karena mereka suami saya harus punya beban kerja double atau bahkan triple. karena mereka suami saya jadi selalu melewatkan makan malam di rumah demi menyelesaikan kerjaan yang mereka tinggalkan begitu saja. Dan bahkan karena mereka suami saya hanya bisa melihat anak-anak dalam 1 sudut,tidur. Pergi ketika mereka masih tidur dan pulang setelah mereka tidur. Kasian suamiku:(

Katanya 80% pns itu tdk ada kerja, itu benar. Karena kerjaannya dikerjakan oleh yang 20% lagi. Katanya jadi pns berarti terus digaji sampai mati. Dia ga tahu kalau ada potongan di tiap bulannya dan itu pun kalau dihitung tidak sepadan dg uang pensiun yang didapat di hari tua. Dan tidak usah ditanya deh soal layanan kesehatan untuk pns dan keluarganya, selain tidak manusiawi pengurusan surat ini itunya bikin yang tidak sakit jadi ikutan sakit.

Masyarakat memotret pns cuma dari 2 sisi. Kalau gak malas,suka bolos,berkeliaran di jam kantor dan kalau kaya berarti korupsi atau rajin,jujur,sederhana tapi miskin. Seakan-akan cuma ada gayus & oemar bakrie. Padahal tidak semua pns seperti itu lho. Ada banyak pns yang tidak sekaku oemar bakri tapi juga tidak sepicik gayus. Mereka yang masih mempunyai jiwa seni ditengah kekakuan birokrasi. Berusaha 'menyempilkan' sedikit demi sedikit warna baru di pilar-pilar pemerintahan. Tak terlihat kasat mata memang. Seperti bintang yang tak tampak di langit mendung. Tapi mereka terus berusaha. Walau dunia tidak pernah tahu.

Menjadi gayus atau oemar bakri keduanya bukanlah pilihan yang menyenangkan. Kejujuran itu penting. Tapi jika menjadi jujur artinya tidak bs beli rumah, tidak bisa liburan, ataupun tidak bisa bayar sekolah anak di sekolah yang bagus berarti ada yang salah disini. Harusnya karena kejujuran, oemar bakri lah yang bisa liburan ke macau atau sekedar nonton tenis di Bali, bukan gayus. Harus karena keabdiannya terhadap negara, oemar bakri lah yang punya apartemen di kelapa gading, bukan gayus. Kalau begitu,siapa yang salah? Personal atau sistemnya? Pns atau pemerintahnya?

Kalau saya jadi presiden atau paling tidak menteri aparatur negara, solusi saya sederhana saja. Pecat saja mereka-mereka yang msh nakal dan berkeliaran di jam kerja lalu kemudian tambahkan gaji 2 atau 3X lipat untuk mereka yang benar-benar mengabdi kepada negara. Biar oemar bakri bisa menikmati hidup enak tanpa harus menjadi seperti gayus. Biar oemar bakri bisa merasakan nikmatnya hasil peluh tanpa harus melepas jubah kejujuran. Dan juga biar suami saya bisa pulang makan malam tepat waktu&bermain dengan anak-anak sblm mereka tertidur..
(Ferna Anindhita, 26th, istri dari seorang pns sekaligus ibu dari 2 orang anak)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Share:

No comments:

Post a Comment