Saya cinta jakarta tapi jakarta tidak

Sebenarnya sy ingin menulis ini semalam,tp sy terlalu lelah walau hanya untuk sekedar menari jemari merangkai kata. Kemarin adalah hari yang berat (kalau tdk bisa disebut buruk) untuk saya dan anak saya. Dan kemarin untuk pertama kalinya setelah 4tahun ada disini, sy mengutuk ada di kota ini. Kota 'over-metropolitan' sampai penduduknya lupa bagaimana menggunakan hatinya sendiri. Saya bisa menolerir macet yang melampaui akal sehat ini, saya bisa memaklumi biaya sekolah yang begitu melejit disini dan bahkan saya tdk terkejut ketika diminta 1juta untuk hanya sekedar melegalisasikan saya sbg warga disini. Tapi kemarin,saya bukan lagi kecewa,tapi sudah marah. Marah dengan ibukota tercinta kita ini.

Awal mula adalah ketika anak ke-2 saya, Danesh (16bulan) jatuh dr tempat tidur. Tadinya saya pikir hanya benturan biasa, saya peluk dia sekedar menenangkan. Tapi ternyata, baju saya basah. Bukan karena air mata, tapi darah. Ya Tuhan,ada banyak darah yang keluar dari pelipisnya. Mengucur begitu saja. Mungkin saat terjatuh tadi dia terkena mainan yang memang berserakan dibawah tempat tidur. Dengan secepat kilat saya membawa ke rs terdekat dengan harapan diberi pertolongan. Tapi harapan tinggal lah harapan..

Sesampai di IGD sy disambut oleh satpam,diantar ke salah satu tempat tidur yang kosong di IGD tersebut. Tunggu sebentar ya bu begitu kata pak satpam. Dan disinilah akar permasalahannya. Bagi saya kata 'sebentar' artinya 5-10menit karena dokter/perawat yang bertugas sedang melayani pasien lain. Tapi bagi mereka sebentar itu artinya 30menit lebih dan sementara itu para perawat berkumpul di meja depan. Ntah apa yang mereka lakukan sampai tidak peduli ada seorang ibu yang menggendong bayi dengan kepala berdarah. Padahal saya melewati mereka saat masuk karena memang posisi mereka di depan pintu masuk. Kemudian saya bertanya lagi ke satpamnya dimana dokternya. Pak satpam melirik ke gerombolan perawat-yang-ntah-sibuk-apa itu, tapi mereka bergeming. Dengan kikuk dan sedikit gak enak hati ataupun sekedar mengisi kekosongan bapak satpam menanyakan apakah anak saya ud ditimbang atau belum. Saya jwb belum,lalu dia mengantar saya ke timbangan. Saya sempat berpikir apa gunanya anak saya ditimbang sedangkan kepalanya sedang berdarah dan tidak ada 1 orang pun yang melihat luka kepala anak saya. Tapi saya coba ikut saja, jadilah anak saya ditimbang. Dan yang menimbang anak saya adalah bapak berseragam putih biru tua dan saya bisa pastikan itu bukan description job dia Karena dia bahkan tidak bs membaca angka timbangan. dia menyebut anak berumur 16bln ini 20kg. Yup,anak saya ditimbang oleh satpam. Lelucon macam apa ini? Saya masih bisa sabar kalau saat itu saya ada di poli klinik dan harus menunggu si dokter datang, tapi katakan kepada saya bagaimana caranya saya sabar ketika anak dalam gendongan saya kepalanya berdarah dan tidak ada satupun orang di IGD ini yang peduli? Untung sebelum pergi saya sudah mengompres luka anak saya dg es batu sehingga darahnya sudah berhenti. Bayangkan jika saya tdk mengompres pake es, lalu darah di kepala anak saya mengalir terus dan dibiarkan sampai 30menit lebih di IGD tanpa dilakukan pertolongan apapun, apa yang akan terjadi? Demi Allah saya gak sanggup membayangkannya.

Karena emosi yang sudah tak terbendung dan juga saya tdk mungkin membiarkan anak saya ditangani oleh satpam, saya pun menghampiri gerombolan perawat-yang-ntah-sibuk-apa-itu.. Saya tanya ini dokternya mana sih,kepala anak saya berdarah kenapa tidak ada yang peduli? lalu percayakah kalian apa kata yang pertama muncul dari perawat itu? "Ibu sudah daftar?daftar dlu bu diluar".. Ya Tuhan sejak kapan IGD hrs daftar dulu? Jadilah dengan menggendong bayi yang kepalanya msh tersisa darah ini saya keluar IGD menuju loket pendaftaran untuk daftar dulu. Ingin rasanya saya menangis saat itu. Bukan cuma karena anak saya, tapi menangis karena seburuk ini kah pelayanan kesehatan di indonesia? Kalau memang dia tidak mampu melayani masyarakat lalu kenapa dia memilih jadi praktisi kesehatan? Jadi saja ibu rumah tangga seperti saya, kalau pun tidak becus toh dosanya cuma sama suami dan anak-anak. Tinggal minta maaf, selesai urusannya. Tapi ini bayangkan sdh berapa ratus atau mgkn ribu orang yang mereka zolimi? Mampukah mereka meminta maaf satu persatu? Sdh siapkah mereka mempertanggung jawabkannya? bukan.. bukan di dunia tapi di depan Yang Maha Kuasa.

Lalu setelah mendaftar barulah luka anak saya dibersihkan. Tidak lama kemudian sepupu saya yang kebetulan dokter muda disitu datang dan kemudian lancar jaya lah semua urusan. Td sempat terlintas di benak saya apa mereka ga mikir bagaimana rasanya kalau keluarga mereka yang di posisi saya? Kemudian saya langsung ingat ini indonesia bung. Yang dibutuhkan orang indonesia cuma 'orang dalam', kalau ada org dalam semua urusan beres. Pertanyaannya adalah mau sampai kapan kita terus begini?

Saya cinta Indonesia, saya cinta jakarta tapi tolong balas cinta saya ini.. (Ferna Anindhita, 26th, terus berusaha untuk tetap cinta jakarta)


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Share:

No comments:

Post a Comment