Mendaki bukit

Kamu tidak akan pernah mencapai puncak jika hanya mendaki bukit
Beberapa hari yang lalu aku habis ngobrol via messager dengan seorang teman lama dari Aceh. Sebenarnya kita tidak terlalu akrab tapi juga tidak jauh-jauh amat. Berada di satu SMA yang sama dan kuliah di fakultas yang sama (walau beda jurusan) tentu membuat kita jadi cukup saling mengenal. Yaaah namanya juga kota kecil, sekolah atau kampus favorit cuma ada satu atau dua, jadi ya ketemunya disitu-situ juga. Ok,kita sebut saja namanya si pulan.
Berawal dari sama-sama berada di group bbm kampus jadilah dia meng-invite aku. Dari situ lah aku tahu ternyata dia sudah menikah&punya anak (di kalangan teman-teman aku termasuk yang cepat nikah & kemudian pindah dr Aceh, makanya setelah itu aku gak tau lg kabar siapa-siapa saja yg sudah menikah). Dan ternyata dia juga seorang PNS dan aku tau ini dari DP bbmnya yg selalu pakai seragam coklat + tas tenteng Hermes yang bisa dipastikan KW. Oia, sekedar info, untuk kalangan Aceh menjadi PNS itu hits banget lho..
Selama kami berteman di bbm kami tidak pernah saling berkomunikasi, kecuali BM yg tdk penting yang dikirim bs dikategorikan sbg komunikasi. Hingga beberapa hari yang lalu dia mengirim pesan untuk aku. Awalnya hanya basa-basi, spt: hi fer,apa kabar? anak-anaknya udah gede ya? di jkt tinggal mananya?. Lalu setelah basa-basi biasa, dia mulai menanyakan hal yang agak absurd untuk ditanya sebenarnya, "fer,ferna suka pake tas branded ga?". Aku jawab,"tergantung merknya apa dulu. Lagian kalo aku sih yang penting enak dipakainya sih bukan merknya". Dan sepertinya itu adalah jawaban yg paling salah untuk standar per-basa-basi-an,karena setelah itu mulai lah dia berkoar-koar bak ahli bagholic. Berikut beberapa petikan isi bbmnya dari si pulan itu, tapi tolong abaikan yang di dalam kurung krn itu cuma isi hatiku aja tp kemudian yg aku balas cuma oooo, hehehhehe atau pun tandasenyum.
"Iya nih,fer..aku lagi suka banget sama tas-tas bermerk. Di rumah udah ada 1 lemari isinya tas semua. Dari hermes, furla,lv,semua aku koleksi."
(Wait,wait..situ princess syahrini ya?)
"Yaah,walaupun harganya mahal-mahal ya.tapi tetap aja kalap pengen beli semuanya. Satu tas aja harganya bisa 300-400rbu"
(Oooo, jadi yang lo maksud 'branded' itu KW toh.ok, i got it..)
"Tapi untung yaa,aku punya kerja,jadi punya duit sendiri,ga perlu minta sama suami untuk hal-hal gini and bla bla bla bla".
(Whatever u say lah..)
"Menurut aku penting lho fer pny tas branded.coba lah qe (dlm pergaulan sehari-hari di Aceh qe=lo/kamu) beli satu aja. Walaupun kita udah jadi emak-emak kita hrs gaul. Tapi susah sih ya, qe cuma IRT, mnta sama suami mana mau dia kasi ya".
(Klo menurut lo gaul itu dengan tas KW lo aja gih sana dg keluarga lo, jgn ajak-ajak gw. Lagian kata siapa suami gw ga ngasi, cuma KW doang mah cincai)
Dan setelah itu aku langsung meng-end chat dan meng-delcont si pulan itu. Bah..tidak baik untuk kesehatan jiwa tu orang.
Setelah percakapan singkat yang tidak meyenangkan itu,aku langsung ngetweet kata-kata seperti yang diatas,"kamu tidak akan mencapai puncak jika hanya mendaki bukit". Si pulan sudah merasa dirinya high class hanya krn tas hermes KW nya yg 400ribu. Padahal kalau dia pergi ke pasar senen tas yang dia pakai itu ga lebih dari 150rbu. Di jakarta jangankan hermes KW ps.senen, pakai Hermes KW super dan sudah dg sertifikat (yg jg palsu) dengan harga 1jutaan aja masih dianggap sebelah mata. Hermes yang ori itu mahal ceu. Mahal banget. Untuk 1 tas bisa berkisar puluhan juta. Aku sih gak paham ya tentang tas bermerk (benar-benar bermerk lho bukan KW) dan gak tertarik juga untuk mengerti. Karena apa? Karena itu bukan tingkatan aku. Aku sama sekali tidak berminat untuk menjadi social climber, karena aku tau persis aku tidak mampu. Tapi aku lebih tidak berminat lagi kalo hanya menjadi social climbing di bukit. Di saat yang lain udah dada dadahan di puncak everest, tentunya berada di puncak bukit dan (merasa bangga) adalah hal yang memalukan. Lebih baik kakiku tetap di tanah menginjak bumi, tapi aku berdiri tegak dan mampu menghentakkan kaki di setiap langkahku. (Ferna Anindhita, 26th, tidak suka KW tapi terima 'mentahan'nya aja)
Powered by Telkomsel BlackBerry®







Share:

No comments:

Post a Comment