#PeopleAroundUs #Day4



"jangan jauh-jauh nak" teriakku.
"iya bunda.." tapi mereka terus berlari entah kemana.

Indahnya  liburan kali ini. Menikmati pantai yang elok, pasir yang putih dan tentu es kelapa yang super segar sebagai pelengkap kebahagian.  Pemandangan yang tidak mungkin bisa sering kudapat dalam kehidupan sehari-hariku. Bukan hanya panorama alamnya, tetapi juga melihat anak-anak dengan riang dan penuh canda tawa. Bermain pasir, berlari-larian, berenang di pantai dan banyak hal lagi yang mereka lakukan. Sedetikpun mata ini rasanya tidak ingin lepas melihat tingkah pola mereka. Bahkan berkedip pun enggan. Seakan takut kehilangan momment terbaik yang terjadi.

Adalah mery dan happy dua gadis kembar penyemangat hidupku. Terlahir ketika hidupku sedang dalam goncangan hebat. Sempat ku melupakan mereka dan bahkan juga marah. Untuk apa kalian ada disini? Begitu kutukku saat itu.  Semua orang membenciku karena mereka. Ayahku, ibuku dan juga laki-laki itu. Masa depanku hilang karena mereka. Tuhan tidak adil,  pikirku waktu itu. Dia mengambil semua yang aku mau dan mengganti mereka yang tidak kuharapkan.
Tapi untung belum terlambat untukku mencintai mereka. Ternyata mereka adalah sumber kebahagianku. Tidak lah salah jika kemudian aku memanggil mereka mery dan hapy, yang artinya kebahagian. 

                                                        ***

"ibu.. bangun.. Ibu..sebentar lagi waktunya cemilan sore. Hari ini menunya bolu coklat kesukaan ibu"
Aku terbangun. Melihat sekelilingku. Dimana mery dan hapy-ku? Kenapa aku bukan di pantai? Mana es kelapaku?. 
Huuuf, ternyata aku sudah kembali. Kembali ke dunia nyata. Mereka hanya ada di mimpiku. Mimpi yang selalu aku datangi ketika ku tidur. Mimpi yang aku ciptakan sendiri dari bahan imajinasi dan impianku. Tempat dimana aku bisa bebas bertemu dan bermain dengan mereka sesuka hati. Mereka tidak akan menemuiku disini. Bukan.. Bukan karena mereka tidak mau. Tapi karena di hari itu aku membuat mereka pergi. Hari dimana aku melihat dua strip merah, hari dimana aku diusir dari rumah, hari dimana laki-laki itu pergi meninggalkanku. Dan terburuk, hari dimana aku membunuh mery dan hapy-ku bahkan sebelum aku mencoba mencintai mereka.

Maka disinilah aku sekarang. Menikmati sepotong bolu coklat di sore hari bersama sekumpulan orang yang mirip denganku meski berlatar belakang beda. Tapi kami disini dengan alasan yang sama, dunia tidak lagi menginginkan kami. Rambut putih dan kulit keriput itulah identitas kami. Hal yang paling dinanti di sini adalah ajal menjemput. Rasanya seperti bel sekolah tanda telah berakhir dan waktunya pulang. Ketika saat itu tiba, semoga mery dan hapy mau memaafkan dan menerimaku di tempat mereka. Tempat yang lebih baik dari panti jompo ini. Tempat aku bisa menghidupkan semua karya-karya mimpiku. Dan benar, aku belum terlambat mencintai mereka. Belum sedetikpun..



Share:

No comments:

Post a Comment