Anak bukan mi instant


Coba perhatikan gambar diatas? Tau nggak itu gambar apa? Itu adalah gambar shiniz yang lagi ngajari anaknya, hiro untuk bertahan hidup. Diajari cara berantem, mengintai musuh dan lainnya. Buat yang belum tau siapa itu shiniz, dia adalah nama kucing kita. Dan itu bener lho, saya aja sampai takjub kalau lihat shiniz lagi ngajari anaknya. Sepintas kayak berantem beneran, trus abis latihan hironya nyusu lagi sama ibunya atau usel2an kemudian pada tidur deh dua-dua nya. Pertanyaannya adalah sudahkah kita, para manusia melakukan hal yang sama terhadap anak kita? Sejatinya kita adalah satu-satu nya makhluk di muka bumi ini yang diberi akal oleh Yang Maha Kuasa, harusnya kita mampu seperti shiniz atau bahkan lebih. Tapi ironinya justru generasi muda sekarang semakin merosot keahlian bertahan hidupnya. Apa-apa dibantu emak, dikit-dikit nggak bisa jauh dari ketek mamak. Punya anak tapi ngga bisa jaga anak, trus yang urus siapa? Yaa nenek lah. Gong nya itu ketika kemarin secara viral beredar calon mahasiswa diantar ortu ke kampus untuk pendaftaran. Mahasiswa loh itu. Entah harus komentar apa lagi.
Kenapa bisa gitu? Imho, mungkin berawal karena kita ini adalah generasi yang ngga mau repot. Semua pengen ringkes alias simpel alias sederhana trus langsung jadi. Sayangnya ini ngga berlaku dalam didik anak. Yang penting anteng, anaknya dikasi tv atau gadget, yg penting makan, anaknya disuap sambil dikejar-kejar di playground. Lalu kapan si anak belajar? Terus nanti kalau si anak crancky, manja, ngga punya tanggung jawab, yg dimarahi siapa? Yaa anaknya. Yang salah siapa? Yang ngga pernah ngajari siapa? Naaaaah lhoooo.
Sejak pindah pekan baru, kita sudah putus hubungan dengan tv. Awalnya karena rumah yang kita sewa tidak termasuk tv di dalam. Mau beli kok yaa males. Sudah bertahun-tahun kita ngga pernah nonton tv lokal lagi. Katakan lah ada program tv lokal yang ramah anak-anak, tapi tetap aja iklannya ituuu lho. Pernah satu kali, indira (6 th) ngga sengaja melihat iklan mi instan yang bintang iklannya anak kecil, "bun, kok dia boleh sih makan i*domi? Kata bunda ga sehat". Sejak itu dengan terpaksa tidak ada lagi  tv lokal di rumah. Anak-anak cuma nonton program-program khusus anak di tv kabel. Selama disini ajaibnya mereka sama sekali ngga pernah minta tv. Tapi jangan ditanya gimana bentuk rumah kita kalau mereka lagi main ya. Kalau ubinnya masih keliatan berarti belum maksimal itu mainan keluar. Terus ngeberesinnya gimana? Drama dooong pasti. Emang apa sih yang diharap dari anak umur 6 & 5 thn setelah capek main dan disuruh beresin? Belum lagi si kaka ngerasa udah ngeberesin banyak, ade nya bengong aja. Si ade ngerasa udah cukup ikut serta juga tapi masih juga si kaka ngomel. Tapi peraturan adalah peraturan. Walau peluh & air mata jatuh, beresin harus tetap lanjut. Karena mereka tahu persis konsekuensinya apa kalau mainan tidak kembali ke tempatnya.
Hal yang sama juga berlaku untuk makan. Dari mereka kecil, saya ngga pernah memaksa mereka makan. Waktunya makan, ya makan. Ngga mau? Ya sudah. Nggak pernah ada yang namanya kejar-kejaran di playground hanya demi sesendok nasi. Trus ngga takut anaknya kurang gizi? Karena nggak dipaksa makan, dengan sendirinya  mereka mengenal yang namanya lapar. Kalau udah lapar pasti terkesima deh lihat sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk ludes tak bersisa. Rasa lapar itu adalah hal yang paling natural yang ada di diri manusia dari dalam perut.
Saya pernah baca artikel di sebuah majalah, umur 3th adalah umur dimana dia merasa sudah bisa melakukan semua sendiri. merasa lhoo ya. Standar 'bisa' nya si anak jelas beda dengan bisanya orang dewasa. Makan, mandi bahkan sampai memilih baju pun pengennya melakukan sendiri. Jangan heran kalau nanti si anak tidur mintanya pakai kemeja, giliran ngemol malah pake piyama. Terus gimana? Dilarang? Kalau mau jadi generasi yang ngga mau repot, yaa larang aja, anaknya dimandiin, dipilihin baju, dipakein, trus kalau itu berlangsung sampe dia SD, jangan marah ya. Kan tadi ortunya juga yang ngga ngasi dia kesempatan belajar. Kalau saya siiih ngebiarin anak-anak saya mandi sendiri, tapi tetap dipastikan kamar mandinya ramah anak dan setelah mereka selesai mandi, diperiksa lagi apakah sabunnya sudah terbilas bersih semua atau belum. Bajunya juga mereka memilih sendiri, kalau pilihannya nggak jomplang2 banget, yaa saya biarkan aja dia memakai pilihanya. Tapi kalau pun nggak, saya memberikan penjelasan kenapa baju pilihannya ngga bisa dipakai dan kemudian diganti dengan memberi 2 atau 3 pilihan baju yang bisa dipake. Jadi win-win solution, anaknya masih tetap boleh memilih dan pilihannya tetap dibawah pengawasan orangtua
Ini baru segelintir masalah di per-todler-an dan alhamdulillah ini sudah terlewati di dua kaka nya. Ga tau deh yang ketiga nanti akan sama kayak kakanya atau malah beda lagi. Tapi masalah baru lagi muncul untuk para kaka, mulai masuk ke tahap pre teen, terutama untuk indira yang bentar lagi masuk SD. Udah harus ada penjelasan logis kenapa dia harus melakukan ini, kenapa dia ngga boleh melakukan itu. Indira pernah marah kenapa saya memaksa dia shalat. Saya bilang, "bukan bunda yang paksa shalat, tapi Allah yang nyuruh kita shalat". Katanya lagi, "yaa walaupun Allah yang suruh tetap kaka marahnya sama bunda. Karena sekarang bunda yang suruh kaka. Kaka benci sama Bunda. Selalu kalau yang bunda suruh harus dituruti". Jawaban saya saat itu adalah, "kata Allah bunda harus menjaga anak-anaknya dari api neraka. Makanya sekarang bunda yang suruh kaka shalat. Walaupun sekarang kaka marah, tapi kalau udah shalat, kaka udah terlepas dari api neraka. Bayangin kalau bunda diam aja kaka ga shalat, mungkin kaka senang ga dipaksa bunda, tapi di akhirat nanti, Kaka kena api neraka dan Allah juga marah sama bunda karena ngga menjaga anaknya dengan baik". 
Itu baru seujung kuku masalah dengan para kaka. Ada buanyaaak lagi drama-drama yang nguras emosi hati dan jiwa. Drama korea kalah lah pokoknya. Pokoknya sumbu kesabaran emaknya harus super panjang. Kalau mukai pendek, refill lagi sumbu baru yang panjang. Tentu semua itu nggak semudah yang ditulis,. Maka dari itu, kalau sudah jadi orangtua, yuuk sama-sama terus belajar, jangan berhenti dan menyerah. Karena anak kita nggak seinstan masak mi, tinggal cemplang cemplung, tau-tau jadi. Butuh proses yang panjang. Kalau bukan kita yang buat mereka mandiri lalu siapa? Emang ada jaminan kita selamanya bisa mendampingi anak-anak kita? Malu atuh sama shiniz. Shiniz aja total tuh ngurus anaknya sampai anaknya mampu bertahan hidup di luar sana tanpa bantuannya lagi.
segini masih dalam kategori belum berantakan


nah ini lebih 'mantep'. hehehe

selain pretending play, menggambar juga salah satu favorite mereka. ini indira dengan hasil gambarnya

Dan ini danesh dengan hasil gambarnya



atau main sepeda di sore hari
kalau ini lagi bikin playdough sendiri

Share:

No comments:

Post a Comment