Indira masuk SD

Seminggu sudah Indira resmi jadi Anak SD. Alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar. Setiap hari ada aja cerita seru yg dibawa pulangnya. Menjadi Anak SD tentu lah suatu hal yang baru buat Indira. Pun menjadi orangtua yang anaknya SD, sama baru nya buat bundanya. Setelah ntah berapa puluh kali purnama terlewatkan tanpa nyampul buku, minggu lalu lah pertama mulai lagi. Untung masih ingat cara-caranya. Di hari pertama Indira sekolah, dia ngga punya alat tulis, kaus kaki putih, singlet dan bahkan bundanya salah memakaikan dia syal di hari senin. Hahahhaha. Saking bingungnya dan ngga ngerti apa-apa juga.

Saya ingat ketika dulu Indira naik dari PG ke TK, dia sangat bersemangat diawalnya. Setiap hari tiap ketemu siapa saja, dia selalu ngomong dengan mata berbinar " tante, Indira mau masuk TK. Nanti ada English day tiap hari kamis". Dia selalu nanya, kapan kamis bun? Besok kamis bukan? Sampai kemudian pelan tapi pasti memasuki term ke 2, "bun kaka kayaknya hari kamis ini sakit deh" (ngomongnya dr senin) atau yang tiba-tiba ngambek karena bekalnya salah, padahal sebelumnya bekal yang sama, baik-baik aja. Mulai yang cuma cemberut sampai nangis kejer selalu di hari kamis. Usut punya usut, ternyata di kelasnya ada anak yg bahasa inggrisnya casciscus banget. Dia ngerasa kalah. Saya juga nggak ngerti kenapa dia begitu tertarik sama bahasa inggris, padahal kami ga pernah memaksa apa-apa di rumah. Apalagi linguistik emang bukan bidang Indira sebenarnya. Setelah konsultasi dengan para sahabat di sekolah (baca : guru-guru Indira), mungkin masalah awalnya adalah karena Indira terlalu sering dipuji. Dia begitu menikmati ketika dia menjadi yang terpintar, terhebat dan ter-ter lainnya. Karena ketika dia menjadi terpintar, dan dipuji, dia tau itu artinya dia sudah bikin senang bundanya. Efek buruknya adalah ya itu tadi, ketika indira menemukan ternyata diatas langit msh ada langit, dia jadi ngerasa down dan akhirnya lebih memilih untuk menghindarinya. Sudah lebih dulu merasa kalah, daripada nggak bisa menang, mending mundur. Mungkin begitulah pemikiran Indira saat itu. Karena dia sangat mementingkan hasil akhirnya, hingga lupa prosesnya. Padahal tidak ada yang memaksanya untuk selalu menghasilkan hasil terbaik, tidak dari orangtua, tidak pula sekolahnya. Hanya anaknya saja yg menyimpulkan sendiri. Tapi untung masalah ini cepet terdeteksi. Dan akhirnya, bukan cuma anaknya, ayah & bunda pun ikut belajar dari kesalahan yang ada. 

Karena itu lah, ketika Indira pulang sekolah bercerita tentang serunya hari ini, tentang pelajaran-pelajaran yang dipelajari hari ini, saya selalu mengingatkannya bahwa yang paling penting dari semua itu adalah prosesnya. Tidak peduli apa pun hasil nya. Indira ga perlu ahli di semua mata pelajaran, tapi jika sudah menemukan yang paling disuka, harus terus semangat dan pantang menyerah. Persis seperti Judy hoops di film zootopia yang tidak takut untuk mencoba segalanya dan memang kebetulan ini salah satu film favorite indira (&favorite Bundanya jg).
Tidak hanya itu, saya jg mengingatkan dia kalau sifat tawaduk jauh lebih baik daripada sekedar dipuji berlebihan. Ini juga kebetulan pernah dibaca ceritanya di salah satu koleksi buku ceritanya. Cerita tentang seorang Anak yang ingin selalu dipuji dan ternyata berakhir kurang baik. Intinya adalah bagaimana pun Indira nanti, ayah Bunda akan selalu bangga dengan Indira. Tugas Indira hanya bersenang-senang di sekolah, menikmati proses dan hasil akhir bukan lah urusan kita lagi. Deal nak?

P.s. Baru ngeh pernah tulis juga ttg indira pertama masuk PG disini. Salah satu keistimewaan jadi anak pertama, dokumentasi & arsip nya lengkap. Ade2nya belum tentu ada nih ;-p
Share:

No comments:

Post a Comment