#ngobrolinpekanbaru eps 2 : 36 jam menuju Pekanbaru



Ini namanya pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru aja dipostingan yang lalu berjanji mau cerita tentang roadtrip dari banda aceh ke pekanbaru pas pindahan kemarin, eeeh ternyata tema minggu ini tentang transportasi. Pas lah. Walau pun kemudian bingung sendiri mau cerita dari sisi mana ya, karena sejujurnya hampir di sepanjang perjalanan saya lebih banyak tidurnya daripada bangunnya. Hehehehe. Saya coba ceritakan semampu ingatan saya aja ya, mudah-mudahan yang baca blog ini nggak ikutan tidur juga :-p


Kita berangkat dari Banda Aceh pukul 08.00 pagi teng. Saya ingat sekali waktu itu hari kamis, tapi lupa tanggal persisnya berapa. Sekedar mengingatkan saja Banda Aceh adalah ibukota provinsi Nanggroe Aceh darusalam dan letaknya di ujung sumatra. Ada 8 kota yang harus di lalui sebelum sampai ke perbatasan sumatra utara, yaitu Sigli - Beurenun - Bireun - Lhokseumawe - Lhoksukun - Peureulak - Langsa dan terakhir Kuala Simpang. Diperkirakan waktu tempuhnya itu kurang lebih 12 jam sampai ke Sumatra Utara. Jalur yang cukup berat itu ada di awal-awal keberangkatan, yaitu sebelum sampai ke Sigli. Kondisi jalanannya sih bagus tp karena harus melewati gunung Seulawah jadi cukup berliku. Anak-anak sempat mabuk darat saat itu, padahal mereka bukan termasuk yang gampang mual sih kalau di mobil. Akhirnya mereka minum obat sirup anti mabuk khusus anak. Langsung deh  dimobil sepi, ngga ada yang bawel dan cekakak cekikik lagi.

Istirahat pertama kita waktu itu di kota Beurenun sekitar jam 1 siang. Disana kita makan siang & shalat juga. Saya lupa nama tempatnya apa, ada balee (pondok) peristirahatan gitu di pinggir sawah & ada masjidnya juga. Airnya dingiiin banget, karena disini dekat dengan mata air batee iliek. Dulu waktu saya kecil beberapa kali pernah diajak kemari, airnya masih banyak & bening. Sayang sekarang airnya sudah semakin sedikit & tidak sebersih dulu lagi. Setelah lebih satu jam kita beristirahat, kemudian kita melanjutkan lagi perjalanannya. Targetnya sebelum magrib sudah harus sampai ke perbatasan sumut.

istirahat & makan siang di Beureneun
Tapi ternyata sekitar jam 5 sore kita berhenti lagi di kota Lhoksukon buat ngopi sore dan makan mi aceh + martabak suum, yaitu martabaknya khas aceh yang dimasak dengan cane di dalam, dilapisi telur lalu ditabur acar bawang dan digulung. Suum itu bahasa aceh artinya panas, karena memang martabak ini enaknya dimakan saat masih fresh from kompor. Sekalian juga disini saya numpang bikin mpasi nya shanaz. Oya, saya lupa jelaskan sebelumnya, didalam perjalanan ini ada 4 orang dewasa yaitu bapak & ibu saya, abang saya yang pertama & saya sendiri tentunya, plus seperti biasa, para ekornya  bunda, 3 krucils, indira (6th), danesh (5th) dan shanaz (saat itu masih berumur 6 bln). Yang nyetir itu bergantian antara bapak & abang saya.

tidur pulas sepanjang malam
Kota ketiga yang kita berhenti itu di Langsa, waktu itu sekitar pukul 20.00. kita berhenti di mesjid raya langsa. Mesjidnya besar dan bagus. Harusnya sih jam segitu kita sudah masuk ke perbatasan sumut, tapiii yaa mau gimana lagi, namanya juga sambil jalan santai, ga ada yang harus diburu-buru juga. Tapi ini pun sudah tidak jauh lagi sampai ke medan, sekitar 2 jam lagi lah.
Karena kita emang rencananya mau non stop aja atau tembak langsung istilah orang sumatra, jadi lah setelah itu saya langsung ambil posisi tidur. Anak-anak apalagi, katanya sama aja kyk tidur di rumah biasa, tau-tau udah pagi aja. Di sela-sela antara jok depan & tengah itu diselipin barang-barang padat dan kemudian di alas sama bed cover, jadi lah tempat tidur yang super nyaman buat para krucils. kelas bisnis di pesawat kalah lah pokoknya. So selamat malam aja dan selamat menyetir buat yang di depan ya :-p

Rute Sumut - Riau itu melewati  9 kota, yaitu Pangkalan Brandan - Stabat - Binjai - Medan - Lubuk Pakam - Tebing tinggi - Lima Puluh - Kisaran -Rantau Prapat  dan Kota Pinang.Estimasi waktu tempuhnya hampir sama dengan Banda Aceh - Medan, yaitu kurang lebih 12 jam. Kita sampai di kota Medan jam 22.00 WIB. Pemberhentian pertama kita di Sumut itu di kisaran di jam 04.00 pagi. Waktu itu kita berhenti di spbu buat isi bensin sekalian istirahat dan nunggu azan subuh. Jangan dibayangin spbu nya kayak rest area di tol di pulau jawa ya. Ini mah creepy abis. Di tengah- tengah hutan, gelap dan fasilitas spbu nya juga seadanya, hanya ada toilet dan mushala. Itu pun saya lebih memilih shalat di mobil aja, agak-agak gimana gitu masuk ke mushalla nya. Kondisi jalannya pun cukup jelek. Banyak lubang sana sini. Beberapa kali mobil kita masuk lubang cukup dalam karena penerangan yang juga ala kadarnya.

Setelah agak terang, kita lanjutkan perjalanan sambil nyari tempat buat sarapan. Alhamdulillah ngga jauh dari situ ketemu pemukiman dan pasar. Kita berhenti di salah satu kedai sarapan nasi gurih dan lontong pagi. Untung saya termasuk manusia omnivora alias pemakan apa saja selama itu halal, jadi yaa rasa nya nikmat-nikmat saja. Buat shanaz, karena ud males ngeluarin 'alat perang mpasi', jadi pagi itu dia makan pisang dibelah, disendokin, disuapin, udah beres. Kalau masih laper, ntr tambah biskuit aja ya de dan tentu 'susu 24 jam' alias asi tersedia kapan aja:-p

Pas jam 12 siang kita sampai Riau. Yaaay. Perjalanan tinggal sedikit lagi. Saya lupa waktu itu nama kota nya apa, tapi kalau dari google maps, kota yang dilalui itu tinggal Bagan Batu - Duri - Minas daaaaaaan Pekan Baru. Karena waktu itu jumat, jadi nggak memungkinkan buat istirahat di mesjid, kita putuskan buat makan siang dulu di RM padang di pinggir jalan. Nanti sekalian sore aja ngambil jama' qashar takhir di mesjid terdekat. Diantara bagan batu dan duri ini ada satu titik yang kanan kiri isinya kebun nenas semua dan juga banyak  warung yang jual nenas. Iseng mampir d salah satu warung tsb, kita beli nenas dan ternyata maniiiiis banget. Nyesal tadi cuma beli sedikit, sekedar buat cemilan di jalan doang.

Harusnya kita sampai di kota Pekan baru sekitar jam 5 sore, tapi ternyata lagi ada perbaikan jalan di minas yang mengharuskan sistem buka tutup dan nggak cuma 1 titik, tapi ada 3 titik sekaligus. Cukup bikin macet lah. Dan akhirnya setelah melewati 3 x jam 8, sampai lah kita di kota penuh tuah ini. Disini lah petualangan kita baru benar-benar dimulai.

Anyway, masih pada bangun kan kalian semua? *celingakcelinguk* *semoga ngga ketiduran* *cerita nya terlalu panjang*

The baby traveler

Alhamdulillah dikasi anak yang `easy going` & siap tempur


Alat Perang Mpasi baby shanaz

'
dining on road



P.s Ternyata untuk mengisi kebosanan, indira & danesh iseng bikin video mereka di mobil. mereka yang bergantian rekam sendiri lho. banyak banget files videonya. ini saya cuma kumpulin jadi satu video short movie.  Terima kasih sudah jadi anak-anak yang manis selama perjalanan girlz :-*



Share:

2 comments:

  1. alat perangnya banyak banget XD
    salam kenal mbaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhe.. Iyaa, semangat di awal doang itu, tetep ujung2nya baby shanaz makan yg tgl lep:-p

      Salam kenal jg mba

      Delete