Semua salah Mukidi


Asap datang lagi. di bulan yang sama, di kota yang sama juga. Semoga tidak sama berkepanjangan juga seperti tahun lalu. Orang-orang yang merasakannya juga orang yang sama. entah bagaimana kondisi paru-paru nya sekarang. Negara tetangga masih mendapat 'hadiah' yang sama. Asap lagi, asap lagi.  Saya tidak tahu apakah yang bertanggung jawab masih jajaran yang sama atau sudah berganti dengan yang baru. Hanya harapan yang selalu berbeda. Berharap tahun depan asap tak datang lagi. Salah siapa kah ini? Semua salah mukidi.

Yang paling menakutkan itu sebenarnya adalah ketika orang sudah mulai berhenti berharap. Menganggap asap adalah hal yang biasa. Tukang sapu jalanan tetap menyapu di jalanan. Tukang sayur keliling tetap menjajakan sayurnya. Tidak ada lagi yang merasa terganggu. Asap tidak menghentikan langkah mereka. Karena perut tidak pernah berhenti minta diisi. Salah siapa kah ini? Semua salah mukidi.

Asap tidak lagi dianggap musuh. Sebagian menganggap itu temannya. Mereka yang tamak menjadikan asap sebagai sumber rejeki. Ada asap berarti dapur ikut mengebul. Mungkin mereka sejenis tanaman yang memang membutuhkan CO2 untuk kehidupannya. Apalah arti ribuan paru-paru  manusia terkontaminasi, selama pundi terus terisi. Hanya segilintir yang berani berteriak melawan, selebihnya pasrah saja lah. Salah siapa kah ini? Semua salah mukidi.


Yang terburuk adalah ketika asap sudah sangat merajalela, tidak hanya di luar ruangan tapi juga di dalam ruangan. Hanya beda sumber saja. Pusat perbelanjaan yang harusnya tempat kita yang ingin bersantai sejenak melupakan asap di luar sana, ikut-ikutan mengebul. Foodcourt yang harusnya tempat bercengkrama bersama keluarga bercerita tentang bagaimana ini bisa terus terjadi lagi dan lagi, tapi malah penuh diisi dengan para naga yang mengeluarkan asap dari hidung dan mulutnya bergantian. Mungkin karena di luar sana penuh asap, makanya para naga ini masuk ke dalam mall. Dan saya jadi alien karena satu-satunya yang terusik dengan kehadiran mereka. Tatapan mata & sindiran saya hanya membuat para naga itu mengernyitkan kening, seakan saya lah yang salah tempat. Salah siapakah ini? Semua salah mukidi.



Pekan Baru, 29 Agustus 2016,
Curhatan dari seorang ibu 3 anak yang belum (semoga tidak akan) terbiasa dengan asap
Share:

5 comments:

  1. hehe, Mukidi itu anak gang mana mak? Ayo kita datengin, haha..Saya juga termasuk orang yg bermasalah sama per-asap-an mbak. Doakan bersama aja si Mukidi ini diatasi Gusti Allah ya, kan kita udah ikhtiar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mukidi anak kampung sblh. Hihihi. Aamiin.. Semoga masalah perasapan ini cepat segera teratasi yaa.

      P.s.anyway mksh pencerahan ttg cr ngambil gbr dr sumber lain ya. Saking td bingungnya, akhirnya corat coret gbr seadanya trus dipoto. Abisnya berasa sepi postingan tnp input gambar. Hehehehe..

      Delete
    2. Mukidi anak kampung sblh. Hihihi. Aamiin.. Semoga masalah perasapan ini cepat segera teratasi yaa.

      P.s.anyway mksh pencerahan ttg cr ngambil gbr dr sumber lain ya. Saking td bingungnya, akhirnya corat coret gbr seadanya trus dipoto. Abisnya berasa sepi postingan tnp input gambar. Hehehehe..

      Delete
  2. Oh, jadi ahli hisap itu juga pindah tempat ya. Bukannya di ruangan ber-AC nggak boleh merokok?

    ReplyDelete
    Replies
    1. harusnya sih ya, tapi aku pelototin malah dipelototin balik, seakan yg salah justru aku. ngoook. hahahahha

      Delete