Jawaban dari danesh mogok sekolah

Semenjak kaka indira masuk SD, danesh susaah banget disuruh ke sekolah. Selalu ada drama dipagi hari tiap mau ke sekolah. Ngga jarang sampai disekolah, danesh ngga mau turun dan pintu mobil dikunci dari dalam. Awal-awal tahun ajaran pertama, bundanya harus nungguin dia dalam kelas, sesenti pun ngga boleh jauh. Sekarang sih mendingan, sudah mau ditinggal, walau pun saat pisahnya itu harus berurai air mata.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya danesh bersekolah, dia sudah bersekolah sejak umur 2 tahun. Kalau ada yang bilang mungkin dia bosan, bisa jadi sih. Tapi yang pasti ini pertama kali dia sekolah full, 5xseminggu. Sebelumnya danesh di kelompok bermain hanya sekolah 2xseminggu. Sempat 3x seminggu saat dia naik ke kelas KB B, tapi itu ngga lama, hanya beberapa bulan, kemudian kita harus pindah ke pekanbaru (sebelumnya kita tinggal di jakarta,red)

Oooo atau mungkin karena pindah sekolah makanya danesh susah beradaptasi ? Bisa jadi juga sih. Walaupun di awal kepindahan dia terlihat baik-baik saja. Mungkin bisa jadi responnya lambat kali ya. Atau karena kemarin-kemarin karena dia sekolah bareng kaka indira, jadi walaupun pindah ke kota baru, selama ada kakanya, everything is ok. Makanya baru berasa, pas kaka lulus TK, tinggalah dia di sekolah sendiri, langsung gagal moveon. Apalagi tiap hari kakanya pulang dengan sejuta cerita, makin lah dia mupeng dan ngga mau sama sekolahnya sendiri.

Sejak pertama aksi mogoknya ini dilancarkan, saya tidak pernah memaksa dia untuk sekolah. Biar aja lah, toh umurnya baru 5 tahun ini. Makin dipaksa yang ada malah makin malas nantinya. Apalagi saya juga ngga memaksakan dia harus SD tahun depan. Tergantung gimana kematangan si anaknya nanti aja lah. Dan saya juga udah woro-woro sih ke danesh soalnya ini. Anaknya pun setuju aja. Katanya "ade emang ga mau bun masuk SD, ga enak harus bangun subuh-subuh" *tepokjidat

Tapi beberapa hari ke belakang, danesh rajin banget minta diajari membaca. Beberapa kali dia minta didikte-in cara menulis suatu kalimat. "Bun, tulis 'aku' gimana? Tulis 'makan' gimana?". Waaah ada angin apa ini? Dapat hidayah kali ya ni anak?. Beberapa kali dia menanyakan ke saya, "bun kalau danesh udah mateng, danesh blh msk SD kan?". Aaaah i see. Sepertinya ada yang diam-diam ngga sabar pengen sekolah bareng kaka nya lagi ini.

Terus danesh sekarang sekolahnya gimana? Ud semangat ya? Ngga juga sih. Tiap pagi dia masih nangis saat berpamitan sama bundanya. Bundanya harus nemenin di playground sampai waktunya berbaris. Maksudnya teman-temannya yang berbaris, dia mah tetap mau di playground. Jadi dia kayak menunggu playground sepi, baru bundanya boleh pulang, itu pun dengan pelukan dan air mata. Kelihatan janggal memang, tapi saya coba berpikir positif. Mungkin dia malas harus berebutan mainan kalau lagi rame-rame. Atau dia malu nangis di depan teman-temannya

Puncak patah hati saya adalah ketika dia sedang belajar menulis dan tulisannya adalah "aku suka belajar tapi aku tidak suka sekolah". Dwuaaaaaar. Rasanya itu kayak kejatuhan  es batu besar dari atas, sakit dan dingin pula. Dalam hati saya sudah komat kamit mengucapkan mantra, tenaang, sabaar, semangaaat dan entah mantra apa lagi untuk menenangkan diri sendiri. Ngga buru-buru menanyakan maksud tulisan ini, saya hanya berkomentar "pinter ya ade nulis".

Beberapa hari setelah tulisan itu, pelan-pelan saya mulai nanya, "de, sekolahnya seru ga?" Jawaban dr danesh masih standar aja. Kemudian saya tanya siapa teman favoritenya, dia pun menjawab si pulan si pulin dan si polen. Sampai kemudian tiba-tiba dia bercerita, "bun, ade kesel sama si pulan. Masak pas ade cerita, dia malah bisikin ke pulin 'jangan dengerin danesh ngomong. Jangan main sama danesh'. Trus pulin jadi ikut-ikutan ngga mau dengerin cerita danesh".

Aha.. Thats the point. Ini dia biangnya. Sebagai mamak ayam sebenarnya saya udah mau pasang badan aja, mana niiiih orang yang gangguin anak gue, siniiiih kalau berani sama ai, pendekar mamak ayam *pasangkuda-kuda. Tapi untung masih punya iman dan ngga khilaf. Tarik nafas panjaaaang trus mulai komat kamit baca mantra lagi dalam hati. Sambil sok cool saya nanyain lagi, kurang lebih begini percakapannya 

Bunda  : " emang si pulan orangnya nyebelin ya de?". 
Danesh : " iyaa, duluu juga si poni pernah digituin juga". 
Bunda   : "oooo gitu.. Trus selain si pulan dan pulin, siapa lagi temen yang danesh suka?
Danesh  : ada palin, paula, paulina.
Bunda   : ya udah besok-besok kalau si pulan ngomong gitu lagi, danesh bilang aja kalau danesh ngga suka dia bisik-bisik gitu. Kalau dia masih nyebelin juga, ya ud danesh main sama yang baik aja, sama palin, paula, paulina. Ok?
Dan anaknya pun mengangguk.


Tambah lagi nih koin belajar bundanya. Ada yang lebih penting dari sekedar pasang badan ketika anak kita dalam masalah, yaitu mengajarkan survival skill. Selama bukan hal yang berbahaya, ada baiknya membiarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Kecuali jika bullynya sudah dalam tahap yg lebih serius lagi. Kalau sudah begitu, nggak hanya orangtua, guru pun harus ikut turun tangan juga. Itu lah kenapa membangun komunikasi terhadap anak sangat penting. Supaya dia bebas bercerita apa saja. Jika kita tidak bisa menjadi kuping mereka, mereka akan mencari 'kuping-kuping' lain di luar sana yang belum tentu aman buat mereka. Yuuk mulai mendengar isi hati anak yuk. Stop bully dari sekarang. *tumbenserius *maapkepanjangan
Share:

2 comments:

  1. Hai Mbak Ferna,
    Saya ikut prihatin dengar alasan Danish nggak mau sekolah. Sepertinya dia menyukai seseorang untuk jadi temannya, tapi orang itu nggak mau jadi temannya dan malah menusuk dia dari belakang.
    Aku pernah berada di posisi ini sewaktu aku masih kanak-kanak, dan guess what, aku nggak didengarkan oleh orangtuaku sewaktu aku mengucapkan ini.
    Itu kegagalan life skill-ku, dan itu membekas sampai sekarang.

    Semoga Danish nggak patah hati lagi terhadap temannya, dan bisa menemukan teman baru yang lebih enak.

    *pukpuk Danish*

    ReplyDelete
  2. Setuju mba jangan tll dini ikut campur urusan anak tll jauh jgn sampe nti anak kita ga prnh belajar bwt selesaiin maslahanya. Duh deg2an jg ni klo anakku mulai sekolah hehehe

    ReplyDelete