thank u doc

Beberapa hari yang lalu anak sulung saya, Indira (6th 10bln) dirawat di rumah sakit karena infeksi bakteri. Seminggu sebelumnya dia memang sering mengeluh lemas dan pusing. Beberapa kali suhu badannya hampir mendekati 37 derajat, bukan demam tinggi memang, sumeng lah kalau bahasa jawa nya. Saat itu saya hanya memberikannya home treatment, yaitu air kelapa hijau, terapi uap, dan paracetamol jika dibutuhkan. Tak lupa pula jemur pagi untuk mengusir virus-virus yang nakal. Biasanya itu cukup manjur, keesokannya anaknya sudah pecicilan lagi. Tapi ternyata 2 hari kemudian indira kembali drop, sampai akhirnya di hari ke 7 saya memutusakan membawanya ke dokter. Sampai di RS indira diperiksa dan disarankan untuk tes darah yang ternyata hasilnya positif ada bakteri di dalam tubuh indira. Hasil lab juga menuliskan kalau leukosit indira cukup tinggi sehingga dokternya menyarankan untuk dirawat inap agar bisa diobati lebih intensif.

Saya adalah penganut ajaran RUM, Rational Use of Medicine, artinya menggunakan obat sesuai kadar dan kebutuhannya. Jika hanya virus biasa, 7-10 hari biasanya akan mati dengan sendiri. Yang paling penting adalah membuat si anak nyaman, yaa dengan home treatment itu tadi. Dan perlu digaris bawahi adalah RUM bukanlah anti obat, apalagi anti dokter. Setelah seminggu tidak ada perubahan, seperti yang sudah saya sebut diatas, saya baru akan membawa anak saya ke dokter, untuk diperiksa lebih lanjut. Jika terbukti ada bakteri baru dokternya akan memberikannya antibiotik. Dan biasanya itu setelah mendapat hasil dr rangkaian tes dari lab, baik tes darah maupun urine.

Nah yang sulit itu sebenarnya mencari dokter yang RUM. Mungkin kalau di jakarta sih sudah banyak ya, tapi untuk di daerah minim sekali. Karena yaa pada akhirnya semua kembali lagi pada pasar. Permintaan selalu garis lurus dengan penawaran. Di jakarta para mamud sudah banyak yang cukup teredukasi dengan baik. Sayang di daerah masih segelintir yang peduli tentang ini. Masih ingat ngga jaman kita kecil dulu, orang tua kita suka komentar, "kalo sakit, ke dokter A aja, sekali minum obat langsung sembuh". Persepsi tentang dokter adalah dewa sakti yang akan selalu menyembuhkan pasien dengan sekali kedip itu ternyata masih sangat kentara kalau di daerah. Di awal-awal saya datang kesini tiap kali ke dokter, tanpa babibu selalu dikasi antibiotik, padahal anaknya cuma radang biasa. Harusnya ke dokter kan ngga selalu minta obat, kadang saya ke dokter untuk konsultasi, daripada nanya sana sini yang belum tentu benar, malah nanti terjebak dengan mitos. Banyak yang mengernyitkan kening kalau saya ke dokter tapi  ngga dikasi obat. Buang-buang duit katanya. Saya coba googling, ternyata banyak yang 'seiman' dengan saya. Dikutip dari Bunda Salsa's Blog di www.minilaiya.blogspot.com, tau ngga sih sebenarnya dalam ilmu kedokteran sendiri ada 5 terapi yang diberikan dokter saat kita berkunjung, yaitu :
  1. Advice
  2. Terapi non farmakologi
  3. Terapi farmakologi
  4. Rujukan second opinion
  5. kombinasi terapi atas
Kebanyakan kita selalu ke dokter dan kemudian diberikan obat segambreng (butuh atau pun tidak). Ini lah yang disebut terapi farmakologi. Padahal point no 1 dan 2 juga ngga kalah penting lho. kalau memang ngga butuh obat,yaa ngga perlu dikasi obat. Sudah ngantrinya lama, biasanya harga obat racikan juga cukup lumayan kan ya. Justru saran dokter lah yang jauh lebih penting. biar ngga salah langkah, biar ngga bingung juga. Tau sendiri namanya anak lagi sakit, ibu mana yang ngga baper, galau, pokoknya dunia serasa runtuh lah. Jadi kalau bukan dapat saran dari ahlinya, bisa-bisa ntar malah dapat ajaran sesat yang ujung-ujungnya bukan bikin si anak sembuh, justru jadi tambah sakit. Nah kan jadi repot kalau gitu. Tapi akhirnya saya ketemu juga sih dokter anak yang seide dengan saya disini, langsung deh itu dokter saya sayang-sayang dan tak kan dilepas lagi :-p. karena bagaimanapun dokter anak itu kan sahabatnya para ibu, jadi pasti lah memilih sahabat harus yang sesuai hati nurani.

Selain DSA yang RUM yang juga ikut menunjang mempermudah urusan saya kalau anak-anak lagi sakit adalah doc mcstuffin. Yup, karakter disney yang jadi idola nya emaknya anak-anak. Gadis kecil turunan afro ini sebenarnya nama aslinya adalah dottie mcstuffin. Dia adalah dokter mainan. Umurnya 10 tahun, ibu nya juga seorang dokter, itu lah kenapa dia juga bercita-cita ingin menjadi dokter. Dengan kekuatan dari steteskopnya, saat tak ada orang lain, doc mampu berbicara dengan para boneka dan mainannya. Dan itu mempermudah dia untuk meng-dianogsis apa yang terjadi dengann 'pasien' nya. Banyak sekali moral lesson yang didapat dari serial ini. Terutama anak-anak jadi tidak takut dengan dokter lagi, apalagi kalau mereka sedang disuntik atau diambil darah. So thank u ya doc. Kau sudah mempermudah para mamak-mamak beranak lebih dari satu seperti saya ini yang dari sononya udah rempong duluan nganter anak ke dokter (soalnya semua rombongan sirkus harus ikut) dan tanpa harus menghadapi drama takut disuntik lagi.





Share:

4 comments:

  1. Disini saya sempet bingung batuk-batuk nggak dikasih obat malah disuruh minum air putih yang banyak saja. Padahal pas pemeriksaan udah sangat profesional pake steteskop, napas tarik ulur...hehehhe justru diperiksa secara intensif mungkin ya sang dokter memutuskan bahwa badan saya tidak memerlukan obat untuk penyembuhan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo virus biasanya emang ga bth obat mba, biar badan kita aja yg lawan virus langsung. Kalo aku sih justru suka bgt dokter yg model gtu. Hihihi.. Keep healthy mba..

      Delete
    2. Kalo virus biasanya emang ga bth obat mba, biar badan kita aja yg lawan virus langsung. Kalo aku sih justru suka bgt dokter yg model gtu. Hihihi.. Keep healthy mba..

      Delete
  2. duuh, semoga cepet sembuh ya anaknya mba :)

    ReplyDelete