Dilan & milea, sejoli 90an

Saya yakin semua orang (selain eva pastinya & jangan tanya dia siapa, nanti dia bs ge er kalo saya bahas disini) pasti sudah pernah baca novel dilan nya pidi baiq. Buku dilan pertama bukanlah buku baru, dicetak tahun 2015 (mohon ralat jika salah), tapi entah kenapa saat itu saya tidak tergerak buat membacanya. Kalau lagi jajan buku di gramedia, suka liat buku bersampul biru dengan seorang laki-laki & motornya, tapi kemudian cuma ngebatin, "ooo ini bukunya". Dan bahkan tidak tertarik untuk membaca ulasannya di belakang buku. Mungkin Tuhan masih sangat sayang sama saya saat itu.

Sampai akhirnya setahun kemudian ketika pidi baiq mengeluarkan buku dilan kedua sekaligus buku milea, gaung buku ini terdengar kembali. Dan akhirnya saya tergoda membelinya. Saat itu saya beli buku pertamanya dulu. Awalnya pun buku itu tidak langsung saya baca, saya biarkan tergeletak begitu saja. Penasaran, tapi takut juga. Mitosnya ada efek samping setelah baca buku ini. Tapi entah ada bisikan setan dari mana sampai akhirnya saya pun mulai membaca buku yang berjudul dia adalah dilanku tahun 1990 ini. Lembar per lembar. Bab per bab. Lalu tau-tau ceritanya habis. Dan kemudian saya menyesal. Mitos itu ternyata benar adanya. Saya baper sodara-sodara :'-(

Di buku ini berisi tentang milea yang bercerita tentang pujaan hatinya di tahun 90, yaitu dilan. Bercerita tentang seorang laki-laki yang memberikan dia kado ultah berupa tts yang sudah diisi, biar kamu ngga pusing, kata dilan. Maksudnya kata dilan ke milea di buku itu. Atau ketika yang lain jenguk orang sakit bawanya buah atau biskuit kaleng, ini malah bawa tukang pijit. Soalnya kalau saya yang pijit kan belum muhrim, begitu sanggah dilan saat itu. Dan itu hanya segelintir. Masih banyak lagi serentetan kelakuan ajaib dilan yang cukup bikin gemes dan baper.

Dan bukan hanya itu, pidi baiq seakan punya kekuatan ajaib yang mampu menyedot pembacanya kembali ke tahun 90an. Meski saya tidak pernah merasakan tinggal di bandung jaman itu, tapi pidi baiq sukses menghidupkan 'theater mind' saya dengan baik. Seakan-akan saya memang benar-benar pernah ada di masa itu. Meski di tahun dilan SMA, saya masih bau kencur, tp saya juga pernah merasakan masa-masa berkomunikasi dengan telepon rumah. Pernah juga merasakan masa-masa telepon dari telepon umum. Bahkan dulu kalau punya kartu telepon itu rasanyaaa bangga sekali. Setingkat lebih tinggi kasta nya daripada telpon umum koin.

Di buku dilan pertama ini adalah puncak kebaperannya menurut saya. 3S lah. Sebel sebel suka. Sempat terpikir untuk ngga mau melanjutkan buku ke 2. Sudaaah, cukuuup, ngga kuat sayaaa. Hahahhaha. Tapi kemudian tergoda juga sih. Dan demi apa coba pagi-pagi saya nongkrong di depan gramedia yang bahkan belum dibuka. Begitu rollling doornya terbuka, saya langsung merasa seperti pamannya Aladin yang melihat gua penuh harta karunnya di depan mata. Tanpa basa basi, langsung ke rak novel dan mengambil buku dilan ke dua & sekaligus milea. Bayar, robek & kemudian baca. Bahkan saya ngga sempat menikmati bau kertas baru yang selalu jadi kesukaan saya ketika membuka buku baru.

Di buku kedua ini kata saya sih jadi semacam obat penawar setelah 'dihajar' habis-habisan di buku sebelumnya. Disini lebih banyak drama & air mata nya milea. Dan entah kenapa berlahan baper saya hilang disini. Mungkin karena disini juga saya sudah bisa tebak akhirnya seperti apa, karena emang di awal prolog, secara tersirat milea sempat menyebutnya. Atau mungkin karena saya tim dilan & dibuku ini dilan tidak terlalu banyak muncul (yang kemudian saya mengerti kenapa dilan ngga banyak muncul, karena diberi 'ruang' sendiri, di buku milea), jadi perasaan saya datar saja. Kalau yang lain kesal dengan akhir ceritanya, saya justru sebenarnya senang kalau berakhir seperti itu. Karena memang begitu lah adanya di dunia nyata. Tidak selamanya semua yang diinginkan akan mudah didapatkan. Manusia boleh berencana, tapi jika Tuhan berkata tidak, maka tertutup lah jalan segalanya.

Berbeda dengan buku kedua, di buku ketiga, bapernya muncul lagi. Aaah eeelah, baru juga nafas lega dikit, udah nyesek lagi aja. Di buku milea ini bercerita dari sudut pandangnya dilan. Dari sudutnya laki-laki. Hal-hal yang dia dipikirkan & tidak bisa diceritakan oleh milea karena memang dia tidak disitu.

Tentang apa yang dilan rasa ketika milea begitu over protektif padanya. Tentang apa yang dilan rasa ketika dia berduka kehilangan sahabatnya & sangat membutuhkan milea saat itu, tapi milea justru menjauh. Tentang apa yang dilan rasa ketika semua berjalan begitu cepat diluar kuasanya dan tak bisa menekan tombol pause.

Hal ini membuat saya sangat kagum dengan pidi baiq, bagaimana mungkin dia bisa begitu amphibi menjadi laki-laki & perempuan sekaligus. Di buku dilan kesatu & kedua, dia bisa menjadi begitu milea. Pun di muka milea, tulisannya sangat-sangat dilan. Dan bener seperti yang diharapkan pidi baiq, semoga buku ini bisa jadi pelajaran yang sangat bagus. Pelajaran tentang masa lalu.

"Masa lalu adalah masa lalu, tak usah dihindari atau kautolak. Masa lalu akan menjadi penasihat yang baik. Tidak ada gunanya kausesali. Biarlah itu hadir sebagai aliran yang membawamu pergi ke tujuan yang lebih baik" (bunda dilan, dikutip dari buku "milea" )
Share:

8 comments:

  1. Waduh, saya juga bakal baper kalau ngomongin masa lalu Mba.
    saya kudet nih, belum satu pun buku Pidi Baiq saya baca.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. Udah beli buku milea berbulan lalu, tp belum sempat dibaca karena nunggu waktu yang bener2 tenang (which is sangat sulit didapati oleh emak2 dg 2 balita) demi mendapatkan feel baper ala buku 1 nya 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapkan hati dlu ya mba sblm membaca. Selamat baper eh baca mksdnya. Hihihi

      Delete