mamak selfi berdiri anak selfi berlari

foto hanya ilustrasi saja, diperankan oleh model
Jaman sekarang bayi mana coba yang tidak terjamah teknologi? Hampir tidak ada kyknya ya. Dari dia belum lahir aja, foto-foto yang masih bentuk hasil USG  sudah bertebaran di sosial media. Ngga usah ditanya deh untuk gigi pertama, mpasi pertama, jalan pertama dan pertama-pertama lainnya.

Anak ketiga saya, Shanaz, 18 bulan, sudah bisa selfi dengan mulut di monyong-monyongin. Jarinya yang kecil sangat lihai bermain dismartphone mamaknya. Semua juga disentuh sama dia, bahkan laptop atau tv yg bukan touch screen pun disentuhnya -_____-. Salah siapa kah ini?

Siapa lagi kalau bukan mamaknya yang suka main hp melulu. Iyaaaa, saya akui masih sulit rasanya untuk benar-benar lepas sama gadget. Pernah dulu saya jadwalkan jam 7 - 9 malam sebelum tidur ngga boleh main hp, hp sengaja disimpan di luar kamar. Maksudnya biar bisa fokus main sama anak-anak. Eeeh yang ada anaknya asik main sendiri, bundanya mati gaya, trus penasaran di TL ada apa aja, ujung-ujungnya bolak balik ke luar buat cek hp. Akhirnya aturannya jadi tidak efisien lagi deh. Ya sudah daripada bengong, mending saya main hp lagi  (eh?)

Saya tidak perlu menjabarkan apa saja efek buruk dari semua ini, saya yakin semua juga tahu. Saya pun tahu persis kok kalau ini bukan contoh yang baik. Berusaha untuk tidak terikat sama gadget sih pasti ada, meski belum berhasil seutuhnya. Padahal gadget  yang saya punya hampir tidak ada permainannya lho, tapi tetap aja jadi incaran krucils. Hiks :'-(

Tapi ternyata gadget tidaklah sepenuhnya dosa untuk anak. Bagaimanapun juga mereka hidup di jaman milenia tentu lah tidak mungkin kita sterilkan tanpa gadget. Efek positifnya adalah anak menjadi belajar adaptif terhadap perkembangan teknologi. Untuk anak yang sudah lebih besar, juga sebagai sarana pencarian informasi. Yang salah bukan alatnya tp aturannya yang harus super ketat.

Untuk anak dibawah 5th jelas lah aturan yang paling aman adalah no gadget. Kalaupun tidak bisa dihindari, sebaiknya tidak lebih dari setengah jam per minggu dan hanya pengenalan tentang warna bentuk dan suara. Itu pun harus disertai dengan aplikasi di dunia nyata juga. Misal di gadget nya si anak mengenal warna merah, maka dalam kehidupan sehari-hari pun orangtua harus tetap mengenalkan 'ini lhooo dek warna merah'. Bagaimanapun interaksi dua arah tidak akan bisa digantikan dengan teknologi apapun.

Buat pre-teen seperti indira beda lagi aturannya. Harus diakui teknologi sangat membantu disaat jarak membentang. Facetime, whatsapp adalah alat bantu yang paling berguna saat ayahnya sedang luar kota. Bahkan sebelum dia bisa membaca & mengetik, dia sudah biasa kirim pesan suara ke ayahnya. Selain dengan ayahnya, dia juga melakukannya dengan teman-teman TK nya yang di jakarta. Alih-alih dilarang, saya lebih setuju untuk mengedukasikan teknologi ini ke indira. Misal dia tidak boleh mengirim pesan ke sembarang orang, hanya ayah dan orang-orang terdekatnya, itu pun harus seijin bunda. Bahkan saya sudah siapkan alasan jika nanti 2-3 tahun lagi dia minta hp sendiri. Alasannya adalah " punya hp sama dengan punya tanggung jawab yang besar. kaka belum butuh saat ini, cukup pinjam hp bunda saja kalau mau hubungi ayah atau teman-teman. Mungkin nanti kalau sudah 13tahun, akan dipertimbangkan. Itu pun jika lulus berbagai syarat dari bunda". 

Intinya adalah anak boleh mengenal gadget tapi tidak boleh terikat apalagi sampai candu. Caranya? Gampang aja, mulai dari ibunya dulu. Kalau ibunya mengurangi pemakaian gadget di depan anak, akan sangat mudah mengatakan tidak kepada anak. Anak bukan pendengar yang baik, tapi peniru yang ulung. Apa yang dilihat, maka itu lah yang akan tiru. Jika mamak selfi berdiri, maka anak selfi berlari. Yuuk mulai toxic gadget dari sekarang.


P.s. artikel ini sepenuhnya untuk diri sendiri, sebagai mengingat agar lebih bijak lagi. Mohon maaf apabila ada yang tersungging atau merasa saya sotoy karena tulisan ini. Mari sama-sama belajar aja.


Share:

3 comments:

  1. aku akuin, aku jg blm bisa mba lepas dr gadget.. pulang kantor, biasanya gadget ttp di tangan krn kdg2 bos ku msh suka hubungin, dan bahas kerjaan di kantor.. ya mau ga mau, hp memang hrs slalu stand by. nah makanya anakku yg pertama bisa dibilang udh agak addicted sih ama gadget -__-. untungnya papinya masih bisa tegas, jd kalo diliat anak msh pegang hp, ya dia yg ngalihin perhatian si anak supaya ga ke gadget trs2an..

    ReplyDelete
  2. Aku juga membatasi anak2 mainan gadget mbak, terutama hp ya. Kalau lagi di rumah saat mereka masih melek aku gak pegang hp, tapi tetep bbrp menit sekali ngecek :)) :P

    ReplyDelete
  3. Dede bayinya dipi blm jg lahir, masih dikandung nih mba, tpi waswas ttg gadget udah menggema aja dlm dada.... Eaaaaa :'(. Mkasih buat share pengalamannya ya, dipi jg punya cita2 jauhkan hp dan tv, dekatkan pada buku dan permainan edukatif. Tpi ga tau tuh berhasil ngganya, secara emak dipi jg gila gadget... Heuheu.
    Salam
    Dipi-Bandung-www.dipiwarawiri.com

    ReplyDelete