Fakta atau mitos ?

Sumber gambar : http://www.instarank24.com/fakta.mitos
Sebagai orang indonesia mitos tentang ini itu sepertinya hal yang lumrah kita dengar dimana-mana.  Hampir di setiap aspek kehidupan kita pasti ada mitosnya. Pamali kalau kata orang sunda. Apalagi kalau setelah lahiran, pantangannya bejibun. Jangan ini lah, jangan itu lah. Dan ini menjadi salah satu keuntungan saya menjadi perantau, ngga ada yang mengusik saya tentang mitos apapun. Yaah walau saat orangtua/mertua berkunjung, bergeming juga sih, diiyain aja daripada ngebantah orangtua, dosa, ya kan?

Sebenarnya mitos-mitos itu sepenuhnya salah ngga sih? Dari mana ya asal muasal munculnya mitos? Nih saya coba ulas beberapa mitos yang saya ingat yah. Boleh ditambah di komen kalau pada punya mitos lainnya.

1. Busui = No Chilli
Sebagai pecinta makanan pedas ini jelas menyiksa saya. Waktu melahirkan anak pertama, Indira, saya sih masih nurut untuk tidak memakan makanan pedas sama sekali. Takut nanti anaknya sakit perut katanya. Tapi setelah lahir yang kedua dan ketiga bubar jalan semua, yang penting ibu nya senang. Kan busui harus senang, ya kan? Dan kalau salah satunya dengan makan pedas, ya sudah nikmati saja lah. Walau itu berarti dapat tatapan maut dari ibu saya kalau saya makan pedas habis melahirkan. Hahhahah, maap mak.

Mitos atau fakta kah ini?
Ini mitos lho buibu. Asi itu diambil dari darah bukan dari pencernaan. Jadi apapun yang kita makan ngga akan berpengaruh ke kualitas ASI. Memang sih aroma dari makanan yg kita makan akan masuk ke ASI tapi itu juga maksimal hanya bertahan 8 jam setelah itu menjadi tanpa bau kembali. Walau demikian busui memang wajib menjaga kualitas makanan, karena jika busui kekurangan gizi, maka ASI yang diproduksi akan mengambil dari bahan-bahan terbaik di tubuh ibu nya sehingga ibu nya akan kekurangan jika tidak diimbangi dengan makanan bergizi. Dan yang ditakutkan dari mengkonsumsi makanan pedas berlebihan adalah ibu nya bisa kena diare. Percaya lah diare saat menyusui itu pedih jendral. 
Baca : boleh kah busui makan cabe


2. Menjadi tahanan rumah selama 40 hari

Kepercayaan orang dulu sebelum 40 hari ibu yang baru saja melahirkan dilarang keluar rumah. Duduk diam bak putri raja  di rumah saja. Kalau butuh apa-apa tinggal minta tolong sama yang lain. Lah buat mamak-mamak tipe ulat keket yang ngga bisa diem kayak saya ini jelas ini jadi bagian dari cobaan ya. Terlebih sebagai single fighter yang semua-muanya dikerjain sendiri, yang mau ngga mau memang harus keluar rumah. Kalau saya di rumah saja, terus yang belanja siapa? Yang ngantar kaka nya sekolah siapa? Kalau sudah begini, tinggal doa yang kencang sama Allah, sing penting sehat2 aja lah semua. Dijauhkan dari segala mara bahaya. Aamiiin

Mitos atau fakta kah ini?
Ini sebenarnya mitos sih tapi ada faktanya juga. Secara medis ibu yang baru melahirkan baru benar-benar pulih setelah 2-3minggu (bahkan untuk SC bisa 6 minggu). Selama masa penyembuhan itu bisa saja terjadi komplikasi pembekuan darah atau pun infeksi pendarahanan. Dan untuk menghindari itu ada baiknya ibu melahirkan istirahat total di rumah dulu sebelum benar-benar melakukan aktivitas kembali. Begitu juga untuk bayi nya sendiri, masih sangat rentan terkena virus yang bisa ada dimana saja. Jadi memang jika tidak ada kepentingan mendesak, sebaiknya ibu dan anak yang baru lahir lebih banyak istrihat di rumah dulu.
 Baca juga : bayi belum boleh keluar rumah sebelum 40-hari

3. Bayi nungging = minta ade lagi (?)
Ini adalah mitos yang bikin saya bingung relevansinya dimana. Apa hubungannya coba bayi yang suka nungging dengan mau punya ade lagi. Kalau yang nungging bapaknya sih mungkin saja ya *eaaaaa.

Mitos atau fakta kah ini?
Jelas mitos lah ya. Bayi yang suka nungging adalah bagian perkembangan motorik kasarnya. Terutama ketika dia memasuki fase akan berjalan. Bahkan beberapa penelitian mengatakan kalau ini juga termasuk semacam bagian dari para bayi ini untuk mengeksplore sudut pandang mereka. Jadi mereka itu seperti sedang mengetes kalau melihat dari sudut pandang terbalik itu dunianya akan terlihat seperti apa ya.

4. Tukar Ulekan
Namanya manusia pasti selalu ada saja kemauannya yang tidak pernah habis. Apalagi kalau untuk urusan jenis kelamin anak. Kalau anak pertama sih biasanya apa saja, yang penting sehat. Untuk selanjutnya boleh dong berharap dapat anak dengan jenis kelamin berbeda dari kakanya, biar sepasang, klop. Katanya nih salah satu caranya adalah dengan tukaran ulekan dengan orang yang punya anak berlawanan jenis kelamin dengan anak kita. Misalnya anak saya perempuan, biar dapat anak laki, harus tukaran ulekan dengan yang punya anak laki, begitu pun sebaliknya.

Mitos atau fakta kah ini?
Totally 100% mitos lah ya. Salah satu cara mendapatkan anak laki atau perempuan itu bisa dengan diet makanan 6 bulan sebelum reproduksi. Yang ingin laki-laki perbanyak makan daging, yang ingin perempuan makan sayur & buah. Selain itu juga bisa diukur juga dengan tingkat asam & basa saat berhubungan. Nah kalau mau tahu gimana caranya bisa asam/basa, eeeeng gimana yaaa jelasinnya? Maluuuu. Hahahahha. Googling deh gooling kalau mau tau lebih jelasnya gimana ya.

5. Simpan puser di wadah yang sama
Ketiga anak saya semua nya puput (lepas pusernya) saat umur mereka 7 hari. Ngga tau kenapa bisa kompak gitu, kebetulan kali ya. Waktu itu saya dikasi saran katanya simpan puser di satu wadah yang sama dan nantinya kumpulkan dengan puser saudara-saudaranya yang lain. Konon sih katanya bisa bikin saudaranya saling akur sampai mereka besar nanti.

Mitos atau fakta kah ini?
Waktu dikasi saran itu, sebenarnya gatel pengen jawab, apa iya cuma karena puser bisa bikin mereka akur kalau orangtua nya saja masih tidak adil dengan anak-anaknya atau pun orangtua masih selalu menyalahkan si kaka tiap ada 'perang saudara' sehingga buat si kaka cemburu dan 'benci' dengan ade nya? Kok ya saya ragu ya. Tapi karena yang kasi saran itu orangtua, jadi saya cuma manggut-manggut aja saat itu. Jadi yaaah saya ngga perlu jelaskan lagi ya ini mitos atau fakta, sudah bisa simpulkan sendiri aja.

Intinya adalah apa pun itu, mitos atau fakta, selama itu sifatnya baik, ngga ada salahnya untuk diikuti. Tapi jika sudah sangat nonsense, alangkah baiknya dicari penjelasan secara ilmiah. Jangan diterima mentah-mentah. Apalagi kalau ternyata efeknya malah jadi berbahaya. Mengutip sebuah quote yang saya lupa dari mana, anak tidak terlahir dengan buku petunjuk, jadi jangan pernah berhenti belajar. Tidak ada sekolah orangtua, tapi selalu ada tempat buat belajar. Salam zuper.. "Ferna Teguh" :-p
Share:

6 comments:

  1. Betul emang mbak, kalo kita hidup di Jawa memang tidak lepas dari Mitos semacam itu.

    ReplyDelete
  2. nmor 3 dan 5 saya baru denger mbak.
    Emang kalau ada mitos yang baik2 aja, nggak melanggar okelah dituruti ya. Kadang, kita nggak percaya tapi nggak enak sama ortu. Takut kualat katanya.

    ReplyDelete
  3. Ortu saya malah nggak ada wanti-wanti apa-apa. Percaya kalau saya udah "pinter" punya persiapan pengetahuan lah. Apalagi, ortu ikut melihat diskusi saya dengan dokter kalo pas lagi konsultasi hihihi...

    ReplyDelete
  4. No 3 & 4 baru tahu tuh. Tapi...kebetulan anak saya sepasang sih. Kalo di klg saya ada mitos gini nih, ga boleh makan ujung sayap ayam (telampik). Nanti kalo ngelamar, ditolak (ditampik). Bukan u anak cowok aja, tapi u anak cewek juga (mis ngelamar kerjaan). Saya nurut aja ttg ini, lagipula, apa enaknya ujung sayap ayam? Tulang doang. Haha...Salam kenal...��

    ReplyDelete
  5. Kalau makanan saya setuju. Masalah 40 harian juga saya setuju, tapi untuk mitosnya juga agak percaya karena memang adat di Bali juga begitu.

    Terus nomor 3,4,5 saya gak percaya. Itu relevannya ulekan sama bayi dimananya? Mungkin yang buat mitos itu lagi perlu ulekan baru. :))

    ReplyDelete
  6. makasih ya mba, yah sih terkdang banyak mitos yang menyebaur di mana mana sehingga kta tidak tau dah yang namanya mitos atau faktanya wkkwk

    ReplyDelete