Mencegah korupsi dari rumah

Saya paling jengah ketika ada yang menyebut korupsi itu budaya. Budaya siapa? Budaya itu kan suatu pola masyarakat yang terjadi terus menerus dan dilestarikan. Nah korupsi? Yakin mau dilestarikan?

Mengubah suatu hal emang bukan lah perkara mudah. Saya ingat beberapa waktu yang lalu sempat viral video anak SMA yang membongkar korupsi di sekolahnya sendiri. Ketika mereka mencari bukti sana sini, termasuk kepada alumni, ironi nya justru banyak alumni yang menganggap ini hal yang berbahaya. Jangan main-main katanya. Ini 'budaya' yang sudah berlangsung lama. Jangan sok mengubah hal-hal yang sudah berjalan.

Nyeees.. Nyesek hati saya dengarnya. Untung lah adik-adik ini tidak gentar. Singkat cerita dengan segala bukti akhirnya mereka berhasil membongkar korupsi di sekolahnya.

Saya selalu percaya dengan kekuatan mulai lah dari yang kecil. Kalau ingin melawan korupsi, mulai lah dari diri sendiri dulu.

Coba berdiri di depan cermin dan tanya kan ke dalam diri masing-masing, kita masih bermental korupsi tidak?

Korupsi tidak selalu tentang uang milyaran rupiah. Korupsi bisa tentang apa saja. Darmaji alias dahar lima ngaku siji atau yang dalam bahasa indonesia artinya makan lima ngaku satu juga bagian dari korupsi. Coba sini ngaku siapa yang dulu kuliah makan di kantin pake ilmu ini? Pasti banyak kan?

Korupsi bukan lagi tentang kesempatan, tapi korupsi tentang membentengi diri. Meski punya kesempatan besar untuk mengambil yang bukan haknya guna memperkaya diri tapi tidak lakukan. Karena sadar ada tanggung jawab besar di dalamnya. Meski bisa makan 5 potong kue dan bayar hanya satu tapi tidak dilakukan. Dosa tauk. Kue nya ngga berkah.

Sebagai seorang ibu, pencegahan yang bisa saya lakukan adalah mendidik anak-anak saya sebaik mungkin agar mereka tidak bermental korupsi. Kalau makan 5 ya bayar 5. Dan itu dimulai sejak dini. Untuk hal-hal sekecil apa pun.

Misalnya saya memberikan amanah kepada Danesh, anak ke dua saya dengan memberikan 2 batang coklat. Saya bilang satu boleh dimakan, satu lagi simpan buat kaka pulang sekolah. Setelah coklat Danesh habis, berkali-kali dia tergoda dengan coklat titipan untuk kakanya. Saya bilang, tidak. Katanya sedikit saja bun. Jawaban saya tetap tidak, tidak dan tidak.

Begitu lah dia harus belajar dari kecil bagaimana mengontrol diri sendiri agar tidak tergoda dengan yang bukan haknya. Percaya lah perasaan Danesh yang ingin memakan coklat kakanya dengan perasaan para koruptor di luar sana yang meraup milyaran rupiah rasanya sama saja. Sama-sama godaan berat untuk tingkatan umurnya masing-masing.

Beda lagi pencegahan yang saya lakukan sebagai seorang istri. Saya selalu bertanya setiap kali suami saya membawakan saya sesuatu. Ini duit darimana? Saya harus tahu persis berapa detail penghasilan suami saya. Karena ternyata sebagain besar para istri tidak pernah tahu berapa penghasilan suaminya. Katakan lah saya kepo dan posesif. Tapi ini penting lho. Turut membantu mencegah terjadinya korupsi.

Contoh kasus ada seorang istri yang selalu ingin dibelikan berbagai macam kebutuhan tersiernya oleh suami. Hari ini minta lipstik sejuta. Karena dikabulkan, minggu depan minta sepatu 5 juta. Masih dianggap mampu bulan depan minta tas 20 juta. Alhasil setiap waktu terus meminta dan meminta. Karena istri-istri seperti ini biasanya tidak pernah tahu berapa persis nominal penghasilan suaminya. Tidak punya tanggung jawab keuangan. Selama suaminya masih mampu beli, selama itu artinya penghasilan lebih sekedar cukup.

Tidak ada yang salah memang dengan itu selama itu adalah uang yang menjadi hak mereka. Apa jadinya jika barang-barang yang dibelanjakan suami adalah hasil korupsi? Hanya karena tidak tahu bagaimana mengatakan tidak kepada istri, akhirnya mengunakan jalan pintas mengambil yang bukan hak nya.

Jadi yuk mari sama-sama kita cegah korupsi dari sekarang. Bukannya dalam aspek apapun mencegah jauh lebih baik kan ya? Semua harus terlibat. Seorang ibu, istri, suami dan bahkan anak semua harus ikut serta sesuai dengan peranan masing-masing. Mulai lah dari rumah sendiri. Karena rumah yang sehat akan menghasilkan orang-orang yang hebat pula.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Anti Korupsi Internasional yang diselenggarakan oleh KPK dan Blogger Bertuah Pekanbaru




Share:

18 comments:

  1. wkwkwk mba urang sunda?kok aku ngakak pas DARMAJI y :)
    iya siy mba kita sll sebutin korupsi budaya mau ga mau setiap perkataan itu doa akhirnya malah kejadian terus dan menggulung sampe yang bikin dinasti politik kek gitu miris y mba, semoga tahun 2017 sdh ga ada lagi yg korupsi aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Yg sunda itu suami ku, aku org aceh yg sdh di-sunda-kan :p. Makasih sdh mampir mba herva

      Delete
  2. miris yaa Mba, korupsi kok dibilang budaya :(

    ReplyDelete
  3. menanamkan anti korupsi dari rumah ya mbk, inspiratif mbk, smoga bnyak ibu dn klwrga di negeri ini yg menanamkan sikap anti korupsi mulai dari rmh, tengkiu sharenya ya mbk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Segala sesuatu emang hrs dimulai dr rmh kan. Krn rmh tmpt pertama kita belajar.

      Delete
  4. bener ya, MBak. dari rumah dulu, minta dong cokelatnya, ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... Jangaan doong, ini kan coklat untuk kaka indira :p

      Delete
  5. Hmm iya bener mbak, korupsi penyebab rusaknya suatu negeri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget. Korupsi hrs dicegah dr semua elemen masyarakat

      Delete
  6. Benar memang sudah harus belajar mengontrol kwinginan sedari dini. Supaya kelak tdk mdh tergoda melihat yg bukan haknya.😊

    ReplyDelete
  7. Inspiratif bgt cara menanamkan anti korupsi ke anaknya mbaaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalau bs bermanfaat buat yg lain jg.

      Delete
  8. Suka banget sama ini:

    Korupsi bukan lagi tentang kesempatan, tapi korupsi tentang membentengi diri. Meski punya kesempatan besar untuk mengambil yang bukan haknya guna memperkaya diri tapi tidak lakukan.

    ReplyDelete
  9. Hahahhaha DARMAJI itu dilakukan waktu kuliah, pas makan di kantin, temen aku numpukin satu ayam dibawah nasinya hahhaha..
    Setuju, pelajaran moral dan kebaikan emang harus dimulai dari rumah dan pendidikan keluarga, agar anak sadar akan nilai2 yg baik atau pun yg buruk :)

    ReplyDelete
  10. Korupsi memang harus dihindari sejak anak2 ya, dg berlaku jujur dan nggak ngambil hak anggota keluarga yg lain.

    ReplyDelete