Mereka adalah ladang amal kita


Sejujurnya saya baru tahu arti difabel baru-baru ini. Saya pikir difabel artinya orang cacat, ternyata singkatan dari different-able atau jika di indonesiakan bermakna orang-orang yg mempunyai kemampuan dengan cara berbeda.

Sebuah pabrik bisa saja mengeluarkan produk cacat, tapi tidak demikian dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah menghasilkan manusia cacat. Selalu akan diselipkan kelebihan yang lain untuk mengganti nikmat yang sudah diambil-Nya.

Semenjak saya mengetahui anak ke 3 saya, shanaz (20 bulan) adalah profound hearing loss, saya mencari referensi sebanyak-banyaknya  tentang bagaimana cara yang benar membesarkan anak seperti shanaz ini. Tentu bekal saya yang sudah membesarkan 2 kaka  sebelumnya tidak bisa sepenuhnya diaplikasi ke shanaz. Ada hal-hal khusus yang harus disesuaikan dengan keadaannya.

Meski begitu bukan berarti saya semerta-merta langsung mengistimewakan shanaz. Dia tetap harus belajar kemandirian, sopan santun dan hal- hal lainnya. Hanya caranya saja yang berbeda. Ingat, Difabel -different-abble-, ya kan?

Itu lah kenapa sedih rasanya ketika membaca di sebuah artikel ternyata banyak sekali sekolah luar biasa (SLB) yang bukannya membuat anak-anak istimewa ini menjadi luarbiasa, justru mengukungnya dan membuat mereka semakin terbatasi. Bayangkan setingkat kelas 6 hanya diajarkan ABC & 123 seperti anak TK. Bahkan anak TK jaman sekarang sudah belajar lebih dari itu. Miris ya:-(

Atau ketika melihat salah satu satu orangtua  di sebuah komunitas tuna rungu dengan terang-terangan dia  mengatakan akan mengistimewakan anaknya tersebut dan akan memberikan apa pun yang diinginkan anaknya. Duuh hati saya hancur mendengarnya juga.

Iya sih itu anaknya, terserah dia mau dibuat apa juga. Tapi entah kenapa saya selalu sedih jika ada orangtua yang tidak mau belajar & cari tahu tentang bagaimana menghadapi anaknya. Apalagi di zaman yang serba mudah seperti ini. Tinggal ketik kata kunci di mesin pencari, semua informasi yang kita butuh muncul. Semudah dan sesederhana itu.

Saat awal-awal saya membawa shanaz ke klinik tumbuh kembang dan ke pusat pendengaran, hal yang selalu pertama sekali ditanyakan oleh dokter, psikolog atau bahkan terapisnya adalah "apakah ibu bekerja di kantor?".

Bukan, saya bukan sedang memperkeruh perang tak kunjung usai tentang ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Pun saya juga bukan lagi menunjukkan betapa saya adalah orang paling mulia karena sudah menjadi ibu rumah tangga. Lanjutan dari pertanyaan diatas tersebut adalah ada perbedaan yang signifikan dari tahap perkembangan anak-anak yang distimulasi dengan baik di rumah dan yang tidak.

Dan anak-anak ini bisa berasal dari mana saja. Meski ibu nya wanita karier tapi jika dia benar-benar memberikan perhatian penuh terhadap kebutuhan anaknya, tentu lah si anak akan mengalami kemajuan yang pesat juga. Begitu pun jika si ibu adalah IRT dan dia punya tekad yang bulat  untuk belajar, punya wawasan yang luas tentang keadaan si anak, maka hasilnya pasti akan terlihat pada anaknya.

Berbagai terapi, alat bantu dengar dan bahkan implan koklea sekalipun itu semua adalah ikhtiar. Ikhtiar untuk membuat anak-anak istimewa kita menjadi anak-anak yang sama dengan anak-anak seumurnya. Tapi dibalik itu semua, cinta & perhatian kita lah yang paling utama.

Apalah arti dibawa ke tempat terapi termahal, jika yang membawanya adalah supir & pengasuhnya, sedangkan ayah bundanya sedang sibuk mencari rezki dan bahkan tidak menanyakan perkembangan si anak.

Apalah arti dipakaikan alat bantu dengar tercanggih sekali pun, jika sang bunda ada 24 jam di rumah tapi sibuk meratapi nasib si anak & tidak mau belajar tentang anaknya

Anak adalah amanah. Terlebih lagi jika yang diamanahkan oleh Allah itu adalah anak istimewa. Aaah rugi rasanya jika anak-anak itu tidak dibesarkan dengan sebenar-benarnya. 

Mereka itu adalah ladang amal kita wahai ayah bunda terhebat. Mereka lah tempat kita menuai amalan kita nanti. Maka sangat disayangkan jika Allah sudah memberikan ladang sebesar itu tapi tidak dipergunakan sebaik mungkin.

Mudah? Tentu saja tidak. Bahkan petani durian pun membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun agar dia benar-benar bisa memanen durian dengan kualitas terbaik. Silahkan ditanya usaha apa yang sudah dilakukan selama 10 tahun ke belakang untuk menjaga pohon durian tersebut. Pastilah tak cukup hanya sekedar menyiram & memberi pupuk saja.

Jadi yuk jangan menyerah. Percaya lah mereka itu anak-anak hebat. Dan tentu mereka membutuhkan orangtua-orangtua hebat juga. Mari saling bergenggaman tangan, memberi semangat satu sama lain, bersama-sama kita taklukkan dunia. Bismillah..



SUMBER GAMBAR :

  1. http://bisamandiri.com/wp-content/uploads/2014/10/28/anak-difabel.jpg
  2. http://1.bp.blogspot.com/-QpVxKq1VEV4/VApxMH1h03I/AAAAAAAAXnw/YGNyLggXmPA/s1600/Disability-Month-Awareness.jpg
Share:

11 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. bersyukur banget ya mbak kalau kita memiliki anak yg sehat2. setuju banget merekalah ladang amal kita

    ReplyDelete
  3. Nice share mba ferna :).. Allah memang maha kuasa menciptakan semua mahluknya dengan kekurangan dan kelebihan. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha utk ridho, pasrah dan tetap melakukan yang terbaik. InsyaAllah :)

    ReplyDelete
  4. "Hanya saja caranya yang berbeda" saya jadi ingin belajar terus tentang ini mbak. Share terus ya mbak.

    ReplyDelete
  5. Dan aku keingat tmnku jaman smp.. Bundanya aziza. Cerita shanas mirip aziza.. Yang sabar ya mbak..

    ReplyDelete
  6. Mereka sama seperti kita. Hanya saja cara mereka melakukannya berbeda dengan kita. Nice write, Mbak! :D

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  8. Setuju banget mba kalo anak - anak kita ada ladang amal buat kita sendiri, amin bisa lebih baik lagi ke depannya :)

    ReplyDelete