Tes pendengaran pada anak, penting kah?

sumber : <a href='http://www.freepik.com/free-vector/five-senses-icons_837465.htm'>Designed by Freepik</a>
Beberapa hari yang lalu Shanaz baru saja mengikuti rangkaian tes pendengaran. Tes ini dilakukan karena Shanaz belum mengeluarkan satu kata pun sampai sekarang (18 bulan).

Berdasarkan milestone nya harusnya umur segitu Shanaz sudah bisa minimal 5 kata, 2 kata wajib mama, papa dan 3 kata lainnya seperti kaka, dada, itu, mau. Saya curiga keterlambatan dia berbicara berasal dari pendengarannya yang tidak maksimal. Karena beberapa kali saya memanggilnya dia terlihat cuek saja.

Memang sih saat diberi instruksi sederhana, Shanaz bisa mengikutinya, tapi saya curiga itu karena dia membaca gerak bibir & mimik muka saya. Dokter anaknya meminta saya observasi di rumah dengan memberikan instruksi dari belakang shanaz, jangan di depan. Tujuannya agar dia mengandalkan pendengarannya bukan visualnya. Dan nyatanya dia memang bergeming saat diberi instruksi dari belakang.

Karena itu lah oleh dokter anaknya saya dirujuk ke poli THT untuk melakukan rangkaian tes pendengaran ini. Banyak yang menganggap saya berlebihan dalam hal ini.


"Aaah baru 1,5th ini ntr jg lama-lama bisa sendiri ngomongnya"

"Anak jaman dulu juga baru bisa ngomong umur 3 tahun, santai aja lah"



Bukannya sok pintar, tapi pernyataan yang membandingkan jaman dulu dengan sekarang sudahlah sangat tidak relevan lagi.

Jaman dulu anaknya di-abur ke sawah sambil nungguin orang tua berladang. Jaman dulu masak nasi ditanak pakai kayu bakar, sayurnya ditanam di kebun sendiri. Jaman dulu ngga ada virus yang aneh-aneh.

Sekarang? Aaah sudah lah tidak usah dibahas lagi sekarang bagaimana, pasti sudah tahu sendiri.

Kembali ke tes pendengaran tadi, Shanaz disarankan melakukan rangkaian tes BERA. Sebenarnya bukan hanya BERA saja, tapi ada 4 tes yang harus dilakukan, yaitu tympanometri, OAE, BERA, dan ASSR. Nanti akan saya coba jelaskan satu-satu maksud dari tes tersebut ya.

Sebelumnya dokter menjelaskan bahwa nanti saat melakukan tes tersebut shanaz akan diberi obat tidur. Obat tidur tidak lah sama dengan obat bius. Obat tidur hanya membantu si anak untuk tidur lebih dalam (deep sleep). Dan untuk itu sangat disarankan kondisi si anak memang dalam keadaan kurang tidur.

Karena banyak kasus, jika si anak sudah tidur cukup, meski diberikan obat tidur, dia tidak tertidur. Jika sudah begitu satu jam kemudian diberikan obat tidur tambahan melalui dubur. Jika tidak tertidur juga, maka test  terpaksa ditunda dan melakukan penjadwalan kembali. Karena obat tidur hanya boleh diberikan maksimal 2x single doze.

Tes pertama yang dilakukan Shanaz adalah tympanometri & OAE. Tympanometri adalah tes untuk menilai adanya cairan di telinga tengah, kekakuan tulang-tulang pendengaran dan tekanan negatif di telinga tengah. yang nanti akan dilanjutkan dengan tes OAE.

Kedua tes ini adalah kunci pertama untuk melihat apakah fungsi pendengaran berjalan normal atau tidak. Beberapa RS tertentu bahkan sudah mesyaratkan untuk melakukan tes ini beberapa hari setelah bayi lahir sebelum diijinkan pulang ke rumah.

Tes tympanometri ini dibaca menggunakan grafik yang disebut tympanograph. Normalnya hasil tympanograph harus lah bergelombang. Sayangnya hasil shanaz saat itu grafiknya lurus saja.

Hal ini sebenarnya bisa juga disebabkan oleh batuk pilek. Makanya saat melakukan tes ini si anak harus dijaga jangan sampai batpil. Walaupun kondisi shanaz saat itu sebenarnya sehat sih, tidak sedang atau bekas batpil. Dan saat diintip di hidung & tenggorokannya pun bersih, tidak ada bekas lendir.

Karena ragu, dokter meminta melakukan tes ulang dan kemudian dilanjutkan dengan OAE .

OAE atau Otoacoustic emision adalah tes fungsi pendengaran menggunakan frekuensi tertentu. Apabila tidak ada indikasi masalah pada pendengaran maka hasil yang akan muncul di alatnya adalah pass (lulus). Jika tidak, maka akan muncul refer, yang artinya tidak lulus dan merujuk ke tes berikutnya.

Lagi-lagi hasil shanaz refer untuk setiap tingkatan frekuensinya. Ada satu titik frekuensi di telinga kanannya (kalau tidak salah saya frekuensi 300 Mhz) itu statusnya pass.

Seharusnya setelah ini Shanaz lanjut ke tes BERA, tapi saat itu dokter THT nya menyarankan untuk dijadwalkan ulang saja katanya. Bisa saja kedua tes tadi hasilnya salah. Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat di hasil berikutnya sangat disarankan untuk menunda dulu sambil di observasi lagi. Saya pun mengikuti saja saran dari dokter tersebut.

Singkat cerita, minggu depannya Shanaz kembali melakukan tes pendengarannya. 2 tes pertama kembali dilakukan yang sama seperti minggu lalu, yaitu tympanometri & OAE dengan harapan semoga hasilnya berubah.

Sayangnya hasilnya kurang lebih masih sama. Ada sedikit perubahan tympanograph di telinga kanannya, tapi masih jauh di bawah normal. Akhirnya dokter memutuskan untuk melanjutkan saja ke tahap berikutnya.

Selanjutnya shanaz melakukan tes BERA & ASSR . BERA atau Brainstem Evoked Response Audiometry adalah reaksi batang saraf terhadap suara menuju ke saraf pendengaran.

Berbeda dengan 2 tes sebelumnya yang tetap bisa dilakukan meski si anak dalam keadaan sadar bahkan meronta, di 2 tes berikutnya ini sangat dibutuhkan ketenangan. Karena 2 tes ini merekam kegiatan otak dr telinga tengah ke saraf pendengaran.

Disini lah dibutuhkan obat tidur tadi. Guna nya agar si anak dalam kondisi paling rileks, tidak bergerak bahkan berkedip sedikit pun sehingga tidak menganggu proses merekam saraf pendengaran itu. Dan lagi jika dia dalam kondisi terbangun, ditakutkan yang nanti akan terekam adalah semua saraf, sedangkan yang dibutuhkan hanya saraf pendengarannya saja.

Setelah itu masih dalam kondisi tidur langsung dilanjutkan ke tes terakhir, yaitu Auditory Steady State Response (ASSR). Ini adalah tes untuk menilai di ambang suara terendah mana yang bisa didengar oleh shanaz.

Dalam pendengaran normal ambang terendahnya adalah sekitar 0 -20 desibel (dB). Dikatakan gangguan pendengaran ringan bila dia mampu mendengar minimal 20 - 40 dB. Dan dikatakan gangguan sedang jika berada di titik 40 - 70 dB. Lalu untuk 70 -90 dB dianggap gangguan pendengaran berat dan sangat berat jika mencapai  diatas 100 dB.
sumber google

Setelah melakukan kedua tes tersebut selama kurang lebih satu jam kemudian saya diarahkan untuk kembali ke poli klinik THT untuk dibacakan hasilnya oleh dokter THT (saat melakukan tes ini shanaz berada di ruang khusus dan dibantu oleh operator untuk menjalankan alat pemeriksaannya). Dan saya juga disarankan untuk pelan-pelan membangunkan shanaz, karena jika kondisinya masih tidur, dokter tidak akan mengijinkan pulang.

Hasil keseluruhan dari test tersebut adalah pendengaran shanaz tidak terlalu baik. Bahkan cenderung buruk. Kuping sebelah kanan Shanaz masuk kategori berat dan kiri sangat berat.

Meski saya sudah mempersiapkan mental untuk ini, tetap saja saat dokter membaca hasilnya saya tidak kuasa untuk tidak menangis.

Di sebelah kanan Shanaz mampu mendengar di titik 80 dB, itu setara dengan suara mesin truk diesel atau pun blender. Jadi jika nada bicara kita bisa setinggi itu, baru shanaz bisa mendengar. Di sebelah kiri lebih parah lagi, tingkat ambang yang bisa didengar diatas 110 dB, sama dengan suara konser atau mesin pabrik.

Sebagai langkah awal dokter menyarankannya untuk memakai alat bantu dengar (adb) yang akan di evaluasi lagi 6 bulan kemudian. Jika tidak ada perubahan berarti baru disarankan untuk operasi implan.

sumber google
Meski bukan hal yang mudah untuk dicerna, tapi saya dan suami tidak boleh berlama-lama patah hati. Ada banyak PR yang harus segera kami lakukan. Sekarang ini fokus utama untuk shanaz adalah menyelamatkan verbalnya.

 Tidak selalu anak tuna rungu akan menjadi tuna wicara juga. Selama struktur oralnya bagus & dibantu terapi di klinik tumbuh kembang, insya Allah semua akan dimudahkan. Kami percaya Allah maha baik. Semua rencana Allah pasti lah yang terbaik.

Jadi kembali ke judul diatas, apakah tes pendangaran pada anak itu penting? Jawabnya SANGAT PENTING. Sebagai orangtua kita harus peka.

Jika melihat ada beberapa tahapan yang tidak sesuai dengan umurnya saat itu, cari lah penjelasan medis segera. Langsung ke ahlinya. Bukan berdasarkan 'katanya'. Bukan pula dari teori 'jaman dulu'. Toh ngga semua hasilnya akan buruk kan? Bisa saja memang hanya butuh stimulasi saja.

Kalau pun ternyata hasilnya kurang baik seperti shanaz ini, bukan berarti akhir dari segala-galanya. Yang terpenting saat ini adalah doa, ikhtiar dan tawakkal. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Bismillah saja. Insya Allah belum terlambat untuk memulai.


Share:

19 comments:

  1. kyknya memang penting mbak tes pendengaran itu...tfs mbak

    ReplyDelete
  2. Ortu emang kudu aware ya mbak ttg tumbang anaknya TFS

    ReplyDelete
  3. Pemeriksaan dini harus dilakukan sejak awal ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Semakin cepat semakin baik. Jd bs ditanggulangi dg benar jg.

      Delete
  4. Semangat y mba :) *pelukkkk* everything happen for a reason semoga shanaz sehat selalu dan pintar ^^ salam sayang dari Cimahi. Jujur aku baru tahu detail tes pendengaran terimakasih mba mau berbagi :)

    ReplyDelete
  5. Saya pernha ke dokter tumbuh kembang dan disarankan cek pendengaran krn anak saya bicaranya sedikit kurang lancar untuk anak seusianya. Tapi sebelum tes dilakukan anak saya alhamdulilah sdh bisa bicara lancar. Saya setuju mbak, pencegahan memang lebih baik dg melakukan pemeriksaan sejak dini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. Banyak kasus ortu takut membawa anaknya tes, takut hasilnya buruk. Padahal apa pun itu hasilnya yang penting adalah jangan sampai salah langkah. Makasih sdh mampir mba.

      Delete
    2. Bunda turiscantik.com klo boleh tau waktu itu anaknya usia brp???

      Delete
  6. ini artikel yang pas banget buat saya mbak!
    SI kecil udah 2 tahun, ngomongnya belum lancar dan banyak. Waktu konsultasi (belum sampai jumpa dokter) ditanya apa geraknya/bentuk perintah dan segala macam dia paham? dipanggil tahu? saya jawab nggak ada ada masalah. Karena secara fisik, anak belum ngomong ada 2 faktor: telinga dan alat suara.
    Semoga sih nanti kelanjutannya gak ada masalah.

    Mbaknya semangat mbak selalu ya ^_^
    makasih udah share ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulilah kalau artikel ini bermanfaat. Semoga anaknya mba juga sehat selalu ya. Makasih sdh mampir mba.

      Delete
  7. ini pernah saya alami dengan anak pertama saya, Fikri. Sudah usia 2 tahun dia belum bisa bicara. Bukan karena dia gagu, sebabnya karena art kami terlalu pendiam. Saat saya ajak bicara dan tinggal dengan art papa yang bawel, Fikri lancar bicara. Tapi sebelumnya saya latih Fikri dengan latihan terapi bicara, seperti menyedot minuman, meniup peluit atau meniup lilin. Ternyata memang Fikri agak susah saat itu. Tapi karena saya latih terus, alhamdulillah bisa.

    Sekarang Fikri jadi anak yang bawel. hehehe.. mgkn krn tersimpan selama 1 tahun kali ya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau itu kasusnya mrp dg anak pertama saya, indira. Krn krg stimulasi makanya sdkt terlambat bicara. Sekarang id bawel banget. Salam sayang untuk fikri yaa

      Delete
  8. semangat ya mba....tetap berusaha yang terbaik

    ReplyDelete
  9. Penting banget menurut aku. Semangat terus ya Mba, Shanaz pasti tetap jadi anak yg pintar & percaya diri berkat dukungan orangtuanya :)

    ReplyDelete
  10. Semangat selalu mba dan suami untuk mendampingi dek Shanaz menjalani terapi selanjutnya. Semoga anak2 sehat2 terus dan tambah pintar ya mba 😊

    ReplyDelete
  11. Semoga makin sehat setelah pakai adb ya, Shanaz. Semangat terus buat mama dan papanya :)

    ReplyDelete