curhat galau : when my inside go out

Disclaimer : blogpost ini bukanlah review film inside out, 99 % curhat receh dari mamak galau. Abaikan jika dianggap kurang bermanfaat.


Semenjak menjadi ibu saya hampir tak pernah ke bioskop selain nonton film anak-anak. Film pertama yang ditonton indira (7th) di bioskop adalah Frozen. Dan setelah itu bioskop menjadi salah satu agenda quality time kami. Dari semua film yang saya tonton dengan anak-anak, film yang paling berkesan itu Inside Out. Entah karena filmnya pas dengan moment saat itu (waktu itu nobar bareng teman-teman sekolah indira di jakarta sekaligus jadi farewell saat indira pindah ke pekanbaru) atau karena film ini sangat cocok dengan karakter saya.

sumber foto : www.disney.wikia.com
Diceritakan seorang gadis bernama Riley pindah bersama orang tua nya dari Minnesota ke San Francisco. Riley terkenal sebagai anak yang ceria. Di dalam otak Riley ada 5 'makhluk' yang mengontrol semua perasaannya, Joy, Sadness, Fear, Angry dan Disgust. Masing-masing dari mereka punya peranannya sendiri. Mereka bergantian memegang panel yang di dalam otak Riley, kecuali Sadness. Sadness dilarang memegang panel karena dianggap hanya membuat Riley sedih saja. Riley anak periang, Riley tidak boleh nangis. Begitu lah kira-kira. Sampai suatu hari Sadness & Joy tanpa sengaja keluar dari otak Riley, maka yang tertinggal hanya Angry, Fear dan Disgust. Bisa bayangkan apa jadinya anak umur 12 tahun jika yang ada di otaknya hanya rasa marah, takut dan jijik? Kalau ada yang belum nonton, film ini wajib dimasukan dalam daftar film yang harus ditonton. Ceritanya bagus sekali terutama untuk orangtua yang sudah punya anak pre-teen.

Apa yang terjadi pada Riley juga terjadi pada saya beberapa waktu yang lalu. Ketika shanaz diagnosa profound hearing loss (Tuli) saya sedih. Tapi saya tidak membiarkan Sadness di dalam otak saya memegang kendali lama-lama. Mungkin kalau Riley hanya punya 5 rasa di otaknya, saya punya tambahan satu lagi, logic. Saya adalah orang yang paling sering mengunakan logika saya daripada yang lainnya. #tim realistis istilahnya. Logika membuat saya berhenti bersedih dan berfikir saya harus apa dan bagaimana menghadapi Shanaz.

Satu sisi itu mungkin baik. Orang-orang dengan logika adalah mereka yang sadar bencana dan tidak gampang panik. Saya pernah loh dulu waktu masang lilin aromatherapy di pojok kamar dan kemudian tiba-tiba api membesar karena saya siram minyak kayu putih maksudnya biar aromanya semakin kuat. Dan itu anak-anak saya sedang tertidur dengan nyenyaknya di kasur. Pak suami bengong mematung bingung mau ngapain. Saya secepat kilat lari ke kamar mandi, ambil handuk yang dibasahkan air lalu lempar ke api tadi. Dan api pun padam. Begitulah logika selalu punya peran besar dalam hidup saya.

Sampai kemudian tiba-tiba kemarin perasaan saya meledak. Sadness muncul. Bermula dari saat saya mengikuti kelas parenting support bersama orangtua anak tuna rungu lainnya, saya melihat & mendengar sendiri bagaimana perjuangan orangtua lainnya demi anak spesialnya. Kebanyakan dari mereka anaknya sudah diatas umur 4-10 tahun. Detik itu saya ngeh  kalau perjalanan saya hanya baru di depan pintu.

Tiba-tiba ketakutan terbesar saya muncul. Takut saya tidak bisa benar-benar kuat dan sabar menghadapi semua ini. Yang Shanaz butuhkan lebih dari sekedar beli alat bantu dengar dan terapi. Shanaz butuh konsistensi dari orangtuanya, terutama ibu nya. Karena saya lah yang ada 24 jam bersama dia. Apa saya mampu? Kalau kemudian saya gagal, kepada siapa saya harus menuntut? Mungkin saat ini sadness dan fear sedang berduet bermain-bermain di panel otak saya

Saat itu saya hanya bisa menangis dan membiarkan semua emosi saya keluar. Karena saya tahu menahannya tidak akan menyelesaikan masalah, justru malah hanya membuat angry muncul. Aaaah bahkan disaat seperti ini pun logika masih muncul dalam otak saya. Kemudian saya mengambil wudhu agar saya kembali tenang.

Saya pernah baca sebuah status yang muncul di lini masa facebook saya beberapa waktu yang lalu, sedikit lupa literari aslinya seperti apa, kurang lebih maknanya seperti ini : 'kekhawatiran adalah iblis yang sedang menari-nari di hati'.

Satu hal yang kemudian saya sadari adalah saya punya Allah, sang Maha sutradara hidup saya. Saya punya rukun iman ke-6 dan sekarang lah waktu yang tepat untuk benar-benar saya aplikasikan dalam hidup saya. Saya punya iman terhadap qada dan qadar. Saya harus percaya dan haqul yakin terhadap takdir Allah. Tidak mudah, tapi Insya Allah bisa. Tidak ada tempat untuk iblis menari di hati saya lagi.

"Its ok to feel these emotions, its how we deal with them that make us the people we are" Mom's Riley - Inside Out


sumber gambar : www.pinterest.com




Share:

15 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ga salah udah tayang d tv lokal jg kan mak. Tp sensasi emang beda sih dg nonton di bioskop. Hehehhe

      Delete
  2. Well said and well written Mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaah makasih sdh mampir mba tesya. Duuh terharu 'rumah'ku disamperin mba tesya

      Delete
  3. Inside out favoriiitt sayaaa mbaaakk 😁 hihihi sukaa banget ceritanya. . Menjadi sedih senang bahagia kecewa ataupun marah sebenarnya wajar. . Namun memilih mengendalikan diri untuk terus bahagia adalah hal yg bijaksana. . 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. Filmnya sarat makna ya mba. Khas film disney. Sukaaa

      Delete
  4. waah ini seru ya mba filmnyaa...masih tayangkah di bioskop?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah ga mba. Ud lama bgt filmnya ini. Mgkn dvd ud ada atau mlh ud tayang d tv lokal kyknya

      Delete
  5. hahaha, lilin disiram dengan minyak kayu putih, untung bisa cepat-cepat diatasi ya mbak. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha.. Untung bkn bensin yg disiram ya

      Delete
  6. iyah mba bagus sekali tlisanya nih..memang iblis selalu ada dalam setiap diri kita dan bagaimanapun juga kita harus selalu waspada dan selalu mengendalikan emosional kita...heheh
    Salam blogger mba

    ReplyDelete
  7. Saya sudah banget sama inside outtt mbakk..tujuan filmnya juga sebagai kesadaran akan mental health dari kecil. Mau masih kecil apa udah dewasa sepertinya penting untuk mengeluarkan emosi yang kita rasakan daripada hanya di pendam :)..

    ReplyDelete
  8. Moga shanaz bisa jd anak yg istimewa dan jd kebanggaan ortu...terus berpikir positif ya mba

    ReplyDelete
  9. ini Fikri juga suka. Bagus filmnya. ^_^

    ReplyDelete