Menangani gangguan pendengaran pada anak

Beberapa hari yang lalu saya dan pak suami mengikuti seminar tentang penanganan gangguan pendengaran. Seminar ini membuka wawasan saya tentang apa dan bagaimana cara menangani gangguan pendengaran itu sendiri.


Di blogpost sebelumnya saya pernah bahas tentang tingkatan gangguan pendengaran berdasarkan ambang dengar. Untuk mempermudah memahami, saya jelaskan dulu sebelumnya apa itu ambang dengar. Ambang dengar adalah batas sejauh mana si penderita bisa mendengar yang diukur dengan satuan decibels (dB)
Sumber : yayasan rumah siput indonesia

Ada gangguan pendengaran ringan (slight/mild) untuk ambang dengar 26 dB-40 dB, gangguan pendengaran sedang (moderate) di ambang dengar 41 dB - 60 dB,  gangguan pendengaran berat (severe) di ambang dengar 61 dB - 80 dB dan gangguan pendengaran sangat berat (profound) diatas 81 dB.

Ambang dengar shanaz masuk dalam kategori berat (profound), yaitu kanan 80 dB dan kiri 110 dB.

Dalam teorinya, untuk sampai ke tahap si anak bisa berbicara status ambang dengarnya harus di dalam area merah pada gambar dibawah ini.
Sumber : yayasan rumah siput indonesia

Status ambang dengar yang dimaksud ini bukan lah ambang dengar saat tes pendengaran awal, tetapi ambang dengar yang sudah diintervensi baik menggunakan alat bantu dengar (selanjutnya akan disebut ABD) atau pun implan koklea. Biasanya untuk pemakai ABD ambang dengarnya bisa naik sampai setengah dari yang sebelumnya. Sedangkan implan koklea bisa mencapai lebih dari itu.

Untuk itu ada 3 hal yang harus agar tercapainya ke tahap anak bisa berbicara, yaitu :

1. Identifikasi dini

Rumus identifikasi adalah 1:3:6, yaitu sebelum bayi berumur 1 bulan, pihak rs wajib melakukan tes pendengaran berupa OAE (Oto acoustic Emission). Akan ada 2 hasil yang akan muncul dalam test ini, pass (lulus) dan refer (merujuk ke test berikut). Jika refer, maka anak wajib mendapatkan tes berikutnya di umur 3 bulan. Disini dokter sudah dapat memutuskan diagnosa terhadap anak tersebut apakah anak tersebut mengalami gangguan pendengaran atau tidak. Lalu di umur 6 bulan harus sudah ada intervensi untuk membantu si anak bisa mendengar, misalnya memakai ABD. Semakin cepat diintervensi semakin baik. Karena artinya semakin kecil jarak antara umur biologis dan umur pendengarannya.


2. Dukungan penuh orangtua
Setelah pemasangan ABD atau pun implan koklea peranan orang tua  adalah hal yang cukup krusial. Seberapa pun mahal terapi yang kita ambil untuk anak-anak kita, tetap lah dukungan penuh dari kita segalanya. Karena terapis hanya membantu anak kita sekitar 1 atau 2 jam, selebihnya orangtua lah yang harus ikut berperan aktif di rumah. 
Menurut Hart & Risley (1995 & 1999) orangtua wajib berbicara dengan si anak 340 kalimat per jam, 1440 kata per jam, 90 pertanyaan per jam, 17 pujian per jam, dan 7 larangan per jam *lap keringat*


3. Bimbingan dari ahlinya
Untuk kasus anak tuna rungu, terapi yang harus pertama kali diambil adalah terapi mendengar atau Audiotary-verbal therapy (selanjutnya akan disebut AVT). Fokus utama dari terapi ini adalah mengejar keterlambatan mendengar. Otak auditory (pendengaran) sudah dibentuk dari 20 minggu sebelum melahirkan. Jadi meski dari lahir sudah diidentifikasi ada gangguan pendengaran, tetap saja sudah telat 20 minggu. Konon lagi shanaz yang baru diketahui diumurnya 18 bulan.
Umur biologis shanaz sekarang adalah 20 bulan, tapi umur pendengarannya baru 14 hari atau 2 minggu. Harapan saya dan saya yakin semua orangtua dari anak tuna rungu pasti menginginkan hal yang sama, yaitu umur pendengaran anaknya bisa sama dengan umur biologisnya

Jika 3 hal itu dilakukan 100 %, saya percaya Allah akan membayar semua usaha kita. Allah maha baik. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini.

PR saya untuk shanaz sekarang ada di poin 3. Sayangnya terapi AVT ini belum ada di Pekan Baru. Sejauh ini baru ada di jakarta, medan dan bali. But hey where there is a will, there is a way, right? Saya dan pak suami insya Allah sudah menyusun langkah-langkah apa yang harus kami tempuh demi shanaz mendapatkan terapi AVT ini. Nanti di blogpost berikutnya akan saya bahas khusus tentang ini.

Seperti yang saya sebut diawal, di seminar ini banyak sekali ilmu yang saya dapat. Salah satunya saya jadi tahu ternyata bukan telinga yang membuat kita bisa mendengar tetapi otak. Otak auditory lebih tepatnya. Telinga hanya lah pintu masuknya bunyi-bunyian

Suara masuk ke liang telinga kemudian melewati gendang telinga. Dari gendang telinga suara (dalam hal ini bisa juga disebut energi akustik) menuju ke sebuah tempat yang mirip dengan rumah siput atau istilahnya adalah koklea. Di koklea ini  tempat terjadinya perubahan bentuk dari energi akustik menjadi energi listrik dan kemudian dihantarkan ke syaraf pendengaran.

Masalah pada anak yang mempunyai gangguan pendengaran  biasanya ada pada rumah siputnya. Di dalam rumah siput ini terdapat lagi rambut-rambut halus. Nah rambut halus ini lah yang biasanya mengalami kerusakan sehingga tidak dapat menghantarkan listrik ke otak.

Disitulah awal fungsinya pemakaian ABD pada anak tuna rungu. Untuk mengeraskan suara sampai ke ambang dengar si pemakai. Dan semua itu butuh proses yang sangaaaat sangaaat panjang sekali.

Sedangkan tujuan utama operasi implan koklea adalah untuk mengalihkan fungsi koklea atau rumah siput yang tidak aktif tersebut dengan alat tertentu sebagai penghantar listrik langsung ke syaraf pendengaran .

Saat awal saya membayangkan operasi ini pasti lah sangat mengerikan. Bayangkan saja katanya alat tersebut di tanam dalam otak sebagai pengganti rumah siput. Terus itu masuknya gimana? Dibelah kah kepalanya?iiiiih...

Ternyata proses operasinya termasuk operasi sederhana. Yang diiris hanya lah belakang kuping saja. Dan bahkan pendarahannya jauh lebih sedikit dari operasi amandel. Ooooohh ya ya ya..

Saya pribadi sih masih sangat berharap semoga ABD shanaz masih menjangkau semua gangguan pendengaran shanaz. Tapi kalau pun Allah merencanakan hal yang lain, saya yakin pasti Allah sudah mempersiapkan sepaket dengan jalan keluarnya. Insya Allah..
Share:

1 comment:

  1. Terima kasih sharingnya mbak. Kalau di keluarga yg pakai ADB bapakku tp lbh krn saat kerja dulu sering di sekitar mesin percetakan. Cuma gak pakai operasi sih.
    TFS ya, semoga Shanaz bisa mendengar dgn baik :)

    ReplyDelete