Drama antara Jakarta - Pekanbaru

Saya baru saja mengalami penerbangan terburuk dalam hidup saya beberapa hari yang lalu saat terbang dari Jakarta ke Pekanbaru. Dimulai dari saat proses check-in yang semrawut sampai harus mendadak mendarat di Palembang. Dan tau tidak apa yang semakin memperburuk dari semua itu? Orang-orang yang ada di dalam pesawat tersebut. Flight attendant bahasa sononya. Penumpang bahasa sininya.

Gimana tidak? Pesawat saya dijadwalkan berangkat pukul 14.30 dan kebetulan saya sudah ada di terminal keberangkatan pukul 12.00. Tadinya saya pikir dengan waktu yang cukup luang, saya masih sempat untuk makan dulu. Tapi ternyata saya baru selesai antre  pukul 13.30. Satu jam setengah saja sodara-sodara berdiri ngantre buat check in. Dan sekedar informasi itu ngantrenya di counter tanpa bagasi lho.

Jadi gini, saat pertama saya masuk ke terminal kedatangan aja itu isinya udah sangat cendol. Dimana-mana lautan manusia. Lalu kemudian ada seorang petugas berteriak " TANPA BAGASI COUNTER 21". Saya pun langsung menuju ke counter 21

Sampai disana, antrean cukup manusiawi. Tapi sayang antreannya tidak jalan-jalan. Satu orang mungkin butuh dilayani 10 sampai 15 menit. Bahkan lebih.

Awalnya saya pikir sistemnya rusak. Sampai kemudian saya melihat sendiri ketika ada seorang ibu yang tadinya mengantre tanpa bagasi, saat kemudian gilirannya dan si petugas lagi memproses tiba-tiba dia lari ke belakang dan tau ngapain? MENGAMBIL BAGASI NYA YANG DISIMPAN DI BELAKANG ANTREAN. Mungkin definisi tanpa bagasi si ibu adalah 'tanpa' bagasi saat mengantre. Ngok (1).

Dan kemudian ketika bagian saya dilayani, saya pun bertanya ke petugasnya

"kok lama banget sih mba antriannya jalan? Sistemnya lagi rusak ya?"

"Ngga kok bu. Tapi yaa itu ada aja penumpangnya yg bermasalah".

Dan saya pun dilayani tidak sampai 5 menit boarding pass saya terbit.

Rentetan masalah terus berlanjut sampai di ruang tunggu, pesawatnya terlambat datang. Delayed cuy delayed. Tapi itu sudah bukan kabar baru lagi ya? Sudaaah biasaaaaa. Yang luar biasa dan paling membuat panik tingkat dewa itu adalah saat  tiba-tiba pilotnya melakukan pendaratan tapi bukan ke tujuan semula melainkan dialihkan ke Palembang. Wait, WHAAAAT????

Sebenarnya saya bukan ingin membahas itu sih. Itu adalah masalah teknis. Saya percaya siapa pun yang punya otorisasi mengambil keputusan pasti lah sudah mempertimbangkan banyak hal dan keselamatan penumpang diatas segalanya.

Yang justru ingin saya bahas adalah perilaku konsumennya. Dalam hal ini penumpang. Iyah, saya, kamu dan kita. Ada perbedaan  signifikan ketika saya naik pesawat dari terminal 3 dan ketika saya ada di terminal 1 B. Tidak usah deh ngomong harga dulu. Terminal 1 B memang untuk maskapai budgeting tapi tidak berarti sikap kita bisa murahan juga dong. Sebelum marah-marah protes sana sini coba pastikan dulu kamu penumpang yang sudah taat aturan belum?. Karena marah-marahnya situ makan waktu, menghambat orang lain yang butuh cepat.

Contohnya saja seperti kemarin ada beberapa orang-orang yang marah-marah karena dia belum check in  sedangkan waktu keberangkatan sudah mepet. Padahal petugas sudah mengumumkan untuk rute yang 30 menit lagi akan  berangkat, silahkan maju ke depan antrean, proses check-in nya diutamakan. Saya dengar sendiri kok si petugas beberapa kali berteriak dan orang-orang yang sesuai rute disebutkan maju ke depan untuk diproses lebih dulu. Nah kalau ada beberapa yang tidak mendengar itu salah siapa? Ngok (2).

Yang harus digaris bawahi adalah bukan cuma kita saja sebagai penumpang yang ingin urusan cepat selesai, para petugas itu pun sama. Jadi belajarlah jadi penumpang yang cerdas ya.

Hal menyebalkan lainnya terjadi ketika pesawat mendarat di Palembang. Belakangan saya baru tahu alasannya karena ternyata bandara Pekanbaru ditutup sementara dan harus menunggu sampai ada pemberitahuan dibuka kembali. Estimasi waktu sekitar 2 jam katanya. Begitu pesawat mendarat di bandara Palembang, semua orang mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi orang yang akan menjemputnya. Ok, bisa dimengerti.

Untungnya tidak lama kemudian kami mendapat pengumuman kembali bahwa bandara Pekanbaru sudah dibuka. Penumpang diharap duduk kembali ke pesawat karena pesawat akan lepas landas.

Tapi sebelum itu, pesawat akan melakukan pengisian bahan bakar terlebih dahulu. Penumpangnya ngapain? Penumpangnya masih saja sibuk bermain ponsel. Berkali-kali pramugari mengingatkan untuk mematikan ponsel karena sedang melakukan pengisian bahan bakar tapi semua bergeming.

HEY KALIAN, SAYA ITU MAU SAMPAI DI RUMAH DENGAN SELAMAT. IYA MEMANG NYAWA DITANGAN TUHAN, TAPI KALAU GARA-GARA KEKONYOLAN SITU AI MATI KAN MERUGIKAN ORANG ITU NAMANYA.

Sayangnya kata-kata itu cuma tertahan di tenggorokan saja. Dan masih jadi misteri illahi kenapa ya orang kita sangat sulit sekali peduli dengan peraturan? Yang menciptakan peraturan untuk tidak menghidupkan ponsel saat di pesawat tentu lah sudah melakukan penelitian  panjang dan mengetahui dampaknya apa, mbok ya diikuti saja toh apa susahnya sih. Lagian juga itu ponsel dipakai bukan untuk hal-hal yang krusial amat, cuma buat scroll-scroll path sama facebook doang. Ya elah, mblo.

Masalah menghidupkan ponsel ini bukan terjadi sekali dua kali sih, tapi hampir setiap saat, terutama ketika saya naik pesawat yang naik/turunnya di terminal 1B. Kalau pesawat yang atu lagi tuh, yang dari terminal 3, rada mendingan, orang-orangnya masih pada taat aturan. Pesawat belum juga berhenti sempurna, udah bunyi aje telolet telolet (eh, itu suara klakson bis ya?). Mungkin dipikirnya, "aaah udah mendarat ini, ga bakal jatuh lagi". Padahal kan selama itu pesawat belum benar-benar berhenti apa pun bisa terjadi kan ya? Sistem navigasi bisa terganggu.  Makanya itu ponsel dipakai buat baca berita yang bener, jangan baca berita hoax doang. Ngok (3).

Kesimpulan dari perjalanan saya ini adalah sebenarnya yang membuat keadaan menjadi semakin tidak nyaman itu ya diri kita sendiri. Saya memang tidak bilang si maskapai ini punya kredibilitas yang baik, ada hal-hal teknis yang harus ditingkatkan lagi. Tapi setidaknya jika kita sebagai konsumen cukup waras saja, mengikuti aturan yang ada, pasti lah semuanya akan lebih mudah. Hanya karena pembeli adalah raja, bukan berarti bisa semena-mena. Jangan jadi Raja Firaun, situ mau sebadan dililit sama perban, hah?


Sumber gambar :

Semua gambar diunduh gratis di www.freepik.com

Share:

15 comments:

  1. Ya betul Mba, saya juga heran kenapa beberapa penumpang keliatannya terburu-buru banget berdiri dari tempat duduk padahal pesawat belum berhenti. Kan lebih enak kalau tertib :(

    Selain itu, udah jelas-jelas diumumkan kalau ponsel baru boleh dinyalakan di gedung terminal, tapi lagi-lagi, pesawat belum benar-benar berhenti, tapi suara-suara HP udah saut-sautan :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang bener ya revolusi mental emang perlu kyknya

      Delete
  2. Ya ampun mba, ngegemesin bangeet sih itu.. Aku jg suka ilfil abis sama pnumpang yg gak tertib dan semaunya sendiri. Pdhal kan untuk kpentingan org banyak jg ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mgkn org2 kyk gtu pny nyawa cadangan kali ya 😂

      Delete
  3. Sebenernya kami dah no comment aja saking hopeless nya sama orang2 macam tu, orang2 merasa paling penting sedunia.. kalo ga langsung nyala hapenya ga tenang hidupnya 😅😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Macam presiden aja org tu kan kak. Presiden aja ngga kek tu, ya kan?

      Delete
  4. Pernah terbang dari Sby ke Banjarbaru, ada penumpang ibu2 ma anaknya yg berdiri bahkan saat lampu msh dimatikan. Sebelumnya ada pramugari minta anak2nya berhenti mainan semacam game dr suatu alat apa gtu, gk tau apaan. Ibunya nyolot katanya alat itu gak bahaya, trus malah nyuruh2 pramugari mangil kaptennya. Semua org ngliatin. Trus pas mau landing kan lampu mati, begitu lampu nyala si ibu dan anaknya udah ngilang gtu aja dr tempat duduknya, malu kali ya. Malu ngalahin keselamatan diri dan anak2nya :(

    ReplyDelete
  5. aku juga sering ngalamin mba..entah kalo udah bete mulai berangkat jadi sebel seharian ya :(

    ReplyDelete
  6. Lucu yang ngok satu tuh... hehe.... Kok bisa begitu ya.. :D

    ReplyDelete
  7. Aku bacanya juga ikut emosi mbak.. Kalo aku udah kusindir di depan orangnya langsung mbak.. Jadi seoalah2 aku tu ngobrol ma suamiku tapi dengan suara keras (tp bukan keras teriak ya), sampe kedengeran ama tu orang yang bermasalah.. Kalo perlu aku ngobrol ama suami di sebelahnya tu orang langsung.. Kebanyakan sih berhasil membuat mereka kalah.. Hihihi...

    ReplyDelete
  8. Aku bacanya juga ikut emosi mbak.. Kalo aku udah kusindir di depan orangnya langsung mbak.. Jadi seoalah2 aku tu ngobrol ma suamiku tapi dengan suara keras (tp bukan keras teriak ya), sampe kedengeran ama tu orang yang bermasalah.. Kalo perlu aku ngobrol ama suami di sebelahnya tu orang langsung.. Kebanyakan sih berhasil membuat mereka kalah.. Hihihi...

    ReplyDelete
  9. Masalah ponsel ini ampun deh mba. Kek mau cepet banget eksis di manapun dan kapanpun. Pernah juga pesawat belum parkir eh penumpang udah berdiri buka bagasi kabin. Whooo langsung pada teriak ngingetin.

    ReplyDelete