Sahabat dari tubuh sendiri


Akhir-akhir ini isi blog saya sering sekali seputar Shanaz dan gangguan pendengarannya. Bahkan kalau dilihat ke media sosial pun sebagian besar unggahannya  juga seputar Shanaz. padahal kan profil blog ini tentang seorang ibu dengan 3 orang anak kan ya? Pembelaan saya sih karena kaka-kakanya  sekarang sibuk sekolah, jadi waktu yang tersisa bersama saya mulai sedikit. Shanaz itu sebenarnya anak ketiga dan dia punya 2 kakanya, yaitu  Indira (7 th) dan Danesh (5 th). Ketiga anak saya memang perempuan semua. Kata orang-orang itu artinya saya kaya, kaya cinta maksudnya.
Punya anak perempuan artinya kita punya sahabat dari tubuh kita sendiri. My best friend from my body.  Tapiii itu pun kalau kita bisa mendidiknya dengan benar. Bisa benar-benar menempatkan diri sebagai sahabat mereka. Ini kan masa nya mereka, ada beberapa hal tertentu dimana kita lah yang harus belajar dari mereka dan tidak sotoy.
Emang situ mau punya sahabat sotoy? Ngga kan? Sahabat yang kalau dicurhat-in bukannya jadi pendengar yang baik, tapi malah menceramahi balik, mana ceramahnya panjang ngalah-ngalahin rel kereta api lagi. Saya sih ogah punya sahabat kayak gitu. Dan nyatanya, anak perempuan kita pun sama, tidak mau juga punya sahabat seperti itu.
Ingat tidak beberapa tahun yang lalu ada sebuah film animasi yang judulnya Brave? Tokoh utama dari film ini adalah putri Merida. Inti ceritanya tentang hubungan seorang ibu dengan anak perempuannya dan bagaimana mereka akhirnya mampu menyelesaikan konflik diantara keduanya karena mau saling sama-sama belajar. Yang belum nonton gih cari DVD nya nonton bareng si anak gadis, dijamin mereka juga pasti suka. Film besutan Disney sih tidak usah diragukan lagi untuk urusan moral lesson nya ya.
Sumber gambar dari google.com

Ini salah satu putri Disney kesukaan saya dan juga kesukaan danesh. Putri tidak harus selalu girly, yang penting berani. Gara-gara film ini juga Danesh terinspirasi ingin latihan memanah katanya. Sayang bundanya belum sempat mencari tempat latihan memanah yang sesuai tapi semoga dalam waktu dekat akan realisasikan ya.
Satu hal yang paling melekat di benak saya dari film ini adalah ada kala nya sebagai ibu kita harus menurunkan ego, tidak memaksakan kehendak kita kepada si anak. Anak bukan lah wayang yang tangan dan kaki nya diikat dengan benang sehingga bisa digerak-gerakkan sesuka hati kita. Mereka adalah makhluk hidup dengan garis jalan hidupnya sendiri. Sebagai ibu kita adalah malaikat pelindungnya yang bertugas tidak hanya mengajarkannya banyak hal tetapi juga membiarkan mereka sesekali jatuh dan belajar untuk bangkit lagi.
Tapi tentu lah hidup tidak semudah bacotnya Mario -Mario bross maksudnya- yang penuh dengan teori tapi saat dijalankan ternyata sulit. Anak saya yang pertama umurnya baru 7 tahun, masih gampang-gampang susah untuk menjalin hubungan dia.
Bayangkan lagi kalau nanti dia sudah mulai belasan umurnya, lagi ngeyel-ngeyelnya, sudah mulai PMS, dan untuk kasus saya itu artinya dikali 3 karena ada 2 anak perempuan lainnya yang umurnya terpaut tidak jauh beda satu sama lain. Waah alamatnya bakal ada serangan invasi nih karena jumlah anak lebih banyak dari jumlah orang dewasa. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana kondisi rumah saya 10 tahun kedepan. *hela nafaaas panjang*
Terus solusinya gimana? Yaaa ngga gimana-gimana, kan anak saya belum ABG, jd belum bisa berbagi banyak dan saya juga bukan ahli psikolog jadi kurang paham juga solusinya apa. Lagian kan juga sebenarnya isi blog ini kan cuma curhat receh mamak doang yang tidak bisa memberikan solusi apa-apa. LOL.
Tapi mungkin yang mulai dari sekarang bisa saya lakukan adalah memupuk hubungan baik dengan si anak sejak dini. Kuncinya satu, komunikasi harus terbuka.
Contoh kasus waktu itu Indira pernah curhat katanya dia sedih kemarin salah satu temannya di sekolah meledek dia tidak bisa bilang “R”.
Indira : “Bun tadi si A ledekin kaka ngga bisa bilang R. trus dia juga marah-marah sama kaka bun”
Bunda : “Marah-marah gimana?”
Indira : “waktu itu kaka kan bercanda ngangetin dia dari belakang gitu, trus dia marah-marah sambil bilang dasar kamu ngga bisa bilang R juga”
*bunda diam sambil mikir*
Kalau lagi kurang eling mungkin responnya saya pasti akan seperti ini, “ kaka siiih bikin orang marah, kan dia jadi bete Karena kaka kagetin. Makanya lain kali jangan bercanda yang aneh-aneh lah”, tapi Alhamdulillah waktu dicurhatin Indira perut saya sudah kenyang makan pecel dan bakwan 3 potong. jadi bisa berpikir sedikit  waras. Respon saya saat itu setelah diam sejenak mikir dulu adalah,
Bunda : kaka sedih Karena diledek ga bisa bilang R ya?
Indira : (nangis) iyaa.. Bun ajarin kaka bilang R bun. Biar kaka ga diledek lagi
Bunda : ka, tiap orang itu special, punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mungkin kaka ngga bisa bilang R, tapi kaka pinter menggambar. Pinter Bahasa inggris juga. Dan lagi tau ngga kak, kalau yang ngga bisa bilang R itu kan pas ngomong Bahasa inggris aksennya jadi bagus lho kak. Kayak bule-bule gitu. Kan keren. Kalo kaka ngga suka diledekin, kaka boleh bilang sama temennya ga suka diledek seperti itu. Kalau masih diledek juga, ya udah biar aja, biar aja urusan dia dicatat malaikat. Mungkin juga dia sebenarnya ngga bermaksud meledak kaka, mungkin dia kaget saat kaka kagetin dari belakang. Coba ditanya sama temennya, kalau memang iya, jangan lupa minta maaf juga.

Beberapa hari kemudian, Indira cerita lagi kalau temannya sudah minta maaf dan dia sudah minta maaf juga. Sekarang mereka jadi teman cs, kemana-mana selalu berdua.
Hal yang paling membuat saya bahagia disini adalah bukan karena masalah terpecahkan tapi saya senang masih dijadikan tempat curhat untuk Indira. Dan itu penting. Karena dalam pergaulannya, kita tidak pernah bisa mencegah dia akan bertemu dengan siapa atau pun gesekan-gesekan apa yang akan muncul. Dan juga ngga mungkin selamanya ngintilin dia 24 jam memastikan dia tidak disakiti oleh teman-temannya. Tapi selama dia tahu persis ada bundanya sebagai tempat dia curhat, Insya Allah dia akan baik-baik saja.
Disini lah kita harus benar-benar memposisikan diri sebagai sahabatnya, bukan orangtua yang sok tahu dan menggurui. Sekali lagi, mana ada sih orang yang tahan curhat dengan orang sotoy, ya kan?
Hal lain yang juga saya lakukan sejak mereka kecil adalah menghargai pendapat dan pilihan mereka. Dan juga yang tidak kalah penting memberikan mereka kesempatan untuk menentukan pilihan mereka sendiri. Contohnya seperti  dari kecil saya selalu membiarkan mereka bebas memilih mau memakai baju apa. Saya tidak pernah mengambilkan atau menyediakan baju untuk mereka dari lemari. Paling yang saya lakukan adalah memberitahu jika pilihan mereka kurang tepat, kalau pun ngeyel ya sudah konsekuensi mereka tanggung sendiri.
Dulu pernah waku kita masih berdomisili di Jakarta dan suatu hari mengajak anak-anak mengisi akhir pekan ke Planetarium. Lalu dari rumah Indira memilih memakai  gaun putri Elsa. Benar-benar gaun Elsa yang bahannya dari satin & kain tile gitu lho. Lengkap dengan sarung tangannya juga. Padahal saat itu kita akan naik commuter line dan dari stasiun ke TIM nya kita lanjut ojek. Sudah dijelaskan dari rumah keadaan di jalan nanti akan seperti apa, tapi dia tetap dengan pilihannya. Bisa kebayang kan gerahnya bagaimana saat itu? 

Sesampai disana benar aja keringatnya bercucuran di seluruh badan Indira, saya tawarkan untuk berganti pakain denga baju kaos dan celana panjang yang sudah saya siapkan di dalam tas. Indira pun menyambutnya dengan sukacita dan menganggap saya pahlawan sambil tidak lupa bilang, “ makasih ya bun udah bawain baju ganti untuk kaka. Maaf ya kaka tadi ngga nurut sama bunda”.
Bayangkan kalau tadi saat di rumah saat dia memutuskan pakai gaun Elsa dan langsung saya tolak mentah-mentah. Meski maksud saya baik, tapi tetap saja pasti bakal jadi perang urat antara saya dan Indira. Jadi membiarkan mereka sesekali memilih keputusan yang salah adalah hal yang perlu dilakukan juga, tapi jangan lupa selalu siap jadi pahlawan ketika mereka menyadari keputusan mereka itu salah. Kalau sudah begitu semoga saja lama-lama mereka akan menobatkan kita sebagai penasehat pribadi dalam mengambil setiap keputusan mereka tanpa harus jadi ibu yang reseh yang selalu ingin ikut campur urusan anaknya. cerdas kan? *senyumpenuhkemenangan
Meski saya sadari apa  yang saya alami ini masih jauh dari konflik sebenarnya, bahkan seujung kuku pun tidak ada apa-apanya, tapi saya Insya Allah sudah siap batin. Semakin mereka besar tentu lah konfliknya akan semakin komplek. Dan ini tidak akan mungkin bisa dihindari.
Belum lagi perkembangan zaman yang kita tidak akan pernah tahu 10-20 tahun lagi dunia ini bakal secanggih apa, tapi selama tidak pernah berhenti belajar dan mau terus tumbuh dan berkembang bersama mereka, semua pasti akan terlewati dengan baik. Hp saja perlu di-upgrade, masak kita sebagai orangtua masih begini-begini saja. Saya yang sekarang sebagai ibu dari anak 7 tahun tentu tidak akan relevan  lagi untuk 10 tahun kemudian. Saya harus meng-upgrade diri saya menjadi seorang ibu dari anak 17 tahun. Baru lah nati semuanya akan berjalan dengan lancar, Aamiin..






Share:

3 comments:

  1. So sweet banget mba, aku pun sm anak perempuan ku berusaha selalu jd sahabat meski ga selalu akur. Hahaha

    ReplyDelete
  2. Aku ter enyuh pas baca ini.. aku belom punya anak tapi bener2 jd flashback sendiri sama apa yg aku alamin sm mama.. Sering bgt berantem bahkan aku milih buat tinggal jauh dr mama dari smp supaya ga berantem terus, dan milih ketemu bbrp kali dalam sebulan biar pas ketemu tinggal kangen2annya aja gaada sebel2annya lagi.. Disaat nikah pun mikir kalo semuanya bakal selesai tapi ternyata engga juga lho..

    Sampai setelah baca cerita ini aku baru sadar satu hal, aku tidak menemukan sosok 'sahabat' dalam diri mama.. Mungkin orang2 berfikir kalo 'ya namanya juga anak, nurut aja lah sama orang tua.. Udah jalannya gitu.. Mama kamu juga dulu nurut2 aja sama oma kalo dikasih tau gapernah ngebantah..' Tapi jaman berubah mas bro mbak sis..

    Mungkin aku sama banget sama indira, kalo dibilang jangan harus ada penjelasan kenapa gaboleh.. Dan satu hal yg aku garus bawahin banget, aku gapernah bisa cerita tentang sehari2 aku, masalah aku bahkan prestasi aku ke mama.. Waktu sekolah dulu aku korban bully, tapi kalo aku cerita ke mama dia gapenah nanggepin.. Pun kalo aku berprestasi di sekolah, gapernah ada penghargaan sendiri.. Akhirnya aku tetep berusaha positive dan sampe ke titik dimana aku selalu membesarkan hati aku dan meyakini kalo mama ngelakuin semua ini untuk ngedidik aku menjalani dunia yg kejam ini *halah*

    Terimakasih atas ceritanya ka fe aku mau coba mendekatkan diri aku kemama pelan2, pengen jadi 'sahabat" juga buat mama, semoga kedepannya aku dan mama jadi super deket selayaknya ibu dan anak lainnya ♥️ Dan baru sadar aku malah curhat super panjang banget ya hahaha.. Sakseus terus kaka ♥️♥️

    ReplyDelete
  3. So sweet banget mba apalagi klo nonton Brave ya hehe salam kenal

    ReplyDelete