Terapi AVT untuk anak Tuli

Hari ini saya akan berbagi tentang apa itu terapi AVT.  Seperti biasa sebelum dimulai yang ingin selalu saya garis bawahi adalah tulisan ini bukan lah pendapat dari ahlinya, ini murni dari sudut pandang orangtua yang anaknya mengalami Profound Hearing Loss. Yang baru mampir kemari, saya kenalkan kembali, anak saya bernama Shanaz, statusnya kanan 85 db dan kiri >110 db. Saat ini Shanaz menggunakan alat bantu dengar di kedua kupingnya.


AVT adalah singkatan dari Audio Verbal Therapy atau beberapa orang juga menyebutnya terapi mendengar. Karena memang dalam terapi ini yang dititik beratkan adalah proses mendengarnya bukan bicara. Itu lah kenapa terapi AVT sangat bertolak belakang dengan terapi wicara.

Masih kental di ingatan saya setelah shanaz dibacakan hasil BERA yang menyatakan dia Tuli Sensorineural Derajat Sangat Berat dan kemudian dokter THT nya menyarankan untuk membeli alat bantu dengar. Lalu setelah itu disarankan juga untuk melakukan skrining ke klinik tumbuh kembang anak. Saat itu dalam bayangan saya setelah ini Shanaz akan terapi wicara. Toh tujuan utamanya adalah menyelamatkan verbalnya, jadi tentu yang harus dilakukan adalah terapi wicara, ya kan? Tapi kemudian saya kaget ketika saya di klinik tumbuh kembang & dokter anaknya bilang " Bu, Shanaz butuh terapi AVT. Tapi disini (Pekanbaru, red) tidak ada terapi itu jadi ibu harus usaha sendiri atau ibu bisa terapi mandiri di rumah"

Duaaarrr hati saya seperti kesambar petir saat mendengar penjelasan itu. Saya bahkan sampai tawar menawar ke dokternya minta diterapi wicara juga ngga pa-pa lah, tapi kata dokternya kalau tidak dioptimalkan mendengarnya dulu percuma diterapi yang lain.

Seperti biasa, saya galau lagi. Shanaz sudah pakai alat bantu dengar saat itu, tapi dia tidak diterapi apa-apa. Waduuh gimana ini ya? Saya benar-benar tidak punya gambaran terapi mendengar itu seperti apa. Saya coba cari di mesin pencari tapi hasilnya tidak ada yang benar-benar menggambarkan AVT itu apa.

Sampai kemudian saya menemukan iklan seminar tentang menangani Pendekatan Audio Verbal Therapy (AVT) dalam penanganan Gangguan Pendengaran yang diselenggarakan oleh Medel dan Yayaasan Rumah Siput Indonesia. Saat itu yang jadi pembicaranya adalah ibu Eka Kurnia Hikmat, S.Psi dari Rumah siput dan DR. Dr. Semiramis Zizlavsky, sp. THT-KL (K). Seminar ini ternyata Roadshow di beberapa kota & beruntung Pekanbaru salah satunya. Tanpa babibu saya langsung menelpon dan mendaftarkan diri untuk ikut seminar itu.

Dari seminar ini saya mendapatkan pencerahan tentang apa itu AVT. Isi seminarnya sudah pernah saya tulis disini. Silahkan di klik untuk isi selengkapnya.

Tantangan selanjutnya adalah terapi AVT tidak ada di dalam kota. Tapi hey banyak jalan menuju Roma, ya kan? Singkat cerita sampai saat ini Shanaz mendapatkan kesempatan untuk bisa ikut terapi AVT meski dengan pengorbanan  yang tidak sedikit. Tapi itu sepadan dengan hasilnya. Umur pendengaran shanaz baru 3 bulan, tapi Alhamdulillah dia sudah sangat sadar suara. Dia juga sudah bisa meng-vokalisasi beberapa kegiatan seperti saat makan dia sebut namnamnam dan baru-baru ini shanaz bisa menyebut toktoktok sambil tangan mengetuk benda yang ingin dibukanya (misalnya pintu atau pun kotak).

Konsep dari terapi AVT ini adalah mendengar, mendengar dan mendengar. Bukan berbicara. Memang ada beberapa kasus terapi AVT dibarengi dengan terapi wicara, tapi jika dilakukan sejak dini & tidak ada masalah dengan struktur oral, kognisi dan lain sebagainya, bukan tidak mungkin dia tidak butuh terapi lain selain AVT ini saja.

Banyak yang mengeluh katanya AVT ini hanya untuk kaum tertentu karena AVT ini harganya mahal, hanya ada di kota besar jadi sulit dijangkau. Tapi tahu tidak bapak & ibu hebat, ada satu terapis yang siap melakukan terapi ini tanpa dibayar, terapis bersertifikat tertinggi langsung dari yang Maha Pemilik Kehidupan, terapis yang dijamin sangat cocok dengan anak kita. Terapis itu bernama orang tua.

Yup, kita lah yang harus terus melakukan terapi ini setiap saat di rumah. Seperti yang saya sebut diatas, inti terapi ini adalah si anak mendengar mendengar dan mendengar. Dan itu artinya kita sebagai orangtua harus bicara bicara dan bicara. Jangan dulu berharap si anak langsung bias menirukan suara yang kita ajarkan, tapi teruslah untuk mengisi berbagai kosakata dengan membahasakan setiap hal yang dia lakukan.

Memang harus ada beberapa teknis yang harus dipelajari dan berikut saya coba berbagi beberapa teknis yang saya dapat dari belbagai seminar tentang AVT yang pernah saya ikuti, termasuk salah satu nya beberapa hari lalu secara 'keroyokan' komunitas orangtua yang memiliki anak Tunarungu di Pekanbaru baru saja mendatangkan ibu Sinta Nursimah untuk mengajarkan praktek AVT
  • Ada yang namanya ear shoot, yaitu jarak bicara antara kita dengan telinga anak. Kenali ear shoot si anak. Jika dia membutuhkan ear shoot yg pendek misal hanya 20 cm, maka bicara lah di samping kupingnya tidak lebih dari 20 cm. Pelan-pelan jaraknya coba dinaikkan sedikit demi sedikit.
  • Tidak berteriak. Bicara terlalu keras hanya membuat huruf-huruf konsonannya menjadi hilang. Misalkan kita ingin mengajarkan kata 'makan', jika kita berteriak maka yang terdengar oleh si anak hanya lah huruf vokalnya saja 'a-an', M dan K nya menjadi hilang. Cukup bicara dengan suara standar saja, biar lah tugas alat bantu dengarnya saja yang mengeraskannya.
  • Bicara dengan intonasi. Gunakan intonasi saat berbicara dengan anak kita, tapi jangan berlebihan, sewajarnya saja. Karena mereka paling cepat menangkap suara dengan nada. Itu lah kenapa bernyanyi adalah kegiatan wajib dalam terapi AVT.
  • Bahasakan setiap hal yang dia lakukan. Apa pun itu. Karena ini adalah masa-masa saat dia harus mendengar, mendengar dan mendengar. Jadi mari bicara sebanyak-banyaknya.
  • Jangan patah semangat ketika si anak terlihat cuek dan masih belum mengeluarkan satu kata pun, padahal kita sudah sangat cerewet. Otak anak seperti spon, saat ini masanya kita memasukkan semua kata dan biarkan si anak menyerap semuanya, nanti ketika sudah penuh, akan ada waktunya akan dikeluarkan apa yang sudah didengarnya. Jadi tetap semangat ya.
  • Terapi tidak selalu harus dilakukan dengan duduk tenang, tangan dilipat di meja dan terapi pun dimulai. Yang tahu persis  si anak adalah kita orangtua nya sendiri. Jika dia anak yang aktif terapi bisa dilakukan sambil bermain bola misalnya.
    " ini bola. Mama tendang bola ke gawang ya. Bola nya besar, warnanya merah".
    Yang harus diperhatikan adalah pastikan alat bantu dengar berfungsi dengan baik, tidak ada suara-suara lain yang mengganggu dan jangan lupa dengan earshoot tadi.
  • Di dalam terapi AVT yang dihabilitasi mungkin hanya si anak, tetapi seluruh keluarga. Seluruh keluarga harus ikut serta dalam berinteraksi sehari-hari dengan si anak menggunakan metode AVT ini.
  • Tidak hanya itu di dalam AVT juga ada istilah sabotase terapi, yaitu menyabotase hal-hal yang disuka dengan tujuan agar dia 'terpaksa' mendengar apa yang kita ingin ajarkan. Contohnya jika si anak suka bersepeda, kita bisa menggembok sepedanya, ketika dia meminta buka, disaat itu lah kita bisa memasukkan kata-kata baru dengan cepat (karena saat itu si anak lagi punya perhatian penuh dengan kita berharap gemboknya dibuka
" oooo sepedanya dikunci ya? tunggu ya, mama cari kuncinya dulu. Tadi kuncinya mama disimpan di sebelah kanan, tapi kok tidak ada ya? mungkin ada di sebelah kiri di dalam plastik warna merah. yuk kita lihat yuk".
Tentunya sebelumnya kita sudah benar-benar menyiapkan kunci tersebut ada di dalam kantong merah di sebelah kiri tersebut.


Yang ingin saya tekankan di tulisan ini adalah bahwa kita semua sama. Jadi jangan mengkotak-kotakkan si A mampu AVT, si B tidak. Apalagi sampai berkecil hati. Tidak ada kasta diantara kita semua. Kita semua diberi amanah yang sama oleh Yang Maha Kuasa, itu artinya kita semua mempunyai kemampuan yang sama. Hanya jalannya saja yang berbeda-beda, tinggal kita mau belajar atau tidak. Dan jangan lupa, selalu banyak jalan menuju Roma, ya kan?
Share:

3 comments:

  1. Semangat mba, Ade Shanaz pasti bisa ngikutin setiap terapinya dengan baik ^^ mba pasti bisa, ade Shanaz juga pasti bisa. Semoga sehat2 selalu mba sekeluarga aamiin

    ReplyDelete
  2. Semangat ya mbak, semoga diberi kemudahan di setiap terapinya

    ReplyDelete
  3. Anakku juga mengalami hal yg sama 2 thn 7bln, usia dengarnya baru 1 bln galau sudah pasti tapi setelah membaca artikel mama shanaz jd ada semangat baru terimakasih

    ReplyDelete