The Master Asi 2017

Bapak-bapak dan ibu-ibu semua, dengan bangga mari kita sambit eh sambut Master ASI 2017, ini lah diaaaaaaaa *suara drum* SHANAZ KATILU. Beri tepuk tangan yang meriah untuk shanaz *prokprokprok*

Fyuuh, lega akhirnya, salah satu hak Shanaz sudah terpenuhi dengan baik. Kekhawatiran terbesar saya adalah saya takut akan banyak drama saat proses menyapih. 

Dari jaman  kaka-kakanya menyusui, saya adalah penganut WWL alias Weaning With Love. Kalau diindonesiakan artinya menyapih dengan cinta. Jadi maksudnya adalah tidak ada proses sapih dengan paksaan, memakai pahit-pahitan, atau apalagi ujug-ujug menitipkan anak ke nenek atau yang lainnya. Walau baru-baru ini saya sempat dengar tentang sapih trip, meski saya belum pelajari sepenuhnya sih metodanya seperti apa,  tapi tadinya sempat mikir kalau WWL ini tidak berhasil, mau coba masukan proposal ke bapake untuk sapih trip, ke Jepang mungkin atau minimal ke Singapore lah ;-p. Antara beneran niat nyapih dan modus sih sebenarnya.
Seperti namanya, pokok utama dari WWL ini tentu saja adalah love alias cinta. Saat proses menyapih yang paling harus ditekankan meski tidak nenen lagi bukan berarti cinta bunda berkurang. Makanya saat menyapih harus selalu sambil dipeluk dan terus diberikan ‘mantra’ seperti, "bunda tetap sayang sama kamu. Tapi kamu sudah besar, nen nya sudah habis. Kalau kamu haus kamu minum air putih saja ya".
Dulu waktu menyapih dengan metoda yang sama untuk kaka Danesh, drama nya beuuuh luar biasa banget. Saat saya jelaskan kalau dia sudah besar, eeh dia nya malah bilang “ ade ngga mau besar, ade mau jadi ade bayi aja” terus sambil mata nya dimerem-meremin pura-pura jadi bayi. Belum lagi kemudian Danesh marah mengusir saya dari kamar dan bahkan sampai berkali-kali minta maaf karena dipikir saya tidak memberikan dia nen Karena dia sedang dihukum. Hati ibu mana yang tidak galau kalau sudah begitu ya.
Sampai kemudian di satu titik Danesh melakukan negoisasi ke saya, boleh tidak nenen asal digendong bayi. Gendong bayi itu maksudnya digendong pake gendongan model sling gitu. Harus model itu, tidak boleh model kangguru atau yang lainnya. Jadi setiap kali dia kangen nen, dia minta digendong bayi. Walau sebenarnya itu hanya menyelesaikan masalah dengan masalah baru, Karena setelah itu dia jadi ketergantungan dengan gendong bayi, tapi tetap saja kesepakatannya saya iya kan. Karena saat itu saya hanya ingin memberikan penekanan ke Danesh bahwa dunia akan baik-baik saja tanpa nen. Bunda nya akan tetap sayang sama dia meski sudah tidak nen lagi.
Berbeda dengan Danesh, saya bingung bagaimana membahasakan hal serupa ke shanaz tentang proses menyapih ini.  Meski sama-sama diumur 2 tahun, tapi saat itu Danesh sudah bisa berkomunikasi dengan saya. Sudah ada pembicaraan 2 arah antara saya dan Danesh sehingga dengan mudah kami bisa mencapai kesepakatan.
Sedangkan shanaz, mungkin saat menggunakan alat bantu dengarnya, dia bisa mendengar saya, tapi tentu dia belum dapat konsep mendengarnya. Akan sangat abstrak untuk Shanaz ketika saya bilang, “shanaz sudah besar, shanaz jangan nen lagi ya”. Shanaz tidak akan paham intruksi seperti itu.
Maka yang pertama sekali saya lakukan adalah membuat pola baru untuk dia. Kalau dulu dia bisa nen dimana saja dan kapan saja, sekarang sudah tidak bisa lagi. setiap kali dia minta nen ketika kita di luar, dengan sedikit gesture saya bilang ke dia, “malu.. malu.. ga boleh nen disini. malu”. Dan saya juga mulai memakai baju yang sulit untuk dia mengakses nen nya. Jadi selamat tinggal baju menyusui. Lalu saya juga memberikan dia pilihan lain, misalnya susu UHT atau biskuit. Tujuannya supaya keinginan dia untuk nen teralihkan.
Untungnya tidak butuh waktu lama untuk shanaz memahami pola yang baru. Lama-lama dia mengerti aturan mainnya, di luar tidak boleh nen, di kasur boleh nen. Walau kemudian setelah itu dia selalu mengajak saya ke kamar sambil nunjuk-nunjuk kasur tanda dia minta nen.
Dan kemudian ini menjadi PR saya selanjutnya yaitu bagaimana membuat shanaz berhenti nenen saat di kasur, terutama di malam hari. Karena makin ke sini shanaz jadi kayak mengambil kesempatan gitu, mumpung ini lagi di kasur, mumpung boleh nen, eh dia malah nen sepanjang malam:-/.
Sampai satu malam, saat dia lagi nen, saya angkat sedikit badannya  kemudian saya tawarkan air putih. Awalnya Shanaz tidak mau, dia tetap mencari nen. Lalu saya letakkan dia ke kasur lagi, tapi tidak saya kasi nen sambil saya elus-elus punggungnya. Saya bilang, ‘ kalau shanaz haus, minum air putih aja ya. Jangan nen”. Walau sebenarnya saya tau sih dia tidak bisa mendengar ucapan saya karena dia tidak menggunakan alat bantu dengarnya saat tidur, tapi saya percaya bahasa ibu dan anak pasti akan sampai meski bukan dari organ pendengaran. Benar saja lama-lama dia pasrah, dia mau dikasi air putih, habis segelas penuh, terus plek tidur lagi. beneran tidur sampai besok pagi. Yaaay.
Pola baru terbentuk lagi, setiap dia terbangun di malam hari, saya tawarkan dia air putih. Awal-awal kadang mau, kadang tidak. Lama-lama dia sadar tidak ada pilhan lain, jadi pasrah mau saja dikasi air putih. Dan sekarang Shanaz malah hampir tidak pernah bangun malam lagi, tidur nyenyak sampai pagi. Another yaaay.
Jadi sebenarnya inti menyapih itu ibu nya dulu yang harus lepas. Dulu waktu menyapih kaka danesh, jujur saya masih berat melepas. ada ketakutan-ketakutan seperti, 'duuh kalau bonding saya dan danesh berkurang gimaya ya' atau 'duuuh setelah ini harus jaga makan nih soalnya 100% lemaknya masuk ke badan saya ;-p". Makanya proses menyapihnya jadi drama.
Pas bagian Shanaz, saya sudah lebih lempeng, mungkin faktor umur juga yang makin kesini makin tidak kuat pinggang super pegel di nenen-in sepanjang malam. Karena saya nya siap melepas, maka begitu pun anaknya.
Dan bagian terbaik dari proses menyapih ini adalah setelah itu anak-anak makannya jadi super duper lahap. Sagala digahar.  Mission accomplished. *take a bow* *standing applause please*
Share:

6 comments:

  1. Pas lagi tidur trus minta minum nen, dikasoh air putih trus bubuk...itu ngantuknya udah nggak tertahankan sptnya ya mbak.
    Menyapih kudu telaten ya, dengan penuh cinta. Tfs mbak :)

    ReplyDelete
  2. Hihi.. Sama.. Zian juga menyapihnya pake cinta. Dikurangi perlahan porsinya. Tapi Zian diganti air gula sih ga pake susu. Hehe... Penghematan. Belajar dari kejadian sepupunya, dikasih susu formula, malah ketagihan, sekarang umur sepupunya sudah 4 tahun, tapi masih ketergantungan susu formula, ga mau makan nasi. Alhamdulillah Zian lahap makannya. Walau memang umurnya baru 1 tahun, tapi sepertinya Zian cepat mengertinya. Emaknya yg sekarang berasa bersalah karena disapih terlalu cepat, keburu calon adik mulai berkembang, emaknya ga kuat NgASIin lagi. ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  3. Terima kasih bunda sudah berbagi pengalaman menyapih anaknya. Anak saya baru 15 bulan nih. jd skarang saya belajar ilmu menyalih dulu untuk nanti๐Ÿ˜ƒ

    ReplyDelete
  4. saya dua kali menyapih emang berat di saya awalnya mak.... kayak ada ikatan yang putus antara saya dengan di anak, tapi akhirnya ya saya yang harus legowo, anak-anak sudah siap hidup tanpa nen nya...Drama-drama dikit sih tapi gak parah karena akhirnya mereka mengerti, sudah besar gak boleh nen lagi...

    ReplyDelete
  5. bunda Shanaz, boleh dicoba triknya untuk Nisa nih, 3 bulan lagi mau disapih juga. berhasil nggak ya???? Nisa suka ngamuk kalau tak di diberi ASI.

    ReplyDelete
  6. Selain menyusui butuh tekad dan kesabaran ternyata menyapih pun sama ya, saya lagi belajar MengASIhi buah hati nih mak, tfs buat Wwl nya ya^^ semoga sehat selalu

    ReplyDelete