6 anggapan salah orang terhadap gangguan pendengaran


Salah satu hikmah mempunyai anak dengan gangguan pendengaran adalah sangat membuka pikiran dan cakrawala saya. Sejujurnya sebelum saya tahu shanaz mengalami Tuli sensorial derajat sangat berat, saya bahkan tidak pernah bertemu dengan orang lain yang menggunakan alat bantu dengar. Bahkan manula pun tidak. Jadi ini benar-benar satu dunia baru untuk saya. Mungkin ini cara Allah agar saya terus dan terus belajar.

Ada banyak sekali anggapan-anggapan orang tentang anak-anak seperti Shanaz. Sebagian ada benarnya, sebagian lagi adalah mitos belaka. Dan disini saya coba mematahkan semua mitos tentang gangguan pendengaran ini yang beredar di masyarakat awam. silahkan dikoreksi jika ada yang salah atau kurang.
Berikut saya coba urutkan beberapa kesalahan umum anggapan orang terhadap anak dengan gangguan pendengaran
1.       Apakah ini bisa sembuh?
Ini adalah pertanyaan yg pertama sekali saya ungkapkan ketika mengetahui keadaan Shanaz. Pertanyaan yang sama juga sering sekali dilontarkan terhadap orang-orang yang sedang menanyakan keadaan Shanaz. Jawabannya adalah Tidak. Kenapa? Karena yang dialami Shanaz bukan lah sebuah penyakit. Jadi tidak ada yang harus disembuhkan. Ini adalah Takdir.
Sama halnya seperti takdir Allah yang memberikan warna kulit ada yang hitam dan putih, rambut lurus dan keriting, hidung mancung atau pesek. Semua adalah kehendak-Nya.

2.       Jika tidak bisa disembuhkan, lalu untuk apa terapi?
Untuk anak-anak seperti Shanaz tujuan terapi adalah meyelamatkan verbalnya. Tentu sebagai orangtua kami ingin anak-anak kami mendapatkan hak dan perlakuan yang sama di Indonesia ini. Tanpa bermaksud mengecilkan peranan bahasa isyarat, hanya saja dengan mereka bisa berbicara lebih mudah untuk mereka bisa terjun ke dunia masyarakat dan menggapai cita-cita sesuai potensi yang mereka miliki.  Itu lah mengapa semua orangtua yang memiliki anak dengan gangguan pendengaran akan rela jungkir balik melakukan ikhtiar apa saja demi meyelematkan verbal anaknya.

3.       Belum berbahasa bukan berarti tidak mendengar
Untuk menyelamatkan verbal anak-anak seperti Shanaz itu membutuhkan proses yang sangat puanjaaaang sekali. Ada 3 hal yang akan sangat menunjang keberhasilan dalam menyelamatkan verbal mereka, yaitu : alat yang memadai. Habilitasi keluarga dan bimbingan ahlinya (termasuk di dalamnya terapis, dokter THT dan audiologistnya).

Terkadang orang terburu-buru ingin mendapatkan hasilnya tapi lupa menikmati prosesnya. Padahal dalam prosesnya itu sangat membutuhkan kesabaran dan kosistensi yang sangat tinggi agar mendapat hasil yang diharapkannya.

Tapi tentu akan sangat menyanyat hati ketika sebagai orangtua kita sedang berusaha semaksimal mungkin, tapi orang lain sudah memperlakukannya mereka bicara dengan bahasa tarzan. Bahasa tarzan lho ya, bukan bahasa isyarat. Tau kan bahasa tarzan? Itu lhoo contohnya kalau mau bilang makan, alih-alih mengucakan kata makan dengan jelas malah justru menguncupkan tangannya dan menggerak-gerakkannya ke mulut seperti gerakan sedang menyuap makanan dengan tangan. Padahal kalau disebutkan saja kata ‘makan’ anak-anak ini paham lho.

 Selama alat bantu dengarnya terpasang dengan baik di telinga mereka, mereka itu mendengar dan memahami ucapan-ucapan kita kok. Bicara saja seperti bicara dengan yang lain. Meski kadang mereka belum berbahasa dengan sempurna, tapi dengan mengajak mereka berbicara layaknya seperti berbicara dengan yang lainnya, percaya lah itu juga sudah sangat ikut membantu mereka dalam proses menyelematkan verbalnya. Dan sebagai orangtua tentu kami sangat berterima kasih untuk itu.

4.       Tidak perlu bicara terlalu keras
Nah ini juga salahsatu hal yang orang awam tidak paham dan sering banget salah kaprah juga. Alat bantu dengar yang dipakai oleh Shanaz dan teman-temannya itu sudah berfungsi sebagai pengeras suara. Jadi suara yang masuk akan dibesarkan sesuai dengan tingkatan gangguan masing-masing mereka. Cara kerjanya mirip seperti amplifier atau microphone. Orang yang bicara dengan mic tidak perlu dia berteriak tapi suaranya sudah cukup besar untuk didengar oleh orang yang jaraknya cukup berjauhan dengannya sekalipun, ya kan?

Begitu pun dengan alat bantu dengarnya Shanaz. Dengan tidak berteriak pun, sebenarnya shanaz sudah bisa mendengar dengan baik. Malah jika bicara terlalu keras justru membuat beberapa huruf menjadi hilang. Contoh kata ‘makan’ tadi, jika disebutkan dengan teriak maka yang terdengar oleh Shanaz justru hanya ‘ma-an’, huruf K nya malah hilang. Tidak percaya? Coba saja bicara sambil menggunakan mic, mana yang lebih terdengar jelas, saat teriak atau bicara normal?

5.       Akankah Shanaz diajarkan bahasa isyarat?
Saat awal-awal shanaz divonis tidak bisa mendengar, saya sering sekali mendapat tautan video tentang bahasa isyarat. Menurut saya itu cukup sweet (maaf bukan tidak mau menggunakan bahasa Indonesia yang benar, hanya saja saat menulis cukup manis, kok makna nya jadi beda ya?;p). Dan sampai sekarang pun saya juga sering ditanyakan juga, apakah nanti Shanaz akan diajarkan bahasa isyarat?

Saya pribada melihat bahasa isyarat memiliki seni tersendiri. Jauh sebelum saya mengetahui Shanaz seorang Tuli, saya sudah lebih dulu jatuh cinta dengan bahasa isyarat sejak menonton serial switch at birth di starworld (iya, hidup saya sereceh ini, hanya seorang mamak yang menghabiskan jatah me-time nya dengan menonton serial di starworld ;-p).  Menurut saya itu suatu hal yang keren ketika kita bisa berkomunikasi tanpa harus menggunakan suara.

Yang saya baru tahu adalah ternyata tiap negara memiliki bahasa isyarat yang berbeda. Di Amerika disebut American Sign language (ASL), sedangkan di Indonesia disebut Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia).

Hanya saja karena dalam masyarakat kita penggunaan Bisindo ini masih sangat terbatas, tentu saja fokus utama saya saat ini adalah menyelamatkan verbalnya. Dan masih besar harapan saya untuk shanaz agar dia bisa bicara seperti anak-anak mendengar lainnya.

Tapi nanti saya janji saya akan tetap mengajarkan dia bahasa isyarat, Karena saya mau kelak Shanaz tidak hanya bisa berguna untuk dirinya sendiri dan keluarga, tapi juga berguna untuk semua orang, tidak peduli entah orang tersebut bisa mendengar atau tidak, bisa berbicara atau tidak.

6.       Tuli = masa depan suramnya (?)
Saya ingat sekali setelah Shanaz divonis tidak bisa mendengar, malamnya yang saya dan suami lakukan adalah mencari di mesin pencari dengan kata kunci “orang Tuli yang sukses”. Mengejutkan, saya menemukan banyak sekali nama.

Sekarang saya paham kenapa Tuli dewasa tidak ingin dikasihani. Bahkan mereka juga tidak ingin disebut tuna rungu. Karena memang tidak ada yang perlu dikasihani. Selama mereka mendapat kesempatan yang sama, bisa berkembang sesuai dengan potensi masing-masing, kalian akan kaget melihat banyak sekali profesi yang sudah dijalani oleh para Tuli ini. Ada dokter gigi, fotografer, model, Public Relationship dan banyak lagi.

Masa depan seseorang tidak diukur dari dia bisa mendengar atau tidak, tapi bagaimana dia mau benar-benar mengenal potensi dirinya sebaik mungkin. Mungkin anak-anak dengan gangguan pendengaran seperti Shanaz dan teman-temannya memang harus berjuang sedikit lebih keras, tapi bukankah tak ada hasil yang mengkhianati usaha kan?





Share:

5 comments:

  1. Semangat ya Shanaz. Dhifah juga masih belajar, belajar berdiri di usianya yg 3 tahun ini, sebagian anggota geraknya kaku karena pengapuran otak akibat infeksi virus CMV. :)

    ReplyDelete
  2. Wah Shanaz manis sekali Bunda. Jadi pengen ngesun 😘. Terima kasih sudah berbagi ilmunya 😃

    ReplyDelete
  3. Iya bunda, aku setuju banget sama pernyataan bunda diatas. Apalagi tentang sukses, jadi keinget sama Nyle Dimarco yang selain jadi model malah bisa dance. Eniwei saya juga penggemar switched at birth bun, hehehe
    Semangat selalu ya Bun dan Shanaz, terimakasih sudah berbagi :D

    ReplyDelete
  4. Sama bunda, aku juga suka nonton Switched at birth walaupun streaming. Memang kerasa indah dan bisa belajar bahasa isyarat meskipun dikit - dikit hehe.

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete