karena tiap orang punya ukuran sepatu yang tak sama


Jaman sekarang memasuki dunia motherhood sama seremnya dengan masuk ke dunia uka-uka (please jangan bilang kalian tidak pernah dengar uka-uka. Jangan biarkan saya menua sendirian).  Gimana tidak, salah langkah sedikit siap-siap dihujat dengan pelbagai macam petuah dan nasihat.

Padahal ya PR kita sebagai ibu itu sebenarnya banyak banget. Ingat tidak beberapa waktu yang lalu ada sebuah kampus besar meng-unggah tata cara menghubungi dosen lewat ponsel. meski pihak kampus mengakui kalau itu tidak ada maksud apa-apa, tapi secara tersirat bisa disimpulkan bagaimana tata krama mahasiswa/i jaman sekarang kan ya. Saya sendiri juga beberapa kali melihat sih beberapa oknum generasi muda (uhuk berasa tua saya) yang jauh banget dari kata sopan.

Hanya karena dunia makin lama makin canggih bukan berarti sopan santun digadaikan. Dan ini lah PR terbesar kita untuk mendidik anak kita lebih baik lagi dari sekarang. Ada norma-norma yang mulai dilupakan oleh mereka.  Jadi daripada energinya hanya dipakai untuk nyiyir dan ngurusin orang (padahal belum tentu orangnya mau kurus juga) lebih baik kita pakai untuk menciptakan generasi emas penerus bangsa.

Untuk hal-hal yang sifatnya krusialnya sih saya rasa sah-sah saja jika kita memberi masukan atau saran  sebagai sesama para ibu ya. contoh jika ada seorang ibu yang mandiin bayinya ke dalam mesin cuci,biar praktis katanya, pencat pencet, tau-tau bayinya bersih. Atau contoh lain ada anak umur 3 tahun diperdayakan disuruh timba sumur karena pompa air mati sementara dia malah asik facebook-an dan malah anaknya direkam ke dalam insta-story dengan tambahan tulisan “hebatnya anak bujang mamak *lope* *lope*”. Kalau ketemu model begitu sok silahkan mau dicincang jadi baso juga saya rasa darahnya halal saja:-p.

Masalahnya saat ini adalah banyak sekali para ibu yang selalu merasa pilihannya dia yang paling benar, paling akurat, paling hebat, pokoknya paling segala-gala nya lah. Oke lah kalau cuma hanya sekedar merasa ya, yang paling repot itu ketika kemudian dia mulai menyalahkan pilihan orang lain. Loh kok anaknya digiiniin sih? Duuh ga sayang anak ya, kok tega sih dan kalimat=kalimat bermuatan cibiran lainnya.

Padahal ya, kita ini diciptakan sebagai manusia berbeda-beda lho. Dari segi suku, warna kulit, dan yang paling penting adalah dari segi kebutuhan yang tidak akan pernah sama antara satu manusia dengan manusia lainya. Kecuali situ adalah mbek, nah itu baru bisa dipukul rata, yang penting dikasi rumput, yang penting dibawa ngangon dari pagi sampai sore, udah urusan selesai. Tidak  perlu repot memikirkan ini mbek A alergi rumput liar, jadi kasi makannya harus rumput organik atau ini si mbek B punya masalah Bandot disorder jadi sebaikya dikarantina daripada dia nyosor melulu.


Jika ada seorang ibu yang menyekolahkan anaknya dari umur 6 bulan misalnya, lalu kemudian ada yang nyinyir kenapa cepat banget sih masukan anak ke sekolah, ibunya ngapain aja di rumah? mungkin dia tidak tahu si ibu sudah sangat repot dengan berbagai urusan di rumah, belum lagi harus ternak teri (anter anak kesana kemari), daripada si bayi kurang stimulasi dan malah makin capek harus ikut ibunya melulu, jadi yaa lebih baik dia sekolah.

Atau kasus lain ada seorang ibu yang sangat teliti dalam memilih bahan-bahan makanan untuk anaknya. Tidak mengandung kacang, tidak mengandung susu sapi dan turunannya, gluten-free, dan lain sebagainya. Lalu kemudian dengan seenak jidat ada yang komentar, “udah laaah anak itu jangan terlalu dimanjain, biar aja dia rasa semuanya, biar kuat badannya.” Yang dia tidak tahu adalah si anak ini punya asma dan alergi akut misalnya. Yang dia tidak tahu adalah pernah sekali bablas lalu asma si anak kumat dan tengah malam harus dibawa lari ke UGD. Si ibu hanya bisa menangis tersedu melihat anaknya kesakitan di UGD sambil menyesali kecerobohanya. Trus yang komentar tadi? Lagi tidur pulas dengan daster yang sudah tidak diganti 3 hari. Ngook

Dan tidak perlu dijelaskan lagi untuk pilihan yang terus kontroversial seperti ASI vs sufor, vaginam vs SC, aaah sudah lah, sudah so yesterday untuk dijabarkan. Karena pada akhirnya sepatu orang lain tidak akan pernah pas dengan sepatu kita.

Ada orang yang memakai sepatu ukuran 38, lalu kebesaran dengan kaki kita yang ukurannya 36, apakah kemudian harus menghujat si ukuran 38 ? Ada orang yang hanya nyaman dengan sepatu flatshoes, lalu kemudian mencoba high heel dan tumit kaki nya kesakitan, lalu apakah yang salah si sepatu high heel nya?. Semua sudah ada porsinya masing-masing. Yang sepatu ukuran 36 pakailah ukurannya sendiri, karena ukuran 38 hanya untuk orang-orang dengan kaki ukuran tersebut. Yang tim flat shoes silahkan berjalan-jalan dengan sepatunya sendiri, karena hanya orang-orang tertentu yang dilahirkan dengan kemampuan menggunakan sepatu high heel.

Ibarat  makhluk supra natural, kita ini sebenarnya sudah diberikan kekuatan supernya berdasarkan kebutuhan masing-masing. Sudah ada porsinya masing-masing. Lihat saja para wanita mutan di X-men (jangan bilang yang ini juga ngga pernah dengar  ya), tidak ada yang benar-benar memiliki kekuatan yang plek-plek sama kan?  Ada Storm yang mampu mengontrol dan memanipulasi cuaca yang ada di sekitar. Ada Jean Grey yang mempunyai kekuatan telepati. Dan ada Rogue yang mampu menyerap ingatan dan tenaga untuk hidup jika bersentuhan dengan manusia.

Kebayang tidak kalau mereka saling nyinyir dan menganggap kekuatan masing-masing lebih hebat dari yang lain

Storm : Rog,  kamu tu kepo banget sih nyerap ingatan orang melulu. Apa yang ada didalam pikiran orang is none ur business tauk.

Rogue : aaah eelah mak, kayak kekuatan situ manfaat aja. Nurunin hujan melulu. Bikin repot orang aja. Kasian kan yang pada naik motor jadi keujanan.

Jean Grey : berisik deh kalian semua. Mending juga eike  bisa telepati, orang-orang mah ngga perlu ngomong juga eike udah paham maunya apa.

Trus kata professor X : BODO AMAT !!!!!!


Jadi please stop merasa apa yang sudah kita lakukan lebih baik dari yang lain. Anak yang sebapak-seibu saja kebutuhannya tidak ada yang benar-benar sama, konon lagi anak tetangga.

 Menjaga lisan itu penting lho, itu lah kenapa kita disarankan untuk lebih dulu mengutamakan habluminannas daripada habluminallah. Karena kita tidak tahu manusia mana yang tanpa sengaja sudah kita sakiti dan dia mungkin belum memaafkan kita. Ngejar-ngejar di dunia saja ribetnya kayak apa gimana lagi ngejar di alam mahsyar coba. Aaah saya jadi ingat kebiasaan Almarhum nenek saya yang tiap berpamitan dengan orang, beliau selalu meminta maaf lahir bathin. Karena tidak ada yang bisa menjamin apakah akan ada pertemuan berikutnya atau justru itu yang terakhir.

Buat para ibu-ibu diseluruh dunia (hiperbola, kayak pembacanya ada di mana-mana saja;p), yuk kita buat dunia motherhood ini lebih moms-friendly. Ibu-ibu baru bukan lah sasaran empuk untuk dihujat dan kemudian boleh  merasa paling sotoy tahu segalanya. Pasal senior selalu benar, jika senior salah kembali ke pasal pertama sudah tidak relevan lagi. Dewasa lah, karena anak-anak kita tidak bisa dibesarkan dengan manusia yang pikirannya masih sama kecilnya dengan mereka.



Share:

5 comments:

  1. Memang paling susah menahan lisan kita, mb. Padahal itu bakal diminta pertanggung jawabannya kelak. Tantangan terkadang datang saat lingkungan sengaja menggiring kita untuk berkomentar negatif

    ReplyDelete
  2. Hehehe.. Mungkin sebenarnya tadinya mau kasi perhatian tapi jadinya malah bikin baper ya :)

    ReplyDelete
  3. Yup, menjaga lisan itu memang penting terutama di sosmed ya.

    ReplyDelete
  4. Mbak.. sepatuku kadang 37 kadang 38.. qiqiii..
    Beraattt banget jaga lisan itu, udah ditahan-tahan rasanya, baca tulisan di sosmed kok jadinya malah kerasa dipancing.

    ReplyDelete
  5. Very true mbak. Maunya juga nggak nyinyir dan terbuka ya dengan setiap pilihan orang lain. Tapi kadang hati ini perih sendiri ketika melihat anak orang makannya lahap di insta story, sedangkan anak sendiri mau makan setengah porsi aja ngejar-ngejarnya kayak maraton. Hahaha. Ya Allah ampuni sayaaa....

    ReplyDelete