3 Alasan kenapa memilih HomeSchooling untuk anak



Banyak yang bertanya kenapa kami tiba-tiba memutuskan Home Schooling (HS) untuk sekolah para kaka. Sebenarnya keputusan ini bukan lah sebuah keputusan yang tiba-tiba muncul begitu saja, bukan pula keputusan yang diambil semalam. Ada banyak sekali pertimbangan sebelum memutuskan hal ini, ada banyak malam pula yang kami lewatkan untuk diskusi bantal alias pillow talk tentang ini, dan yang tidak kalah penting ada banyak kuota kami habiskan untuk melakukan riset personal dari video youtube yang beredar dengan kata kunci ‘ homeschooling”. Perasaan maju mundur, galau, antara yakin dan tidak saya akui sempat ada didalam benak saya dan suami. Sampai di titik kami  berada di satu perasaan dan kemudian  bilang, “ ok that’s time. We need move to straight. And no turning back off”.

Ada beberapa alasan kenapa kami memilih HS sebagai sekolah yang paling tepat saat ini untuk para kaka, Indira (8 tahun) dan Danesh (6 tahun). Alasan pertama, karena pekerjaan ayahnya anak-anak yang bisa dimutasikan kemana saja dan kapan saja. faktor terbesar yang menyebabkan maraknya bujang lokal di instansi tempat ayahnya berkerja adalah karena alasan utamanya anak-anak sudah bersekolah jadi sulit untuk bolak balik pindah sekolah terus menerus.

Dan sayangnya saat ini  Long Distance Married (LDM) belum bisa menjadi opsi untuk keluarga kami. Tanpa bermaksud menabuh genderang perang dengan para pelaku LDM, hanya saja saya merasa tiap keluarga diberi kekuatan dan kelemahan masing-masing. Setiap orang punya kryptonite nya masing-masing. Dan ini lah kryptonite keluarga kami.

Suami saya tidak ingin melewatkan melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang setiap harinya. Anak-anak butuh sosok ayahnya sebagai laki-laki pertama yang mereka cintai. Dan saya? Saya butuh orang tempat saya melampiaskan marah saya saat lagi PMS ;-p.  karena hubungan mutualisme satu sama lain ini lah membuat kami sulit untuk berjauhan dalam jangka waktu panjang.

Itulah kenapa saya selalu salut dengan para keluarga yang bisa hidup dipisahkan jarak karena berbagai macam hal. Butuh kekuatan dan kesabaran besar untuk melakukan hal tersebut.  Dan bahkan butuh modal yang tidak sedikit juga untuk itu. Doa terbaik saya untuk para pejuang LDM dimanapun berada, semoga selalu diberi kekuatan dan kebahagian. Aamiin.

Alasan kedua mengapa memilih HS adalah karena ingin menekan anggaran sekolah yang harganya makin lama makin tidak masuk kantong  akal kita lagi. bahasa sederhananya tak ada uang masukin anak sekolah cui.

Buat yang anaknya sekolah di sekolah swasta pasti paham maksud saya ini. terutama sekolah-sekolah swasta di kota besar. Duuh ampun-ampunan deh harganya. Yaa kalau sekali bayar saja untuk 6 tahun kedepan mungkin masih bisa diusahakan,  nah bayangkan berapa  biaya yang harus disiapkan untuk bolak balik masuk ke sekolah yang terus berbeda. Untuk kasus saya dikalikan dua kali lipat karena anak yang sudah masuk umur sekolah ada 2 orang. Pindah kota lagi artinya masuk sekolah baru lagi yang artinya lagi bayar uang pangkal lagi, kalau diakumulasikan  bisa buat naik haji sekeluarga kali.

Dengan homeschooling sama dengan  kita bisa benar-benar mengeluarkan uang secara efektif untuk kepentingan belajar anak-anak. Kita bisa merancang sendiri apa yang penting untuk dipelajari dan apa yang memungkinkan untuk di-skip. Besar kecilnya biaya tentulah sangat tergantung dari bagaimana konsep homeschooling yang ingin dijalani.

Pernah dengar teori tabula rasa tidak ya? Tabula rasa ini diambil dari istilah bahasa Latin yang artinya anak bukan lah kertas kosong. Pernah pada masanya dulu orang tua kita berpikir bahwa masa depan anaknya 100 % dilukis oleh mereka, mereka menganggap hanya orang tua yg tahu apa yang terbaik untuk si anak, tanpa peduli apakah anak suka atau tidak, apakah itu sesuai bakat mereka atau tidak.

Hal ini lah yang memicu munculnya masa-masa dimana dulu orang tua kita menginginkan anaknya menjadi PNS, meski tidak besar yang penting bergaji tiap bulan dan tua dapat pensiunan. Lalu masa itu bergeser berganti dengan cita-cita orangtua yang ingin anaknya menjadi pegawai BUMN, Bank dan  perusahan-perusahaan swasta lainnya, meski tidak mendapatkan pensiunan, tetapi dengan gaji yang besar bisa merencanakan investasi masa tua. Tapi dari semua itu adakah yang benar-benar bekerja sesuai passion?. Saya tidak yakin. Generasi saya adalah generasi yang apapun jurusan kuliah yang dijalaninya, kerjanya tetap di Bank ;p

Dan sekarang sebagai orangtua saatnya kendali ada di tangan kita. Generasi penerus selalu dibentuk dari bagaimana pola orangtuanya berpikir. Saya pribadi berpikir sekarang sudah waktunya anak-anak saya mengoptimalkan potensi masing-masing sesuai bakat mereka.  Karena saya yakin apa pun bakatnya jika dikerjakan dengan sepenuh hati dan profesionalitas, percaya lah Allah tidak akan pernah salah memberi rejeki. Karena hanya ada putri yang tertukar, kalau rejeki mah insya allah tidak akan pernah tertukar. Dan itu adalah alasan ketiga kenapa kami memutuskan HS untuk para kaka.

Meski begitu manusia berencana Allah lah yang menentukan. Apa pun bisa terjadi dikemudian hari. Jika ternyata tiba-tiba di tengah jalan, anak-anak minta ke sekolah umum tentu sah-sah saja. Tidak ada alasan untuk saya sebagai orangtua menghalangi apapun niat mereka selama tidak melanggar  norma agama dan hukum.

Jadi terjawab sudah ya alasan utama kenapa akhirnya kami mendadak meng-HS kan para kaka. Meskipun sebenarnya metode HS yang kami lakukan saat ini belum lah benar-benar sempurna. Saat ini kami masih sangat ‘schooling at home’ alias memindahkan sekolah ke dalam rumah, hal itu karena mengingat mereka pernah bersekolah dan menghindari kekagetan juga. Apalagi saat ini kami masih dalam tahap adaptasi karena baru pindah ke tempat yang baru. Jadi kurikulum yang digunakan saat ini masih melanjutkan kurikulum dari sekolahnya yang lama, tapi Insya Allah pelan-pelan kedepannya akan terus dikerucutkan sesuai potensi mereka masing-masing.

Dan tentu saja yang sangat saya dan suami saya sadari dengan sepenuh hati adalah bahwa perjalanan ini tentu saja tidak akan semudah dan semulus cerita dongeng. Akan banyak sekali tantangan, konflik dan perasaan naik turun di depan nantinya. ibarat sedang marathon yang harus sangat diperhatikan yaitu tidak perlu terburu-buru atau gas poll diawal, yang penting menjaga semangat dan sampai ke garis finish dan yang tak kalah penting menikmati setiap prosesnya.

Insya Allah nantinya saya akan terus mengusahakan untuk meng-update  tentang HS para kaka di blog ini dengan label ‘ Home Schooling Indinesh’ ya. Atau bisa juga kepo di Instagram saya @fernanindhita dengan hastag #HomeSchoolingIndinesh.

Karena menulis adalah bagian hal yang selalu menjadi me time kesukaan saya dan saya butuh energy yang besar untuk menjalankan ini semua. Syukur-syukur lagi kalau ternyata tulisan saya bisa bermanfaat untuk orang lain.



Share:

6 comments:

  1. Keren bund. Kami juga keluarga yg harus berpindah2. Bedanya paksu mb Ferni dah paham ttg HS...jadi bs sevisi.
    Kira2 syarat HS suami harus setuju dulu?

    ReplyDelete
  2. dulu mamak pun begini krn papa pindah setiap 2 thn, tp krn masuk ke negeri biaya gak gede ya. Aku sekolah SD sampai ada 3 tempat, SMP dan SMA masing2 2 lokasi, serunya jd punya banyak teman, jdkalo adajob bth pv 500 bisa kelar dalam grup sekolah td haha

    ReplyDelete
  3. Para kakak juga dirimu mbk semangat ya, hsnya yak. Sukses selalu aminn

    ReplyDelete
  4. Wah semoga lancar program HSnya buat para kakak ya mbak. Terus nulis ttg HS supaya bs jadi hikmah dan inspirasi buat bu ibu diluar sana. Sy masih rencana HS sampe sebelum SD. tp masih butuh banyak ilmu tth HS :)

    ReplyDelete
  5. Keren! Aku ga pernah homeschooling tapi aku lihat sih anak anak yg homeschooling itu bakatnya lebih terasah macam Sonia Eryka sekeluarga wkwk😂

    ReplyDelete
  6. Semoga lancar ya, mbak HS-nya. Kalau saya lihat dari mereka yang menjalankannya, HS ini membuat anak lebih bisa mengembangkan potensinya

    ReplyDelete