Resensi Film Wonder, "ketika seseorang tidak bisa mengubah bagaimana rupanya, mengapa tidak kita yang mengubah cara melihatnya"



Sumber gambar dari google

Sejak pertama sekali saya melihat cuplikan film Wonder di linimasa facebook, saya sudah nangis sesengukan.  Saat itu masih 2 bulan lagi tayang di Indonesia tapi saya sudah memastikan akan memasukan film ini sebagai film wajib ditonton.

Qadarullah saat film tersebut tayang, Shanaz malah sakit dan dirawat di RS. Bukan  hanya itu saat itu kita juga lagi repot pindahan dari Pekanbaru – Jakarta sehingga sampai film tersebut diturunkan dari bioskop saya benar-benar tidak sempat menontonnya.  Akhirnya saya baru nonton film Wonder beberapa bulan kemudian dari DVD bajakan yang saya beli di ITC BSD.

Film ini bercerita tentang perjalanan Auggie Pullman, seorang anak laki-laki yang terlahir dengan facial differences disorder.  Pada dasarnya Auggie  sama saja dengan anak laki-laki seumurnya. Auggie senang luar angkasa, senang star wars, bermain minecraft dan semua hal yang dilakukan oleh anak berumur 10 tahun, dia pun lakukan hal yang sama.  

Tapi kemudian semua menjadi tidak sama, ketika Auggie  hanyalah satu-satunya anak yang akan membuat anak lain takut dan menangis saat melihat wajahnya. Dan dia satu-satunya anak yang jika tidak sengaja tersentuh oleh anak lain, maka anak  lain tersebut akan mengatakan "plangeu"

Film ini memang menceritakan bagaimana ketika Auggie yang tadinya bersekolah di rumah bersama ibunya, kemudian mulai masuk ke sekolah umum.  Bagaimana dia bersikap ketika mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan di awal-awal pertama mulai bersekolah.

Tidak hanya itu saja, film ini juga menceritakan dari berbagai sudut pandang, seperti dari sudut pandang kakak Auggie, Via dan juga dari sudut pandang sahabat Auggie, Jack. Tentu cerita Auggie tetap lah inti dari film tersebut, tapi seakan ingin menegaskan bahwa yang paling penting diatas segalanya yaitu support system dari orang sekitarnya.

Dan anehnya justru yang menjadi bagian kesukaan saya adalah saat bercerita tentang kaka Auggie, Via yang merasa dinomorduakan. Rasa sayang Via ke Auggie tidak perlu diragukan lagi, dia lah orang pertama yang akan selalu menghibur adiknya saat adiknya bersedih, dia juga orang pertama yang akan membela adiknya ketika adik laki-laki satu-satunya diejek orang. 

Hanya saja terkadang Via merasa semenjak ada Auggie seluruh pusat perhatian orang disekitarnya berpusat pada Auggie saja. Ibaratnya Auggie adalah matahari dan yang lain planet yang mengelilingi matahari sebagai lintas orbitnya.

I feel so relate with this movie.  Dan saya yakin semua orangtua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus dan memiliki anak lebih dari satu pasti merasakan hal yang sama. Terkadang kita lupa mereka yang kata orang anak ‘normal’ juga sebenarnya butuh dan memiliki hak yang sama atas perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Apalagi jika si ‘anak normal’ tersebut posisinya sebagai kaka atau anak pertama.
Sumber gambar dari google


Anak pertama secara otomatis selalu dinobatkan dalam keluarga sebagai pengganti orangtua. Mereka terpaksa bertanggung jawab yang sebenarnya itu bukan lah porsi yang harus mereka pikul. Apalagi jika adiknya adalah  anak berkebutuhan khusus, dengan seenaknya kita rampas hak mereka dengan dalih mereka bersyukur sudah terlahir sempurna. Maka tidak heran jika anak pertama kebanyakan saat besar memiliki karakter perfeksionis dan sedikit control freak. Karena begitulah tanpa sengaja kita membentuknya sejak kecil.

Pertama kali saya menonton Wonder ini saya menontonnya tengah malam dan sendirian.  Setelah itu baru beberapa hari kemudian saya mengajak Indira dan Danesh untuk nonton bersama. Sebelum film dimulai saya memberikan sedikit sinopsis cerita kepada mereka termasuk didalamnya saya memberitahukan bahwa nanti akan ada adegan Via berciuman dengan teman dekat lelakinya, Justin.

 Saya jelaskan itu adalah tanda cinta mereka dan hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa. Mungkin di barat sana ada yang melakukannya sebelum menikah, tapi sebagai muslim kita hanya boleh melakukannya sesudah menikah. Lalu saya juga meminta saat adegan tersebut muncul boleh tidak untuk menutup mata saja. Alasannya yang saya berikan adalah karena adegan tersebut akan membuat tidak nyaman saat dilihat.  Mereka pun setuju.

Salah satu alasan kenapa saya mengajak mereka ikut nonton film Wonder ini adalah karena saya ingin tahu reaksi mereka setelah menonton film ini. Di tempat berbeda saya tanyakan kepada mereka tentang pendapat masing-masing terhadap film tersebut. Lalu pelan-pelan pertanyaan tersebut saya arahkan  ke pertanyaan inti, yaitu : “apakah kalian merasakan seperti yang Via rasakan di film tersebut?”

Dan tebak jawabannya apa, Indira bilang iya. Sedangkan jawaban Danesh adalah “ga juga sih bun”.  Tidak mengejutkan ya. Mengingat indira memang punya perasaan sensitif dan Danesh lebih cuek.

Menurut Indira bundanya persis seperti ibunya Auggie yang ada di film tersebut. Segala sesuatunya selalu tentang Shanaz, termasuk instagram saya yang isinya Shanaz semua (itulah kenapa sekarang Shanaz dibuatkan akun instagram sendiri, jadi cerita tentang Shanaz akan ditautkan disana, tidak lagi di akun bundanya).  

Jawaban dari mereka ini sekaligus jadi PR untuk bundanya agar lebih sering melihat para kaka bukan hanya sebagai ‘guardian angel’ nya Shanaz, tetapi juga tetap sebagai anak yang butuh cinta & perhatian yang sama dari orangtuanya. Setelah ini Insya Allah saya akan lebih sering bonding dengan para kaka, terutama Indira.
Tapi emang dasar anak-anak yang tidak baper berkepanjangan seperti orang dewasa, setelah film selesai mereka malah penasaran dengan proses pembuatan film tersebut. Lalu mereka mencari behind the scene nya di youtube dan yang paling membuat mereka penasaran katanya adalah bagaimana proses transformasi wajah Jacob Tremblay bisa berubah menjadi Auggie Pulman. Sangat kids zaman now yah. Sisi baiknya adalah mereka belajar ilmu baru dari sini.

Sumber gambar dari google

Selain buat para kaka, film ini juga  sudah mengajarkan banyak hal kepada saya. Seperti yang sudah saya tulis diatas, film ini mengajarkan saya untuk jangan  mengabaikan anak lainnya hanya karena mereka tidak berkebutuhan khusus .Dan juga mengingatkan saya bahwa setiap anak wajib diajarkan keahlian untuk bertahan alias survival skill, terlebih jika anak tersebut adalah anak yang kata orang berkebutuhan khusus.

Ada pesan yang bagus yang diberikan ibunya Augie saat pertama Augie sekolah, yaitu :

“if people do  act small front of you, you do bigger than them”


Kita bisa saja mengajarkan anak kita bersikap sebaik mungkin, tapi bagaimana anak orang lain bersikap itu sudah bukan lagi menjadi ranah kita. Dan ketika mereka melakukan hal-hal yang sebenarnya justru membuat mereka menjadi orang yang kerdil, maka ajarkan anak kita untuk mampu melakukan hal yang besar.

Dan ini ada beberapa qoutes lainnya dari film Wonder yang membuat saya semakin  jatuh cinta sama film ini. Saya tulis lagi disini ya plus ditambah dengan adegan saat qoutes tersebut muncul biar kita jatuh cinta berjamaah.


“when given the choice between being right or kind, choose kind” (Mr.browne, Augie’s teacher)”

Sumber gambar dari google


“You cant blend in when you were born to stand out” (Via, Auggies’s sister)


Sumber gambar dari google



“if u dont like where u are, picture where  you want to be” Auggie

Sumber gambar dari google


“Auggie cant change  the way he looks, maybe we can change the way we see” Mr. Tushman, Auggie’s principal

Sumber gambar dari google




Boom.. u got that point right? Gombalan Dilan mah lewat  kalau sudah nonton film ini. Buat para ibu dan calon ibu wajib nonton film ini dan siapkan tisu yang banyak ya. I bet u must be love this movie so bad.


Share:

13 comments:

  1. Happening juga ya ini film. Setuju aku bonding itu harus rata di berikan pada anak2 kita tanpa pandang adik atau kakak. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa bener mba. Film nya penuh moral lesson

      Delete
  2. Kok akoh mewek yah baca review ini. Kek mana kalo nonton filmnya langsung yah. Well, sebagai ortu aku tersentil banget. Sering bersikap gimanaaa gitu sama anak paling gede, merasa dia udah "penuh" lah karena jarak usianya 5 tahun dari adeknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaa cii.. Kmrn si kaka akhrnya tumpah ngeluarin unek2nya. Sediiih banget. Hiiiks

      Delete
  3. masuk watchlist aku minggu ini nih, sepertinya bagus :)

    ReplyDelete
  4. Duh, nonton gak yaaaa... Baca resensinya aja udah mewek. Kudu cari waktu sendiri ini mah kalau mau nonton, yaitu ketika orang rumah udah pada tidur.

    Thanks for sharing mbak, salam buat anak-anak yaaa. Anak saya baru satu, semoga kelak dia punya adik saya bisa tetap membagi kasih sayang dengan keduanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2.. Iya nonton sendirian pas malem2 berasa bgt itu psti. Siapkan tisu yg banyak yaa mba..

      Delete
  5. Saya juga suka filmnya, mbak. Keluarganya hangat banget kayaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa... Naksir sama interior kamarnya auggie sbnrnya. Lucu bgt yah. Hehehhe

      Delete
  6. Mbak, film ini ratednya buat semua umurkah? Pengen ngajak adek nonton :)

    Review-nya bikin bergetar hati mbak.. mewek������

    ReplyDelete
  7. Makin penasaran dgn film iniii. Mbk kretif smpe ngajak anak anaknya buat nonton ini. Makasih sharingnya. Salam, muthihauradotcom

    ReplyDelete
  8. Saya suka banget bacanya bagian Mba Ferna menjelaskan ke anak2 ttg kissing dan bagaimana hukumnya dalam agama kita. Dan iya, bagi para ortu, terutama ibu yang paling mengenal anak sejak janin ya, pastinya pingin adil berbagi kasih sayang ke semua anak. Cuma ketika ada bayi atau anak2 teristimewa pastinya perlu perhatian lebih. Moga Mba Ferna dan ayah anak2 dimudahkan selalu ya :)

    ReplyDelete