5 strategi AVT untuk anak dengan gangguan pendengaran


Mendengar adalah kebutuhan yang paling luhur dalam diri manusia. Ketika seseorang tidak bisa melihat, namun dia masih bisa meraba dan mendengar maka informasi akan tetap sampai ke orang tersebut. Namun jika seseorang tidak mendengar, meski dia sudah melihat benda tersebut, tetap dia tidak pernah tahu nama benda tersebut apa. Itu lah kenapa akhirnya muncul terapi AVT ini.
Terapi AVT atau Audio verbal therapy adalah sebuah terapi yang sangat dianjurkan untuk anak dengan gangguan pendengaran terutama di usia dini. Sasaran utama dari terapi ini bukanlah si anak, melainkan orangtuanya. Kenapa? Karena anak dan terapis hanya bersama selama kurang lebih satu jam, paling lama 2 jam, selebihnya 23 jam lagi anak bersama orangtua di rumah. Jadi para orangtua sangat disarankan untuk mempunyai bekal yang cukup tentang ilmu AVT ini.
Banyak yang bertanya dengan saya bagaimana sih proses terapi AVT ini? Prosesnya sederhana sebenarnya, sama seperti bermain biasa dengan anak, hanya bedanya disertai pendekatan-pendekatan tertentu yang memudahkan si anak menyerap informasi secara optimal dengan menggunakan fungsi mendengarnya.
Dan di tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang beberapa pendekatan strategi AVT yang sering saya pakai saat bermain dengan Shanaz di rumah.
Oh ya sebelumnya saya ingin beritahu dulu bahwa tulisan ini dari perspektif saya sebagai orangtua dan saya bukan pelaku AVT profesional. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut maka akan dengan senang hati saya berikan rekomendasi kemana harus bertanya.
Tujuan dari tulisan ini adalah murni hanya ingin berbagi. Karena saya tahu di luar sana masih banyak sekali orang yang sulit mendapat akses untuk terapi AVT ini. Semoga apa yang saya tulis disini bisa membantu walau hanya sedikit. Bismillah..

Dan berikut 5 strategi AVT yang sering dilakukan Shanaz di rumah, yaitu :

1.       Listening first

Otak manusia bekerja secara plastis, jadi ketika salah satu syaraf tidak berfungsi maka akan dengan segera diambil alih oleh syaraf yang lain.


Secara anatomi, posisi syaraf pendengaran berdekatan dengan syaraf visual. Ini lah kenapa untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran, mereka selalu unggul dibagian visual.


Semakin lama dia di-intervensi dengan alat, maka semakin banyak syaraf pendengarannya diisi oleh visual. Jika sudah begitu akan lebih besar usaha yang dilakukan untuk membuat si anak menggunakan kembali pendengarannya.


Meski sudah menggunakan alat, anak biasanya hanya tahu jika itu ada suara, tapi mereka belum punya konsep mendengar. Dan itu lah fungsi utama AVT, melatih si anak memahami konsep mendengar.


Dalam artikel-artikel berbahasa inggris yang saya baca, disana dikatakan they can hear, but they not listening yet. Nah saya sedikit kesulitan mengartikannya dalam bahasa indonesia, karena jika diartikan keduanya sama-sama bermakna mendengarkan. Jadi dalam tulisan ini mari kita sepakati, untung hearing akan saya tulis ‘mendengar’ (dengan tanda kutip) dan untuk listening akan saya tulis mendengar (tanpa tanda kutip).


Dalam strategi listening first, yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka makna nya adalah mendengar terlebih dahulu, maka sangat disarankan sebelum menunjukkan benda atau gambarnya, selalu meminta mereka untuk mendengar dahulu.



Contoh jika ingin menunjukkan gambar gajah, maka yang bisa dilakukan sebutkan kata gajah dulu baru tunjukkan gambarnya. Karena jika dilakukan berbarengan (apalagi jika menunjukkan gambar terlebih dahulu) bisa dipastikan si anak hanya menggunakan visualnya tanpa mendengar bahwa itu gajah. 


Tentu yang kita harapkan adalah si anak mendengar dan mendapatkan informasi bahwa itu adalah gajah, bukan sekedar hanya melihat saja. Maka jika disimpulkan teknik ini adalah hal dasar dan cukup krusial yang wajib dikuasai ketika berkomunikasi dengan anak-anak dengan gangguan pendengaran.



2.       Sandwich Auditory

Kemudian pertanyaan yang muncul adalah apakah artinya anak-anak yang sedang terapi AVT diharamkan menggunakan visual sama sekali? Tentu saja tidak begitu.


Jika kita sedang mengajarkan kognisi ataupun pemahaman kepada si anak, sebenarnya tidak apa kok mengunakan semua indera, termasuk indera penglihatan (visual) didalamnya. Dan strategi sandwich auditory adalah yang paling sering saya gunakan saat mengajarkan hal yang baru ke shanaz.


Rumusnya adalah : audiotory – visual – auditory. Ini sebenarnya diadaptasi dari konsep roti lapis atau sandwich, dimana artinya adalah pertama kita menggunakan pendengarannya, lalu tunjukkan bendanya,  dan kembali menggunakan pendengarannya lagi.


Anak-anak yang murni hanya gangguan pendengaran (tanpa gangguan penyerta lainnya) biasanya punya kognisi yang cukup baik. Bahkan tak jarang kognisi mereka bisa melebihi dari umur seharusnya. Jadi jangan ragu untuk terus mengenalkan hal baru kepada si anak ya. Meski dia tidak (atau belum) merespon bukan berarti dia tak paham lho.



3.       Auditory closure

Teknik auditory closure juga termasuk teknik  yang sering saya lakukan ke shanaz. Sebenarnya bisa dikatakan banyak hal-hal yang sederhana yang sering kita lakukan dengan menggunakan teknik ini, hanya kita saja tidak menyadarinya.


Contoh saat bermain cilukba dengan si anak. Berkali-kali kita mengatakan cilukba  ke anak, lalu kemudian satu kali kita menyebutnya “ci luuuk” dan si anak menjawabnya “ba”.  Itu lah auditory closure.


Atau contoh lain, saat kita bermain dengan anak dan memulai dengan berhitung, “yuk shanaz lempar bola ini. Hitung ya. Satu... dua...” lalu si anak menjawab “(ti)ga”. Lagi-lagi kita sudah menggunakan teknik auditory closure disini.


Jika tahapannya sudah lebih lanjut, maka bisa dicoba juga dengan lagu. Misalnya nyanyikan sebuah lagu kesukaannya, lalu hilangkan satu kata dan biarkan si anak yang melengkapinya. Posisi lirik yang dihilangkan tidak selalu harus terakhir sih, bisa ditengah juga.


Tapi tentu kita fokuskan ke bagian yang paling mudah dan familiar dulu dengan si anak, karena kalau belum apa-apa sudah diberi yang susah (apalagi disalahkan) lama-lama si anak bisa ngambek dan tidak mau bermain lagi sama kita.


Kalau shanaz sendiri biasanya paling senang kalau dinyanyikan lagu cicak di dinding, lalu sampai ke lirik “datang seekor nyamuk”, dan kemudian saya diam, setelah itu biasanya dia pasti jawab “hap” sambil senyum lebar nan menggemaskan. Yes, mission accomplishedJ





4.       Sabotase

Sejujurnya saya sedikit lupa nama strategi ini apa, tapi mari kita mengarang bebas dan sebut saja sabotase ya ;-p. Tapi tenang, untuk teknik yang dipakai insya Allah cukup akurat kok. Teknik ini sangat membantu untuk anak-anak yang mulai sok gede kayak Shanaz dan tidak mau dites.


Saat ini shanaz sudah bisa mengimitasi ke 6 suara ling dengan cukup baik. Hanya saja dia sering malas ketika disuruh melakukan suara ling. Mungkin kalau dia sudah bisa ngeyel, dia akan bilang “ apa sih disuruh itu-itu melulu. Aku kan sudah bisa tauk”. Padahal kan suara ling kan cukup penting ya peranannya (nanti kapan-kapan akan saya bahas tentang ini ya).


Nah untuk mengakalinya kita bisa menggunakan strategi ini. Biasanya saya melakukannya saat dia menginginkan sesuatu, contoh dia mau makan atau mau nonton youtube, “ooo shanaz mau nonton, ok, shanaz dengar dulu” sambil tunjuk ke telinga dan langsung melakukan 6 suara ling. Percaya lah itu jurus yang cukup ampuh untuk dia mengeluarkan suaranya.



Contoh lain misalnya buat anak yang sudah lebih besar dan senang bermain sepeda. Kita bisa melakukan trik dengan mengunci sepeda nya dan meletakkan kuncinya diatas. Lalu saat dia meminta sepedanya, minta dia mengeluarkan suaranya misalnya “mau” atau “buka” baru kemudian kita membuka sepedanya.


Atau bisa juga untuk anak yang suka mewarnai dengan melakukan sabotase pensil warnanya (dipatahkan ujungnya misalnya), lalu kita ketika dia ingin pensil warnanya diraut, maka minta dia mengeluarkan suaranya dulu baru kemudian diraut. Kan kalau ada 12 pensil warna, lumayan tuh ada 12 kata yang kita suruh keluarkan.


Jadi inti sabotase ini adalah sesuaikan dengan kesukaan masing-masing si anak. Karena ketika si anak menyukai atau menginginkan sesuatu, akan sangat mudah untuk kita memintanya mengeluarkan suaranya.



5.       Thinking at same place

Menurut sebuah penelitian anak-anak dengan gangguan pendengaran harus diajak bicara minimal 1500 kata per jam. Itu semua dilakukan untuk mengejar umur biologis dan umur pendengarannya.


Dengan kata lain maksudnya adalah kita harus siap menjadi radio komentator untuk si anak. Apa pun yang sedang dilakukan atau dilihat, harus selalu dibahasakan.


Nah masalahnya saya juga termasuk yang sering kecele disini terutama ketika sedang membacakan buku untuk Shanaz. Acap kali yang sedang dilihat si anak tidak sinkron dengan apa yang kita bahasakan.


Contoh saat saya sedang membacakan buku untuk shanaz, saya sedang menceritakan tentang beruang yang sedang makan madu, tapi ternyata shanaz sedang melihat gambar matahari yang juga ada di halaman tersebut. Meski berkali-kali saya menyebut kata beruang, maka informasinya tidak akan masuk ke shanaz karena saat itu ternyata dia sedang melihat gambar matahari.



Jadi memang kita harus jeli melihat mata si anak sedang tertuju kemana, lalu kemudian kita bahasakan atau bicarakan hal tersebut. Dan itu lah yang disebut strategi thinking at same place atau berpikir ditempat yang sama.


Sebenarnya kalau dijabari lagi ada banyak sekali strategi AVT, tapi karena sekali saya tegaskan bahwa porsi saya disini  bukan lah profesional, maka saya rasa 5 strategi itu akan sangat membantu jika benar-benar diterapkan di rumah.


Saya tidak bilang saya sudah sukses dalam menyelematkan verbal Shanaz, saat ini PR shanaz masih banyak, yang harus saya kejar pun tidak bisa dibilang sedikit. Tapi tentu ketika sudah berusaha semaksimal mungkin dan menikmati setiap prosesnya, maka urusan hasil biarlah diserahkan kepada Sang pemilik kehidupan. Karena toh selalu percaya hasil tidak akan pernah menghianati usaha, ya kan?




Share:

No comments:

Post a Comment