Sugar Rush pada anak, benar terjadi kah?

Hari ini saya ingin bercerita ttg sugar rush yg terjadi pada Shanaz. Tadi malam sebelum tidur shanaz jumpalitan ga jelas arah. Pdhl biasanya kalau sudah dimatikan lampu, masuk kamar, bengang bengong sendiri, pasti ga lama akan tidur. 

Pas diingat-ingat lagi, td pagi dia makan roti coklat 2 tangkap, sore makan es krim milo, trus dr abis magrib sampai mau bobo nth brp x bolak balik makan pisang barangan. Udah kelar lah urusannya itu 😣.

Memang sih sampai detik ini belum ada penelitian ilmiah yg membuktikan bahwa sugar rush itu benar-benar ada. Hal tsb sebenarnya tidak sepenuhnya benar dan tdk sepenuhnya salah juga.

Imho pada dasarnya gula adalah karbohidrat sederhana yang mudah diolah dalam tubuh manusia dan diubah menjadi energi. 

Secara alamiah sebenarnya tubuh kita sudah diciptakan sedemikian kompleks sehingga mampu menurunkan kadar gula darah yang tinggi  dengan cara memproduksi insulin. Semakin tinggi kadar gula darahnya semakin banyak insulin yg diproduksi, sehingga kadar gula darah mampu turun secara drastis. 

Nah penurunan yg secara drastis ini bisa menyebabkan tubuh menjadi lemas & otak mengirim sinyal bahwa tubuh membutuhkan  asupan energi (biasanya jadi ingin mengonsumsi gula/manis2 lagi), jd yaa muter aja gitu terus skemanya. 

Justru inilah yang sebenarnya harus lebih ditakutkan dari mengkonsumsi gula berlebih yaitu takut terjadinya resistensi insulin (monggo digoogle untuk info lebih lanjut lagi).

Balik lagi ke kasus sugar rush td, secara teori tentulah dpt disimpulkan bahwa ternyata sugar rush hanya lah mitos. Tetapi untuk anak dg kondisi medis tertentu teori tsb tidak benar-benar bs berlaku. 

Jika secara alamiah tubuh anak-anak lain mampu mengolah kadar gula darah yg cukup tinggi menjadi energi, beberapa anak dengan alasan medis tertentu ternyata tidak semudah itu. Kadar gula darah yg ada pada tubuh si anak meski dengan jumlah tak seberapa itu ternyata sulit untuk bisa diproses dengan baik. Dan tentu itu akan berakibat buruk pada si anak, misalnya seperti terjadinya gangguan konsentrasi, yg akhirnya berdampak ke perilakunya juga.

Shanaz termasuk anak yg susah sekali tidur. Pola tidurnya super kacau. Tidak pernah tidur siang, malam pun begadang. Begadangnya bukan yang cuma jam 11-12 malam, pernah dia baru tidur jam 3 bahkan jam 4 pagi. Pdhl itu kondisinya blas dia blm tidur sama sekali, bahkan  tidur sore pun ga lho.

Waktu itu salah satu terapisnya menyarankan shanaz untuk mengubah pola makannya. Kurangi sumber gula berlebihan seperti coklat, permen dll. Untuk sumber gula pada nasi, lauk pauk selama msh dlm porsi sewajarnya tidak lah masalah. Saya kemudian mencoba menerapkan saran tersebut, eeeh beneran pola tidurnya jadi lebih baik. Sekarang tidak sampai jam 10 malam dia sudah tidur (kecuali seperti tadi malam yang seharian dia bablas makan coklat dll)

Perubahan pola makan dan pola tidur ini sangat diharapkan mampu meningkatkan rentang konsentrasi shanaz dan pada akhirnya meningkatkan kemampuan belajarnya sehingga proses habilitasi bisa berjalan dengan lebih baik.

Berasa sih semanjak pola tidur shanaz lebih baik dia lebih mudah diarahkan ketika saya sedang ajak dia bermain sambil belajar. Beberapa kegiatan yg ada di pembelajaraan tempat terapi shanaz bisa dengan mudah saya ulangi lagi di rumah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa seperti yang sudah saya sebutkan diawal sugar rush itu bisa jadi mitos tetapi bs jg berakibat tidak baik untuk anak dengan kondisi medis tertentu.

Pertanyaannya adalah emang Shanaz punya kondisi medis apa sih selain gangguan pendengaran sensoneurial?.

Jujur saya pun sampai hari ini belum menemukan jawaban yang pasti. Beberapa kecurigaan tentu lah ada, tanpa bermaksud ingin melabeli tetapi menurut para profesional yg saat ini menangani kasus shanaz masih ada beberapa tahap dan observasi lebih lanjut lagi untuk bisa sampai  ke titik diagnosa. Tapi apapun itu Insya Allah saya sudah siap dan berbesar hati menerimanya. Mohon doanya untuk Shanaz agar mendapatkan yang terbaik ya oms & tantes semua.

Share:

No comments:

Post a Comment