Anak dan Prefrontal Cortex, Apa Yang Harus Dilakukan?

 


Saat masih kecil impian terbesar kita adalah ingin segera menjadi orang dewasa. Dalam benak seorang anak menjadi dewasa artinya bisa membeli apa pun yang diinginkan (pikiran ini biasanya muncul setelah meminta sesuatu ke orang tua tapi ditolak, ya kan?).


Realitasnya? Dewasa tidak juga membuat kita mampu membeli semua hal yang kita inginkan (hooh ini curhat :p). Bahkan semakin dewasa semakin banyak yang dipikirkan. Kadang ku pun heran ke mana diriku yang impulsif dan  tidak bisa menahan diri dulu ya.  Pantas saja ada meme yang bertuliskan "Don't grow up. it's trap", ternyata ini maksudnyaHahaha, menyedihkan tapi itu benar adanya.


Dalam sebuah study mengatakan ketika seseorang menjadi dewasa, Prefrontal cortex (otak bagian depan) juga menjadi semakin matang. Bagian otak ini bertugas mengambil keputusan, merencanakan, mengorganisasikan, mengembangkan kepribadian, meningkatkan kemampuan kognitif dan lain sebagainya. Pokoknya hal-hal yang dulu kita anggap orang dewasa itu membosankan terlalu banyak pikir, yaa ternyata ini biang keroknya.


Teorinya Prefrontal cortex sudah dianggap berkembang dengan sempurna saat seseorang berumur 21 tahun. Itu lah kenapa di Amerika dianggap dewasa dan boleh membeli minuman berakohol di umur ini. Di fase ini seseorang dipercaya sudah memiliki semua kemampuan yang ku sebut sebelumnya diatas.



Namun tahukah kamu ternyata agar Prefrontal cortex itu bisa berkembang dengan sempurna butuh latihan? Kalau di-analogikan ini sama seperti otot. Mau punya otot ya harus dilatih, ngga mungkin tidur malam ujug-ujug bangun pagi udah berotot kan?


Pertumbuhan otak berkembang pesat saat anak mulai masuk masa remaja, terutama ketika memasuki pubertas. Pembentukan Prefrontal cortex dipengaruhi oleh hormon endorphin.

Hormon ini akan membantu sirkulasi darah, menekan stres, meningkatkan pembakaran kalori. Menurut dokter anak menjelang remaja sangat dianjurkan untuk melakukan olahraga rutin. Tidak harus dilatih menjadi atlit, yang paling penting mereka bergerak (karena di masa-masa ini justru anak-anak mulai mager, ingin di rumah aja, males keringat, jadi tugas kita untuk 'memaksa' mereka keluar rumah).


Pertumbuhan Prefrontal cortex  ini tak kasat mata, tapi penting. Mereka yang tumbuh dengan kepribadian dewasa adalah yang memiliki Prefrontal cortex yang cukup bagus. Pernah dengar istilah Age is just number? Betul, karena kenyataannya umur bertambah tidak memastikan Prefrontal cortex juga ikut berkembang.


Orangtua selalu mawas terhadap perkembangan fisik anak seperti berat badan ataupun tinggi anak (dan itu bagus kok), namun suka lupa terhadap perkembangan otak anak. Hanya karena tingkat kedewasaan tidak ada tolak ukurnya bukan berarti itu tak perlu diperhatikan. Menurut buku The whole Brain child nya Daniel J. Siegel, otak Prefrontal cortex ini bisa dilatih sejak dini. Bagaimana cara untuk mencerdaskannya? Simak tips berikut ya..




1. Melatih mengambil keputusan sejak dini.

Sejak dini latih anak untuk mengambil keputusan sendiri. Berikan mereka 2-3 pilihan (jangan terlalu banyak juga nanti anak akan kewalahan). Contoh pilihkan 2-3 baju lalu minta anak untuk memilih, 

"kamu mau pakai baju ini atau itu?"

Contoh lain juga bisa aplikasikan saat hendak menawarkan makanan berikan 2 pilihan, 

"kamu mau makan ayam atau telur?".

Membiarkan anak mengambil keputusan itu penting. bahkan ketika dia mengambil keputusan yang salah, tidak perlu diinterupsi biarkan dia mengolah sendiri.



Beberapa waktu lalu saat belanja bulanan saya meminta Shanaz untuk memilih sereal, tangan kanan saya memegang sereal coklat dan kiri sereal rasa buah. Saya tanya yang mana yang dia mau, dia menunjuk kiri. Saya tahu sebenarnya dia pasti ngga akan suka rasanya (Shanaz itu cuma suka rasa coklat), tapi alih-alih menolak, saya biarkan dia memilih. 

Esok harinya saat sarapan dengan sereal buah, benar saja cuma makan sesuap terus ngga mau lagi 😅.


Ini adalah cara yang paling sederhana dalam melatih mengambil keputusan. Ini bisa dilakukan siapa saja, bahkan untuk anak yang kemampuan berkomunikasi masih minim. Kuncinya tahan berkomentar dan merasa paling benar ya. 


"I told u", 

"kaaan..", 

"dibilang juga apa",

 "mama tahu kamu pasti ngga suka

adalah kata-kata yang diucap dalam hati saja, ngga usah dilafaskan di depan anak ya buibu. Anak butuh belajar salah memilih agar Prefrontal cortexnya sempurna.


Untuk para kaka, saya pernah melatih mereka dengan memberikan uang Rp 300.00 di hari ultahnya. Saya katakan kalian boleh beli apa saja yang kalian mau. Saya antar mereka ke mol untuk belanja uang kagetnya. Tidak sampai lantai ke-2 uangnya habis.

Awalnya mereka mengaku senang, tapi dua hari kemudian saat mereka melihat lagi barang yang mereka beli lagi,mereka merasa menyesal 😅.

Tahun depannya ketika diberikan uang dengan jumlah yang sama, mereka sudah tak mau habiskan dalam 1 hari.  Sebelum belanja, mereka membuat daftar apa saja yang benar-benar mereka inginkan. 

Mission accomplished 👏👏👏


2. Menanamkan empati pada anak.



Cara lain melatih Prefrontal cortex bisa juga dengan memulai menanamkan empati pada anak. Ini bisa didapat dari buku yang dibaca atau dari kejadian spontan yang ditemui sehari-hari.


"Bayi itu nangis. Kenapa ya dia nangis? Kasian ya dede bayinya".


"Nenek itu bawa apa ya di punggungnya? Merasa berat ngga ya si nenek? Punggungnya cape pasti ya".


Terus latih anak agar dia mampu melihat meski bukan dia yang mengalaminya bukan berarti boleh abai dengan sekitar.


3. Bantu anak mengontrol emosi dan perilaku. 



Nah ini tantangan besar nih. Sering sekali terjadi saat anak tantrum, orangtua juga jadi ikutan korslet. Padahal anak tidak bisa mengontrol emosi itu wajar, tugas orangtua lah untuk melatihnya. 

Ajarkan anak untuk menarik nafas panjang dan berlahan jika sedang dalam keadaan sangat marah. Emosi itu rasa tapi tidak dituang dalam bentuk perilaku


Ini adalah prinsip yang harus dipegang sampai dewasa. Emosi yang disalurkan secara destruktif hanya akan menimbulkan penyesalan. 

Jangan berlindung dari justifikasi "aku memang begini kalau lagi marah, ngga bisa dikontrol". 

Nope, diatas 21 tahun kamu punya kemampuan mengontrol emosi, tinggal bagaimana mau belajar mengembangkan diri menjadi lebih baik atau tidak.



4. Latih anak mengenal dirinya sendiri.


Untuk anak yang sudah lebih besar ajarkan mereka untuk menulis jurnal. Ini akan melatih anak untuk mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan.


Anak pra-sekolah juga bisa dilatih dengan menggambar. Bantu anak agar mereka bisa menggambarkan keinginan mereka.


Mengenal diri sendiri dengan baik adalah suatu bentuk kedewasaan. Mereka yang paham dengan diri sendiri biasanya tahu persis apa yang mereka inginkan dan tidak tergoda untuk asal ikut orang lain. Ini sangat bermanfaat ketika anak menjelang remaja agar tidak gampang terbawa arus pergaulan.





5. Latih moral kompas pada anak.



Terakhir ni, ketika semua itu digabungkan ini akan melatih moral anak. Anak tidak hanya belajar tentang benar dan salah namun juga efek dari itu semua.


Anak pasti tahu bahwa mencuri itu salah, namun apa sih akibatnya? Lalu apa yang harus dilakukan jika melihat ada orang yang mencuri?. Kuncinya adalah bantu anak untuk melihat dampak dan akibat dari semua moral.


Yang penting juga harus diingat adalah jangan berharap mereka akan konsisten melakukan ini. Ada kalanya moral mereka diuji dan itu bisa dimaklumi, ingat Prefrontal cortex baru sempurna di umur 21 kan? Di masa ini, jadilah orang tua elang, melihat dari kejauhan namun tidak melepaskan pengamatannya sedetik pun kepada 'mangsa'nya.


sumber gambar : semua ilustrasi pada artikel ini diunduh dari www.freepik.com

Share:

No comments:

Post a Comment