Resensi Buku : The Other Words For Home

 


Judul Buku : The Other Words For Home
Penulis: Jasmine Warga
Jenis Bahasa : Bahasa Inggris
Segmentasi Pembaca : Pembaca muda/remaja (diatas 10 tahun)


Buku ini menceritakan tentang kisah hidup Jude, seorang remaja berumur 11 tahun. Awalnya Jude hidup aman di sebuah kota kecil di Syria. 

Aleppo, tidak selalu menjadi daerah berkonflik, di sana juga ada penggunungan dan lautan yang indah. Jude, mama, baba dan kaka laki-lakinya, Issa tinggal dekat sekali dengan pantai. Kotanya tidak lah seburuk seperti yang disiarkan di berita TV ataupun surat kabar. 


Saat musim panas banyak turis  yang berdatangan dari Damascuss, Beirut, Amman dan bahkan Doha. Perpaduan aroma melati dan asinnya laut adalah gambaran yang tepat untuk menggambarkan kampung halamannya.

Sama seperti remaja pada umumnya, remaja yang hidup di belahan dunia lain, Jude juga mempunyai mimpi ‘American dream’. Bersama Fatima, sahabat Jude, mereka suka menonton film dan mendengarkan lagu asal Amerika. 

Jude selalu kagum dengan senyumnya Julia Robert dan cara berbicaranya Sandra Bullock. Jika besar nanti dia bercita-cita ingin menjadi bintang film seperti mereka. Fatima pun begitu, namun Fatima juga menambahkan dokter dalam daftar cita-citanya.

Issa, di sisi lain, memiliki pandangan berbeda terhadap negara dan juga presidennya. Issa merasa banyak hal yang harus diubah di Syria. Bersama beberapa temannya, Issa cukup aktif mengikuti protes terhadap presidennya. Ini juga hal yang selalu membuatnya berselisih dengan baba. Menurut Baba, Syria baik-baik saja. Selama mereka bisa bekerja dan mendapatkan uang untuk hidup itu sudah lebih cukup.

Sampai suatu hari keadaan semakin panas dan tidak kondusif. Setiap sudut kota sudah semakin mencekam. Mobil Tank berlapis baja parkir dimana-mana.


Issa  memutuskan keluar dari rumah. Dia memilih tinggal bersama teman-teman yang mempunyai pemikiran yang sama. Kota yang tadinya penuh dengan kehangatan mendadak berubah menjadi 2 kubu. Semua orang ingin tahu siapa di kubu siapa. Bentrok dan kekerasan tak bisa lagi dihindari.

Ketakutan itu pun mulai semakin tercium. Mama selalu memegang tangan Jude kencang setiap kali mereka harus keluar rumah. Baba bahkan harus mengunci rumah sampai dua kali untuk memastikan mereka aman di dalam. Karena kondisi ini lah akhirnya Jude dan mamanya memutuskan untuk berangkat ke Amerika, dimana paman Miza, kakak laki-laki mama tinggal disana. 

Hanya berkunjung saja”. Begitu kata mama. 

Tapi Jude tahu ini bukanlah kunjungan biasa. Perjalanan yang menghabiskan belaisan jam serta biaya yang tidak murah tentu tidak bisa disebut kunjungan biasa. 

Hati Jude gelisah. Dia seperti mendengar berita baik dan buruk bersamaan. Baik karena ini adalah impiannya. Buruk karena itu artinya dia harus meninggalkan Baba, Issa, Fatima dan hal-hal baik yang ada di Syria.

Singkat cerita ternyata Amerika tidak lah seindah senyuman Julia Robert. Jude yang di kampung halamannya terkenal dengan kemampuannya berbahasa inggris, selama di Amerika dia kesulitan untuk berbicara. Entah kenapa semua kata hanya sampai di tenggorakan, tak satupun bisa keluar dari mulutnya.

Di Amerika, Jude terlihat berbeda di antara anak lain. Dia tidak bisa benar-benar berbaur. Dulu Jude senang menjadi pusat perhatian. Namun di sini dia berusaha keras untuk tidak terlihat.

Buku ini bercerita bagaimana Jude berjuang melawan ketakutannya. Bagaimana dia belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Di saat bersamaan jiwanya masih tertinggal di Syria. Dia memikirkan Baba dan Issa. Juga sahabatnya, Fatima. Orang-orang bilang dia beruntung, tapi dia tidak merasa seberuntung itu.

Alur cerita yang digunakan di buku ini bisa dibilang cukup sederhana. Kalimat yang dipilih juga lugas dan tidak terlalu panjang. Sepertinya Jasmine, Sang penulis memang membuat buku ini untuk memanjakan pembacanya dengan sesuatu yang mudah dicerna. Terlebih sejak awal segmentasi buku ini ditujukan untuk pembaca remaja.

 Namun yang membuat buku ini unik (dan berhasil menarik perhatian saya) adalah tata letak tulisannya. Jasmine mampu membuat kalimat langsung dan tak langsung dengan sangat baik. Dia bahkan tidak perlu memisahkan ke paragraf baru. Gaya menulis yang sangat berbeda dan butuh skill tertentu untuk bisa seperti itu.

Ketika membaca buku ini, saya membayangkan adegan per adegan dalam bentuk gerak. Salah satu indikator saya menikmati sebuah bacaan fiksi adalah saat membaca buku tersebut theater of mind saya juga ikut bekerja. 

Saya memindahkan setiap detail dalam buku ini dengan imajinasi saya sendiri. Dan itu terasa menyenangkan. Sudah lama sekali saya tidak merasakan sensasi itu. Terkadang memang yang kita butuhkan hanyalah sebuah buku sederhana yang dikemas dengan cara yang manis. 

Untuk teman-teman yang memilki anak perempuan, buku ini bisa menjadi alternatif bacaan yang cukup menarik. Ini juga bisa menjadi ajang bonding membaca buku bersama. Setelah membaca, tentu akan terasa menyenangkan jika bisa bertukar cerita. 

Terutama jika kamu kesulitan untuk mengejar topik pembicaraan Rodrigo siapa lah itu dan artis Tiktok lainnya dengan pra remajamu, ini adalah sebuah solusi tepat 😁

Share:

No comments:

Post a Comment