Resensi Buku : The Other Words For Home

 


Judul Buku : The Other Words For Home
Penulis: Jasmine Warga
Jenis Bahasa : Bahasa Inggris
Segmentasi Pembaca : Pembaca muda/remaja (diatas 10 tahun)


Buku ini menceritakan tentang kisah hidup Jude, seorang remaja berumur 11 tahun. Awalnya Jude hidup aman di sebuah kota kecil di Syria. 

Aleppo, tidak selalu menjadi daerah berkonflik, di sana juga ada penggunungan dan lautan yang indah. Jude, mama, baba dan kaka laki-lakinya, Issa tinggal dekat sekali dengan pantai. Kotanya tidak lah seburuk seperti yang disiarkan di berita TV ataupun surat kabar. 


Saat musim panas banyak turis  yang berdatangan dari Damascuss, Beirut, Amman dan bahkan Doha. Perpaduan aroma melati dan asinnya laut adalah gambaran yang tepat untuk menggambarkan kampung halamannya.

Sama seperti remaja pada umumnya, remaja yang hidup di belahan dunia lain, Jude juga mempunyai mimpi ‘American dream’. Bersama Fatima, sahabat Jude, mereka suka menonton film dan mendengarkan lagu asal Amerika. 

Jude selalu kagum dengan senyumnya Julia Robert dan cara berbicaranya Sandra Bullock. Jika besar nanti dia bercita-cita ingin menjadi bintang film seperti mereka. Fatima pun begitu, namun Fatima juga menambahkan dokter dalam daftar cita-citanya.

Issa, di sisi lain, memiliki pandangan berbeda terhadap negara dan juga presidennya. Issa merasa banyak hal yang harus diubah di Syria. Bersama beberapa temannya, Issa cukup aktif mengikuti protes terhadap presidennya. Ini juga hal yang selalu membuatnya berselisih dengan baba. Menurut Baba, Syria baik-baik saja. Selama mereka bisa bekerja dan mendapatkan uang untuk hidup itu sudah lebih cukup.

Sampai suatu hari keadaan semakin panas dan tidak kondusif. Setiap sudut kota sudah semakin mencekam. Mobil Tank berlapis baja parkir dimana-mana.


Issa  memutuskan keluar dari rumah. Dia memilih tinggal bersama teman-teman yang mempunyai pemikiran yang sama. Kota yang tadinya penuh dengan kehangatan mendadak berubah menjadi 2 kubu. Semua orang ingin tahu siapa di kubu siapa. Bentrok dan kekerasan tak bisa lagi dihindari.

Ketakutan itu pun mulai semakin tercium. Mama selalu memegang tangan Jude kencang setiap kali mereka harus keluar rumah. Baba bahkan harus mengunci rumah sampai dua kali untuk memastikan mereka aman di dalam. Karena kondisi ini lah akhirnya Jude dan mamanya memutuskan untuk berangkat ke Amerika, dimana paman Miza, kakak laki-laki mama tinggal disana. 

Hanya berkunjung saja”. Begitu kata mama. 

Tapi Jude tahu ini bukanlah kunjungan biasa. Perjalanan yang menghabiskan belaisan jam serta biaya yang tidak murah tentu tidak bisa disebut kunjungan biasa. 

Hati Jude gelisah. Dia seperti mendengar berita baik dan buruk bersamaan. Baik karena ini adalah impiannya. Buruk karena itu artinya dia harus meninggalkan Baba, Issa, Fatima dan hal-hal baik yang ada di Syria.

Singkat cerita ternyata Amerika tidak lah seindah senyuman Julia Robert. Jude yang di kampung halamannya terkenal dengan kemampuannya berbahasa inggris, selama di Amerika dia kesulitan untuk berbicara. Entah kenapa semua kata hanya sampai di tenggorakan, tak satupun bisa keluar dari mulutnya.

Di Amerika, Jude terlihat berbeda di antara anak lain. Dia tidak bisa benar-benar berbaur. Dulu Jude senang menjadi pusat perhatian. Namun di sini dia berusaha keras untuk tidak terlihat.

Buku ini bercerita bagaimana Jude berjuang melawan ketakutannya. Bagaimana dia belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Di saat bersamaan jiwanya masih tertinggal di Syria. Dia memikirkan Baba dan Issa. Juga sahabatnya, Fatima. Orang-orang bilang dia beruntung, tapi dia tidak merasa seberuntung itu.

Alur cerita yang digunakan di buku ini bisa dibilang cukup sederhana. Kalimat yang dipilih juga lugas dan tidak terlalu panjang. Sepertinya Jasmine, Sang penulis memang membuat buku ini untuk memanjakan pembacanya dengan sesuatu yang mudah dicerna. Terlebih sejak awal segmentasi buku ini ditujukan untuk pembaca remaja.

 Namun yang membuat buku ini unik (dan berhasil menarik perhatian saya) adalah tata letak tulisannya. Jasmine mampu membuat kalimat langsung dan tak langsung dengan sangat baik. Dia bahkan tidak perlu memisahkan ke paragraf baru. Gaya menulis yang sangat berbeda dan butuh skill tertentu untuk bisa seperti itu.

Ketika membaca buku ini, saya membayangkan adegan per adegan dalam bentuk gerak. Salah satu indikator saya menikmati sebuah bacaan fiksi adalah saat membaca buku tersebut theater of mind saya juga ikut bekerja. 

Saya memindahkan setiap detail dalam buku ini dengan imajinasi saya sendiri. Dan itu terasa menyenangkan. Sudah lama sekali saya tidak merasakan sensasi itu. Terkadang memang yang kita butuhkan hanyalah sebuah buku sederhana yang dikemas dengan cara yang manis. 

Untuk teman-teman yang memilki anak perempuan, buku ini bisa menjadi alternatif bacaan yang cukup menarik. Ini juga bisa menjadi ajang bonding membaca buku bersama. Setelah membaca, tentu akan terasa menyenangkan jika bisa bertukar cerita. 

Terutama jika kamu kesulitan untuk mengejar topik pembicaraan Rodrigo siapa lah itu dan artis Tiktok lainnya dengan pra remajamu, ini adalah sebuah solusi tepat 😁

Share:

Anak dan Prefrontal Cortex, Apa Yang Harus Dilakukan?

 


Saat masih kecil impian terbesar kita adalah ingin segera menjadi orang dewasa. Dalam benak seorang anak menjadi dewasa artinya bisa membeli apa pun yang diinginkan (pikiran ini biasanya muncul setelah meminta sesuatu ke orang tua tapi ditolak, ya kan?).


Realitasnya? Dewasa tidak juga membuat kita mampu membeli semua hal yang kita inginkan (hooh ini curhat :p). Bahkan semakin dewasa semakin banyak yang dipikirkan. Kadang ku pun heran ke mana diriku yang impulsif dan  tidak bisa menahan diri dulu ya.  Pantas saja ada meme yang bertuliskan "Don't grow up. it's trap", ternyata ini maksudnyaHahaha, menyedihkan tapi itu benar adanya.


Dalam sebuah study mengatakan ketika seseorang menjadi dewasa, Prefrontal cortex (otak bagian depan) juga menjadi semakin matang. Bagian otak ini bertugas mengambil keputusan, merencanakan, mengorganisasikan, mengembangkan kepribadian, meningkatkan kemampuan kognitif dan lain sebagainya. Pokoknya hal-hal yang dulu kita anggap orang dewasa itu membosankan terlalu banyak pikir, yaa ternyata ini biang keroknya.


Teorinya Prefrontal cortex sudah dianggap berkembang dengan sempurna saat seseorang berumur 21 tahun. Itu lah kenapa di Amerika dianggap dewasa dan boleh membeli minuman berakohol di umur ini. Di fase ini seseorang dipercaya sudah memiliki semua kemampuan yang ku sebut sebelumnya diatas.



Namun tahukah kamu ternyata agar Prefrontal cortex itu bisa berkembang dengan sempurna butuh latihan? Kalau di-analogikan ini sama seperti otot. Mau punya otot ya harus dilatih, ngga mungkin tidur malam ujug-ujug bangun pagi udah berotot kan?


Pertumbuhan otak berkembang pesat saat anak mulai masuk masa remaja, terutama ketika memasuki pubertas. Pembentukan Prefrontal cortex dipengaruhi oleh hormon endorphin.

Hormon ini akan membantu sirkulasi darah, menekan stres, meningkatkan pembakaran kalori. Menurut dokter anak menjelang remaja sangat dianjurkan untuk melakukan olahraga rutin. Tidak harus dilatih menjadi atlit, yang paling penting mereka bergerak (karena di masa-masa ini justru anak-anak mulai mager, ingin di rumah aja, males keringat, jadi tugas kita untuk 'memaksa' mereka keluar rumah).


Pertumbuhan Prefrontal cortex  ini tak kasat mata, tapi penting. Mereka yang tumbuh dengan kepribadian dewasa adalah yang memiliki Prefrontal cortex yang cukup bagus. Pernah dengar istilah Age is just number? Betul, karena kenyataannya umur bertambah tidak memastikan Prefrontal cortex juga ikut berkembang.


Orangtua selalu mawas terhadap perkembangan fisik anak seperti berat badan ataupun tinggi anak (dan itu bagus kok), namun suka lupa terhadap perkembangan otak anak. Hanya karena tingkat kedewasaan tidak ada tolak ukurnya bukan berarti itu tak perlu diperhatikan. Menurut buku The whole Brain child nya Daniel J. Siegel, otak Prefrontal cortex ini bisa dilatih sejak dini. Bagaimana cara untuk mencerdaskannya? Simak tips berikut ya..




1. Melatih mengambil keputusan sejak dini.

Sejak dini latih anak untuk mengambil keputusan sendiri. Berikan mereka 2-3 pilihan (jangan terlalu banyak juga nanti anak akan kewalahan). Contoh pilihkan 2-3 baju lalu minta anak untuk memilih, 

"kamu mau pakai baju ini atau itu?"

Contoh lain juga bisa aplikasikan saat hendak menawarkan makanan berikan 2 pilihan, 

"kamu mau makan ayam atau telur?".

Membiarkan anak mengambil keputusan itu penting. bahkan ketika dia mengambil keputusan yang salah, tidak perlu diinterupsi biarkan dia mengolah sendiri.



Beberapa waktu lalu saat belanja bulanan saya meminta Shanaz untuk memilih sereal, tangan kanan saya memegang sereal coklat dan kiri sereal rasa buah. Saya tanya yang mana yang dia mau, dia menunjuk kiri. Saya tahu sebenarnya dia pasti ngga akan suka rasanya (Shanaz itu cuma suka rasa coklat), tapi alih-alih menolak, saya biarkan dia memilih. 

Esok harinya saat sarapan dengan sereal buah, benar saja cuma makan sesuap terus ngga mau lagi 😅.


Ini adalah cara yang paling sederhana dalam melatih mengambil keputusan. Ini bisa dilakukan siapa saja, bahkan untuk anak yang kemampuan berkomunikasi masih minim. Kuncinya tahan berkomentar dan merasa paling benar ya. 


"I told u", 

"kaaan..", 

"dibilang juga apa",

 "mama tahu kamu pasti ngga suka

adalah kata-kata yang diucap dalam hati saja, ngga usah dilafaskan di depan anak ya buibu. Anak butuh belajar salah memilih agar Prefrontal cortexnya sempurna.


Untuk para kaka, saya pernah melatih mereka dengan memberikan uang Rp 300.00 di hari ultahnya. Saya katakan kalian boleh beli apa saja yang kalian mau. Saya antar mereka ke mol untuk belanja uang kagetnya. Tidak sampai lantai ke-2 uangnya habis.

Awalnya mereka mengaku senang, tapi dua hari kemudian saat mereka melihat lagi barang yang mereka beli lagi,mereka merasa menyesal 😅.

Tahun depannya ketika diberikan uang dengan jumlah yang sama, mereka sudah tak mau habiskan dalam 1 hari.  Sebelum belanja, mereka membuat daftar apa saja yang benar-benar mereka inginkan. 

Mission accomplished 👏👏👏


2. Menanamkan empati pada anak.



Cara lain melatih Prefrontal cortex bisa juga dengan memulai menanamkan empati pada anak. Ini bisa didapat dari buku yang dibaca atau dari kejadian spontan yang ditemui sehari-hari.


"Bayi itu nangis. Kenapa ya dia nangis? Kasian ya dede bayinya".


"Nenek itu bawa apa ya di punggungnya? Merasa berat ngga ya si nenek? Punggungnya cape pasti ya".


Terus latih anak agar dia mampu melihat meski bukan dia yang mengalaminya bukan berarti boleh abai dengan sekitar.


3. Bantu anak mengontrol emosi dan perilaku. 



Nah ini tantangan besar nih. Sering sekali terjadi saat anak tantrum, orangtua juga jadi ikutan korslet. Padahal anak tidak bisa mengontrol emosi itu wajar, tugas orangtua lah untuk melatihnya. 

Ajarkan anak untuk menarik nafas panjang dan berlahan jika sedang dalam keadaan sangat marah. Emosi itu rasa tapi tidak dituang dalam bentuk perilaku


Ini adalah prinsip yang harus dipegang sampai dewasa. Emosi yang disalurkan secara destruktif hanya akan menimbulkan penyesalan. 

Jangan berlindung dari justifikasi "aku memang begini kalau lagi marah, ngga bisa dikontrol". 

Nope, diatas 21 tahun kamu punya kemampuan mengontrol emosi, tinggal bagaimana mau belajar mengembangkan diri menjadi lebih baik atau tidak.



4. Latih anak mengenal dirinya sendiri.


Untuk anak yang sudah lebih besar ajarkan mereka untuk menulis jurnal. Ini akan melatih anak untuk mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan.


Anak pra-sekolah juga bisa dilatih dengan menggambar. Bantu anak agar mereka bisa menggambarkan keinginan mereka.


Mengenal diri sendiri dengan baik adalah suatu bentuk kedewasaan. Mereka yang paham dengan diri sendiri biasanya tahu persis apa yang mereka inginkan dan tidak tergoda untuk asal ikut orang lain. Ini sangat bermanfaat ketika anak menjelang remaja agar tidak gampang terbawa arus pergaulan.





5. Latih moral kompas pada anak.



Terakhir ni, ketika semua itu digabungkan ini akan melatih moral anak. Anak tidak hanya belajar tentang benar dan salah namun juga efek dari itu semua.


Anak pasti tahu bahwa mencuri itu salah, namun apa sih akibatnya? Lalu apa yang harus dilakukan jika melihat ada orang yang mencuri?. Kuncinya adalah bantu anak untuk melihat dampak dan akibat dari semua moral.


Yang penting juga harus diingat adalah jangan berharap mereka akan konsisten melakukan ini. Ada kalanya moral mereka diuji dan itu bisa dimaklumi, ingat Prefrontal cortex baru sempurna di umur 21 kan? Di masa ini, jadilah orang tua elang, melihat dari kejauhan namun tidak melepaskan pengamatannya sedetik pun kepada 'mangsa'nya.


sumber gambar : semua ilustrasi pada artikel ini diunduh dari www.freepik.com

Share:

Menjalin Hubungan Baik Antara Orang Tua dan Terapis

 

Ilustrasi oleh Chatri Anggardini

Disclaimer : Tulisan ini tidak merujuk kepada siapapun atau lembaga klinik terapi manapun. Terinspirasi dari Buku “Raising A Sensory Smart Child : The Definitive Handbook for Helping Your Child With Sensory Processing Issues” nya Lindsey Biel, M.A.,OTR/L dan Nancy Peske, dimana di salah satu babnya membahas tentang ini, maka disini ku mencoba mengulas kembali dengan bahasaku sendiri (bukan saduran ya). Dan tentu saja berdasarkan perspektif  dan pengalaman pribadi yang ku alami.  Yang tertulis disini bisa jadi tidak dialami orang lain atau tidak bisa diaplikasikan di kondisi tertentu, mohon untuk tidak menjadikan tulisan ini sebagai acuan.

****

Ketika menemani habilitasi anak yang tidak kalah penting untuk harus dijaga adalah hubungan baik antara orang tua dan terapis. Sebenarnya ini berlaku juga untuk profesional lain seperti audiologis maupun Dokter THT, namun dalam konteks ini terapis memiliki hubungan yang cukup intens karena jadwal sesi anak yang kontinu.

Bagaimana sih memilih terapis yang tepat dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita? Berikut aku coba berbagi di sini ya. Tapi perlu diingat adalah hanya karena satu terapis tidak cocok denganmu , bukan berarti dia buruk. Itu artinya terapis itu bukan untukmu saja.

Dan itu tak apa-apa. Masih banyak ikan di laut. Geledah pelan-pelan saja.

Btw, 'banyak’ yang sedang kita bicarakan disini bukan di angka spektakuler ya manteman. Pahami bahwa ini adalah kebutuhan terbatas.

Banyak yang aku maksud itu artinya ada pilihan lain. Kalau memang tidak cocok, move on,  tidak perlu dibesar-besarkan, ingat energi kita terbatas.

Berikut hal-hal yang seharus dimiliki terapis :

  1.  Seorang terapis harus mampu berkomunikasi dengan baik dan menjelaskan dengan rinci setiap strategi yang sedang dijalani. Selain itu terapis juga sebaiknya mampu mengarahkan dan mengedukasi orang tua dengan cermat juga.
  2. Karena setiap anak itu unik dan memiliki karakteristik yang tak sama, sesi habilitasi tentu akan berjalan lancar jika seorang terapis mampu menciptakan sesi yang dikustomisasi sesuai ketertarikan si anak.
  3. Terapis tidak boleh menceritakan keadaan klien lainnya kepadamu. Jika selama sesi dia lebih banyak menceritakan tentang kasus anak lain (daripada fokus dengan anakmu), bukan tidak mungkin dia akan melakukan yang sama saat sesi bersama yang lain.
  4. Terapis yang baik harus mampu berpikiran terbuka, tidak stagnan hanya satu pendekatan saja. Jika memang ada cara lain yang lebih efektif, tidak ada salahnya untuk dicoba.
  5. Terapis memang bersertifikat di bidangnya, tapi orang tua lah yang memahami anak seutuhnya. Terapis yang baik harus mampu mendengar pendapat orang tua terutama tips dalam menghadapi si anak.

Namun jangan lupa hubungan ini adalah hubungan dua arah. Bukan hanya terapis saja yang harus memenuhi kriteria, orang tua juga harus melakukan beberapa hal agar tercapainya harmonisasi.  Sama seperti orang tua yang berhak memutuskan hubungan, terapis juga boleh menolak jika dirasa keadaan tidak kondusif (eh boleh ngga sih?). Bagaimanapun habilitasi dilakukan untuk kepentingan anak, sudah seharusnya orang tua pro-aktif dalam hal ini. 

Berikut aku uraikan hal-hal yang harusnya dilakukan orang tua ya:

  1.   Orang tua harus menyadari sepenuhnya pekerjaan terapis bukan sulap. Butuh banyak sekali unsur untuk membantu anak mencapai target. Jangan pernah berpikir hanya karena sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit, mengantar ke klinik terapi, lalu tiba-tiba berharap anak menjadi ‘sembuh’?. Tentu tidak begitu cara kerjanya. (P.s ku tahu sembuh memang bukan diksi yang tepat, tapi ku kesulitan mencari padanan kata yang sesuai).
  2. Jangan pelit untuk berbagi informasi tentang kebiasaan si anak kepada terapis sebanyak mungkin. Apa pun informasi yang  diberikan, itu akan sangat membantu terapis dalam menyusun program baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk anak.
  3. Meski ketika sesi berlangsung terlihat seperti hanya bermain biasa, jangan lupakan bahwa terapis memiliki ilmu dan kemampuan yang sudah memenuhi syarat. Ada strategi dan metode tertentu yang sedang diterapkan disana. Jangan sepelakan hal itu. Jika penasaran dengan yang sedang dilakukan terapis, ada baiknya untuk bertanya langsung. Tanyakan juga bagian mana yang bisa kamu lakukan untuk pengulangan di rumah. (ini jauh lebih baik daripada di belakang terapis malah berkomentar “Gitu doang lho padahal sesinya”. Sesinya ngga begitu doang, pemahaman kamu yang begitu doang :p).
  4. Orang tua dan terapis harus mampu membangun pondasi komunikasi yang sehat. Jika ada suatu metode yang ingin diterapkan dalam program habilitasi, tanyakan pendapat terapis tentang hal ini. Jangan memaksa jika ternyata terapis memiliki pandangan berbeda tentang itu. Hormati dan pahami bahwa terapis tentu lebih memahami bidangnya. Orang tua juga berhak mencari pendapat lain jika memang dibutuhkan.
  5. Orang tua bertugas menyiapkan kondisi anak sebaik mungkin saat akan sesi (baik tatap muka maupun teleterapi). Anak harus dalam keadaan sehat, kenyang dan dalam suasana hati terbaik. jika anak dirasa kurang fit, ada baiknya untuk mengundurkan sesi sampai dirasa sudah kondusif kembali (atau sesi bisa dipakai untuk sesi konsultasi). Mari saling menjaga risiko terapis bisa saja tertular virus dan membawanya ke anak lain jika dipaksa melakukan sesi saat anak sedang sakit (tapi tentu ini hanya berlaku untuk pertemuan tatap muka saja).

 

Orang tua dan terapis pada dasarnya mempunya tujuan yang sama, yaitu membantu anak agar mendapatkan stimulasi terbaik. Sebuah hubungan berjalan lancar jika berlandaskan rasa percaya dan saling terbuka. Ungkapkan jika ada yang ingin dibicarakan (tentu dengan cara yang baik pastinya).  Jangan terlau dibawa personal untuk hal-hal yang tidak signifikan untuk dipermasalahkan. Setiap terapis punya karakter masing-masing, begitu pun orang tua. Fokus ke perkembangan si anak saja. Saling menghormati dan juga paham batas diri.

Semoga kita semua selalu dimudahkan jalannya dalam mendampingi anak-anak kita ya. Jika ada masukan dan feedback, ku dengan senang hati akan menerimanya, silakan ditulis di komentar atau hubungi lewat email.

 

Terima kasih sudah membaca. Selamat akhir pekan genks..

Share:

Hal-hal yang mungkin membuat anak tidak mau menggunakan alat mendengarnya

 




Ketika anak tidak mau menggunakan alat mendengarnya, ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu :

 

1. Kondisi klinis telinga si anak,

2. Setingan alat mendengarnya,

3. Masalah perilaku (Behavior issue).

 

Oiya alat mendengar yang saya bicarakan di sini universal ya, tidak spesifik satu jenis apapun. Karena apapun jenis teknologi mendengarnya masalah yang dihadapi kurang lebih sama saja kok.



1.    Kondisi Klinis Telinga Anak.

 

Ini cukup penting untuk diperhatikan orang tua dan sayangnya justru bagian ini juga yang luput dari perhatian.

 

Kemungkinan anak menolak menggunakan alat mendengarnya bisa saja karena dia tidak merasa nyaman. Untuk pengguna alat bantu dengar (ABD) coba cek kondisi telinga tengahnya. Jika anak dalam keadaan pilek kemungkinan besar ada cairan menumpuk di telinga tengahnya. Ketika suara masuk, suara akan membal kembali ke luar. Selain si anak tidak akan mendengar secara efektif, suara yang bergema tentunya akan membuatnya terganggu. Ini sama seperti kita menggunakan earphones yang suaranya pecah/gema, tidak nyaman kan? Begitulah kira-kira yang dirasa si anak.

 

Atau masalah lain yang juga mungkin bisa terjadi pada pemakai ABD adalah kotoran telinga yang mengeras. Ini sering terjadi  karena telinga anak dalam kondisi tertutup oleh earmold.  Setiap kali Shanaz membersihkan telingan, kotoran yang dihasilkan dari kedua telingan terlihat sangat berbeda (telinga kanan Shanaz menggunakan ABD, sedangkan yang kiri menggunakan Implan koklea).

 

Dan jika kira kotoran yang mengeras, jangan kira tidak sakit kalau terkena ujung earmold ya. Bisa jadi anak trauma karena ini, makanya dia menolak menggunakan alat mendengarnya. Itulah kenapa membersihkan telinga anak secara rutin itu wajib ya. Jangan dilakukan sendiri, harus buat janji ke dokter THT

 

Gambar oleh Chatri A.
Oh ya memastikan earmoldnya bersih itu juga penting lho. Untuk anak yang mempunyai masalah alergi, memasukkan earmold kotor ke telinganya akan memperburuk kondisi alerginya. Saya sendiri selalu membersihkan earmold Shanaz dengan alcohol swap sebelum dipakaikan ke telinganya (earmoldnya aja ya, ngga usah ABD nya).

 

Earmold juga sebaiknya diganti segera berkala maksimal enam bulan sekali. Tapi  jika sebelum itu sudah dirasa tak nyaman, ngga ada salahnya untuk segera cetak earmold yang baru.

 

"Dok memangnya liang telinga kita itu bisa bertumbuh besar ya? Kok earmold Shanaz tau-tau jadi ngga cukup ya?". Begitu pertanyaan yang pernah saya lontarkan ke dr THT.

 

"Ngga bu, liang telinganya sih ngga bisa bertumbuh, tapi karena ada si earmold ini makanya jadi lubangnya terus membesar. Kalau earmold dan lubang telinga sudah tidak pas, nanti akan ada udara yang masuk. Nah suara akan menjadi feedback ke luar dan itu juga bisa membuat anak tidak nyaman".

 

Untuk penggunaan earmold  yang baru biasanya akan sedikit keras, ini juga jangan langsung dipakaikan begitu saja ke anak, bisa menyebabkan iritasi. Tipsnya bisa menggunakan vaseline petroleumjelly atau vco ya (hindari mengunakan minyak/losion yang mengundang wewangian).

 

Ini  adalah informasi dasar tapi kadang suka terlewat. Bagi para audiologist pliis hal-hal kecil seperti ini jangan lupa diedukasikan ke orang tua ya, terutama orang tua yang anaknya baru menggunakan ABD. Karena kalau sudah telanjur iritasi lalu anak trauma sama ABD, urusannya bakal lebih repot lagi :(.

 

Gambar oleh Chatri A.

Sementara untuk pengguna implan koklea kemungkinan terjadinya masalah klinis seperti diatas persentasenya memang lebih kecil. Karena suara yang dihasilkan Implan koklea tidak lagi menggunakan jalur suara masuk seperti skema pendengaran umumnya. Masalah yang mungkin terjadi pada pemakai implan koklea biasanya karena kekuatan magnet yang terletak pada koil terlalu kencang. Ini bisa menyebabkan iritasi juga terutama jika anak memiliki kulit sensitif.

 

Solusinya bisa minta audiologist untuk menurunkan kekuatan magnetnya. Jika sudah telanjur infeksi, stop pemakaian alat mendengar dan segera bawa ke dokter agar diberi obat yang sesuai untuk ini.





2.            Setingan Alat mendengar.

 

Setelah area kondisi klinis telinga anak aman, maka yang wajib jadi perhatiaan selanjutnya adalah setingan alat. Tanyakan pada Audiologist bagaimana status setingan alat anak kita. Jika dirasa anak belum nyaman, apakah memungkinkan untuk diturunkan dulu sementara waktu? Tanyakan sampai batas mana bisa diturunkan dan kapan harus kembali untuk menaikan lagi setinganya sesuai kebutuhan mendengar anak.

 

Ada kalanya orang tua terkadang bingung ingin bertanya apa saat berkunjung ke hearing center,  tentu akan sangat membantu jika audiologist mampu memberikan penjelasan sedetail mungkin dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh orang tua. Orang tua juga jangan malu untuk bertanya jika ada yang membingungkan.

 

Bawa buku catatan kecil, catat hal-hal penting disana. Minta juga audiologis menyatat tentang kronologis kunjungan hari itu. Ini penting lho. Ada kala audiologst yang menangani anak kita tidak lagi bekerja di hearing center setempat dan siapapun yang menggantikannya, dia tetap bisa mengetahui kondisi anak kita dari semua rekam jejak yang ada di catatan buku tersebut.





3.            Masalah Perilaku (Behavior Issue)

 


Jika kita bicara perilaku, ini kerap hubungannya dengan pola asuh. Ada sih beberapa faktor perilaku anak disebabkan oleh masalah sensori, tapi mari di sini kita sepakati bersama yang pertama harus kita cek pola asuh dulu ya (karena menyalahkan “sensori” itu jauh lebih gampang dilakukan daripada menyalahkan pola asuh, betul ngga?).

 

Katakanlah di sini kondisi klinis anak sudah aman, setingan sudah ok, tapi anak tetap tidak mau memakai alat mendengarnya. Kira-kira kenapa ya?. Jika ini terjadi di awal masa mendengar, kemungkinan besar karena dia belum terbiasa saja.

 

Anak ini terlahir tidak mendengar, sekian tahun dia dalam kesunyian, tiba-tiba diberi suara, tentu ini adalah sebuah perubahan besar bagi anak. Yang namanya perubahan, di fase awal selalu hal yang tidak mudah bahkan untuk kita orangdewasa sekalipun. Butuh sedikit ‘paksaan’ sampai kemudian hal tersebut menjadi hal yang biasa saja.

 

Siapa awalnya yang nyaman dengan virtual meeting atau sekolah online? Ngga ada. Tapi lihat kita sekarang? Ternyata kita baik-baik saja melakukan semua secara tele kan? Prinsip yang sama dengan anak yang baru mulai mendengar.

 

Shanaz diberi dummy ABD sebagi support dari audiologisnya

Waktu Shanaz memulai perjalanan mendengarnya umurnya saat itu 20 bulan. Setiap kali saya pakaikan ABD ke dia, selalu dia tepis telinganya. Lalu apa yang saya lakukan? Saya buru-buru mengendong dia dengan gendongan kangguru. Saya dekap dia, tanganya saya masukan ke sela-sela gendongan lalu saya bawa jalan-jalan keluar rumah. Sambil jalan-jalan saya ceritakan semua suara yang dia dengar di luar.

 

“ waah ada motor ya. Iya bener itu suara motor yang shanaz dengar. Kencang ya suaranya”.

“Itu suara ayam Shanaz yang lagi berkokok. Shanaz kaget ya. Sama bunda juga kaget”

 

Saya bahasakan suara yang kami dengar sambil menunjukkan ke telinga suapaya dia paham suara yang dia dengar itu berasal dari alat yang ada di telinganya.

 

Shanaz di masa pertama dia mendengar. alat on, lansung sigap diajak jalan-jalan ke luar


Kenapa saya memilih menggendongnya dengan gendongan kanguru? Karena dekapan ibu adalah tempat ternyaman anak. Saya mau dia merasa aman. Mungkin suara yang dia dengar terasa aneh di awal, tapi Shanaz harus tau semua akan baik-baik saja karena bunda menemani dia di sini.

 

Namun tentu ini tidak bisa diaplikasikan ke anak yang umurnya sudah jauh lebih besar. Katakanlah untuk anak berumur 4 tahun. Dengan fisiknya yang sudah cukup besar tidak mungkin rasanya mengendong dia pakai gendongan kangguru. Anaknya juga bakal meronta pasti lah.

 

Mungkin (ini mungkin lho, saya juga ngga tahu karena saya kan tidak mengalaminya) bisa dengan cara memeluk dia dari belakang, lalu orang lain (ayahnya atau siapa pun yang ada di rumah saat itu) bisa membantu memasangkan alat mendengar di telinganya. Lakukan hal apapun yang bisa memberikan rasa nyaman pada anak pada saat itu, misal mengelus punggungnya,membelai rambutnya, apa pun lah. Jika muslim, bisa tambahkan dengan menyalakan murrotal untuk membantu anak merasa tenang. Intinya kita memang sedang ‘memaksa’ tapi anak jangan sampai merasa tersiksa dengan paksaan tersebut (kalau perlu buat sampai dia bahkan tidak menyadari kalau saat itu sedang dalam paksaan).

 

Menurut pendapat saya melakukan kekerasan saat menyuruh anak menggunakan alat mendengarnya tidak akan pernah efektif. Meski katanya itu dilakukan demi cinta, tetap saja saya ngga yakin itu hal yang tepat. Yang ada hanya akan membuat anak semakin trauma.

 

sumber gambar : www.freepik.com

Ketika orang tua sedang ngamuk atau memaksa memasangkan alat mendengar pada anak (bahkan ada yang sampai mengikat tangan anak) itu membutuhkan energi yang besar. Dan jelas kita tidak mungkin mampu melakukan itu setiap hari. Ada gitu orang yang ngamuk parah setiap saat? Ngomel-ngomel kecil bisa jadi sering, tapi ngamuk besar itu kan beda lagi ceritanya.

 

Anak menolak tidak mau pakai alat 10 kali, 1 kali kita sebagai orang tua luar biasa meledak saat itu, 9 kalinya paling cuma tarik nafas panjang dan ngedumel. Lalu kemudian kita mengeluh, “aku udah melakukan segala cara lho, sampai ikat tangan dia di kursi tapi tetap anaknya ngga mau pakai alat mendengarnya”.

Yaaa ngga mau lah, wong cuma dilakukan sekali doang mana mempan. Kalau mau berhasil, ngamuknya konsisten. Tiap anak ngga mau pakai alat mendengar langsung keluar taring dan tanduk di kepala. Langsung siapkan ‘kursi penyiksaan’ untuk anak. Pertanyaannya, kitanya cukup punya energi ngga untuk itu?.

 

Kalau energi yang kita punya ngga banyak, maka ubah metodenya. Tidak perlu sampai marah yang bikin anak tertekan tapi tunjukan perubahan sikap yang cukup eksplisit. Contoh ni, ketika dia membuka alatnya tunjukan muka cemberut ke anak, jangan respon apapun yang dia mau. Dia ngajak main, cuekin. Bahkan dia minta makan pun, bergeming saja. Berikan gesture atau bahasa tubuh tunjuk ke arah telinga, “mau makan? Pakai alat mendengar dulu”. Kalau dia ngga mau, ya udah jangan beri apapun yang dia mau.

 

sumber gambar :www.freepic.com

Nangis? Ya gpp. Guling-guling pun juga ngga perlu direspon. Jangan terkecoh dengan tangisan anak. Tunjukan bahwa sebagai orang tua kita lah yang berkuasa di sini. Prinsipnya nih 10 kali dia menolak menggunakan alat mendengarnya, akan kita tawarkan 11 kali. Percaya deh, nanti dia yang akan mengalah memakai alat mendengarnya.  Dan ketika hal itu terjadi, disitulah waktunya orang tua memberikan apresiasi terbaik untuk anak ya.

 

“ hebaat.. kamu pakai alat mendengar. Betuul. Waaah anak mama memang paling keren kalau sudah pakai alat mendengar seperti ini”.

 

Jangan terbaliknya. Ketika anak udah melakukan yang diinginkan orang tua, eh orang tua masih aja menyindir.

 

“dibilang juga apa, alat mendengar itu ya dipakai. Dikata itu barang murah apa. Mama melakukan ini juga kan untuk kamu, tong”. Diih si mama ngga move on -___-.

 

Tapi sekali lagi, pastikan 2 faktor sebelumnya (kondisi klinis telinga dan setingan alat) sudah ok ya. karena kalau masih ada kendala di dua hal tersebut, mau adu kuat-kuatan sama anak juga percuma. Jangan sepelakan kemampuan anak lho, mereka mampu menganalisa keadaan. Mereka selalu tahu dimana letak kelemahannya kita sebagai orang tua.

 

Saat awal Shanaz mendengar dan dia tahu dia tidak punya kesempatan untuk melepas alatnya (karena langsung dikekep pakai gendongan kangguru), tapi kemudian dia menemukan 1 kondisi di mana bundanya ngga bisa berkutik, yaitu saat menyetir.

 

Saat saya menyetir fokus utama saya tentu pada jalanan, bukan lainnya. Shanaz yang duduk di belakang saya tahu persis bundanya tidak bisa melakukan apa-apa saat itu. Di situ lah kesempatan dia membuang alat mendengarnya. Makna harfiah lho ini. Benar-benar dilempar aja gitu. Tau-tau saat mobil menepi, alat mendengar Shanaz udah nyungsep entah dimana. Saya bahkan saat itu sampai stok beberapa earmold, karena bagian ini yang paling sulit dicari (orang tua yang anaknya pakai ABD, tentu paham ini. Earmold itu bentuknya kecil, transaparan pula, beneran rungsing deh kalau udah nyari benda satu ini).

 

Trus apakah kemudian kita harus kalah? Tentu tidak. Anak boleh pintar, tapi orang tua lebih lama hidup di dunia ini. Dari saran seorang pembicara di seminar yang saya ikuti, dia menyarankan saya menggunakan pelampung tangan saat sedang berkendara berdua Shanaz saja. Aha, Good Idea.


 

Shanaz gimana? pasrah aja dipakaikan pelampung tangan? HAHAHA, YA KALI. Nangis lah. Nangis kejer malah. Ya udah sih, kenapa pada takut amat sama anak nangis, yang keluar juga paling air mata ini. Dan yang penting saat Shanaz nangis sudah dipastikan dia aman di atas carseat dan sabuk pengaman terpasang dengan baik, jadi silakan aja nangis sekencangnya ya. Entar juga kalau capek diam sendiri. Yaaa kalau kemudian efeknya telinga emaknya agak pengeng sedikit, yaaa terima aja lah. Anggap aja resiko pekerjaan :D.

Tapi setelah itu Shanaz jadi paham. Dia tahu kalau alat mendengarnya tidak boleh dibuang saat bundanya lagi menyetir. Dia tahu konsekuensi tidak nyamannya pakai pelampung tangan di carseat. Pernah suatu kali dia pikir saya lupa, lalu tiba-tiba Shanaz mulai lempar alat mendengarnya lagi. Langsung saja saat itu juga, saya menepi ke pinggir jalan, lalu kemudian pasang pelampung tangannya lagi.

 

“Karena Shanaz buang alatnya lagi, bunda pakaikan pelampungnya ya. Nanti akan bunda buka kalau kamu tidak buang alat mendengarnya lagi”.



 

 Ingat prinsipnya, 10 kali anak menolak, 11 kali kita pasangkan kembali. Kuncinya adalah konsisten. Dan ini sebenarnya berlaku dalam mendidik anak secara general sih.

 

Biasakan untuk selalu membahasakan apapun yang sedang kita lakukan. Meski saat itu anak belum berbahasa verbal, tapi dengan menarasikan semua kegiatan yang kita lakukan untuk dia itu membantu memberikan rasa aman dan juga rasa percaya anak terhadap orang tuanya sendiri.

 

Hal lain yang juga harus diperhatikan, di awal anak beradaptasi dengan alat mendengarnya hindari tempat-tempat yang mempunyai suara terlalu kencang, seperti bioskop atau tempat yang ada live musik. Jangan buat anak takut mendengar. Justru tugas kita adalah memastikan dia nyaman sehingga menjadikan alat mendengar itu bagian dari dirinya.

 

Kebutuhan mendengar adalah kebutuhan luhur yang harus dimiliki semua orang. Ketika seseorang kehilangan kemampuan mendengarnya itu artinya kemampuan dia menerima informasi juga berkurang sampai 80%. Makanya pada tahap ini sangat penting untuk kita memastikan anak berada dalam keadaan paling prima. Kalau ini sudah terbentuk dengan baik, jika nantinya ada gangguan penyerta lain yang muncul, setidaknya mendengar bisa jadi kekuatan terbesar anak dan itu akan benar-benar sangat membantu lho.

 

Jangan patah semangat ya, pasti ada aja kok solusi dan trik supaya anak betah menggunakan alat mendengarnya. Saling berdiskusi dan bertukar pikiran dengan sesama orang tua juga bisa memberi amunisi tersendiri.

 


 

 

Share:

BAGAIMANA PRAKTIK AVT DI RUMAH UNTUK ANAK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN

Sumber foto : dokumentasi Med-el
Hari Sabtu, 23 November 2019 kemarin saya mengikuti seminar parent sharing yang diselenggarakan oleh Med-el Indonesia di Hotel ibis Style T.B Simatupang, Jakarta. Pembicara kali ini adalah Ibu Sinta Nursimah, praktisi Avt senior, sekaligus pendiri Yayasan Aurica Surabaya. Selain itu ada juga Bapak Gutomo atau yang lebih akrab dipanggil bapak Omo, Suami ibu Sinta yang juga ikut menjelaskan sepintas tentang anatomi pendengaran dan syaraf pendengaran. 

Ibu Sinta dan Bapak Omo juga memiliki anak dengan gangguan pendengaran yang verbalnya sudah sangat baik. Sri Andiani namanya atau biasa dipanggil mba dian. Mba Dian ini sudah menyelesaikan S1 psikologi nya dengan status cumlaude lho. Woow hebat ya. 

Mereka berdua adalah tokoh orangtua yang menjadi panutan saya atau bahasa anak jaman sekarang adalah goal relationship banget. Bagaimana tidak mereka berbagi peran dalam mencari ilmu, Ibu Sinta mendalami AVT, bapak Omo mempelajari audiologinya. Klop sekali, yang satu belajar strategi, yang lainnya belajar teknis.

Kemarin tema yang diangkat adalah tentang bagaimana praktik AVT di rumah. Sebenarnya ini bukanlah seminar pertama yang pernah saya ikuti bersama ibu Sinta. Sebelumnya saya juga pernah ikut sekitar 3 tahun lalu saat saya masih berdomisili di Pekanbaru. Pernah saya ulas singkat juga di postingan saya yang lalu. Tapi tentu tidak ada salahnya mengulang biar ilmunya lebih mentok kejedok kalau kata ibu Sinta kemarin:).

Yang pertama akan dibahas adalah, apa itu AVT? Secara bahasa AVT adalah akronim dari Audio Verbal Therapy, yang artinya sebuah terapi dengan mengutamakan pendengaran. Bukan hanya sekedar bisa dengar (hearing) tetapi juga mampu mendengarkan (listening). Terdengar sama tapi sesungguhnya kedua kata itu bermakna beda sekali. Nanti akan kita bahas lebih lanjut di bawah ya.

Ada 3 aspek yang sangat mendukung AVT itu berjalan dengan lancar.  Pertama si anak harus menggunakan teknologi  mendengar secara optimal. ABD maupun CI keduanya adalah alat berteknologi mendengar dengan fungsi yang sama  tetapi ditujukan untuk orang yang berbeda. Rumusnya alat bantu dengar hanya mampu menjangkau 50% dari ambang batas dengar dari gangguan pendengaran si anak.

Jadi jika si anak memiliki ambang batas dengar 100 dB maka abd hanya mampu membuat anak bisa mendengar sampai 50 dB. Apakah 50 dB itu cukup? Dalam percakapan sehari-hari biasanya ambang dengar yang dibutuhkan sekitar 30-40 dB. Hal ini dikenal dengan speech banana. Silahkan diukur sendiri alat berteknologi mendengar anak kita sudah mampu mendengar sampai titik mana ya. Berikut saya kasi gambar detailnya ya
sumber gambar dari internet


Kedua yang juga memberi peran penting dalam AVT adalah Habilitasi keluarga. AVT bukan hanya sekedar mengantar anak terapi dan berakhir sampai sesi selesai. AVT yang baik justru yang diaplikasikan sehari-hari di rumah dengan metode open set. Apa itu open set? Open set lawan kata dari Close set. Jika Close set bermakna tertutup dengan satu tema tertentu (yang biasanya dilakukan di sesi terapi anak belajar dengan satu tema tertentu), maka Open set adalah tidak ada batasan tema. Natural yang terjadi sehari-hari di rumah saja. Misalnya saat hendak makan, saat hendak berjalan-jalan sore di taman, atau apapun lah yang sedang dikerjakan di rumah dibahasakan dengan strategi AVT yang ada.

Dan yang ketiga yang juga sebagai unsur utamanya adalah AVT menggunakan pendengaran sebagai media utamanya. Bukan hanya mendengar (hearing) tetapi juga mendengarkan (listening). Apa sih beda keduanya?

Saya berikan contoh ilustrasinya ya

Ilustrasi I : Ani baru saja menggunakan alat berteknologi mendengarnya. Sejak menggunakan alat, Ani jadi menoleh setiap namanya dipanggil, mendengar ketika ayam berkokok, dan juga kaget ketika ada suara klakson kenderaan bermotor di jalan. Dia mendengar semua sumber suara tersebut (hearing), tetapi belum paham makna dari semua suara yang didengarnya (listening). Ini disebut tahap sadar bunyi.

Ilustrasi II : Eko sudah setahun menggunakan teknologi mendengar dan dihabilitasi dengan cukup baik juga. Eko paham ketika diberi intruksi lebih dari 2 kata, misalnya : Eko tolong ambil mobil warna merah bukan warna biru. Dia tidak hanya menoleh jika ada suara ayam berkokok atau pun suara klakson motor tapi juga mampu membedakan kedua suara tersebut. Dia tahu suara berkokok bersumber dari ayam dan suara klaskon bersumber dari kenderaan bermotor. Ini yang disebut mendengarkan (listening), bukan hanya sekedar sadar bunyi tapi juga paham konsepnya.

Sampai disini paham ya beda nya bisa mendengar(hearing) dengan mampu mendengarkan (listening)..

Ketiga hal itu lah fundamental dari AVT. Sudah melakukan ketiganya? Maka artinya kamu sudah melakukan AVT. Meskipun sebenarnya AVT tidak lah sesederhana itu. Ada strategi-strategi yang harus dilakukan, ada tahapan-tahapan yang harus dilewati dan lain sebagainya.

Menurut ibu Sinta kemarin modal yang paling utama yang harus dimiliki orang tua adalah orang tua harus punya pemahaman tentang Milestone si anak. Dengan demikian orang tua bisa menyadari anaknya sudah berada diposisi mana, sudah di jalur yang tepat atau belum. Dan kalaupun ternyata ada hal-hal lain yang mengalami gangguan dapat diselesaikan dengan baik se-segera mungkin. Orang tua selalu merupakan observer terbaik anak. Amati, cocokkan dengan milestone, jika ada yang salah baru diskusikan dengan profesional terkait. 

Selanjutnya bu Sinta juga memaparkaan apa saja sih yang menjadi target yang harus didapatkan si anak ketika dia sudah ter-intervensi dengan alat teknologi mendengar , berikut skema nya :

Stage 1, pemakaian alat 1-2 bulan anak harus mampu sadar akan bunyi
Stage 2, pemakaian alat 2-5 bulan anak harus mampu membedakan suprasegmental dan asosiasinya
Stage 3, pemakaian alat 6-9 bulan anak harus mampu membedakan segmental dan asosiasinya
Stage 4, pemakaian alat 9-12 bulan anak harus mampu mengidentifikasi berbagai suara dan memori audiotori
Stage 5, pemakaian 18 bulan keatas anak harus mampu mengolah dan memahami bahasa.

Tujuan utama AVT bukan hanya mendengar dan berbicara tetapi lebih dari itu yaitu meng-optimalkan kemampuan otak. Sebuat riset mengatakan ketika seorang bayi diajak berbicara terus menerus yang terstimulasi bukan hanya bagian auditori nya saja, tetapi juga mencakup lainnya termasuk emosi ataupun interaksi sosialnya.
keterangan gambar : beginilah kondisi bayi jika terus diajak berbicara, bagian otak yang 'menyala' bukan hanya auditori saja
Itulah kenapa semua perkembangan anak wajib dilihat satu persatu. Karena justru yang paling sering luput adalah ketika ada  gangguan penyerta lainnya dengan skala ringan yang indikasinya nyaris tak terlihat kasat mata tapi ternyata berefek cukup besar pada hasil akhirnya.  (baca postingan saya sebelumnya tentang gangguan sensori disini).

Tujuan lain dari AVT yang tak kalah pentingnya yaitu menutup jarak antara umur biologis dengan umur pendengaran.

Tahukah kamu kalau anak yang tidak memiliki gangguan pendengaran itu sudah mendengar sejak umur 16 minggu di perut ibunya? Jadi kalaupun  anak yang terlahir tidak bisa mendengar sudah di-intervansi alat bantu dengar  sejak hari pertamanya lahir (walau ini hampir tidak pernah terjadi sih, karena butuh beberapa observasi lebih lanjut sebelum anak didiagnosa Tuli kongenital) tetap saja anak tersebut sudah terlambat 20 minggu dari umur biologisnya. Apalagi jika kita baru mengetahui anak kita tidak bisa mendengar saat si anak berusia 1 tahun, 2 tahun atau bahkan 3 tahun.
sumber gambar : www.verywellfamily.com

Jarak antara umur biologis dan umur pertama sekali dia menggunakan alat berteknologi mendengar inilah yang harus segera dikecilkan, akan lebih baik lagi jika bisa hilang sama sekali. Disitulah peran AVT dengan semua strategi-stareginya yang menunjang si anak agar bisa mendengar dengan optimal.

Nah yang terakhir yang dibahas adalah apa saja sih yang harus selalu di-evaluasi dalam menentukan target ? Ada 6 poin utama yang harus selalu diperhatikan.

Pertama, Audisi. Di poin ini yang harus diperhatikan adalah apakah anak sudah bisa 6 suara ling, baik deteksi, identifikasi juga imitasi atau anak sudah bisa memahami kata dalam kalimat, seperti vokal dan suku kata berbeda (misalnya bis vs kereta api),  ataupun kata dengan konsonan sama tetapi vokal berbeda (buka vs buku) dan juga kata yang memiliki pengucapan yang mirip tetapi makna berbeda (satu vs sapu). Perhatikan juga apakah anak sudah mampu auditory memori baik 1 item, 2 item dan seterusnya.
sumber gambar Yayasan Aurica

Poin kedua yang harus diperhatikan adalah bahasa. Perkembangan bahasa apa saja yang sudah dimiliki si anak? Kata benda, kata kerja,kata preposisi (atas-bawah-kanan-kiri), kata sambung(dan-atau-karena), kata negatif (bukan – jangan dst) dan juga kata tanya (apa-siapa-kenapa). Lebih baik lagi jika semua kata-kata yang sudah dimiliki si anak dicatat dengan baik, sehingga akan mudah untuk menelusurinya.


Poin ketiga adalah berbicara. Di awal pemakaian alat berteknologi mendengar biasanya anak hanya mendengar suara suprasegmental alias yang bernada saja. Makanya sangat penting diawal-awal periode ini berbicara dengan anak menggunakan irama agar mudah dipahami . Jadi jika diawal si anak hanya paham suara ibu tetapi tidak suara yang lain, itu wajar saja. Tapi diumur tertentu anak harus sudah mampu mengucapkan huruf vokal, konsonan, diftong, gabungan vokal dan juga gabungan konsonan.

Poin keempat yang juga harus selalu diperhatikan adalah skala perkembangan anak. Seperti yang disebut diatas AVT tidak hanya auditori dan verbal saja, tetapi juga cakupannya masuk ke semuanya, diantaranya kognisi, artikulasi, emosi/interaksi sosial dan juga motorik. Jika salah satu tidak terstimulasi dengan baik, tentu akan menghambat ke perkembangan berbicara anak. Menurut bu Sinta hal ini yang kerap sekali rancu apakah si anak benar-benar mengalami gangguan perkembangan lainnya atau itu hanya dampak dari pendengarannya yang belum terstimulasi dengan baik (karena baru memakai alat bantu dengarnya). Disinilah komunikasi 2 arah antara orangtua dan pelaku profesional (terapis, audiologist, dokter tht dan bahkan dokter tumbuh kembang anak) sangat penting.
sumber gambar dari internet


Poin kelima yaitu kognisi. Perhatikan bagaimana perkembangan kognisi anak, apakah dia mampu bermain sortir warna, konsep angka, konsep warna, konsep bentuk, mencocokkan lawan kata (besar vs kecil, kering vs basah), urutan, dan lain sebagainya. ini cukup penting, karena bahasa akan bisa terbentuk dengan baik jika kognisinya sudah berdiri dengan kokoh juga.

Dan yang terakhir poin keenam yang harus diperhatikan  dan juga sekaligus sebagai tujuan akhirnya adalah komunikasi. Perhatikan bagaimana kontak mata si anak, apakah dia mampu berbicara bergantian dengan temannya, tahu bagaimana etika berkomunikasi, memiliki skill memulai percakapan dan juga apakah si anak memiliki kemampuan Repair Strategi, yaitu suatu keahlian si anak untuk mampu meminta ulang atau berusaha mencari informasi jika tidak paham dengan lawan bicaranya (misalnya jika dia sudah masuk lingkungan sekolah dan tak paham yang ibu gurunya bicarakan, si anak harus mampu dan berani meminta guru tersebut mengulang informasinya dengan mengatakan: “maaf ibu saya tidak paham ibu bicara, bisakah ibu mengulangnya berlahan?”.

Lalu bagaimana jika ke-6 poin tersebut ada yang belum dimiliki anak kita? Justru itu lah pr yang harus terus kita evaluasi. Tanyakan kepada terapis program jangka pendek maupun jangka panjang apa yang harus dilakukan.

Setiap anak punya karakter yang berbeda-beda, kemampuan yang tak sama juga, jadi tidak perlu membandingkan perkembangan anak kita dengan anak lain tapi yang paling penting pastikan si anak sudah berada di jalur yang tepat. Karena ingat pendengaran itu bukan hanya telinga yang bekerja tetapi juga otak keseluruhannya.

Insya Allah kita semua pasti akan dimudahkan jalannya mendapat yang terbaik ya. Doa terbaik saya untuk semua orangtua yang sedang berikhtiar untuk anak-anak terhebat ya.
Selfi bersama ibu Sinta. Terimakasih untuk ilmunya ibu ♥️


Share: