Menjalin Hubungan Baik Antara Orang Tua dan Terapis

 

Ilustrasi oleh Chatri Anggardini

Disclaimer : Tulisan ini tidak merujuk kepada siapapun atau lembaga klinik terapi manapun. Terinspirasi dari Buku “Raising A Sensory Smart Child : The Definitive Handbook for Helping Your Child With Sensory Processing Issues” nya Lindsey Biel, M.A.,OTR/L dan Nancy Peske, dimana di salah satu babnya membahas tentang ini, maka disini ku mencoba mengulas kembali dengan bahasaku sendiri (bukan saduran ya). Dan tentu saja berdasarkan perspektif  dan pengalaman pribadi yang ku alami.  Yang tertulis disini bisa jadi tidak dialami orang lain atau tidak bisa diaplikasikan di kondisi tertentu, mohon untuk tidak menjadikan tulisan ini sebagai acuan.

****

Ketika menemani habilitasi anak yang tidak kalah penting untuk harus dijaga adalah hubungan baik antara orang tua dan terapis. Sebenarnya ini berlaku juga untuk profesional lain seperti audiologis maupun Dokter THT, namun dalam konteks ini terapis memiliki hubungan yang cukup intens karena jadwal sesi anak yang kontinu.

Bagaimana sih memilih terapis yang tepat dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita? Berikut aku coba berbagi di sini ya. Tapi perlu diingat adalah hanya karena satu terapis tidak cocok denganmu , bukan berarti dia buruk. Itu artinya terapis itu bukan untukmu saja.

Dan itu tak apa-apa. Masih banyak ikan di laut. Geledah pelan-pelan saja.

Btw, 'banyak’ yang sedang kita bicarakan disini bukan di angka spektakuler ya manteman. Pahami bahwa ini adalah kebutuhan terbatas.

Banyak yang aku maksud itu artinya ada pilihan lain. Kalau memang tidak cocok, move on,  tidak perlu dibesar-besarkan, ingat energi kita terbatas.

Berikut hal-hal yang seharus dimiliki terapis :

  1.  Seorang terapis harus mampu berkomunikasi dengan baik dan menjelaskan dengan rinci setiap strategi yang sedang dijalani. Selain itu terapis juga sebaiknya mampu mengarahkan dan mengedukasi orang tua dengan cermat juga.
  2. Karena setiap anak itu unik dan memiliki karakteristik yang tak sama, sesi habilitasi tentu akan berjalan lancar jika seorang terapis mampu menciptakan sesi yang dikustomisasi sesuai ketertarikan si anak.
  3. Terapis tidak boleh menceritakan keadaan klien lainnya kepadamu. Jika selama sesi dia lebih banyak menceritakan tentang kasus anak lain (daripada fokus dengan anakmu), bukan tidak mungkin dia akan melakukan yang sama saat sesi bersama yang lain.
  4. Terapis yang baik harus mampu berpikiran terbuka, tidak stagnan hanya satu pendekatan saja. Jika memang ada cara lain yang lebih efektif, tidak ada salahnya untuk dicoba.
  5. Terapis memang bersertifikat di bidangnya, tapi orang tua lah yang memahami anak seutuhnya. Terapis yang baik harus mampu mendengar pendapat orang tua terutama tips dalam menghadapi si anak.

Namun jangan lupa hubungan ini adalah hubungan dua arah. Bukan hanya terapis saja yang harus memenuhi kriteria, orang tua juga harus melakukan beberapa hal agar tercapainya harmonisasi.  Sama seperti orang tua yang berhak memutuskan hubungan, terapis juga boleh menolak jika dirasa keadaan tidak kondusif (eh boleh ngga sih?). Bagaimanapun habilitasi dilakukan untuk kepentingan anak, sudah seharusnya orang tua pro-aktif dalam hal ini. 

Berikut aku uraikan hal-hal yang harusnya dilakukan orang tua ya:

  1.   Orang tua harus menyadari sepenuhnya pekerjaan terapis bukan sulap. Butuh banyak sekali unsur untuk membantu anak mencapai target. Jangan pernah berpikir hanya karena sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit, mengantar ke klinik terapi, lalu tiba-tiba berharap anak menjadi ‘sembuh’?. Tentu tidak begitu cara kerjanya. (P.s ku tahu sembuh memang bukan diksi yang tepat, tapi ku kesulitan mencari padanan kata yang sesuai).
  2. Jangan pelit untuk berbagi informasi tentang kebiasaan si anak kepada terapis sebanyak mungkin. Apa pun informasi yang  diberikan, itu akan sangat membantu terapis dalam menyusun program baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk anak.
  3. Meski ketika sesi berlangsung terlihat seperti hanya bermain biasa, jangan lupakan bahwa terapis memiliki ilmu dan kemampuan yang sudah memenuhi syarat. Ada strategi dan metode tertentu yang sedang diterapkan disana. Jangan sepelakan hal itu. Jika penasaran dengan yang sedang dilakukan terapis, ada baiknya untuk bertanya langsung. Tanyakan juga bagian mana yang bisa kamu lakukan untuk pengulangan di rumah. (ini jauh lebih baik daripada di belakang terapis malah berkomentar “Gitu doang lho padahal sesinya”. Sesinya ngga begitu doang, pemahaman kamu yang begitu doang :p).
  4. Orang tua dan terapis harus mampu membangun pondasi komunikasi yang sehat. Jika ada suatu metode yang ingin diterapkan dalam program habilitasi, tanyakan pendapat terapis tentang hal ini. Jangan memaksa jika ternyata terapis memiliki pandangan berbeda tentang itu. Hormati dan pahami bahwa terapis tentu lebih memahami bidangnya. Orang tua juga berhak mencari pendapat lain jika memang dibutuhkan.
  5. Orang tua bertugas menyiapkan kondisi anak sebaik mungkin saat akan sesi (baik tatap muka maupun teleterapi). Anak harus dalam keadaan sehat, kenyang dan dalam suasana hati terbaik. jika anak dirasa kurang fit, ada baiknya untuk mengundurkan sesi sampai dirasa sudah kondusif kembali (atau sesi bisa dipakai untuk sesi konsultasi). Mari saling menjaga risiko terapis bisa saja tertular virus dan membawanya ke anak lain jika dipaksa melakukan sesi saat anak sedang sakit (tapi tentu ini hanya berlaku untuk pertemuan tatap muka saja).

 

Orang tua dan terapis pada dasarnya mempunya tujuan yang sama, yaitu membantu anak agar mendapatkan stimulasi terbaik. Sebuah hubungan berjalan lancar jika berlandaskan rasa percaya dan saling terbuka. Ungkapkan jika ada yang ingin dibicarakan (tentu dengan cara yang baik pastinya).  Jangan terlau dibawa personal untuk hal-hal yang tidak signifikan untuk dipermasalahkan. Setiap terapis punya karakter masing-masing, begitu pun orang tua. Fokus ke perkembangan si anak saja. Saling menghormati dan juga paham batas diri.

Semoga kita semua selalu dimudahkan jalannya dalam mendampingi anak-anak kita ya. Jika ada masukan dan feedback, ku dengan senang hati akan menerimanya, silakan ditulis di komentar atau hubungi lewat email.

 

Terima kasih sudah membaca. Selamat akhir pekan genks..

Share:

No comments:

Post a Comment